Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Pembunuh


__ADS_3

Stresnya seorang ibu itu bukan karena bayinya, melainkan keadaan lingkungan di mana ia tinggal, dan mulut-mulut manusia tak berhati, yang selalu menyepelekan kelelahan orang lain, merasa dirinya paling benar dan paling tau segala hal.


Di fase itulah kekuatan lahir batin seorang ibu diuji. Banyak yang dapat melewati semuanya dengan kesabaran dan ketabahan yang dimiliki, namun tidak sedikit yang jatuh terpuruk dalam kehancuran dan kesedihan.


Jadilah Ibu yang tangguh ...


*****


Sarah tersenyum saat melihat Geo menggendong tubuh Geisha, anak hasil buah cinta mereka yang selama ini sama sekali tak pernah disentuh oleh ayah kandungnya itu.


"Dia hanya berpindah tempat, disana dia jauh lebih baik," gumamnya.


Sarah meringkukan tubuhnya di atas kasur dan kembali memejamkan mata.


Geo meletakkan tubuh kaku Geisha di atas sofa, bayi itu tetap terlihat cantik walaupun sudah tak bernyawa, sungguh malang nasib bayi mungil itu.


Sebelumnya Geo sempat melakukan resusitasi jantung dengan niat memberikan pertolongan pertama sebagai seorang dokter, namun hasilnya nihil, Geisha sudah terlalu lama berada di dalam air.


Geo kembali melangkah menuju ke kamar Sarah.


"Bangun!" hardik Geo, seraya menendang punggung Sarah yang masih meringkuk di atas kasurnya.


"Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang kamu lakukan pada bayi itu," tegas Geo dengan tatapan mengerikan.


Sarah membalas tatapan tajam Geo dengan tatapan nanar kedua bola mata bulatnya, tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya.


"Aku sudah menghubungi polisi, sebentar lagi juga mereka pasti datang ke sini," ujar Frans yang baru saja datang, pria berwajah oriental itu berbicara sambil bersedekap dan berdiri di ambang pintu kamar.


"Aaarrrrggggg," teriak Geo sambil keluar dari kamar istrinya.


Sarah tetap bergeming, raut mukanya sama sekali tak menyiratkan kesedihan ataupun penyesalan atas semua yang telah ia lakukan. Wajahnya datar benar-benar datar.


Bu Rosa dan suaminya tertegun melihat sosok mungil yang terbujur kaku di atas sofa di ruang tamu, keduanya tak menyangka Sarah bisa setega itu kepada buah hatinya sendiri.


Terdengar suara serine yang sangat nyaring, dua unit mobil polisi sudah terparkir di depan rumah mewah itu.


Aparat keamanan di tempat itu sudah datang, mereka masuk tanpa permisi apalagi basa basi.


Seorang polisi pria yang memakai sabuk berpistol di pinggangnya memasuki kamar Sarah, tanpa bertanya lagi polisi itu langsung memborgol dan membawa Sarah keluar dari kamarnya. Ibu muda itu mengikuti langkah kaki polisi tanpa perlawanan.


Di luar rumah, sudah berjejer orang-orang yang penasaran ingin melihat secara langsung sosok Sarah, ibu yang sudah tega membunuh anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Sarah segera di amankan dengan pengawalan, garis polisi sudah terpasang di area dapur. Bayi itu meregang nyawanya setelah ditenggelamkan sang ibu ke dalam air yang tertampung di sebuah westafel.


"She's the killer!" teriak seorang wanita yang berdiri tepat di depan pintu mobil polisi yang terparkir di depan rumah mewah milik orang tua Geo.


Jari telunjuknya diarahkan pada Sarah yang terlihat keluar dari rumah diapit dua orang polisi sebelah kanan dan kirinya.


Teriakan wanita itu sontak membuat orang-orang berlari mendekat, mereka ingin melihat dengan jelas wajah Sarah.


Para pemburu berita juga tak ketinggalan, mereka dengan sigap mengabadikan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para nitizen.


Ibu muda itu digelandang memasuki mobil tahanan, seluruh wanita yang berada di tempat itu hampir seluruhnya menghujani Sarah dengan ujaran kebencian, hinaan, ejekan dan sumpah serapah.


Namun sama sekali tak ada reaksi yang diperlihatkan oleh Sarah, si pembunuh itu menutup rapat mulutnya.


Tak jauh dari tempat kejadian, terlihat seorang pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam tengah bersandar di pintu sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan, ia tengah mengamati kerumunan orang-orang yang melihat Sarah dijemput aparat keamanan setempat.


