Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Sidang


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun suasana di dalam sel itu masih tetap seperti biasa.


Selly duduk sendiri di pojok ruangan lembab tak bercahaya itu, sementara yang lain saling sapa dan cerita dengan Sita, tahanan berjilbab itu memang terlihat ramah dan pandai bergaul.


Sita masuk ke dalam sel itu karena sebuah fitnah, ia difitnah temannya sendiri, kasus pencurian.


Sita dituding mengambil uang di dalam brankas restoran tempatnya bekerja.


Wanita berjilbab itu adalah seorang pelayan restoran.


Sarah tak terlihat di dalam sel, ia tengah bersiap untuk menghadapi sidang pertamanya hari ini.


Ibu muda itu berada di sebuah ruangan tempat tahanan yang menunggu penjemputan untuk disidang, Sarah meninggalkan sel yang sudah hampir sepekan ini ditempatinya.


Wajahnya tetap datar, mata bulatnya terlihat sayu, tubuhnya kurus, ia mengenakan kemeja putih bertangan panjang dengan rok pendek berwarna hitam, pakaian itu dibelikan Marni sehari sebelumnya.


Prayoga dan Marni sampai di ruangan itu, diikuti oleh pria muda berwajah tampan yang berjalan dengan gagah di belakang keduanya.


"Ayah, Ibu," sapa Sarah seraya mencium punggung tangan kedua orangtuanya dengan khidmat. Borgol di tangannya dilepas saat hendak berganti baju tadi.


"Hai, apa kabar?" sapa Devan dengan lemparan senyumnya.


"Baik," jawab Sarah singkat.


Sarah menundukan wajahnya, tak berani beradu pandang dengan pria tampan itu, rasanya ia benar-benar malu dan merasa bersalah padanya, apalagi ketika Sarah dikasih tau Ayahnya bahwa Devan masih tetap melajang sampai sekarang, hal itu membuat Sarah semakin merasa bersalah.


Sarah duduk di sebuah bangku persegi panjang diapit kedua orangtuanya, Devan duduk sendiri di bangku yang berhadapan dengan ketiganya.


"Apa kamu sudah siap, Nak," tanya Prayoga pada putrinya.


Sarah hanya mengangguk.


Marni menggenggam tangan Sarah, wanita berjilbab itu terlihat sangat khawatir saat memandang wajah anaknya, sepertinya ia takut Sarah dihukum dengan hukuman yang berat oleh hakim.


Pria tampan berkemeja biru itu sesekali menatap wajah Sarah, ia kehilangan sosok ceria dan smart yang menjadi kelebihan wanita itu dulu.


"Kamu jangan berbicara dengan emosi nanti, pokonya tenangin diri kamu dan jawab semua pertanyaan sesuai dengan kenyataan yang kamu tau," pesan Devan.


Sarah mengangguk, ia faham betul siapa Devan, pengacara muda itu kini sudah menjadi seseorang yang terkenal, Devan menjadi salah satu pengacara muda yang disegani di Indonesia, jika saja ia menerima tawarannya untuk dibantu, Devan pasti berusaha semaksimal mungkin untuk meringankan hukuman yang akan diterimanya.


Namun itu akan menambah beban rasa bersalahnya pada pria yang selama ini selalu membantu dia dan keluarganya. Maka dari itulah Sarah menolak.


Lagipula ini adalah perbuatan yang dilakukannya dalam keadaan sadar, jadi ia harus menerima apapun keputusan hukuman yang diberikan hakim nanti, fikir Sarah.


Marni memeluk anak semata wayangnya itu, ia tak kuasa melihat Sarah menjadi seorang terpidana atas kasus pembunuhan cucunya sendiri.


Sungguh, hatinya hancur, wanita setengah baya itu merasa gagal menjadi seorang ibu.


Sarah pun demikian, ia merasa telah gagal menjadi seorang anak yang berbakti, ia menghancurkan sendiri masa depan yang sudah dirintisnya hanya demi seorang baj***an bernama Geo.


Kedua wanita cantik berbeda generasi itu saling berpelukan erat, seperti ingin saling mentransfer semangat dan kekuatan mereka satu sama lain.


Tiba-tiba ponsel Devan berbunyi, sepertinya panggilan video dari Papahnya, Bagas.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pah," sapa Devan seraya melambaikan tangan ke depan layar ponsel.


"Alaikumusalam warohmah, apa kabar kamu? Sibuk banget sampe nggak ada kabar," ujar Bagas.


"Hehehe ... Maaf, Pah," ucap Devan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Mana mereka?" tanya Bagas.


Devan membalikan layar ponsel agar Papahnya bisa melihat Sarah dan keluarga.


"Gas, tolong do'akan kami disini," pinta Prayoga dengan kedua mata yang mulai berembun.


"Tanpa diminta pun, kita disini selalu mendo'akan kalian," balas sahabat sejati itu seraya tersenyum.


"Kamu kuat, Ga. Kalian pasti bisa lewati semuanya," lanjut Bagas menyemangati.


"Mana Mbak Marni?" tanya Maria.


"Dek'," suara Marni tercekat, ia tak mampu melanjutkan kalimatnya, kedua matanya sudah mengeluarkan kembali bulir bening yang mengalir deras.


"Mbak, maafkan kami hanya bisa mendo'akan kalian dari sini. Karina sedang ujian, jadi ndak bisa ditinggal," ujar Maria.


