Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Senyuman


__ADS_3

Sarah menatap lekat wajah pujaan hatinya, sementara pemilik wajah yang tengah dinikmatinya itu masih terus berkutat dengan gawainya, entah sedang bercengkrama dengan siapa dokter muda itu.


Seperti biasa keduanya bertemu hanya satu kali dalam satu bulan, hal itu dikarenakan kesibukan mereka masing-masing. Keduanya lebih intens berkomunikasi secara visual.


Pagi itu Sarah meminta Geo untuk bertemu di sebuah restoran, dia bermaksud untuk membicarakan tentang rencana perjodohan yang dilakukan oleh Ayahnya.


"Siapa, Mas?" tanya Sarah, ia mulai penasaran karena dokter itu sudah lama mengabaikannya.


"Ini pasien aku, tanya-tanya soal obat dan makanan yang harus diperhatikannya," jelas dokter muda itu tanpa menoleh ke arah gadis yang mengajaknya bicara.


"Oh." Gadis itu tak lagi bertanya lebih lanjut, takut mengganggu fikirnya.


Sarah mengenal sifat Geo yang tidak suka diganggu jika sedang mengerjakan atau berbicara dengan orang lain.


"Selesai," pungkas pria tampan berkemeja kotak-kotak itu, lalu meletakan ponselnya di atas meja.


"Mau makan apa?" Geo bertanya sambil menatap gadis yang sudah bersabar menunggu dan menghadapi keacuhannya sejak tadi.


"Samain aja sama kamu Mas. Mas maunya apa?" Sarah balik bertanya tangannya membuka buku daftar menu yang sudah tersedia dari tadi.


"Aku pengen makan seafood," pinta Geo.


"Okey." Gadis bermata bulat itu mengangkat tangannya ke arah pelayan yang sudah siap siaga melayani para tamu di restoran itu.


Secepat kilat seorang wanita berseragam pelayan mendekat ke tempat dimana Sarah dan Geo berada.


"Mau pesan apa, Bu, Pak?" tanyanya dengan ramah.


"Kami mau makan seafood yang ini," jawab Sarah dengan menunjukan menu makanan yang mereka inginkan.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Wanita berseragam pelayan itu mencatat nama menu makanan yang dipesan Sarah dan Geo, lalu gegas dia pergi menuju dapur.


"Mas, aku mau ngomong sesuatu, tapi tolong kamu jangan salah faham dulu, yah," ungkap Sarah sambil memandang lelaki yang dia harapkan menjadi imamnya kelak.


"Tentang?" tanya Geo seraya mengerutkan keningnya. Dia baru kali itu melihat Sarah berbicara dengan sangat serius.


Biasanya dua sejoli itu menghabiskan waktu kebersamaan mereka dengan hanya bercengkrama perihal yang ringan, seputar pekerjaan masing-masing dan selebihnya hanya candaan-candaan hangat layaknya pasangan lain yang sedang menjalin kasih.


Namun sepertinya Geo lebih sering menjadi pendengar dibanding Sarah, gadis itu yang selalu antusias dan bersemangat dalam membuka bahasan diantaranya.


"Ayahku mau jodohin aku sama anak sahabatnya, Mas," jelas Sarah dengan wajah sendu.


Geo menangkup wajah Sarah yang tertunduk dengan kedua tangannya, pandangan mereka bertemu, jarak antara keduanya pun hanya tinggal beberapa senti saja karena Geo berpindah posisi duduk disamping gadis yang berbaju biru itu.

__ADS_1


"Lihat aku," pinta Geo dengan tatapan mesranya.


"Jika dia yang terbaik untuk kamu, menurut orang tuamu, terimalah dia," lanjutnya.


Geo mengucapkannya tanpa beban, sepertinya dia tak memiliki rasa cemburu sedikitpun, entah rasa apa yang sebenarnya dia punya untuk Sarah.


Mata Sarah mulai berkaca-kaca, bukan kalimat itu yang ingin dia dengar dari mulut pujaannya itu.


Bulir bening yang menggenang itu akhirnya lolos mengalir di kedua pipinya yang mulus.


"Loh, kok malah nangis," ucap dokter muda itu terlihat keheranan.


"Apa aku salah ngomong?" tanyanya lagi.


Sarah menggeleng, Geo melepaskan tangkupan tangannya di wajah Sarah.


