Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Rasa


__ADS_3

Pagi itu Pak Prayoga sudah diperbolehkan pulang, Devan sudah standby sejak pukul tujuh pagi, kebetulan hari itu tidak ada jadwal kampus, dan sepertinya dia sudah tidak sabar untuk melihat gadis bermata bulat itu.


“Bapak sudah pulang hari ini, semoga sehat selalu ya, Pak, jangan lupa obatnya diminum,” tutur dokter Fanya setelah selesai melakukan pemeriksaan terakhir pada pasiennya.


Pak Prayoga mengangguk seraya berkata, “iya, dok.”


“Terimakasih untuk perawatannya selama sepekan ini, dok,” ucap Bu Marni.


“Sama-sama Ibu. Baik kalo begitu selamat jalan untuk semuanya, saya permisi.”


Wanita ramah berjilbab putih itu segera keluar untuk melanjutkan tugasnya kembali.


“Sarah, tolong bawakan obat untuk Ayah dari apotek, nanti kami menunggumu di lobby Rumah Sakit,” titah Sang Ibunda pada anak gadisnya.


Tanpa menunggu lama, Sarah keluar sambil membawa resep yang tadi dituliskan dokter Fanya.


Di perjalanan Sarah kembali dipertemukan dengan Geo. Dokter muda itu tengah berjalan menuju UGD yang kebetulan satu arah dengan apotek.


“Hei, gimana keadaan Ayahmu?” sapa Geo dengan wajah yang ramah, langkah kakinya diperlambat untuk mengimbangi Sarah.


“Alhamdulillah, sudah boleh pulang hari ini, dok,” jawab Sarah dengan hati yang berbunga-bunga.


“Syukurlah, semoga sehat selalu,” tutur dokter muda itu seraya melemparkan senyum menawannya.


“Iya dok, Aamiin, terimakasih do’anya,” ucap Sarah.


Hati gadis SMA itu semakin berbunga-bunga, jantungnya berdegup kencang, sayangnya percakapan mereka harus berakhir karena Sarah tiba-tiba saja menerima panggilan dari Sang Ayah lewat ponselnya.


“Saya duluan.”


Gadis belia itu mengangguk, ada rasa kesal dihatinya, karena tidak bisa berbincang lebih lama lagi dengan dokter tampan yang kini menjadi idolanya.


“Iya Ayah, ada apa?” tanya Sarah.


“Kalo sudah selesai, segera turun, kami menunggu di lobby,” tegas Pak Prayoga pada putri satu-satunya.


“Iya,” jawab Sarah.


‘Perasaan tadi juga udah ngomong, kenapa harus diulang-ulang sih,’ dengusnya kesal.


Sarah sampai di apotek, kebetulan tidak ada antrian di sana, mungkin karena masih jam pemeriksaan.


Tak lama Sarah sudah menerima obat untuk Ayahnya, bergegas dia menuju lift dan memasuki kotak besi itu.


“Nah, tuh Sarah,” tunjuk Devan pada gadis berkemeja merah yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

__ADS_1


Mereka bersama-sama menuju kendaraan yang sudah disiapkan Devan.


Dalam perjalanan pulang, hanya Devan dan Ayah Sarah yang berbincang dengan serunya.


Bu Marni dan Sarah hanya menjadi pendengar setia.


Dua jam perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya CRV berwarna silver itu tiba di depan sebuah rumah mewah, pelatarannya cukup luas.


Hanya ada dua orang asisten rumah tangga dan satu orang satpam di sana. Ajeng dan Sri yang hanya bertugas untuk membersihkan seluruh ruangan dan mencuci-cuci di rumah itu, untuk urusan memasak menjadi tugas Bu Marni, karena Pak Prayoga tidak mau makan masakan orang lain selain istrinya.


Mang Uya yang bertugas ganda, sebagai security dan juga tukang kebun, namun beliau dengan senang hati menerima tugas tersebut.


“Selamat datang, Pak Boss, Nyonya dan Neng Sarah,” sapa Mang Uya sambil membukakan pintu mobil untuk majikan utamanya.


“Makasih, Mang,” ucap Pak Prayoga pada asisten setianya itu.


Devan dan Sarah berjalan mengekori Bu Marni yang menggandeng tangan suaminya, kedua orang tua itu berjalan lebih dulu menuju ke dalam rumah.


“Selamat datang Tuan, Nyonya,” sambut Ajeng dan Sri yang sudah berdiri di depan pintu masuk rumah mewah itu.