Marni hanya bisa menganggukan kepalanya sambil terisak, Maria faham betul bagaimana perasaan Marni saat ini, keduanya sama-sama berposisi sebagai seorang ibu.


"Sarah, semangat!"


Bagas mengacungkan kepalan tangannya memberikan semangat pada anak sahabatnya.


Saat suasana mengharu biru, tiba-tiba seorang polisi datang, memberitahukan bahwa persidangan akan segera dimulai.


Bagas mengakhiri panggilan videonya.


Tangan Sarah kembali diborgol, lalu dua orang polisi mengapitnya sebelah kanan dan kiri, mereka berjalan lebih dulu, menuju mobil tahanan yang sudah siap melaju ke tempat persidangan.


Devan dan kedua orang tua Sarah mengekori mobil tahanan itu.


Sampai di area parkir kendaraan, Devan melirik sebuah mobil sport yang biasa digunakan Geo.


"Si baj***an itu datang juga?" tanya Prayoga.


Devan mengangguk, sebenarnya ia juga sangat muak dan kesal pada Geo.


Tapi, apa daya, laki-laki sialan itu sudah berhasil memperdaya Sarah dengan cinta palsunya.


Ketiganya melangkah menuju ke tempat persidangan, terlihat sudah banyak orang disana, termasuk Geo dan keluarganya pun sudah duduk dijajaran kursi paling depan.


Agenda hari ini adalah keterangan saksi-saksi.


Sidang dimulai dengan menghadirkan saksi dari pihak penuntut, satu-satunya saksi yaitu Geo, ayah si bayi.


Geo menceritakan bahwa dia bangun tidur sekitar pukul empat subuh lalu pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air minum.


Ia melihat genangan air yang meleber dari dalam westafel, ternyata ada tubuh bayi malang itu di sana. Lalu Geo mencoba melakukan pertolongan pertama dengan resusitasi jantung pada bayi itu, namun sudah terlambat, bayi itu sudah meninggal.

__ADS_1


Geo menyerahkan bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan apa yang dilakukan Sarah pada bayinya pada hari kejadian.


Hakim menerima bukti rekaman itu dan kesaksian dari Geo.


Sarah tertunduk, raut wajahnya tetap datar.


Hakim menanyakan apakah ada saksi atau bukti dari pihak pembela.


Seorang jaksa maju dan memberikan bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan kegiatan Sarah sehari-hari selama tinggal di rumah itu, dalam rekaman itu pula terlihat bagaimana perlakuan Geo dan kedua orangtuanya pada Sarah.


Hakim meneliti dengan serius dan fokus setiap detail dari rekaman-rekaman itu.


Setelah rekaman itu diberikan, lalu terdapat satu bukti lagi yang diserahkan, yaitu sebuah keterangan dari seorang psikiater di kota itu yang menyatakan bahwa Sarah mengalami depresi berat yang mengakibatkan terjadinya perubahan karakteristik dalam diri Sarah, sehingga melakukan hal-hal yang diluar kendalinya sendiri.


Sarah bertanya-tanya darimana datangnya bukti-bukti yang bisa dijadikan pembelaan terhadap dirinya. Ibu muda itu melihat ke arah Devan, pengacara tampan itu mengangguk dan tersenyum.


Ternyata lagi-lagi Devan yang membawa bukti-bukti rekaman perlakuan Geo dan kedua orangtuanya itu, juga bukti kesehatan mental Sarah.


Ia membayar pelayan yang dulu sempat bekerja di rumah itu untuk mengkopi rekaman CCTV sebelum akhirnya dia diberhentikan oleh Rosa dengan alasan sudah ada Sarah yang menggantikannya.


Lalu keterangan tentang psikologi Sarah didapatkan Devan dari salah satu teman Richard yang bekerja sebagai seorang psikolog di kota itu, bukan Devan jika ia tak dapat melakukan berbagai hal yang bisa membantu orang yang dikehendakinya.


Memang dia di tolak untuk menjadi pengacara Sarah di persidangan itu, namun dengan adanya bukti-bukti yang terkumpul dia berhasil membuat hakim mempertimbangkan lagi tuntutan hukuman bagi Sarah.


Hakim memutuskan untuk menunda keputusan sidang sampai besok.


Sarah kembali digiring ke luar dari ruang sidang menuju mobil tahanan, Geo menatap tajam wajah wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.


"Geo!"


Prayoga menghampiri dokter muda yang masih berstatus menantunya.


Geo menoleh, terlihat kesombongan dari raut wajahnya yang tampan namun mengerikan itu.


"Lepaskan anakku, ceraikan dia."


Tanpa menjawab Geo membalikan badan dan berlalu meninggalkan Ayah mertuanya.


Prayoga bermaksud mengejar, namun dicegah oleh Devan.


"Biarkan mereka, Om. Soal itu nanti saya yang urus."


Nampak sekali amarah yang tergambar dari wajah seorang Ayah yang anaknya telah dihancurkan oleh seorang Geovano Pratama.


Tiba di dalam sel, Sarah sudah kembali mengenakan baju tahanan, borgol di tangannya pun sudah dilepaskan.


Sita menghampiri Sarah.


"Gimana sidang pertamanya?" tanya Sita penasaran.


"Besok vonisnya keluar," jawab Sarah.


Keduanya kembali duduk di tempat favorit Sarah, pojokan.

__ADS_1


__ADS_2