Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Ditahan


__ADS_3

"Saya harap, Om dan Tante tidak berfikir yang macam-macam dulu tentang informasi yang saya dapatkan," Devan menjeda ucapannya sejenak, "ini tentang Sarah, Om, Tante," lanjutnya mencoba memulai inti percakapan dengan kedua orang tua Sarah.


"Ada apa dengan Sarah, Van? Terakhir kami video call dengan dia, keliatannya dia baik-baik saja setelah melahirkan bayinya, minggu depan kami berencana akan menengok ke sana," tutur Prayoga dengan hati yang mulai was-was.


"Sarah kenapa, Van? Dia baik-baik saja bukan?" Marni menimpali perkataan suaminya, keduanya menatap Devan penasaran.


"Maaf sebelumnya, Om, Tante, sesuai dengan berita yang saya dapatkan, sekarang Sarah berada di kantor kepolisian New York, karena menjadi tersangka pembunuh bayinya sendiri," jelas Devan dengan sangat hati-hati ia mencoba memberitahukan keberadaan Sarah saat ini.


"Apaa!"


Suami istri itu berteriak hampir berbarengan, keduanya terlonjak kaget, Marni merasakan seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, penglihatannya kabur, lalu terkulai lemah tak sadarkan diri.


"Bu, Ibu ..."


Prayoga mencoba menyadarkan istrinya, ia menepuk-nepuk pipi Marni.


Beruntung istrinya pingsan saat sedang dalam keadaan duduk, hingga tubuh wanita berjilbab itu bisa dengan mudah disangga oleh Prayoga.


"Kita bawa ke kamar saja, Om. Biar Tante bisa istirahat."


Devan dengan sigap membantu Prayoga, membawa Marni masuk ke kamar lalu membaringkannya di atas kasur.


Perlahan Marni membuka matanya, setelah Devan mengoleskan minyak kayu putih di area bawah hidung ibunda Sarah itu.


Marni menatap wajah suaminya yang duduk dipinggir ranjang sambil menggenggam tangannya. Lelehan air mata sudah membasahi kedua pelipisnya.


"Ayah, kasian Sarah, gimana nasib anak kita, dia sendirian di sana, kasian dia, hiks hiks, anakku, Sarah," Marni berbicara pada Prayoga disertai isak tangis yang terdengar sungguh memilukan.


Sarah adalah anak mereka satu-satunya, terbayang betapa sakitnya kedua orang tua itu kala mendengar nasib buruk yang menimpa buah hati mereka.


"Sarah mengalami depresi berat, Om, dia sepertinya dijadikan babu di rumah mertuanya itu," ungkap Devan, kedua mata pengacara muda itupun kini sudah berkaca-kaca.


"Bang**t, si Geo itu memang baj***an!" umpat Prayoga, wajahnya memerah menahan amarah yang sudah lama dia pendam.

__ADS_1


"Om, sudah memiliki firasat tentang baj***an itu dari pertama bertemu, tapi Om kasian sama Sarah, dia sangat mencintai lelaki munafik itu," geram Prayoga, mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia sembunyikan demi kebahagiaan anaknya.


Devan menceritakan pula tentang Geo yang memiliki kelainan seksual, dokter muda yang sangat dicintai Sarah itu adalah seorang biseksual yang bisa menyukai wanita juga laki-laki.


Prayoga bergidik, dia semakin terlihat murka. Marni terlihat semakin ketakutan, ia tidak menyangka bahwa anaknya telah memilih orang yang benar-benar salah.


"Ya Allah, tolong lindungi putriku," ucap Marni dengan suara bergetar, ia menutupi wajahnya dan kembali menangis kencang.


"Bu, Ibu jangan nangis, Ayah jadi tambah bingung, Ibu tenangin diri, kita berdo'a saja dulu, semoga Sarah baik-baik saja di sana," bujuk Prayoga pada istrinya yang masih meratapi nasib anak semata wayangnya.


"Besok kita berangkat ke New York, saya akan mendampingi Sarah di pengadilan, Om," tegas Devan dengan keyakinan yang tersirat di kedua matanya.


