
“Gue balik dulu,” pamit Geo setelah menyeruput tegukan terakhir latte di dalam cangkirnya.
“Loh, tumben, kan masih sore, Pak dokter,” ujar Rendy, bartender di café itu.
Geo tak membalas basa basi Rendy, dokter muda itu hanya menyunggingkan senyum alakadarnya dan beranjak pergi.
Geo kemudian melangkah menuju parkiran lalu menyalakan alarm lock mobilnya, ia pun melajukan kendaraan roda empat itu kembali menuju apartemennya.
Di perjalanan Geo melihat kerumunan orang-orang di pinggir jalan, terlihat ada sosok perempuan yang tengah dikelilingi banyak orang, Geo meminggirkan mobilnya.
Barangkali ada kecelakaan lalu lintas dan ada hal yang bisa dia bantu, fikirnya. Naluri kedokterannya muncul seketika.
“Ada apa, Bang?” Geo bertanya pada salah satu pria yang sedang berdiri dekat dengan kerumunan itu.
“Itu Mas, ada yang abis kecopetan, kasian, mana masih anak perawan lagi,” ungkap pria bertopi itu.
Geo mencoba menyelusup ke dalam barisan kerumunan orang-orang itu, Nampak olehnya sosok yang sudah tak asing.
Gadis bermata bulat itu sedang menangis, ada luka dipergelangan tangannya.
“Kamu, kenapa?” Geo menghampiri Sarah.
Gadis itu menatap Geo, “aku abis dijambret, dok,” lirihnya.
“Aku antar kamu pulang sekarang.”
Geo tak berfikir panjang, dia langsung membopong tubuh gadis itu.
“Ini adik saya, Pak, Bu,” ucapnya pada kerumunan orang-orang yang terheran-heran dengan perlakuannya terhadap gadis itu.
“Oh, adiknya, dianterin dong, Bang, jangan dibiarin sedirian, kasian, barusan aja abis dijambret,” celetuk seorang emak-emak yang ikut berdiri memperhatikan keduanya.
Geo tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu berjalan menuju mobil yang diparkirkannya tak jauh dari tempat itu.
Desiran hawa aneh menjalari tubuh gadis itu saat dibopong dokter muda yang sudah menjadi idolanya sepekan terakhir ini.
Ada rasa senang yang nggak ketulungan, ada rasa malu yang teramat sangat, namun rasa nyaman berada dalam dekapan pria tampan itu mendominasi hatinya dan fikirannya.
Sarah kini berada di jok depan, Geo berada tepat disampinya saat ini. Debar jantung gadis itu semakin nggak karuan, jauh lebih kencang dibandingan saat peristiwa penjambretan yang baru saja dia alami.
“Jangan takut gitu, aku udah jinak, kok,” goda Geo pada gadis yang terlihat sangat gerogi berdekatan dengannya.
“Aku bersihkan dulu lukamu,” lanjutnya seraya memegang tangan Sarah yang terluka.
Dengan perlahan Geo membersihkan luka goresan di pergelangan tangan Sarah, gadis itu sesekali meringis.
“Perih? Tahan dikit, yah,” ucap dokter muda yang sangat tampan di mata gadis SMA itu.
Geo meniup-niup pelan luka Sarah, sangat sempurna terlihat di mata gadis bermata bulat itu, ia mendapatkan perlakuan Geo yang begitu lembut.
__ADS_1
“Apa aja yang diambil tadi?” tanya Geo, membuat gadis itu kaget, karena tengah asyik menikmati ketampanannya.
“Emh, itu, tas aku, dok,” Sarah menjawab dengan gugup.
Geo tersenyum, membuat hati Sarah semakin meleleh karenanya.
“Panggil saya Mas aja, kalo kita ketemu di luar Rumah Sakit,” pinta Geo seraya melepaskan tangan Sarah yang bagian lukanya sudah terbalut kasa dan plester.
Sarah tersenyum dan mengangguk, “I iya, Mas,” bisiknya.
“Jadi apa aja yang raib?” kembali Geo bertanya.
“Yang tersisa cuma ponsel, dok, eh, Mas, maaf,”
“hahaha, lucu kamu.”
Wajah Sarah merona.
“Udah bilang ke orang tua, kamu kejambretan?”
“Belum,”
“Sok, telpon dulu, takut mereka khawatir.”
