
Seorang pria bertubuh gempal tengah mempersiapkan diri hendak menginstruksikan anggotanya agar segera melakukan penelusuran tempat yang telah ditentukan.
Polisi itu merogoh ponselnya, ia terlihat menelepon seseorang.
"Siap, laksanakan!" pungkasnya, setelah memberikan laporan terkait keberadaan objek pencariannya.
***
"Pak, kami sudah menemukan keberadaan Sarah." Seorang detektif mengirimkan chat pada Devan.
Pengacara muda itu langsung menghubungi detektif yang mengirimkan informasi tersebut.
"Ternyata Sarah berada di sebuah apartemen milik dokter bernama Geo, dokter itu adalah pacarnya, informasi tentang ini kami dapat dari Mang Soleh, mantan supir pribadi Sarah yang tiba-tiba pulang kampung tepat saat Sarah minggat, dan sekarang kami sudah bisa melacak lokasi apartemennya melalui GPS, sepertinya Sarah juga sudah mengaktifkan kembali ponselnya." Panjang lebar detektif itu memberikan penjelasan pada Devan.
Akhirnya setelah sepekan, pencarian mereka membuahkan hasil. Devan senang dengan kinerja para tangan kanannya itu, namun ada hal yang sangat mengganggu dalam hatinya, ia cemburu, karena Sarah ternyata bersembunyi di tempat si dokter itu.
Devan beranjak dari tempat duduknya, memakai jas yang digantung di belakang kursi, lalu berjalan keluar.
"Saya keluar dulu, kalo ada tamu atau klien tolong ditangani dan kasih kabar ke saya segera," pesan Devan pada sekretarisnya.
Mila mengangguk, tanpa bertanya lagi pada atasannya, dia sudah hatam betul sifat Big Boss-nya itu. Jika Devan keluar dari kantor saat jam kerja, berarti ada hal yang sangat privasi, dan dia tak ingin menjadi seorang keponers.
Devan melajukan mobilnya menuju kediaman orang tua wanita yang masih bertahta jauh di lubuk hatinya.
Dua jam perjalanan, Devan sampai di rumah Pak Prayoga, Mang Uya membukakan pintu gerbang.
"Makasih, Mang," ucap Devan.
Mang Uya menganggukan kepalanya, dia sebenarnya malu bertemu dengan Devan, karena ulah Soleh, saudaranya ternyata terlibat dalam kasus minggatnya Sarah dari rumah. Beruntung dia tidak dipecat oleh juragannya.
"Assalamualaikum," ucap Devan ketika sudah berada di depan pintu rumah.
Pintu dibuka, Sri menyambutnya dengan membalas salam lalu mempersilahkan masuk.
"Silahkan Mas Devan, Tuan sama Nyonya ada di dalam," dengan merengkuhkan badannya Sri menunjukan tempat di mana majikannya berada.
"Om, Tante," sapa Devan ketika berada di ambang pintu kamar Pak Prayoga yang sudah terbuka lebar.
"Van, sini masuk," ajak Pak Prayoga.
"Sudah ada kabar tentang Sarah?" tanya pria yang tengah menemani istrinya itu.
Bu Marni masih terbaring lemah, selang infus dan oksigen sudah terpasang ditubuhnya saat ini.
"Alhamdulillah, keberadaan Sarah sudah diketahui, Om," ungkap Devan.
"Alhamdulillah, akhirnya, dimana anak itu sekarang?" kembali Pak Prayoga bertanya.
Devan menceritakan semua informasi yang dia terima, diapun menyarankan Pak Prayoga untuk segera mengirimkan email kepada anak tunggalnya.
"Kenapa harus email? Om akan langsung meneleponnya," tegas Pak Prayoga.
"Lebih baik kirim kabar lewat email saja Om, takutnya panggilan atau chat dari Om tidak direspon oleh Sarah, dia pasti tau kalo itu dari Om. Jika lewat email, kan bisa lebih menyembunyikan identitas pengirimnya," saran Devan.
__ADS_1
Pak Prayoga menuruti saran dari anak muda itu, dia mengirimkan kabar melalui email.
'Sarah, jika kamu tak mau dijodohkan dengan Devan, tak apa, Ayah dan Ibu nggak akan memaksamu, tapi pulanglah, Ibumu sakit.'
emailnya terkirim ke alamat tujuan.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Devan pamit kembali ke kantor, dia merasa sudah selesai memberikan informasi kepada orang tua Sarah.
*****
Sarah sedang berada di dalam kamar Geo, ia mencoba mengaktifkan kembali ponselnya setelah sepekan ia matikan, terdengar banyak notifikasi whatsapp dan pemberitahuan panggilan.
Ayahnya, Ibunya, Devan, Sinta, dan juga panggilan dari nomor telepon kampusnya, mereka sudah banyak mencoba menghubunginya selama sepekan.
Sarah sudah kehilangan kesempatan untuk meraih gelar sarjananya lebih awal, pihak kampus sudah mendrop out-nya, ketiadaannya dalam kegiatan belajar membuat dia kehilangan kesempatan menjadi sarjana muda.
Notifikasi email baru masuk, kedua netranya berkaca-kaca saat membaca isi surat elektronik yang datang dari Ayahnya.
Sarah sudah mengorbankan banyak hal untuk seorang Geo, masa depan pendidikannya kandas, kekecewaan orang tua dengan tindakan nekadnya, dan ibunya yang kini terbaring sakit karena stress memikirkan dia.
Sarah menutupi wajahnya, dia menangis.
