Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Malam Pertama


__ADS_3

"Cantik sekali anak Ibu," puji Bu Marni pada anak semata wayangnya.


Sarah tersipu mendengar ucapan Sang Ibunda.


Setelah merapihkan kembali penampilannya, Bu Marni keluar kamar lalu berjalan menuju ke arah pengatur acara, ia membisikan sesuatu ke telinga pria berkemeja batik dengan corak yang sama dengan para panitia yang lain.


Pria itu mengangguk lalu segera berjalan menuju pintu keluar rumah, sepertinya dia diberi tugas untuk berjaga di luar sampai rombongan mempelai pria datang.


Sarah memang terlihat sangat cantik. Balutan kebaya putih bergaya modern yang dipadukan dengan kain batik tulis, menambah keanggunan wanita berusia dua puluh tahun itu.


Meskipun ada sesuatu yang kurang dari pancaran kecantikannya, namun Sarah memang wanita yang sudah memiliki kecantikan dari lahir.


Air muka bahagia sangat kentara, ia akan segera dinikahi oleh pria yang menjadi pujaan hatinya selama ini.


Rumah keluarga Prayoga sudah dihias sedemikian rupa, bunga-bunga tertata dengan indah, kursi undangan sudah berjejer di halaman depan rumah mewah itu.


Para pelayan juga pembantu dadakan berseliweran, mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Makanan dan minuman sudah siap tersaji di atas meja prasmanan yang membentang panjang.


Alunan musik gambus modern sudah terdengar, menjadi backsound acara pernikahan yang akan segera digelar.


Seorang pria berkemeja batik menghampiri Pak Prayoga yang tengah duduk di kursi khusus untuk orang tua mempelai wanita.


"Pak, mohon maaf, pengantin pria baru saja datang, sekarang sudah berada di halaman depan, area parkir," terang pria berkemeja batik itu.


"Oh, iya, tolong dikondisikan segera," balas Pak Prayoga seraya berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar Sarah.


"Bu, apa Sarah sudah siap?" tanya Pak Prayoga begitu sampai di depan kamar Sarah.


Bu Marni yang tengah berada di depan pintu kamar segera menengok ke dalam, lalu keluar dengan menggandeng pengantin perempuan yang sudah siap dengan penampilan yang maksimal.


"Wah cantik sekali anak Ayah," pujian dilontarkan oleh Pak Prayoga, yang membuat wajah Sarah kembali memerah.


Sarah berjalan diapit oleh kedua orang tuanya, mereka berjalan beriringan menuju tempat dilaksanakannya akad nikah.


Dari luar terlihat Geo yang hanya didampingi oleh Ibunya, mereka hanya berdua, tak ada kerabat yang ikut mendampingi Geo.


Bu Rosa menggandeng tangan kiri anak tunggalnya, keduanyapun berjalan beriringan menuju ke tempat yang sudah lebih dulu ditempati oleh mempelai wanita.


Geo menatap wajah Sarah yang tertunduk, jauh di lubuk hatinya yang teramat dalam, ia memuji kecantikan calon istrinya.

__ADS_1


Keduanya kini berada satu meja bersama seorang penghulu yang mendampingi Pak Prayoga.


Saksi pernikahan dari pihak Sarah diberikan kepada Pak Bagaskara sahabat Pak Prayoga.


Sementara dari pihak Geo, di ambil alih oleh aparatur pemerintahan, yaitu Bapak Tarjo, yang menjabat sebagai Kepala Kelurahan setempat.


Karena Geo tidak membawa siapa-siapa lagi selain Bu Rosa.


Menurut informasi Pak Robert, ayah Geo, sedang berada di London, Inggris. Beliau tidak dapat menghadiri acara pernikahan anaknya.


"Apakah acaranya sudah dapat dimulai?" tanya penghulu kepada Pak Prayoga.


Pria yang akan menjadi wali nikah anaknya itu mengangguk, dalam hatinya bergulung berbagai rasa.


Senang karena melihat Sarah yang begitu bahagia mendapatkan pria pujaan hatinya.


Namun juga ada rasa kecewa dengan sikap Geo dan keluarganya yang terkesan acuh seakan mau tak mau menjalani ini semuanya.