Sarah merogoh ponsel yang berada di dalam saku celana panjangnya. Ia menghubungi Sang Ayah, dan menceritakan kejadian yang menimpanya tadi, dia juga menceritakan dokter Geo yang sudah menolongnya dan akan mengantarkannya pulang.
Geo tersenyum-senyum, dia merasa seakan sudah menjadi seorang pahlawan yang kemalaman.
“Sarah, Sarah Ardelia Prayoga,” gadis itu menyebutkan namanya dengan lengkap.
“Aku, Geovano Pratama,” Geo pun melakukan hal yang sama.
Dokter muda yang sudah berusia dua puluh delapan tahun itu melajukan kendaraan yang dikemudikannya.
Sarah menikmati kebersamaannya bersama Sang idola malam itu.
*****
“Sarah kejambretan, Mah,” ujar Pak Prayoga memberitahukan pada istrinya kejadian yang menimpa putri mereka.
Bu Marni panik, “gimana keadaan Sarah? Dia nggak di apa-apain, kan?” resahnya.
“Sepertinya dia baik-baik saja, Bu, katanya dokter muda yang nolong Bapak waktu di UGD itu menolong anak kita juga tadi, dan sekarang mereka sedang menuju jalan pulang,” jelas Pak Prayoga, mencoba menenangkan kekhawatiran istrinya.
“Hayu Pah, ke depan, Ibu mau lihat Sarah,” ajak Bu Marni.
“Mereka belum sampai, Bu,” sanggah Pak Prayoga.
“Nanti juga kedengeran kalo udah ada di depan rumah,” imbuhnya.
__ADS_1
Kedua orang tua itu sedang berada di ruang tamu, Bu Marni duduk dengan gelisah, dia sangat khawatir pada putri tunggalnya.
Terdengar suara mobil yang masuk ke pelataran rumah mewah itu.
“Nah, tuh mereka datang,” tunjuk Pak Prayoga.
Merekapun bergegas menuju pintu.
“Assalamu’alaikum,” ucap Sarah dari luar.
“Alaikumussalam,” jawab suami istri itu serempak.
Bu Marni segera membuka pintu, dia langsung memeluk anak semata wayangnya.
“Kamu nggak apa-apa, nak?” tanyanya, sembari melihat-lihat seluruh tubuh anak gadisnya itu.
“Nggak Bu, aku nggak kenapa-kenapa, cuma tas aku digondol jambret,” kesal Sarah, mengingat isi dalam tas miliknya itu adalah benda-benda yang cukup penting.
“Soal tas dan isinya nanti Ayah yang urusin, yang penting kamu selamat,” tegas Pak Prayoga.
“Nak dokter, maaf jadi terabaikan, silahkan masuk dulu, terimakasih sudah menolong anak kami,” ajak Bu Marni pada Geo yang sedari tadi diam memperhatikan percakapan orang tua dan anaknya itu.
“Saya langsung pulang saja, Pak, Bu, sudah malam,” pamit Geo pada orang tua Sarah.
“Makasih ya, Mas,” ucap Sarah dengan senyuman manisnya.
Geo mengangguk dan membalas senyum pada gadis itu.
Dokter muda itu melangkah menuju kendaraannya yang terparkir di pelataran rumah Pak Prayoga.
“Mas, tunggu!” panggil Sarah, gadis itu menghampiri penolongnya kembali.
Geo menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Sarah.
“Boleh minta nomer ponselnya?” pinta Sarah dengan keberaniannya yang tiba-tiba membesar.
Geo kembali tersenyum, telapak tangannya diulurkan, Sarah memberikan ponselnya, lalu Geo mengetikan nomor ponsel dan namanya di phonebook milik Sarah.
Pemuda tampan itu mengembalikan ponsel Sarah.
Gadis itu kembali tersenyum, rona bahagia terpancar dari wajahnya.
*****
Devan merobah posisi tidurnya kembali, matanya sulit terpejam malam itu, entah kenapa, tiba-tiba ada kegelisahan yang menylinap ke dalam hatinya.
Bayangan wajah gadis bermata bulat itu semakin lekat di dalam kepalanya. Seperti virus yang teru menjalar memenuhi rongga kepala, tak dapat di cegah.
“Kenapa gua jadi kaya gini, sih,” batinnya.
__ADS_1
Devan beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju kamar mandi, lalu pemuda baik hati itu menghamparkan sajadahnya. Rutinitas ibadah malam yang selalu ia laksanakan dengan konsisten, membuatnya selalu dimudahkan dalam segala hal.