Pak Prayoga dan Bu Marni tersenyum, mereka bahagia sudah dapat kembali ke rumah yang sudah sepekan mereka tinggalkan.


“Sri, tolong siapkan peralatan dan bahan makanan di dapur, saya mau buat masakan yang enak-enak hari ini,” pinta Bu Marni pada asisten rumah tangganya.


“Baik, Nyonya.”


“Ajeng, tolong bersihkan baju-baju saya dan Tuan yang ada di dalam koper,” lanjut Bu Marni pada asistennya yang lain.


“Baik,” ucap Ajeng, seraya menggeret sebuah koper besar dan membawanya ke ruang belakang.


Bu Marni menghampiri suaminya yang sedang berbincang dengan Devan di ruang tamu.


“Sarah kemana, Pah?” Bu Marni menanyakan keberadaan putrinya.


“Masuk kamar, mau mandi dulu katanya,” jawab Pak Prayoga.


“Kalo begitu saya pulang dulu, Om, Tante,” pamit Devan.


“Loh, kenapa buru-buru, Tante buatkan minum dulu,” tawar Bu Marni.


“Nggak usah Tante, terimakasih, saya ditunggu Papah, beliau mau berangkat ke resto,” pungkas Devan beralasan.


“Oh, ya sudah, hati-hati di jalannya yah, terimakasih udah jemput Om,” ucap Pak Prayoga.


Devan tersenyum seraya meraih tangan kedua orang tua Sarah dan menciumnya.

__ADS_1


Bu Marni menutup pintu rumahnya setelah mengantarkan Devan sampai teras.


“Bu, mau nggak punya menantu kaya gitu?”


“Aku mau kuliah dulu, Ayah,” potong Sarah yang mendengar pertanyaan Ayahnya.


Bu Marni tersenyum melihat wajah anak semata wayangnya cemberut.


“Emang siapa yang ngelarang kamu kuliah?”


Wajah Sarah tertunduk, dalam hatinya kini sudah terisi oleh dokter tampan itu, sedangkan pada Devan, dia tak merasakan apa-apa.


*****


Devan sampai di rumah orang tuanya, pemuda berbadan tegap itu masuk setelah mengucapkan salam.


“Gimana tugas negaranya, udah selesai, Kak?” goda Karina yang tengah asyik bermain game di sebuah PS yang berada di ruang tipi.


“Mamah sama Papah, mana, Tot?” Devan balik bertanya.


Devan memanggil Karina dengan sebutan “Bontot” alias anak bungsu, sebenarnya Karina kesal dengan panggilan itu.


“Udah berangkat ke resto,” jawab Karina, matanya tetap fokus pada game yang sedang dimainkannya.


Tanpa bertanya lagi, Devan berjalan memasuki kamarnya.


*****


Geo selesai mengerjakan tugasnya, dia kembali ke ruangan dokter. Pria muda itu melepaskan snelli lalu menaruhnya di sebuah gantungan yang berada tepat di belakang kursi tempat duduknya, pria tampan itu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah.


‘Jangan menjomblo terus, Mamah sudah ingin menimang cucu,’ tiba-tiba sebuah chat whatsapp masuk, dari Bu Rosa.


Geo hanya membacanya, ia tak pernah membalas jika chat dari Mamahnya berkutat di masalah jodoh.


Bu Rosa bahkan sudah kehilangan cara untuk membujuk Geo agar lebih serius lagi dalam menjalin hubungan, karena usia anak tunggalnya itu yang sudah pantas berkeluarga.


Vania, dia sebenarnya hanya sebuah pelarian Geo agar Mamahnya tidak terus menerus menjodoh-jodohkannya dengan anak gadis para sahabatnya.


Geo dan Vania adalah teman masa SMA yang kembali dipertemukan lewat sebuah acara reunian.


Dokter muda itu meminta Vania untuk berpura-pura menjadi pacarnya, saat kedua orang tuanya berkunjung ke Indonesia untuk melihat keadaanya.


Sayangnya Vania benar-benar jatuh hati pada dokter tampan itu, gadis manja itu sangat mencintai Geo. Namun dokter itu tak menyukai sifat Vania yang manja dan suka mengatur.


Geo menghela nafas dalam, dia memandang layar ponsel yang masih memperlihatkan chat dari Sang Ibunda.

__ADS_1


‘Aku tidak membutuhkan seorang istri, Mah,’ gumam Geo.


__ADS_2