Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Pencarian


__ADS_3

"Tolong kami, Gas," pinta Prayoga pada sahabatnya.


Bagas menepuk pundak sahabatnya itu seraya berkata, "sabar, yah, semoga Sarah baik-baik saja."


Marni terbaring di atas tempat tidurnya, dia sakit. Tepatnya dia stress memikirkan nasib anak gadisnya di luar sana. Kekhawatiran dan kecemasan selalu menghantuinya setiap saat, mimpi buruk pun tak elak dari bunga tidurnya setiap malam.


"Mbak, makan sedikit saja, biar ada tenaga," bujuk Maria.


Marni menggelengkan kepalanya perlahan, selera makannya hilang, wajahnya sayu, matanya sembab dan tubuhnya lemas, setiap hari dia menangis mengingat putrinya yang entah berada di mana.


"Dia menghancurkan masa depannya sendiri, demi laki-laki yang tak pernah menepati janji," gerutu Prayoga, terlihat emosinya tertahan karena melihat kondisi istrinya yang semakin mengkhawatirkan.


"Ibunya sakit gara-gara dia," lanjutnya lagi.


"Devan sedang berusaha membantu pencarian Sarah, dia kerjasama dengan teman-teman detektifnya, kamu bantu do'a saja," ungkap Bagas seraya menepuk-nepuk kembali punggung Prayoga yang duduk tertunduk disampingnya.


"Padahal aku menjodohkannya dengan laki-laki yang sudah jelas bibit, bebet, bobotnya. Devan anak yang aku percayai bisa menjadi imam untuknya. Tapi dia keras kepala," gumam Prayoga, suaranya melemah, tapi mengandung emosi yang sangat kuat.


Bagas tersenyum tatkala ia mendengar penilaian sahabatnya tentang Devan, anak sulungnya.


"Sarah udah gede, Yog, dia mungkin lebih tau mana yang lebih baik untuk dirinya."


Bagas tak ingin sahabatnya terus menerus menyalahkan Sarah.


"Mas Yog, sepertinya Mbak Marni mending dirawat saja, kondisinya semakin mengkhawatirkan. Kalo dirawat, kan ada infusan yang membantu," saran Maria sambil terus menatap tubuh lemah istri sahabat suaminya itu.


Prayoga bangkit dari tempat duduknya, ia melangkah mendekati istrinya.


Pria paruh baya berjambang tipis itu menggenggam tangan istri tercintanya.


"Bu ... kita ke Rumah Sakit, yah, biar Ibu ditangani dokter," bujuknya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh wanita yang sangat ia cintai.


Prayoga menghela nafas dalam, dia tak tau lagi harus bagaimana, istrinya terbaring sakit memikirkan anak tunggalnya yang entah di mana dia berada sekarang.


Bagas dan Maria kini berada di ruang tamu rumah Prayoga, keduanya sangat prihatin melihat kondisi sahabat yang sudah mereka anggap keluarga sendiri itu.


"Pah, apa tidak lebih baik kita hubungi dokter langganan kita, biar datang kesini, periksa Mbak Marni. Kalo memang harus dikasih perawatan, minta dirawat di rumah saja," saran Maria pada suaminya.


Bagaskara terdiam sesaat, lalu merogoh saku jaketnya mengeluarkan ponsel, lama dia menatap layar benda pipih itu, jempolnya terus menyekrol menu di phonebook-nya, mencari nama dokter langganan keluarganya.


"Assalamualaikum, dok, apa kabar?" sapa Bagas berbasa-basi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sehat, Pak, bagaimana Bapak sekeluarga?" suara seorang wanita dari seberang sanapun menanyakan kabar.


"Alhamdulillah, kami semua sehat, tapi kami butuh bantuan dokter, nih, apa dokter bisa datang sekarang?" tanya Bagaskara.


"Ada masalah apakah, Pak? Sepertinya serius sekali," dokter wanita itu terdengar keherannan, karena Bagaskara menyebutkan bahwa keluarganya sehat, tapi menyuruhnya datang.


"Sahabat kami sakit, sepertinya butuh perawatan dari dokter, tapi beliau enggan dibawa ke Rumah Sakit," jelas Bagaskara pada dokter langganan keluarganya.


"Oh, begitu rupanya, baik siang ini saya bisa mengunjungi sahabat Bapak, tolong di-share lock saja alamatnya, Pak," pinta dokter wanita itu.


