Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Niat Busuk


__ADS_3

Kepergian Sarah membuat Pak Prayoga dan Bu Marni kembali merasakan kehilangan buah hati mereka satu-satunya.


"Kita hanya tinggal berdua sekarang," lirih Bu Marni pada suaminya.


"Nggak apa-apa Bu, lagipula dia dibawa suaminya. Sesekali nanti kita tengokin Sarah di sana, sekalian jalan-jalan," bujuk Pak Prayoga.


Bu Marni hanya tersenyum lemah, ia tau suaminya tak ingin dia kembali jatuh sakit karena memikirkan anaknya.


Pak Prayoga menepuk pelan pundak Bu Marni yang bersandar dibahunya.


"Ayah ke kamar dulu, ya. Rasanya badan Ayah capek sekali, ingin rebahan."


Bu Marni menegakkan kembali posisi duduknya, mempersilahkan sang suami beristirahat.


Pria paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamar. Dari langkahnya memang ia terlihat kelelahan.


Entah kenapa ada rasa khawatir yang semakin membesar di dalam hati wanita berusia lima puluh tahun itu. Fikirannya tak bisa lepas dari anak semata wayangnya.


"Kata orang kalo lagi banyak fikiran harus banyak gerak dan kegiatan biar nggak stress," celotehnya dalam hati, ia pun beranjak dan berjalan menuju dapur.


"Nyonya," sapa Ajeng dan Sri hampir bersamaan.


"Makanan yang kemaren catering pernikahan masih banyak yah?" tanya Bu Marni pada kedua pelayannya.


"Iya, Nyonya, masih banyak," jawab Ajeng, yang diikuti anggukan kepala Sri tanda meng-iya kan.


"Kita bagi-bagikan saja sama ojeg dan tukang becak yang pada mangkal di depan perumahan," ajaknya.


Ajeng dan Sri menyambut dengan antusias ide dari majikan mereka.


"Ayo kita bungkus-bungkusin makanannya," ajak Bu Marni.


Tanpa bertanya lagi, kedua pelayan itu menyiapkan beberapa dus kecil untuk dijadikan tempat makanan yang akan dibagikan.


*****


Ketiganya tiba di sebuah rumah mewah bergaya khas eropa, tampaknya di rumah itu tak ada penghuni.


Memang Rosa dan Robert tidak mempekerjakan pembantunya hingga menginap, mereka hanya menyewa pembantunya saat siang hari, itupun jika mereka perlu.


Di rumah yang mewah dan besar itu mereka hanya tinggal berdua, karena anak Robert dari istri pertamanya sudah memiliki rumah sendiri, dan anak Robert dari Rosa hanya seorang yaitu Geo.


Makanya Rosa sangat mengharapkan keturunan dari Geo, supaya kekayaan milik Robert tidak hanya jatuh ke anak dari istri pertamanya saja.

__ADS_1


Bahkan Rosa sangat yakin, jika cucunya laki-laki, pasti Robert akan lebih mudah memberikan segalanya.


Karena cucu Robert dari keturunan istri pertamanya semua perempuan.


"Ini rumah Momy," ujar wanita berkacamata hitam itu pada Sarah.


Sarah tersenyum sambil menganggukan kepala, tangannya masih melingkar di lengan Geo, seakan tak ingin lepas, keduanya masuk setelah Rosa, ibunda Geo, membuka pintu rumahnya dan berjalan lebih dulu.


"Papih masih berada di luar kota sekarang, jadi dia belum bisa bertemu denganmu," lanjut Bu Rosa seraya menatap wajah menantunya.


"Iya, nggak apa-apa, Mom," ucap Sarah.


"Kami masuk kamar dulu ya, Mom," sela Geo, seraya mengarahkan Sarah menuju lantai dua.


Geo melepaskan gandengan tangan Sarah setelah berada di dalam kamar tidurnya.


"Cukup sampai di sini manjanya," ucap Geo.


Sarah mengerutkan kening, ia tak faham dengan ucapan suaminya barusan, apakah menggandeng tangan suami itu sikap yang manja fikirnya.


Sarah tidak berani bicara apapun pada lelaki yang sangat dicintainya itu, ia hanya menunduk saat Geo menatapnya tajam.


