
Sarah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, malam pertamanya harus ia nikmati sendiri, ekspektasinya sangat jauh dari apa yang terjadi.
Ada sembilu yang menyayat hatinya, tapi lagi-lagi ia tak bisa melakukan apa-apa.
Buliran air bening yang keluar dari pelupuk mata bulat itu ditampung sebuah bantal yang berada dibawah kepalanya.
Entah pukul berapa matanya terpejam, dibuai mimpi dan harapan untuk masa yang akan datang.
*****
Pagi-pagi sekali Geo sudah datang, tanpa berbasa-basi ia langsung berjalan masuk menuju kamar Sarah yang berada di lantai dua.
Pintu masih terkunci, Geo mengetuknya dan memanggil-manggil nama sang istri dari luar.
Sarah menggeliat dari balik selimut yang setia menemani malam pertamanya, "sebentar," balasnya dengan suara parau.
Kedua matanya masih terlihat mengantuk, Sarah berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Lama banget sih bukanya," decak Geo kesal.
Sarah tak membalas, ia kembali menutup pintu kamarnya setelah lelaki pujaannya masuk.
"Cepat kemasi barang-barangmu, kita berangkat siang ini ke New York bareng Mamah," titah lelaki berbadan kekar itu.
Sarah menurut, ia mengeluarkan seluruh pakaian yang tersusun rapih di dalam lemari, lalu menatanya ke dalam sebuah koper besar.
Geo menatap wajah Sarah, jauh dilubuk hatinya ada rasa bersalah yang ia rasakan pada wanita lemah itu, tapi demi rencananya untuk segera mendapatkan keturunan dia harus menghilangkan rasa belas kasihannya.
Selesai berkemas, Sarah melangkah menuju kamar mandi, guyuran air hangat dari sebuah shower membuat tubuhnya terasa rileks, cukup lama ia nikmati ritual mandi paginya.
Ekor mata Sarah berkeliling ruangan, mancari keberadaan suaminya.
Geo sedang berada di balkon kamar Sarah, kedua matanya memandang jauh ke depan, entah apa yang sedang memenuhi isi kepalanya saat itu, terlihat jelas dari gambaran air mukanya bahwa ia tengah memikirkan banyak hal.
"Mas, udah sarapan?" tanya Sarah memulai perbincangan.
"Sudah, tadi di hotel," jawab Geo tanpa menoleh.
Tanpa mengajukan pertanyaan selanjutnya, Sarah membalikan badan lalu berjalan keluar kamar.
Terlihat Sri dan Ajeng sedang membereskan meja makan, rupanya Bu Marni dan Pak Prayoga sudah selesai sarapan tadi.
"Neng Sarah mau sarapan apa?" tanya Ajeng setelah melihat Sarah memasuki ruang makan.
"Tadi Tuan dan Nyonya sudah sarapan duluan, mereka ada kepentingan keluar rumah hari ini, jadi nggak nunggu Neng Sarah katanya," lanjut pelayannya itu seraya tetap membersihkan meja makan.
__ADS_1
Sarah menggeleng, "nggak usah Mbak, aku masih kenyang."
Wanita berbaju merah itu hanya menyambar sehelai roti tawar dari tempatnya.
Ajeng dan Sri pamit kembali ke dapur yang dijawab dengan anggukan kepala oleh anak majikannya.
"Mudah-mudahan Ayah dan Ibu pulang cepet, masa aku pergi nggak pamit dulu sama mereka," batin Sarah bergumam.
Sarah memutuskan untuk kembali ke kamar setelah meneguk air hangat dari sebuah dispenser.
Selera makannya hilang, entah kenapa.
Sesampainya di depan pintu kamar, terdengar olehnya Geo tengah berbicara dengan seseorang, Sarah mengurungkan niatnya untuk segera masuk, ia memilih mematung di depan pintu kamarnya sambil mendengarkan apa yang sedang suaminya bicarakan.
"Sayang, maafkan aku, setelah semuanya selesai, aku janji, aku akan perbaiki lagi hubungan kita, kamu yang sabar ya sayang."
Untaian kata-kata itu terasa seperti sambaran petir bagi Sarah.
Wanita mana yang tak sakit hati mendengar suaminya mengucapkan kalimat mesra selain padanya.
Sarah masih bergeming di depan pintu kamarnya.
Laki-laki kebanggaannya itu sepertinya sudah mengakhiri obrolannya yang entah dengan siapa, Sarah segera menyeka dengan kasar air bening yang kembali keluar dari kedua mata bulatnya.