Pria itu merogoh ponsel dari dalam saku jaket yang dikenakannya. Terlihat dia mendial salah satu nomor dari phonebook-nya.


"Dia membunuh bayinya, sekarang dia digiring polisi kota, sepertinya dia mengalami depresi berat, Pak," ujar pria itu ketika sambungan telepon selulernya sudah diterima seseorang di seberang sana.


Pria itu mendengarkan dengan seksama perintah yang diberikan lawan bicaranya, terlihat dia mengangguk-anggukan kepalanya sambil berkata, "baik, siap, Pak."


"Baik, untuk pertama-tama saya akan mengikuti mobil polisi itu, untuk memastikan kemana mereka membawa dia. Nanti saya kabari lagi, Pak," pungkas pria itu.


Richard adalah orang suruhan Devan, dia merupakan salah satu orang yang bekerja sebagai informan sewaan di kota itu.


Selama ini Devan menyuruhnya untuk mengamati kehidupan Sarah di negara Paman Sam.


Namun sayangnya Richard tidak bisa mengamati keadaan Sarah saat berada di dalam rumah, jika saja bisa, mungkin Geisha masih bisa selamat.


*****


Devan beranjak dari tempat duduknya, gegas ia memakai jas hitam yang menggantung di tempat biasa.


Setelah berbicara dengan Richard, pengacara muda itu kini harus segera melakukan tindakan untuk menolong wanita yang masih dicintainya itu.


Devan sangat faham bagaimana cara menyampaikan informasi tentang hal yang berurusan dengan hukum, namun dia harus memeras otaknya untuk kali ini.


Yang dihadapi oleh Devan bukan perkara mudah, karena hukum yang berlaku di negara di mana Sarah berada itu pemberlakuannya sangat berbeda dengan Indonesia.


Sampai di depan pintu rumah, Devan memijit sebuah tombol yang berfungsi untuk memberitahukan keberadaannya kepada pengisi rumah.

__ADS_1


Sri, salah seorang pelayan di rumah Prayoga membukakan pintu seraya membalas ucapan salam dari Devan.


"Silahkan masuk, Mas Devan, silahkan duduk dulu. Sebentar saya panggilkan Nyonya," ujar Sri dengan logat jawanya yang medok.


Devan menjawab dengan anggukan kepala yang disertai senyumannya yang menawan.


"Mau minum apa, Mas?" tanya Sri.


"Air putih dingin saja, Mbak," jawab Devan seraya mendaratkan bokongnya pada sebuah sofa yang berada di ruang tamu.


Sri kembali melangkah menuju kamar Nyonya rumah, dia mengabarkan keberadaan Devan pada Marni, majikannya.


Bu Marni merapihkan penampilannya di depan cermin, saat itu ia baru saja bangun dari tidur siangnya.


"Nak, Devan, apa kabar?" sapa Marni sambil melemparkan senyumnya ketika sudah berada di ruang tamu.


Devan berdiri dan mencium punggung tangan Ibunda Sarah itu dengan khidmat.


"Alhamdulillah sehat, Tante," sahut pria yang sebaya dengan anaknya itu, sambil kembali duduk.


"Om, belum pulang, ya, Tan?" Devan menanyakan keberadaan Prayoga.


"Kalo nggak ada acara lain, dua jam lagi juga Om pulang kayaknya," balas Marni, ekor matanya melirik ke arah jam dinding yang menempel di bagian atas.


"Oh, iya, Tan, nggak apa-apa, kalo gitu saya nunggu Om sampe pulang, disini. Apa nggak bakalan ganggu istirahat, Tante?" tanya Devan, ia merasa canggung jika di rumah itu hanya ada dia dan Marni tanpa Prayoga.


Padahal para pelayan dan satpam yang bekerja di rumah itu juga masih dengan formasi lengkap.


"Sama sekali tidak, malah Tante seneng ada yang nemenin," jawab Marni.


Setelah dua jam, kedua manusia berbeda generasi itu berbincang, terdengar suara mobil yang berhenti di depan pintu rumah mewah itu.


"Tuh, sepertinya Om sudah datang," tunjuk Marni.


"Eh, ada tamu rupanya," sapa Prayoga berbasa basi.


Devan hanya membalas dengan senyuman.


"Apa kabar, Om," sapa Devan seraya mencium punggung tangan Prayoga.


"Ada angin apakah, calon menantu tak jadi ini datang kemari?"

__ADS_1


Ketiganya kembali tersenyum.


__ADS_2