Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Geisha


__ADS_3

Pilihan menentukan posisi


Langkah pertama menjadi sebuah pondasi


Ketika semua sudah terjadi


Tak ada suatu apapun yang dapat mengganti


Saat hati mulai lelah


Jiwa memaksa untuk menyerah


Hanya kekuatan iman menjadi pencegah


Sesuatu yang bisa jadi musibah


*****


Setiap hari Sarah bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk suami juga mertuanya, eh tidak, sekarang lebih pantas disebut sebagai majikannya.


Sarah benar-benar berperan sebagai seorang pembantu di rumah itu, mulai dari belanja bahan makanan lalu memasaknya, mencuci dan menyetrika pakaian juga mengurus perabotan dapur, beres-beres hingga bersih-bersih seluruh ruangan, kesemuanya itu ia kerjakan sendiri.


Tak jarang Sarah mengerjakan semua pekerjaan rumah sambil menggendong bayinya yang masih membutuhkan ASI eksklusif, tapi karena Sarah sering stress jadi produksi ASI-nya sedikit, makanya Geisha, nama anak Sarah dan Geo, dikasih susu formula juga untuk membantu asupan makanannya.


Geo sering kali melihat bagaimana wanita yang masih sah menjadi istrinya itu sangat kerepotan mengerjakan pekerjaan rumah sambil mengurus bayinya, namun sepertinya tak ada sedikitpun rasa iba dalam hati pria berwajah tampan namun bersifat mengerikan itu.


Bahkan ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu, Geo selalu membuang muka dan mengalihkan perhatiannya, seakan tak ada lagi rasa cinta yang dulu sering dia ucapkan.


Suara bel pintu rumah berbunyi, Sarah segera membukanya.


Terlihat seorang pria muda berwajah oriental tengah berdiri dengan seorang bayi yang berada di dalam dekapannya, dari pakaian yang dikenakan bayi itu berjenis kelamin laki-laki, usianya sekitar enam bulanan.


"Selamat pagi," sapa pria itu pada Sarah yang masih terlihat fokus pada bayi yang dibawanya.


"Apakah saya bisa bertemu dengan Geo?" tanyanya seraya melemparkan senyum.


Sarah baru tersadar ketika mendengar nama suaminya disebut pria itu, ia lalu mempersilahkan tamunya masuk dan menunggu di ruang tamu.


Geo terlihat berjalan menuruni tangga.


"Frans," panggil Geo pada pria yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu disini? Kenapa nggak ngabarin kalo mau kesini?" tanya Geo seraya memeluk lelaki bernama Frans itu.


"Ini siapa?"


Geo melihat ke arah bayi laki-laki yang sudah ditidurkan Frans di atas sofa.


"Dia anakku, ibunya sudah tiada saat melahirkan dia enam bulan yang lalu," ungkap Frans dengan wajah yang terlihat disedih-sedihkan.

__ADS_1


"Bawa ke kamar aku aja, kita ngobrol disana, yuk," ajak Geo sambil membawakan koper yang tadi ditenteng Frans.


Geo dan Frans beserta bayi yang dibawanya itu kini beranjak menuju ke lantai atas, mereka melewati Sarah yang masih berdiri termangu menatap ketiga manusia berjenis kelamin laki-laki itu berlalu di depannya.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Geisha dari kamar belakang.


Gegas Sarah menuju kamar lalu menggendong Geisha sambil memberinya ASI, Sarah sedang menyetrika pakaian Geo dan Rosa saat itu.


Selesai menyetrika, Sarah membawa tumpukan pakaian itu ke kamar masing-masing pemiliknya.


Ketika tiba di depan pintu kamar suaminya, Sarah menghentikan langkahnya.


"Sayang, sebenarnya ini bayi siapa? Beneran ini bayi kamu?" suara Geo bertanya.


Sayang? Geo panggil laki-laki itu dengan sebutan sayang, dalam batin Sarah bertanya-tanya.


"Ya enggak mungkinlah ini bayi aku, Sayang, aku kan nggak bisa hamil, lagipula aku nggak nikahin cewek, kaya kamu," dari nada bicaranya Frans merajuk, dia cemburu pada Sarah.


"Lantas ini bayi siapa? Ngapain kamu bawa² kesini?" Geo masih bertanya dengan rasa penasaran.


"Bayi ini aku adopsi dari panti asuhan, kedua orangtuanya sudah meninggal dalam kecelakaan, dan anak ini yang akan menjadi cerita indah kita selanjutnya," jelas Frans sambil menatap lekat wajah kekasihnya.


"Ahh, sayang, kamu memang pintar, dan selalu bisa aku andalkan," ucap Geo seraya merangkul tubuh Frans dengan mesra.


Keduanya tak menyadari keberadaan Sarah yang berdiri di depan pintu kamar sambil membawa tumpukan pakaian Geo.