Pak Prayoga berusaha untuk tidak menampilkan rasa kecewanya, di hadapan semua orang saat itu.


Dia harus berbahagia demi anak dan istrinya.


"Saya terima nikahnya Sarah Ardelia Prayoga binti Prayoga dengan mas kawin tersebut tunai."


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu ke seluruh saksi dan tamu undangan yang berada di sana.


"Sah," ucap mereka dengan serempak, yang diikuti dengan ucapan hamdalah dari seluruh orang yang berada di sana, bacaan do'a untuk pengantin pun dilafalkan oleh penghulu.


Diantara wajah-wajah bahagia yang berada di acara itu, ada seraut wajah yang terlihat murung, dengan pandangan nanar menatap ke arah dua mempelai yang telah sah menjadi suami istri.


Devan beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menuju halaman belakang.


Pengacara muda itu menghempaskan bokongnya di sebuah bangku taman, menatap tak tentu ke arah depan, entah sedang memandangi apa.


"Jangan bengong, ntar kesambet." Seorang gadis berwajah cantik dengan gaun berwarna merah muda duduk disampingnya.


"Apaan sih, Tot, ngagetin aja," kesal Devan pada adik perempuannya yang datang tiba-tiba.


"Lagian Kakak, bengong disini, sendirian lagi. Aku sebagai seorang adik, merasa khawatir dengan keadaanmu Kakandaku," goda Karina sambil menggerak-gerakan kedua alisnya ke atas ke bawah.


Devan mendorong kening gadis itu dengan jari telunjuknya, "dasar bontot."

__ADS_1


Senyum Devan kembali menghiasi wajahnya, gadis cantik itu berhasil mengembalikan ketampanan wajah Kakaknya yang paripurna.


Karina memang sejak tadi menguntit Kakaknya, dia tau bagaimana kondisi hati Devan saat ini. Tak banyak yang dapat ia lakukan, namun setidaknya ia bisa membuat Devan tersenyum kembali.


*****


Geo sudah menanggalkan pakaian pengantinnya, ia tengah berbaring di sofa, tatapannya mengarah ke sebuah tempat tidur yang terlihat indah, dihiasi dengan rangkaian bunga-bunga.


Sarah baru saja keluar dari kamar mandi, guyuran air dingin menyegarkan kembali badannya yang terasa lelah seharian menerima tamu dan berbincang-bincang.


"Mas, ada yang dibutuhkan, atau mau makan?" tanya Sarah pada Geo yang telah sah menjadi suaminya sekarang.


"Nggak," jawab Geo singkat.


Sarah merapihkan rambutnya yang basah, selesai mematut diri, ia berjalan mendekati Geo yang masih berada di sofa.


Tak disangka Geo malah beranjak lalu keluar tanpa sepatah kata, ia meninggalkan Sarah yang mematung sendiri di kamarnya.


Geo menuruni tangga, berjalan menuju kendaraannya yang terparkir di halaman rumah yang kini sudah kembali seperti semula. Tak ada jejeran kursi juga tak lagi berhias bunga-bunga.


Dokter muda itu memasuki mobilnya, lalu melaju entah kemana.


Sarah bingung dengan sikap suaminya, ia mencoba menghubungi Geo, namun panggilannya tak diangkat.


"Sarah ... Sarah ..."


Panggil Bu Marni dari depan pintu kamar.


Sarah segera membukakan pintu kamarnya, "iya, Bu," balasnya.


"Ayo turun kita makan malam bersama, mana Geo?" tanya Bu Marni sambil menengok ke dalam kamar anaknya.


"Oh, itu, dia ada kepentingan dulu, keluar sebentar," jawab Sarah, kembali dia menutupi kejelekan sikap suaminya.


"Kalo gitu kamu makan duluan aja, biar nanti Geo suruh nyusul," ajak Bu Marni.


Sarah mengangguk, lalu berjalan mengikuti setelah menutup pintu kamarnya.


Suara notifikasi whatsapp berbunyi.


'Malam ini aku tidur di hotel, nemenin Mamah, kasian dia sendirian, besok kita berangkat ke New York sama-sama.'

__ADS_1


__ADS_2