Terdengar ucapan salam dari lantai bawah, sepertinya ada tamu. Sri terlihat membuka pintu dan mempersilahkan masuk pada seseorang yang datang.
Sarah hanya mengangguk, setelah Sri pamit kembali ke dapur lagi barulah Sarah berjalan menuju lantai bawah, dimana Sinta sudah duduk menunggunya di ruang tamu.
Geo mendengar ada percakapan di luar, gegas ia menghampiri pintu lalu membukanya, tak ada siapapun disana.
Dilihatnya Sarah sudah berjalan menuruni tangga, lelaki itu menghela nafas lega, sepertinya Geo menyangka bahwa istrinya tidak mendengar obrolan dia dengan kekasih abnormalnya itu.
"Sarah, kamu apa kabar?" sapa Sinta.
Kedua sahabat itu saling berpelukan, Sarah kembali menangis.
"Kenapa?" tanya Sinta seraya menyeka air mata sahabatnya itu.
Sarah menggeleng, "nggak apa-apa, aku cuma rindu sama kamu, Ta," jawab Sarah berbohong.
"Aku juga sahabatku," ucap Sinta sambil memegang tangan Sarah.
"Kamu kemaren beneran nikah? Kok, nggak ngundang aku sama yang lainnya, kamu udah lupain aku yah, Sar? Tega kamu," celotehan khas ala Sinta yang masih seperti dulu.
Sarah tersenyum hambar, "maafkan, acaranya digelar sederhana dan mendadak, jadi yang bisa hadir cuma keluarga dekat aja. Nanti siang aku berangkat ke New York sama Mas Geo."
__ADS_1
Gadis berkacamata itu merapatkan bibirnya.
"Kamu, kok, jadi gini sih, Sar," keluh Sinta yang merasakan banyak perubahan pada diri sahabatnya itu semenjak dekat dengan Geo.
Tak ada lagi Sarah yang dikenal smart, cerdas, dan selalu ceria.
Kini sahabatnya itu lebih menutup diri, banyak diam dan terlihat bodoh dengan mengorbankan segalanya hanya untuk mendapatkan Geo. Dalam batinnya Sinta berbicara.
"Mau minum apa?" Sarah mengalihkan bahasan.
Tanpa diperintahkan Sri datang dengan membawa sebuah nampan kecil berisi dua gelas minuman segar dan satu keler camilan.
"Makasih, Mbak," ucap Sinta, yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum manis pelayan keluarga Prayoga.
Keduanya kembali asyik berbincang, Sinta ingin melepas rindu pada sahabatnya, sebelum Sarah berangkat ke New York siang ini.
Dari ambang pintu terdengar ucapan salam, kedua orang tua Sarah telah kembali.
"Eh, ada tamu rupanya," Bu Marni berbasa-basi ketika melihat Sinta yang sudah duduk di kursi tamu ditemani anak semata wayangnya.
"Om, Tante, apa kabar?" sapa Sinta seraya mencium tangan kedua orang tua sahabatnya itu.
"Alhamdulillah sehat," jawab Pak Prayoga.
"Sok, dilanjutkan lagi kangen-kangenannya, Om dan Tante masuk dulu," pungkas Ayah Sarah, keduanyapun kemudian berjalan menuju kamar.
Tiba-tiba Geo turun, "ayo kita berangkat sekarang, Mamah sudah menunggu di bandara."
Sinta menatap wajah tampan suami sahabatnya itu, namun entah kenapa dia merasa jijik melihat laki-laki yang sudah merubah segalanya tentang Sarah.
Sinta pun akhirnya pamit.
"Kamu hati-hati disana, ya, aku akan selalu merindukanmu sahabatku," ucap Sinta sambil memeluk erat sahabatnya kembali.
Sepeninggal Sinta, Sarah berjalan menuju kamar orang tuanya.
"Ayah, Ibu," panggil Sarah sambil mengetuk pintu.
Pak Prayoga dan Bu Marni keluar, "ada apa, Neng?" tanya Pak Prayoga.
"Aku mau pamit, Mas Geo mengajakku berangkat sekarang," lirih Sarah dengan suara bergetar menahan kesedihan yang dirasakannya.
Bu Marni kaget, "kenapa tiba-tiba sekali?" tanyanya.
"Apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu disini barang beberapa hari," saran Bu Marni, sepertinya ia juga merasakan hal yang sama dengan Sarah.
__ADS_1
"Aku ditunggu pekerjaan di klinik."