Geisha kembali menangis kencang, bayi itu sepertinya sudah bangun tidurnya dan kembali merasakan lapar.


Frans menatap Sarah dengan sinis, dia cemburu, tapi dia juga nampak senang, karena Sarah tak jadi melahirkan anak laki-laki untuk Geo.


Misi untuk menguasai Geo beserta hartanya masih terbuka lebar untuk Frans.


Sarah bergegas keluar dari kamar itu setelah selesai memasukan pakaian Geo ke dalam lemari.


Setengah berlari Sarah menuju kamarnya dan kembali menggendong Geisha, seketika bayinya terdiam, Geisha kembali menghisap ASI yang diberikan ibunya.


Fikiran Sarah masih berfokus pada laki-laki bernama Frans itu.


Siapa dia sebenarnya? Sarah bertanya dalam batinnya.


Hari-hari Sarah di rumah itu sangatlah melelahkan, ditambah dengan tekanan batinnya yang begitu berat, menghadapi keacuhan Geo dan Rosa, mertuanya.


Semua itu terkadang membuat Sarah memiliki fikiran-fikiran buruk, rasanya ia ingin sekali mengakhiri hidupnya atau kabur dari sana.


Tidak hanya beban di dalam rumah, Sarah juga dibuat lelah dengan nyinyiran para pembantu yang bekerja di kompleks itu.


Mereka sering menggunjingnya dengan sangkaan bahwa Sarah hamil dan melahirkan anak dari hasil hubungan gelapnya bersama majikan.


Memang tak ada yang tau bahwa Sarah adalah istri sah Geo, karena keduanya menikah di Indonesia, itupun hanya ijab kabul saja.

__ADS_1


Frans semakin jumawa di depan Sarah, karena dia telah mengantongi izin untuk tinggal di rumah oleh Rosa.


Robert dan Rosa lebih sering menggendong anak yang dibawa oleh Frans dibandingkan cucu kandung mereka sendiri.


Sampai malam tiba, hujan deras mengguyur kota, diselingi suara geludug dan kilatan petir


Terlihat Sarah masih berjibaku dengan perabotan kotor di dapur, ia membersihkan bekas acara pesta yang digelar Geo beserta Momy-nya, kedatangan Robert menjadi alasan diadakannya acara unfaedah itu.


Selesai melakukan semua pekerjaan melelahkan itu Sarah berjalan memasuki kamarnya.


Terlihat Geisha yang sedang terlelap, wajah bayi itu sangat cantik, bulu matanya lentik, hidungnya mancung dengan rambut hitam yang tebal.


Sarah melihat box susu formula yang sudah terbuka.


"Isinya tinggal setengah," gumamnya.


"Aku harus minta uang ke Geo, buat beli susu besok," imbuhnya, seraya beranjak keluar dari kamar.


Langkah kaki Sarah berhenti di depan pintu kamar Geo, terdengar lenguhan panjang dari dalam kamar, diikuti *******-******* yang menjijikan, karena suara-suara itu berasal dari manusia yang berjenis kelamin sama.


Jantung Sarah berpacu dengan cepat, hatinya seakan terbakar setelah hancur berkeping-keping, emosinya meningkat membuatnya berani menendang pintu kamar Geo yang memang tidak dikunci.


Kedua mata Sarah melihat dengan jelas bagaimana Geo sedang melakukan sesuatu yang tidak normal bersama Frans.


"Apa-apaan kamu!" hardik Geo ketika tau bahwa sosok yang berdiri di ambang pintu itu Sarah.


"Kamu yang apa-apaan? Kamu ... Kalian menjijikan."


Sarah tak tahan melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Dia berbalik badan dan kembali berlari menuruni tangga menuju kamarnya.


Sarah duduk bersimpuh di lantai kamar dengan nafas yang masih tak beraturan menahan letupan emosi di dalam hati.


Geisha tiba-tiba menangis kencang, seakan tau ibunya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Sarah yang sudah terlihat lelah dan kacau berusaha menggendong Geisha, dia mencoba menenangkan bayinya.


Susu formula yang tinggal sisa beberapa sendok itu diseduhnya, Geisha menyedot cairan putih itu dengan kuat. Bayi itupun kembali terlelap.


"Kasian kamu, Nak, kamu tak seharusnya berada di tempat seperti ini, kamu harus berada di tempat yang indah dan hidup bahagia di sana."


*****


Pagi itu Sarah masih tertidur pulas di atas kasurnya.


"Lo apain bayi ini, hah?"


Geo berteriak sangat keras, dia menggendong tubuh bayi cantik yang sudah kaku.

__ADS_1


Sarah tersenyum seraya berkata, "akhirnya kamu menggendong anak kita, Mas."


*****


__ADS_2