
"Kita harus bantuin Sarah, kasian dia, Ayah," ucap Marni pada suaminya.
Prayoga mengangguk dan mencoba menenangkan istrinya dengan mengusap lembut lengan wanita yang duduk disampingnya itu.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Devan.
"Kita sewa apartemen di dekat-dekat sini aja, Van," usul Prayoga, yang dijawab dengan anggukan kepala Devan.
Mobil berhenti di area parkir sebuah apartemen, ketiganya turun dan berjalan memasuki gedung pencakar langit itu.
Setelah melakukan pembayaran sewa untuk dua unit apartemen, Devan menghampiri sepasang suami istri yang menunggunya di lobby.
"Ini kunci apartemennya, Tante," ucap Devan, seraya memberikan sebuah kunci.
Sepertinya wanita berjilbab biru itu tak enak hati pada Devan, pria muda itu sudah terlalu banyak berkorban untuk membantu mereka.
Marni menengok ke arah suaminya, seperti meminta izin, Prayoga mengangguk pelan dan akhirnya kunci itupun diterimanya.
"Kami sudah banyak merepotkanmu, Nak. Maafkan kami, ya," ucap Marni dengan penuh keharuan.
"Om dan Tante sudah saya anggap keluarga sendiri, jadi nggak usah sungkan, saya senang jika bisa membantu kalian."
Tutur kata Devan berhasil membuat air mata Marni menetes.
Sepertinya tidak akan ada lagi laki-laki yang sebaik dan setulus Devan di dunia ini, fikirnya.
*****
Sarah kembali memasuki sel tahanan setelah selesai dikunjungi kedua orangtuanya juga Devan.
Ibu muda itu menolak tawaran Devan untuk menjadi pengacaranya, dia akan menerima apapun hukuman yang diberikan padanya nanti.
Sarah kembali meringkuk di pojok ruangan, ia mencoba memejamkan matanya, tiba-tiba Sarah merasa ada yang mencolek-colek pinggangnya dari belakang.
Sarah menoleh, terlihat olehnya seorang wanita berjilbab hitam juga memakai baju tahanan, sama seperti yang dipakainya.
"Kamu orang Indonesia?" tanya wanita itu.
Sarah hanya mengangguk.
"Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Sarah membisu, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya.
"Ya sudah nggak apa-apa kalo nggak mau cerita," ujar wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu seraya tersenyum.
Sarah kembali meringkukan tubuhnya, memunggungi wanita yang berusaha mengajaknya berbicara.
Malam semakin larut, mata bulatnya sulit terpejam, di dalam otaknya seperti sedang memutar kejadian-kejadian yang di alaminya selama berada di rumah mertuanya.
Terlihat dengan jelas sosok orang-orang yang telah membuat goresan luka dalam di hatinya.
Mulai dari Geo sang suami, Rosa dan Robert, Frans juga bergantian wajah-wajah para pembantu yang selalu membuatnya muak.
Sarah sama sekali tidak menyesali apa yang dilakukannya, karena menurutnya Geisha belum meninggal, putri kecilnya itu hanya berpindah tempat, dan Sarah yakin Geisha sudah berada di tempat yang layak dan tepat untuk di tempati putrinya.
Sampai hampir subuh Sarah tak sekejappun menutup matanya, wajahnya pucat, matanya sembab, semalaman itu ia menangis, bukan karena sadar telah melakukan kesalahan, tapi karena semua orang yang menyakitinya itu muncul secara bergantian di dalam rekaman otaknya.
Tiba-tiba seorang polisi wanita membuka pintu sel, terlihat ia menggiring seorang wanita dengan wajah garang yang menyeramkan, seluruh tubuhnya bertatto.
Tahanan baru itu menatap Sarah dengan tajam, Sarah tidak meladeni dengan hal yang sama, ia memilih pergi ke kamar kecil. Di sel itu terdapat satu toilet yang digunakan bersama.
Antrian sudah berjejer, lima orang wanita tahanan termasuk wanita berjilbab itu ada dalam antrian untuk memasuki toilet.
