
"Cie ... Cie ... yang udah ketemuan sama pujaan hati," goda Sinta.
Sarah memeluk sahabatnya yang baru saja datang menghampiri, genangan air matanya lolos menganak sungai di pipinya.
"Loh, kenapa? Kok, malah nangis," Sinta heran sekaligus penasaran dengan sikap yang ditunjukkan oleh gadis bermata bulat itu.
"Ada apa?"
Kedua tangan Sinta menangkup wajah Sarah, menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang seorang sahabat.
Air mata Sarah malah bertambah deras keluar, gadis itupun mulai terisak, sepertinya kesedihan yang dirasakannya saat itu sangat membebani fikirannya.
Sinta kebingungan, dia hanya bisa memeluk sahabatnya.
Lama dua sahabat itu saling berpelukan, Sinta berusaha menenangkan sahabatnya dengan mengusap-usap punggung Sarah perlahan.
Usaha Sinta ternyata tidak sia-sia, tangisan Sarah mulai mereda. Sinta melepaskan pelukannya perlahan, gadis berkacamata itu beranjak dari tempat duduknya bersama Sarah.
Sinta kembali dengan membawakan air minum di tangannya, disodorkannya es teh manis kesukaan Sarah, dengan senyum yang masih memaksakan Sarah menerima minuman dari sahabatnya.
"Minumlah, biar lebih tenang," saran Sinta seraya kembali duduk disamping sahabat dekatnya itu.
Sarah menurut, dia meneguk es teh manis pemberian Sinta.
Matanya masih terlihat sayu, wajahnya sembab, tak ada keceriaan yang selalu diperlihatkannya seperti biasa setelah bertemu Geo.
"Ada apa?" dengan menggenggam tangan sahabatnya, Sinta kembali bertanya.
Sarah menceritakan secara detail kejadian saat dia bertemu dengan Geo, Sinta mendengarkan dengan seksama.
"Gitu ceritanya, Ta," pungkas Sarah setelah menceritakan semuanya.
Sinta tertegun mendengar cerita sahabatnya, ternyata rasa cinta yang dimiliki Sarah sudah sangat besar pada dokter muda yang aneh itu.
"Kasian kamu," lirihnya.
Sarah menundukkan kepalanya, "benar katamu, aku gadis bucin," katanya pelan.
"Maaf, itu kan aku cuma bercanda, Sar, aku nggak tau kalo hubungan kalian ternyata seperti ini," sesalnya.
Sarah menggeleng, "kamu bener, kok, aku emang bucin sama Mas Geo," akunya.
"Padahal Mas Geo nggak pernah nyatain perasaannya sama aku, mungkin aja dia cuma bercanda, harusnya aku ..."
__ADS_1
Gadis bermata bulat itu tak dapat melanjutkan kalimatnya, dia kembali menangis, kedua telapak tangannya ditutupkan ke wajah.
Sinta ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya, kedua matanya pun mengeluarkan bulir bening yang kemudian mengaliri kedua pipinya.
"Coba nanti kamu tanya dia lagi, Sar, tanyakan padanya tentang hubungan apa sebenarnya yang sedang kalian jalani sekarang ini, kamu juga harus tau, apakah perasaannya sama dengan apa yang kamu rasakan padanya, biar semuanya jelas," saran Sinta setelah menyeka air mata di pipi Sarah.
Sarah menatap Sinta, gadis berkacamata itu menganggukan kepalanya, memberikan semangat dengan bahasa disenyumnya.
"Makasih, Ta, kamu memang yang paling ngertiin aku," ucap Sarah, kembali kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Kamu harus menerima dengan ikhlas apapun yang akan keluar dari mulut doktermu itu," tegas Sinta mengingatkan Sarah agar tidak terlalu berharap besar pada Geo.
Sarah mengangguk seraya tersenyum, seakan ada transferan tenaga yang masuk ke dalam jiwanya, setelah ia menceritakan semuanya pada Sinta.
*****
"Besok abis dari undangan kita mampir ke rumah calon besan yuk, Mah," ajak Pa Bagas pada istrinya yang sedang menggurita menyiapkan masakan untuk makan malam mereka sekeluarga.
