
Sepasang mata bulat itu masih memandang lekat wajah tampan yang berada di depannya, Geo belum juga menjawab pertanyaan dari gadis yang sangat mencintainya.
"Mas," panggil gadis itu dengan raut wajah penuh harap, dia menunggu jawaban dari pujaan hatinya.
Geo menatap Sarah, datar. Sama sekali tak ada keinginan dalam hatinya untuk meminang Sarah.
Dia hanya menuruti perintah kekasihnya, Frans.
"Aku mencintaimu, tapi ..." Geo tak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa, Mas?" tanya Sarah semakin penasaran.
Pemuda tampan itu mengingat kembali permintaan orang tuanya, mereka menuntut agar ia segera menikah dan mempunyai momongan, demi meneruskan garis keturunan keluarga.
Dokter muda itupun kembali teringat kata-kata dari Frans, teman kencannya selama ini.
'Manfaatkan rahimnya, demi meneruskan garis keturunan keluargamu. Kamu tetap milikku."
Geo mencoba mengumpulkan gelora dalam hatinya, perlahan tangannya membelai lembut wajah Sarah, mengecup kening gadis bermata bulat itu dengan lembut lalu membenamkan kepalanya dalam pelukan.
Perlahan belaian tangan dokter muda itu menelusuri setiap lekuk tubuh gadis yang hampir sama tinggi dengannya. Nafasnya terasa semakin mendekat, sekarang tak ada jarak diantara wajah keduanya.
Tubuh gadis itu merespon setiap gerakan yang dilakukan Geo. Tanpa dia sadari hawa nafsu menguasai diri, Sarah terlena dalam buaian asmara hingga lupa segalanya.
Kedua insan itu melewati pagi dengan hubungan yang jelas-jelas tak direstui.
Geo telah berhasil merenggut mustika kesucian dari gadis itu.
Sarah kini berada dalam pelukan Geo, tubuh polos mereka berada dibalik selimut di atas tempat tidur milik Geo.
Gadis itu dengan sadar telah menyerahkan mahkotanya yang paling berharga.
"Kamu harus datang nanti malam, Mas," ucapnya, sambil terus menikmati persemayamannya dalam dekapan lelaki yang sudah berhasil menguasai hatinya.
"Iya, aku pasti datang, nanti malam," pungkas Geo seraya mendaratkan kecupan manis di kening gadis yang sekarang sudah bukan perawan lagi.
*****
Plukkk ... tiba-tiba seekor cicak mendarat tepat di atas kepala Pak Prayoga.
"Aduhhh, ihh," seru Pak Prayoga, tangannya refleks menyingkirkan cicak itu dari kepalanya.
Dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ada apa, Yah?" tanya Bu Marni yang mendengar suaminya mengaduh.
__ADS_1
"Cicak, jatuh," jawab Pak Prayoga singkat.
Pria pemilik PT Prayoga Sejahtera itu bergegas memasuki ruang pakaian, bersiap berangkat ke tempat kerjanya.
Bu Marni kembali ke meja makan, dia menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Sarah mana, Bu?" Pak Prayoga menanyakan keberadaan putri tunggalnya.
"Sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali, katanya ada hal yang harus diselesaikan di kampusnya," jawab Bu Marni.
"Oh."
Pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu mulai menikmati sarapannya yang sudah tersedia.
*****
Sarah kembali ke rumah dengan hati yang bunga-bunga. Ketika masih berada di dalam mobil, tak lupa dia memberikan uang tips seperti biasa pada Mang Soleh, sebagai tanda terimakasih karena sudah mau mengantarkannya ke tempat Geo.
"Ingat, jangan sampai Ayah dan Ibuku tau, ya, Mang!" pesan Sarah pada supir pribadinya.
Mang Soleh menganggukan kepala dan mengangkat jempol tangan kanannya.
"Tenang Neng, selama dompet Mamang sejahtera, semua pasti aman," ungkap pria berdarah sunda itu dengan mengurangi volume suaranya, takut terdengar oleh yang lainnya.
Sarah turun dari mobilnya, lalu melangkah memasuki rumah dengan mengucapkan salam saat membuka pintu.
Terdengar suara ramai di dapur, bergegas dia menghampiri ruangan itu.
Ternyata benar mereka sedang sibuk dengan olahan makanan akan disajikan nanti malam.
