Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Suasana Rumah


__ADS_3

Geo sampai di apartemennya, dia membuka pintu yang bertuliskan angka 2019.


Lelaki berbadan kekar itu merebahkan tubuhnya di atas sofa depan sebuah televisi yang menempel di dinding ruangan itu.


Ponselnya berbunyi, notifikasi whatsapp terlihat di layar telepon genggamnya.


‘Mas, makasih, yah, ini aku Sarah,’ tulis gadis yang baru saja dia antar pulang itu dalam chat-nya.


Geo hanya tersenyum, tanpa membalasnya.


Matanya ditutup rapat, seakan tak ingin lagi mendengar dan melihat sesuatu yang dianggapnya tidak terlalu penting di dalam hidupnya.


Geo adalah seorang lelaki yang terkenal ramah pada siapapun, namun tidak banyak yang tau karakter asli seorang Geovano Pratama, karena dokter muda lulusan Universitas ternama di Jakarta itu dikenal sebagai orang yang tertutup untuk masalah pribadi.


Geo tidak memiliki sahabat dekat, dia tipikal penyendiri, namun bukan berarti dia kesepian, banyak gadis-gadis yang tergila-gila padanya, berusaha mengejar cintanya. Tapi sayang, Geo tak pernah memperdulikan mereka, entah apa yang sebenarnya di rasakan dokter muda dan tampan itu.


Vania adalah satu-satunya gadis yang pernah dia jadikan pacar, itu pun pacar setingan, yang pada akhirnya dia tinggalkan juga karena alasan ketidak cocokannya pada sifat manja seorang Vania.


Menurutnya wanita itu adalah sumber malapetaka, dia tidak ingin jatuh cinta hingga dapat dikendalikan dan dimanfaatkan oleh wanita manapun, dia menganggap wanita itu hanya akan mengekang dan mengatur hidupnya kelak.


Berkali-kali dia ditekan oleh Sang Ibunda untuk segera menikah dan mendapatkan keturunan, namun tekanan itu tak pernah digubrisnya.


Bu Rosa pun menyerah dan akhirnya membebaskan putra tunggalnya itu untuk menjalani hidupnya sendiri.


Dokter muda itu sudah terlelap dengan sendirinya di atas sofa, tanpa sempat melepas sepatu kets yang masih dikenakannya.


*****


Devan kembali merebahkan tubuhnya, setelah melaksanakan dua rakaat malam. Kedua netranya menatap langit-langit kamar.


“Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?” gumamnya.


Pemuda bertubuh tinggi tegap itu berusaha memejamkan matanya kembali.


Entah di menit ke berapa dia terlelap dan mengistirahatkan tubuhnya.


*****


Gadis bermata bulat itu masih mengingat wajah tampan yang tadi mengobati lukanya.


Sarah senyum-senyum sendiri, dia pun tidak melepaskan plester yang dipasangkan Geo, padahal sebenarnya dia sudah bisa membukanya, darahnyapun sudah tidak keluar lagi.


Memang kalo sedang jatuh cinta, barang sepele yang diberikan dianggap suatu keistimewaan.

__ADS_1


Sarah pun terlelap dengan senyum yang masih terukir dibibir tipisnya.


*****


Kumandang adzan subuh membangunkan seluruh isi rumah mewah itu. Pak Bagas lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi, beliau memang sangat disiplin waktu, dalam hal apapun.


“Mah, Papah ke Mesjid, yah,” pamit Pak Bagas.


Bu Maria yang masih duduk di pinggir ranjang mengangguk seraya melemparkan senyum termanisnya untuk Sang suami tercinta.


Pria paruh baya yang merupakan pensiunan dari lembaga kepolisian itu selalu melaksanakan shalat berjamaah di Mesjid, beliau pria yang sangat bertanggung jawab pada keluarganya.


“Van, kamu udah bangun belum? Ayo ke Mesjid, bareng.”


Ayah dua anak itu mengetuk pintu kamar putra sulungnya sambil berlalu.


Devan yang sudah siap dengan peci hitam yang melekat di kepalanya bergegas keluar kamar, menyusul Sang Ayah.


“Yah, tunggu,” panggil Devan, sambil berlari kecil menuju lelaki yang menjadi panutannya sejak kecil.