Gadis itu membenamkan wajahnya di dada Geo, sesaat dokter muda itu tertegun.


Kedua tangannya terlihat ragu untuk merangkul gadis yang sangat mencintainya itu.


Akhirnya hanya sebelah tangannya yang mengusap-usap punggung Sarah pelan, berusaha menenangkan gadis bermata bulat itu maksudnya.


"Aku maunya nikah sama kamu, Mas, masa kamu nggak ngerti sih," batin gadis itu.


Sayangnya dia tak dapat mengeluarkan semua kalimat itu dari mulutnya.


Sayangnya kenyamanan itu harus berakhir dengan datangnya pelayan yang membawa dua porsi makanan yang mereka pesan.


Geo perlahan menggeserkan posisi duduknya, Sarahpun mengerti, ia juga membenarkan posisi duduknya, tak lagi bersandar pada Geo.


Jari-jari tangan Geo membenarkan rambut Sarah yang terlihat agak kusut. Sarah kembali tersipu, pipinya merona, senang sekaligus malu dengan apa yang baru saja terjadi anatara mereka.


"Makan dulu, yuk," ajak Geo dengan senyumnya.


Sarah hanya mengangguk.


Keduanya menikmati makanan itu dengan sesekali bercerita tentang pekerjaan mereka masing-masing.


Sarah harus membuat rencana kembali untuk berbicara tentang masalah perjodohannya dengan Devan pada Geo, suatu hari nanti.


*****


Pengacara muda itu kini mulai disibukan dengan permohonan para kliennya, kesuksesan yang diraih oleh Devan tidak membuatnya lupa diri dan bersyukur.

__ADS_1


Devan seringkali mengunjungi beberapa panti asuhan dan memberikan bantuan untuk anak-anak yatim piatu yang berada di sana.


Hatinya yang sangat lembut dan sifatnya yang dermawan membuat Devan semakin digandrungi oleh siapapun yang sudah mengenal kepribadian pemuda itu.


Tak sedikit dari kliennya yang menawarkan anak-anak gadisnya untuk dijadikan istri, ada juga janda-janda muda yang berupaya menggoda Sang pengacara.


Sayangnya Devan masih tetap setia pada pandangan pertamanya, seorang gadis bermata bulat yang sebenarnya sudah menolaknya.


"Terimakasih banyak, Pak, semoga rejeki Bapak dilimpahkan lebih banyak lagi sama Allah," ucap seorang pengemis yang berada di sebuah lampu merah, tepat di samping kaca jendela mobil Devan, ia menerima uang seratus ribu dari Devan.


Devan hanya mengangguk dan tersenyum seraya mengaminkan do'a yang diucapkan Bapak pengemis itu dalam hatinya.


Lampu kembali hijau, Devan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.


Sampai di sebuah kantor berlantai tiga, Devan memarkirkan mobilnya.


Satpam menyambutnya dengan hormat, pemuda itu lagi-lagi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Mila, menyambut kedatangan atasan yang diam-diam disukainya.


"Ada berkas yang masuk lagi?" tanya Devan setelah membalas sapaan Mila dengan senyuman.


"Ada Pak, sebentar saya siapkan," jawab sekretaris berambut panjang dan ikal itu.


Devan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, dia menggantungkan jas yang baru saja dilepaskannya pada sebuah gantungan yang berada tepat dibelakang kursi kebesarannya.


Tak lama Mila mengetuk pintu ruangan dan masuk setelah dipersilahkan oleh Sang pemiliknya.


"Ini berkas-berkas yang sudah masuk, Pak," ujar gadis itu seraya meletakan tumpukan map yang dibawanya di atas meja Devan.


"Makasih, yah," ucap Devan.


Tangannya membuka laptop, dan mulai mengoperasikan benda canggih itu.


Mila kembali duduk di tempatnya.


"Sut ... Sut ... Hey, Lo suka yah sama si Boss?" bisik Padil sambil tersenyum-senyum melihat Mila.


"Apaan sih, Lo," hardik Mila tanpa mengeraskan suaranya karena takut terdengar Devan.


"Ngaku aja deh, Lo," desak Padil, lengkap dengan senyum ejekannya.


Pletakkkk ... Mila melempar sebuah pulpen pada staf yang bertubuh paling subur itu.

__ADS_1


"Aww ..."


Pria yang masih bujangan itu mengusap-usap kepalanya yang kena timpukan pulpen.


__ADS_2