"Emang Kak Devan mau dijodohin, Pah?" tanya Karina yang sedang membantu sang ibunda.
Kedua orang tuanya hanya tersenyum dengan kelakar anak bungsunya itu.
"Ih, kok, malah pada ketawa, sih," gerutunya.
"Tapi kan katanya tadi calon besan," potong Karina dengan kernyitan di dahinya.
"Sudah-sudah, itu Papah hanya bercanda saja," kilah Pak Bagas, memungkas perbincangan.
Devan datang dengan mengucapkan salam saat dia memasuki rumah orang tuanya.
"Sepi," gumamnya sambil terus berjalan memasuki ruangan.
"Pada disini rupanya," ujar pengacara muda itu setelah sampai di ruangan dapur.
"Selamat sore, Pak Pengacara," goda Karina pada Kakaknya.
"Apa, bontot," ledek Devan pada adiknya.
Karina mendelik, dia tak suka Kakaknya memanggil dengan sebutan itu.
"Van, besok kita jadi ke undangan temen Mamah, lalu pulangnya kita mampir ke rumah Sarah," ungkap Pak Prayoga pada anak sulungnya yang baru datang.
Devan mengangguk, dia lalu pamit pergi ke kamar untuk mandi.
__ADS_1
Ada campuran rasa dalam hatinya saat dia akan dipertemukan kembali dengan gadis bermata bulat itu.
*****
"Bagaimana hubunganmu sama gadis itu?" tanya seorang lelaki muda berparas rupawan yang sedang bersandar di atas tempat tidur di sebuah kamar hotel.
"Biasa aja, sama kaya waktu sama si manja itu," jawab pemuda tampan berbadan kekar yang tengah duduk di sebuah sofa di dalam ruangan yang sama.
"Vania, maksudmu?" tanya lelaki muda yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu.
Pemuda tampan itu mengangguk.
"Sini," ajak lelaki yang sedang bersandar di atas kasur dengan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
Geo, pemuda tampan berbadan kekar itu mendekat dan berbaring di samping lelaki muda rupawan itu.
Jemari lentik lelaki muda itu mulai bermain di area wajah Geo, perlahan ia merebahkan pula badannya, hingga tak ada lagi jarak diantara mereka berdua.
"Wanita hanya membuatku pusing, Frans, aku lebih suka bermain sama kamu," ucap Geo seraya menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut tebal, yang kemudian diikuti oleh lelaki bernama Frans.
Ya, mereka tengah memadu kasih yang terlarang. Bahkan sangat menjijikan, jika saja ada orang yang melihat apa yang sedang mereka berdua lakukan, sudah dipastikan terkena serangan jantung.
Usai bersenang-senang menurutkan hawa nafsu mereka yang tak lazim, kini keduanya duduk bersandar pada dinding di atas tempat tidur.
"Aku sayang kamu, Geo," ucap Frans sambil mengecup tangan Geo yang tengah digenggamnya.
"Aku juga," balas Geo.
"Tapi kamu harus mau kalo dia minta dikawinin," ungkapan Frans membuat Geo tersentak kaget, biasanya Frans akan menyuruhnya memutuskan siapapun wanita yang mendekatinya, setelah wanita itu tak bermanfaat lagi.
Dulu Vania diputuskan Geo karena dia sudah tak lagi bermanfaat buat Geo, menurutnya.
Vania didekati hanya untuk menghentikan tindakan Bu Rosa yang selalu menjodoh-jodohkan Geo dengan anak gadis sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Geo.
"Kamu bisa memanfaatkan rahimnya untuk mengandung anak kamu, demi meneruskan keturunan keluargamu," jawab Frans dengan tatapan penuh kelicikan.
Geo bergeming, dalam lubuk hatinya ia tak memiliki keberanian sesadis itu pada gadis bermata bulat yang kini sedang mencintainya dengan tulus.
"Kamu bilang kamu suka sama dia?" kembali Frans bertanya pada Geo.
Dokter itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jika nanti kalian bertemu lagi, bilang ke dia, kalo kamu mencintainya."