*****


Mata bulatnya menatap kosong pada langit-langit ruangan yang sempit dengan jeruji besi yang menjadi dinding bagian depannya.


Lampu temaram dengan aroma bau tujuh rupa yang sama sekali tidak enak terhirup indera penciuman, wanita muda berbaju tahanan itu tengah berbaring tanpa alas tidur yang nyaman, hanya memakai sehelai koran yang sudah tak terpakai.


Tak ada lagi sikap acuh Geo dan orang tuanya yang membuat hati sesak, tak ada lagi tatapan sinis dan nyinyiran para pembantu tetangga rumah yang bikin muak, juga tak ada lagi kata-kata riya dari seorang Frans yang jumawa.


Kesemuanya itu sudah tak lagi terdengar oleh Sarah, suara-suara menyebalkan yang selama ini mengganggu fikirannya kini sudah tak ada lagi.


"Geisha, kamu sudah sampai, Nak? Kamu pasti betah di sana, tempatnya bagus kan? Jauh lebih bagus dari rumah terkutuk itu," gumam Sarah dalam batinnya.


Lelehan air mata kembali berderai membasahi kedua pipinya, wajahnya tirus, tubuhnya kurus, kentara sekali perbedaan antara Sarah yang dulu seorang gadis smart, ceria dan pintar, yang selalu menjadi juara di sekolah.


Kini Sarah menjadi seorang pesakitan, yang sebentar lagi menjadi seorang terpidana atas kasus pembunuhan yang telah dilakukannya. Kuliahnya hancur, masadepan yang semula sudah di depan mata, kini semua sirna.


Di dalam jeruji besi itu Sarah meringkuk di pojok ruangan, ia tak sendiri, ada lima orang wanita yang mengisi ruangan itu.


Kelimanya menatap tajam wajah Sarah yang terlihat letih dan lelah. Mereka tak berani menegur atau mengganggu wanita muda itu, mereka ditangkap dengan alasan pencurian, sedangkan Sarah di tangkap dengan kasus pembunuhan.


"Hey you, come here!"

__ADS_1


Seorang polisi wanita memanggil Sarah dengan gerakan tangan.


Sarah bangkit lalu berjalan menghampiri pintu jeruji yang gemboknya telah dibuka polisi tersebut.


"There's a guest for you," kata polisi itu seraya memegang lengan Sarah dan mengarahkan wanita yang sudah berbaju tahanan itu menuju ruang kunjungan.


"Ayah ... Ibu ..."


Sarah berlari menghampiri kedua orangtuanya, lalu bersujud di kaki sang ibunda.


"Ibu maafkan aku, Bu, maafkan aku."


Tak ada reaksi yang terucap dari kedua orangtuanya.


Tangis keduanya kembali pecah, setelah bertemu buah hati mereka.


Lelehan air mata Bu Marni dan isak tangis Sarah menjadi pemandangan paling memilukan yang dilihat pengacara muda berwajah tampan itu.


Devan mendampingi Prayoga dan Marni menjenguk anak semata wayangnya yang saat ini sudah berada di dalam sel tahanan kantor kepolisian New York.


"Kenapa semua bisa terjadi seperti ini, Nak?" tanya Prayoga mencoba mencari kebenaran dari mulut anaknya sendiri.


Sarah menundukkan kepalanya seraya berkata, "aku tidak membunuhnya, dia hanya berpindah ke tempat yang lebih baik, Ayah, Ibu."


Kedua suami istri itu saling berpandangan, hati mereka seakan teriris mendengar kalimat itu.


Anaknya benar-benar sudah terpuruk dan hancur saat itu, hingga akal dan fikirannya sudah tak lagi seimbang.


"Ya Allah, Sarah."


Marni memeluk anaknya erat, dia tak dapat berkata apa-apa lagi. Hatinya remuk redam melihat keadaan buah hatinya itu.


"Kita harus membuat perhitungan sama si keparat itu."

__ADS_1


__ADS_2