Sarah turut mengantri, ia berdiri di belakang wanita berjilbab hitam yang kemarin mengajaknya bicara.
Tahanan wanita yang baru saja masuk itu menendang bokong Sarah dari belakang, ibu muda itu terhuyung ke depan dan hampir jatuh tersungkur, beruntung badannya diraih oleh para tahanan lainnya.
"What are you doing?" kata si wanita berjilbab hitam itu pada wanita bertatto.
Wanita bertatto itu hanya menyeringai, dia terlihat puas sudah menendang Sarah.
Selesai memakai kamar mandi, Sarah kembali duduk di pojok ruangan, itu sudah menjadi tempat favoritnya selama berada di sel.
Waktunya sarapan, para wanita tahanan itu diberikan masing-masing satu box makanan oleh polisi.
Saat Sarah membuka box makanan miliknya, wanita bertatto itu kembali menghampirinya, ia menarik box makanan milik Sarah, lalu menumpahkan seluruh isinya ke lantai.
Tak ada yang berani mencegah perbuatannya itu, semua hanya diam dan memandang.
"Are you crazy!"
Sarah berdiri dan membisikan kalimat itu tepat di depan lubang telinga wanita bertatto itu.
__ADS_1
Wanita bernomor tahanan tiga puluh lima menjambak rambut Sarah dan menariknya ke belakang, Sarah menjerit kesakitan, namun ia tak tinggal diam, tangannya meninju wajah si tatto itu tepat pada hidungnya.
Tinggi badan keduanya hampir sama, hanya saja badan Sarah lebih ramping dari wanita bertatto itu.
Darah mengucur dari hidung tahanan bernomor tiga puluh lima itu, dia murka, kembali menyerang Sarah dengan tendangan dan tonjokan.
Sarah pun tak tinggal diam, ia membalas pukulan dan menangkis serangan wanita barbar itu sebisanya.
Trang ... Trang ... Trang ...
Suara jeruji besi yang dipukul dengan sebuah tongkat berukuran pendek, membuat perkelahian antara Sarah dan wanita bertatto itu berhenti.
Polisi wanita berdiri dan melihat mereka berdua dari balik jeruji besi, matanya melotot, memberikan peringatan kepada keduanya untuk diam.
"Selly, don't make trouble anymore or I'll put you in the underground cell" hardik polisi wanita itu pada wanita bertatto yang menyerang Sarah.
Selly nama tahanan itu, ia menundukkan wajahnya, lalu kembali duduk di pojok ruangan bersebrangan dengan tempat Sarah.
Wanita berjilbab hitam segera menghampiri Sarah, ia memeriksa kondisi teman satu selnya itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil memandang Sarah dengan wajah khawatir.
Sarah tersenyum lemah.
"Aku nggak apa-apa," katanya sembari duduk bersandar ke dinding ruangan.
Baru kali itu Sarah merespon wanita berjilbab hitam yang terlihat berusaha untuk mendekatinya dari kemarin.
"Aku Sita, kamu?" tanya wanita berjilbab hitam itu sambil mengulurkan tangannya.
Sarah menjabatnya seraya menyebutkan nama.
Entah kenapa dia teringat Sinta, sahabatnya di Indonesia, dulu juga awalnya Sinta mendekati Sarah saat Sarah sedang bertikai dengan salah seorang senior di kampus.
Kembali Sarah terdiam dan mengatur nafasnya, pagi itu ia tak dapat mengisi perutnya karena jatah makanannya di tumpahkan Selly, tahanan wanita bertatto yang sepertinya akan menjadi pengganggunya di dalam sel itu.
"Be careful he is a recidivist," bisik seorang tahanan wanita berambut merah pada Sarah.
Ibu muda itu menatap tajam Selly yang sudah dari tadi terus memperhatikannya.
Selly duduk sendiri tanpa ada yang menghampiri, berbeda dengan Sarah, ia ditemani tahanan wanita yang bernama Sita.
__ADS_1
Tahanan yang lain memilih duduk di tempat mereka masing-masing, tanpa mendekati keduanya.
"You will be my prey," desis Selly tanpa sedikitpun beralih dari tatapan tajamnya pada Sarah.