"Kamu udah hamil belum?" tanya Geo.


"Tugasku adalah membuat kamu hamil dan tugasmu adalah melahirkan anak laki-laki untukku," tegas Geo dengan menampilkan mata elangnya.


Kedua bola mata Sarah membelalak, ia kaget dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan suaminya.


"Jadi hanya untuk itu kamu menikahi aku, Mas?"


Geo tak menjawab pertanyaan dari istri sahnya itu, dia lebih memilih ke luar kamarnya setelah mengenakan jaket tebalnya kembali, lalu pergi entah kemana.


"Tega kamu, Mas."


Sarah merasa lemas, ia bersimpuh di lantai kamar sambil menangis.


Entah itu deraian air matanya yang ke berapa, hanya untuk seorang laki-laki dia rela menghancurkan cita-cita dan impiannya untuk menjadi seorang sarjana.


Ia pun telah mengecewakan kedua orang tuanya, dengan membuat Bu Marni jatuh sakit karena ulahnya saat kabur dari rumah.


Ia juga telah menolak ketulusan dan keseriusan Devan. Demi seorang Geo.


Ingin rasanya dia kembali ke Indonesia saat itu juga, namun nasi sudah menjadi bubur, ia harus menerima semua konsekuensi dari langkah yang sudah dia ambil sebelumnya.

__ADS_1


Suara ponsel berdering, ada sebuah panggilan yang masuk.


Sarah menyeka air matanya yang masih mengalir, ia pun berusaha bangkit dan mengambil telepon seluler itu dari dalam tasnya.


"Assalamualaikum, Sarah, kamu sudah sampai, Nak?" suara dari jauh itu ternyata suara Bu Marni, ibunda Sarah.


"Ehm, Alhamdulillah sudah sampai, Bu, maaf belum ngasih kabar, langsung sibuk beresin pakaian," jawab Sarah dengan suara yang terdengar agak serak.


"Kamu baik-baik saja kan?" kembali Bu Marni memastikan keadaan anaknya.


"Iya, Bu. Sarah baik-baik saja, Alhamdulillah sehat," Sarah menegaskan keadaannya, agar ibunya tak khawatir.


Sarah selalu menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, juga tentang Geo, dia selalu menutupi kesalahan suaminya itu.


"Ibu dan Ayah juga sehat kan?" Sarah balik bertanya.


"Alhamdulillah kami sehat, Nak," ucap Bu Marni.


"Syukurlah."


Hening sesaat. Sarah masih dengan rasa kecewanya pada Geo, dan Bu Marni masih berusaha menghilangkan kekhawatirannya.


"Ya, sudah, kalo begitu, istirahatkan badanmu, ya, kamu pasti cape abis terbang berjam-jam, besok-besok ibu hubungi kamu lagi," pungkas Bu Marni.


"Iya, Bu," jawab Sarah singkat.


Sambungan telepon pun diputus.


Sarah memeluk ponsel sambil merebahkan badannya di atas kasur, kembali air matanya berderai, betapa dia sangat tulus mencintai lelaki itu, namun balasan yang diterimanya sama sekali tak disangka-sangka.


Karena lelah, rasa ngantuk menderanya, wanita muda itu pun tak lama terlihat sudah terlelap.


Terdengar suara pintu dibuka, Geo masuk lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya.


Malam sudah larut, tak jelas Geo berangkat ke mana tadi, yang jelas dia pulang dalam keadaan mabuk.


Senyum menakutkan terlihat dari bibir Geo. Matanya memandang tubuh Sarah, bagaikan seekor serigala yang sedang kelaparan.


Sarah menggeliat, dia kaget melihat sang suami yang tiba-tiba sudah berada di atas tubuhnya dan tengah memandanginya dengan tatapan menyeramkan.


Geo mendekati istrinya, Sarah bergeming, tubuhnya terasa kaku ketika hendak digerakkan.


Suaminya sudah tak lagi seperti seorang manusia normal, Geo melakukan aksinya dengan brutal dan kasar, Sarah hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan kekasih halalnya.

__ADS_1


Air matanya kembali berderai, dalam lubuk hatinya ia tak bisa menerima perlakuan suaminya yang seperti seorang bajingan.


__ADS_2