Bu Maria dan Karina pun bersiap melaksanakan shalat dua rakaat di dalam kamarnya masing-masing.


Keluarga itu sangat mengutamakan ibadah dari hal apapun, mereka sangat berhati-hati untuk urusan akhirat.


“Alaikumussalam,” jawab Bu Maria, beliau keluar dari kamar.


Wanita berjilbab itu mencium tangan suaminya yang baru datang dari Mesjid, kecupan hangat dari Pak Bagas mendarat di kening wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah setengah abad.


Pemandangan itu membuat Devan semakin bangga pada kedua orang tuanya, dalam hati anak sulung itu tak ada kebahagiaan yang melebihi dibandingkan dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Mah, Pah, Karina ada acara penerimaan siswa baru di Sekolah, Karin berangkat duluan, yah, sarapannya udah aku masukin ke dalam tas, nanti aku makan di Sekolah,” ujar gadis berusia tujuh belas tahun itu.


“Emang kamu jadi OSIS ya, Tot?” tanya Sang Kakak dengan sebutan yang tidak disukai Karina.


“Kepo,” sahut Karina sambil menjulurkan lidahnya ke arah Devan.


Dengan secepat kilat tangan Devan mencubit pipi adiknya yang gembil dengan gemas.


“Aaaww,” jerit Karina kesakitan.


“Mamaaahh …” gadis yang baru saja naik ke kelas dua SMA itu meminta pembelaan dari Sang Bunda.


“Devan!”

__ADS_1


Mata Bu Maria melotot ke arah anak sulungnya yang super jahil.


Devan berlari masuk ke kamarnya sambil tertawa.


“Cah lanang kui, jahil,” kata Pak Bagas sambil melangkah menuju ke dalam kamarnya untuk berganti baju, beliau harus bersiap menuju resto tempatnya mencari nafkah.


Bu Maria menangkup kedua pipi gembil anak bungsunya itu yang terlihat memerah.


“Hati-hati dijalannya, yah!” pesan Bu Maria pada Karina.


Gadis itu mengangguk, lalu pamit dengan mencium tangan ibunya.


“Tunggu, Papah anterin,” cetus Pak Bagas yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Asyiiiik.”


*****


“Ayah, Ibu, aku ke kampus dulu, yah, mau daftar ulang,” Sarah pamit berangkat setelah menyelesaikan sarapannya.


“Kamu jangan naik taxi lagi, Ayah sudah siapkan mobil dan supirnya, agar kamu aman pulang pergi kemana-mana.”


Pak Prayoga beranjak dari tempat duduknya, beliau melangkah mendahului Sarah yang masih tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar dari mulut Sang Ayah.


Sarah mengikuti langkah Pak Prayoga. Dan benar saja di depan rumah sudah terparkir cantik sebuah van berwarna putih, lengkap dengan supirnya yang sudah berdiri di samping pintu mobil.


“Pagi Neng Sarah,” sapa supir baru itu pada majikannya.


Sarah kebingungan sekaligus kesenengan, dia hanya membalas senyum pada supirnya.


“Itu Mang Soleh, keponakan Mang Uya, dia yang akan mengantarkan kamu kemanapun kamu pergi, mulai hari ini,” jelas Pak Prayoga pada putri tunggalnya.


“Ayah …” gadis yang sekarang sudah menjadi seorang mahasiswi itu memeluk Ayahnya, binary matanya menyiratkan kebanggaan dan kebahagiaan yang teramat sangat.


“Gih, sana, berangkat,” kata Pak Prayoga setelah Sarah melepas pelukannya.


”Hati-hati, ya, Mang, nggak usah ngebut-ngebut,” pesan Bu Marni yang sedari tadi terdiam karena kaget dengan surprice yang diberikan Sang suami pada anaknya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Sarah setelah mencium tangan kedua orang tuanya.


Sarah memasuki mobil barunya, ia melambaikan tangan dari balik kaca jendela, terpancar rona kebahagiaan dari wajah cantiknya yang mulai beranjak dewasa.


“Ayah, sejak kapan pandai buat surprice?” goda Bu Marni sambil menggandeng tangan suaminya itu berjalan kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2