Geo tengah berada di depan tivi, setelah pengunduran dirinya dari Rumah Sakit, dia sekarang sedang mempersiapkan diri untuk terbang ke New York, menyusul orang tuanya untuk bekerja di sana.
Beruntung Geo memiliki orang tua yang memiliki pengaruh di sana, jadi dia dengan gampang bisa mendapatkan rekomendasi untuk bekerja di sebuah klinik di Negara adidaya itu.
Bunyi bel pintu berdering, pertanda ada tamu yang hendak berkunjung. Geo segera menghampiri pintu apartemennya, melihat dari kamera pengawas, yang datang dua orang laki-laki berjaket hitam.
"Ada perlu dengan siapa?" tanya Geo setelah membuka pintu apartemen miliknya.
"Saya sendiri." Geo bersedekap seraya menatap tajam tamu yang tak dikenalnya.
"Apakah kami bisa berbicara dengan Anda, ada hal yang ingin kami tanyakan," pinta lelaki yang berkumis tebal.
"Okey, silahkan masuk," ajak Geo seraya membuka pintu lebar-lebar.
Kedua lelaki itu kini sudah berada di ruang tamu, duduk bersama dengan sang pemilik tempat.
"Kami diutus oleh keluarga Nona Sarah untuk menjemputnya," jelas lelaki yang bertubuh tinggi besar itu.
"Iya, dia disini, tanya saja anaknya, mau pulang atau nggak." Geo beranjak dari tempat duduknya ia melangkah menuju ke kamarnya.
"Sarah ... Sarah ..." panggilnya.
Sarah yang tengah berbaring di sebuah sofa dengan ponsel yang masih berada di tangannya, bangkit berdiri.
Perempuan muda itu menatap Geo yang baru saja datang sambil memanggil-manggil namanya.
"Ada apa?" tanya Sarah.
"Ada utusan orang tuamu, mereka mau jemput kamu," jelas Geo.
Sarah juga memperlihatkan isi email yang baru saja diterimanya.
__ADS_1
"Ya sudah, temui orang tuamu sekarang," perintah Geo.
"Aku mau sama kamu pulangnya," Sarah merajuk.
Dengan perasaan malas Geo menuruti keinginan Sarah, jika saja dia tak membutuhkan rahim anak itu, tak mau dia menuruti kemauan Sarah, di dalam hatinya ia menggerutu.
Keduanya berangkat menuju kediaman orang tua Sarah.
Dua orang laki-laki suruhan Devan sudah lebih dulu pamit, karena merasa tugas mereka sudah selesai.
Sarah merasa takut ketika melihat pintu gerbang rumah orang tuanya yang di buka Mang Uya.
Gegas Sarah melangkahkan kaki menuju kamar tidur Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Ibu," panggil Sarah seraya berlari menghampiri orang tuanya.
Pak Prayoga memeluk anaknya, tangisan Sarah pecah, apalagi setelah melihat kondisi Sang Ibunda.
"Maafin aku, Ayah, Ibu," ucapnya sambil terisak.
Sarah duduk disamping wanita yang sudah melahirkannya, Bu Marni masih menutup mata, sepertinya dia belum tau keberadaan putrinya yang baru saja pulang ke rumah.
Pak Prayoga mengajak Geo berbincang di ruang tamu, dokter itupun mengikuti langkah sang pemilik rumah.
Sementara Sarah berada di kamar, mencoba menyadarkan ibunya.
"Bu ... ini Sarah, Bu. Sarah sudah pulang."
Linangan air mata semakin tak terbendung di pelupuk mata bulatnya, Sarah tak kuasa melihat keadaan sang ibunda. Dalam hatinya berkecamuk rasa penyesalan dan sedih tiada kira, sadar dengan perilakunya yang telah banyak mengorbankan perasaan orang tuanya.
Sarah terus berusaha menyadarkan Bu Marni, berbagai macam cara ia lakukan, tangisnya pun semakin menjadi.
"Bu ... bangun, Bu. ini Sarah, Bu. Sarah pulang."
Mata Bu Marni masih tetap menutup, tak ada respon dari tubuhnya yang terbaring lemah.
Sepasang mata menatap sendu dari ambang pintu, Pak Prayoga tak kuasa menahan kesedihan yang berkecamuk di dalam hatinya. Sebenarnya ia sangat kecewa dengan apa yang dilakukan anak semata wayangnya, namun rasa cinta mengalahkan kekecewaannya itu.
Sarah meletakkan telapak tangan Bu Marni di wajahnya yang basah, tangan lembut itu terlihat sangat pucat dan lemah. Sarah terus menerus memanggilnya, sambil menciumi telapak tangan sang bunda.
"Bu, bangun, Bu. Ini Sarah, Sarah pulang, Bu."
Kening Bu Marni mengerut perlahan, sayup-sayup terdengar suara anak semata wayangnya memanggil, namun pelupuk matanya terasa sangat berat, tubuhnya terasa begitu lelah ia rasakan.
Sarah melihat respon tersebut, ia semakin terus meningkatkan usahanya agar sang bunda kembali sadar dan mengingatnya.
***
"Kalau begitu saya pamit dulu, Om."
"Oh, iya, silahkan!"
Dua orang laki-laki berbeda usia dengan tinggi yang hampir sama itu berdiri. Pak Prayoga mengantarkan GEO sampai ke depan pintu, menatap lekat punggung dokter muda yang perlahan menjauh.
__ADS_1
***
Sarah mengambil handuk kecil dari dalam lemari, lalu meletakkannya di dalam sebuah mangkuk yang telah terisi air hangat, dengan lembut ia mengusap kedua kaki Bu Marni tanpa berhenti memanggilnya.