"Kamu sudah pulang? Maaf Ibu tak mendengar suaramu," ungkap Bu Marni pada anak gadisnya yang baru saja tiba.
"Nggak apa-apa, Bu," ucap Sarah seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Sarah ke kamar dulu," pamitnya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bu Marni.
Wanita yang hanya diberi kepercayaan memiliki satu anak itu kembali menggurita dengan para pelayannya, Ajeng dan Sri.
Sarah memasuki kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah menaruh tas yang biasa dibawanya ketika pergi ke kampus.
Wajahnya berseri-seri, senyum terukir di bibirnya yang mungil, kembali dia mengingat saat menghabiskan pagi di apartemen Sang pujaan hati.
"Sarah, boleh Ibu masuk?"
Seketika lamunannya ambyar ketika terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
__ADS_1
"Iya, Bu." Gadis itu bangkit dan segera membukakan pintu untuk ibunya.
"Doktermu itu jadi kesini?" tanya Bu Marni tanpa basa basi.
Sarah mengangguk, "katanya sih, iya," jawab Sarah dengan suara pelan.
"Ibu hanya ingin memberitahumu, jika doktermu itu sampai tak datang lagi malam ini, Ayah sudah merencanakan pernikahanmu dengan Devan bulan depan," tutur Bu Marni dengan tatapan matanya yang mengisyaratkan kekhawatiran.
Bu Marni tak ingin putri tunggalnya itu merasa bahwa dirinya ikut dalam persekongkolan acara perjodohan ini.
Wanita yang melahirkan Sarah itu kurang setuju dengan rencana suaminya, namun dia tak juga dapat melawan kekerasan sifat Sang suami.
Malam menjelang, keluarga Sarah tengah berada di ruang tamu, Sarah yang sedari tadi terus melirik jam dinding, terlihat keresahan mulai menyerangnya.
"Dia udah janji tadi, kenapa jam segini belum datang juga," gumamnya.
"Mana doktermu itu, Neng?" tanya Pak Prayoga sambil menatap tajam anak gadisnya.
Sarah terdiam, dia tak lagi mampu memberikan bantuan alasan untuk Geo kala itu.
"Jika sampai dia tak datang lagi, berarti tak ada keseriusan darinya padamu," tegas Pak Prayoga.
"Ayah tak ingin putri Ayah satu-satunya jatuh ke tangan yang tidak bertanggungjawab untuk masa depan, dunia dan akhiratmu," pungkas Pak Prayoga.
Pria itu beranjak dan melangkah pergi memasuki kamarnya, diikuti sang istri.
Sarah menundukkan kepalanya, sendiri terdiam dalam kesunyian malam, hatinya remuk redam, kekasihnya kembali tak menepati janjinya.
Rasanya ingin sekali dia berlari menyusul Geo, dan menyeretnya ke hadapan orang tuanya. Ada rasa sesal dalam hatinya saat ini. Dan ketika dia ingat kejadian yang sudah dilewatinya tadi pagi, wajahnya berubah menjadi sendu.
"Bodohnya aku, sudah memberikan semuanya padamu, Mas, aku sangat mencintaimu, tapi kamu tak menghargai pengorbananku," batin gadis itu terus berceloteh.
Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya bergetar, dia menangis sendiri.
"Bu, apa Ayah salah, dengan rencana perjodohan ini? Ayah hanya ingin melihat anak kita satu-satunya bersama dengan orang yang sudah Ayah percayai." Terlihat sekali kecemasan yang menyelimuti wajah pria paruh baya itu.
Bu Marni mendekati suaminya seraya berkata, "Ayah nggak salah, hanya saja, cara yang Ayah lakukan terlalu tegas, kasian Sarah."
"Aaarrrrggggg ..."
Teriakan Sarah yang terdengar ke seluruh ruangan rumah mewah itu sangat mengagetkan semua orang.
Pak Prayoga dan Bu Marni segera menghampiri anak tunggalnya itu.
Sarah terlihat meremas rambutnya seakan ingin mencabut semua beban didalam kepalanya saat itu.
__ADS_1
Bu Marni memeluk anak gadisnya itu.
Pak Prayoga kembali duduk di sofa, tanpa melakukan apapun, dia hanya memandangi putrinya yang sedang ditenangkan Sang Ibunda.