"Siap, segera saya kirimkan. Kalo begitu terimakasih sebelumnya, dok, dan saya tunggu kedatangannya, wassalamualaikum," pungkas pria mantan aparat kepolisian itu mengakhiri obrolannya.


"Baik, Pak, InshaAllah saya datang. Alaikumusalam warohmah."


Bagaskara menutup sambungan komunikasinya.


Pria paruh baya bertubuh tinggi tegap itu mengajak istrinya untuk berpamitan terlebih dahulu pada sahabatnya.


"Yog, nanti siang dokter langganan keluarga kami akan datang ke sini, biar Marni dirawat di rumah, kasian dia," jelas Bagaskara pada sahabatnya, setelah mereka berada di kamar Prayoga.


"Iya, Gas, makasih banyak, yah, kalian udah banyak direpotkan," lirih Prayoga dengan binar mata keharuan.


"Mas Yoga jangan sungkan, kalo kita bisa bantu, pasti kita bantu, apapun itu," tegas Maria seraya mendekati Marni yang terlihat memejamkan matanya.


Wanita kesayangan Prayoga itu membuka matanya, bola matanya bergeser, melirik ke arah sumber suara yang ia dengar.


Marni mencoba tersenyum, terlihat ia mengucapkan terima kasih dengan gerakan bibirnya tanpa bersuara.


Prayoga mengantarkan kedua suami istri itu sampai teras depan rumahnya, lalu kembali melangkah masuk setelah Bagaskara dan istrinya pergi menaiki mobil mereka.


*****


"Kamu sudah makan?" tanya Geo.


Sarah menggeleng, kepalanya tetap bersandar di dada bidang milik pujaan hatinya itu.


"Aku pesan makanan dulu," ucap Geo dengan menggerakan badannya, memberi isyarat agar Sarah bangkit dari posisinya.


Gadis yang sudah bukan perawan itu sepertinya tak mau jauh-jauh dari Geo. Wajahnya cemberut saat kenyamanannya terganggu.


Pria bertubuh kekar itu beranjak dari tempat duduknya, mengambil ponsel yang sedari tadi dimatikan.

__ADS_1


Terdengar beberapa bunyi notifikasi yang masuk ketika alat komunikasi itu dihidupkan.


Geo menelpon delivery food dan memesan makanan untuknya dan Sarah.


Selesai menelpon, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi, 'Frans' nama yang tertera di layar ponsel.


Segera Geo menjauh dari tempat di mana Sarah berada, tak ingin pembicaraan mereka terdengar oleh wanita yang tergila-gila padanya.


"Sayang, dia ada di tempatku sekarang," Geo memberitahukan keberadaan Sarah di apartemennya.


"Kamu sudah berhasil melakukannya?" tanya Frans dari seberang sana.


"Su sudah, sayang," ucap Geo perlahan.


"Bagus," puji Frans.


Geo terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya dia sedang mendengarkan perintah dari Frans, untuk rencana busuk mereka selanjutnya.


*****


Saat ini Devan sedang berusaha mencari keberadaan Sarah, dengan mengerahkan seluruh rekan-rekan detektifnya.


Pengacara tampan itu tak tega melihat kedua orang tua Sarah, mereka memohon bantuan padanya agar segera menemukan anak gadis mereka satu-satunya.


Devan duduk di kursi kebesarannya, dia masih bergelut dengan tumpukan kertas yang berada di depannya.


Tok .. tok ... pintu ruangan diketuk dari luar, Devan menoleh ke arah suara, lalu mempersilahkan si pengetuk pintunya untuk masuk.


Mila masuk dengan membawa sebuah nampan berisi satu porsi makan siang lengkap dengan jus buah naga kesukaan Devan.


"Saya lihat Bapak belum makan, makanya saya bawakan ini," ungkapnya malu-malu.


Devan menatap wajah manis Mila.


"Makasih, yah," ucap Devan seraya melemparkan senyumnya.


Seperti ada deburan ombak dalam hati gadis berkemeja kotak-kotak itu, dia begitu senang menerima senyuman dari atasan yang selama ini menjadi pujaan hatinya diam-diam.


"Kalo begitu saya permisi kembali ke meja, Pak," pamit Mila, tak lupa dengan menambahkan senyuman termanisnya.


Devan menganggukan kepalanya, "iya, silahkan," ucapnya.

__ADS_1


Pengacara tampan itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya.


Devan tau Mila sekretarisnya itu menyukainya, namun sayangnya hati Devan belum bisa move on dari gadis bermata bulat yang kini tengah dalam pencariannya.


__ADS_2