Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Labil


__ADS_3

Geo mengendarai kendaraan roda empatnya menuju Rumah Sakit, hanya berselang satu jam perjalanan yang harus ditempuhnya untuk sampai di tempat yang dituju.


Terdengar notifikasi whatsapp berbunyi dari ponsel yang ditaruhnya di atas meja, Geo hanya meliriknya, ia meletakan tas dan mengenakan snellinya terlebih dahulu.


‘Selamat pagi harapan,’ chat sapaan hangat itu selalu datang tepat saat dokter muda itu sampai di ruangannya.


Geo tersenyum, lalu mengetikan emotikon love dan mengirimkannya.


Di seberang sana, gadis bermata bulat itu terlihat sangat senang menerima balasan gambar hati dari dokter muda pujaan hatinya itu.


Entah sejak kapan keduanya mulai menjalin kedekatan dalam sebuah hubungan yang sepertinya sudah mulai serius.


Singkatnya, Sarah semakin yakin bahwa Geo adalah pilihan hatinya. Hanya masalah waktu saja Sarah akan menceritakan soal hubungan itu pada kedua orang tuanya.


Geo memulai aktivitasnya seperti biasa, menangani pasien yang datang ke ruang Unit Gawat Darurat.


Lelaki itu tidak ingin melanjutkan kembali pendidikan kedokterannya untuk menjadi spesialis, ia sudah merasa nyaman berada di ruangan itu, walaupun sebenarnya bukan hal yang sulit untuknya meraih gelar spesialis dan membuka keliniknya sendiri.


Namun begitulah Geo, tak pernah mau jika kenyamanannya terusik.


Siang itu Geo mendial salah satu nomor dari phonebooknya yang bertuliskan nama Sarah. Secepat kilat panggilannya terhubung.


“Assalamu’alaikum, Mas,” suara lembut di seberang sana menerima panggilan dengan antusias.


“Alaikumussalam, makan siang dulu!” ucapnya tak kalah lembut, mengingatkan Sarah yang memang sedang berusaha keras mengejar tergetnya untuk dapat lulus dalam waktu tiga tahun.


“Iya, Mas, sebentar lagi,” sahutnya.


“Sekarang!” tegas Geo, ia seakan sudah tau persis segala sesuatu tentang gadis calon sarjana ekonomi itu.


“Iya, iya, sekarang aku ke kantin,” ucap Sarah dengan nada melemah.


“Makan yang banyak ya, biar sehat.” Geo menutup panggilannya dan meletakan kembali ponselnya di atas meja.


Dokter muda itu pun kembali beraktivitas setelah selesai menyantap jatah makan siangnya.


*****


“Cie, cie, yang lagi bucin,” goda Sinta, sahabat Sarah, yang sudah akrab dari mulai ospek dulu.


Sarah tersipu, dia memang begitu mencintai Geo, padahal dokter muda itu tak pernah menyatakan perasaannya pada gadis itu.

__ADS_1


“Ayo kita makan dulu,” ajaknya pada Sinta.


“Iya, kan sudah disuruh sama cintanya,” ledek Sinta.


Sarah mencubit lengan sahabatnya hingga menjerit, lalu ia berjalan mendahului Sinta.


“Eh, kapan nih rencananya doi ngelamar?” tanya gadis berkacamata itu penasaran.


“Apaan, sih, lu,” dengus Sarah kesal.


“Dia udah nyatain perasaannya belum?”


Sarah menggeleng.


“Terus yang kalian jalanin ini, hubungan apa namanya?”


Sesaat Sarah bergeming, ia pun belum tau pasti arah dari hubungan yang dijalaninya sekarang bersama Geo.


“Si Devan mah udah gentle nyatain bener-bener perasaannya sama kamu, eh, malah kamu tolak, padahal dia ganteng loh, sholeh, rajin ibadah, tajir juga, pengacara lagi,” cerocos Sinta memuji Devan.


“Kalo lo mau, ambil aja,” ketus Sarah.


Sarah menyedot air jus jeruk yang tinggal beberapa tegukan, lalu ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Sinta.


“Ih, kenapa jadi ngambek?” gerundel gadis blasteran sunda dan jawa itu seraya berjalan mengejar sahabatnya.


Sarah kesal dengan pernyataan Sinta yang baru saja dia dengar, entah apa yang sebenarnya dia rasakan.


Pada Geo dia begitu antusias bahkan sudah terbilang bucin akut, karena saking sukanya gadis itu.


Namun saat ia mendengar Devan dekat dengan seseorang pun dia merasakan kesal, padahal gadis itu sudah menolak ungkapan perasaan Devan yang benar-benar menyukainya, Sarah menolak dengan alasan ingin fokus pada study yang sedang dijalaninya. Devan pun mengerti dan menerima jawaban Sarah.


*****


Devan bersiap menghadapi sidangnya, kali ini dia tengah membela seorang pria yang ditipu oleh sahabatnya sendiri. Pemuda tampan itu kini sudah berada di ruang sidang.


Tiga jam sidang itu berlangsung dengan sengit, Devan mengerahkan segala kemampuannya dan mengumpulkan bukti-bukti juga saksi yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari.


Putusan terakhir sidang itu dimenangkan oleh pihak pelapor yaitu klien Devan, suatu keberhasilan bagi Devan dapat membela kliennya saat itu.


“Terimakasih banyak, Pak Pengacara, anda memang hebat,” puji klien Devan seraya mengacungkan jari jempol kedua tangannya. Devan tersenyum, “Alhamdulillah, semua ini berkat kuasa Allah,” ucap Devan merendah.

__ADS_1


“Tapi kalo saya pilih pengacara yang lain, belum tentu saya bisa menang melawan mereka yang sudah lihai nipu orang,” lanjut klien Devan yang bersikeras dengan pendapatnya.


“Iya, iya, terimakasih pujiannya,” pungkas Devan, seraya menyalami klien dan semua orang yang berada didekatnya saat itu.


“Kalo gitu, saya duluan, masih banyak hal yang harus saya selesaikan di kantor,” pamit Devan.


Pengacara muda itu pun kini berjalan menuju mobil yang kemudian dikemudikannya menuju kantornya sendiri.


Devan sudah memiliki kantor sendiri, dengan bantuan Ayah tercintanya ia dapat dengan cepat memproses perizinan untuk lembaga hukumnya itu.


“Assalamu’alaikum,” Devan memberi salam kepada seluruh stafnya ketika memasuki ruangan kantor.


Mereka pun membalas salam Devan dengan serempak.


“Bagaimana sidangnya, Pak?” tanya sekretarisnya Mila.


“Alhamdulillah, semua berjalan lancar, dan kita berhasil memenangkan persidangan,” ungkap Devan seraya membagikan buah tangan yang tadi dibelinya di jalan menuju kantor.


“Waaah, ini makanan kesukaan saya, Pak,” sambut Padil ketika menerima box makanan dari atasannya. Staf Devan yang bertubuh tambun itu memang doyan makan.


“Kamu, apa sih yang nggak doyan,” ejek Mila diiringi gelak tawa para staf yang lainnya.


Devan hanya tersenyum melihat kelakar para stafnya, lalu berjalan menuju ruangannya sendiri.


Lelaki muda yang sudah sukses meraih cita-citanya itu kini duduk di kursi, kedua netranya menatap sebuah bingkai foto yang berada di atas meja kerjanya.


“Aku selalu berhasil dalam persidangan berkat do’a kalian, hanya saja aku belum berhasil memenangkan hati gadis yang aku cintai selama ini,” gumamnya.


Kembali Devan mengingat kenangan pahit saat Sarah menolak dengan lembut perasaan cintanya.


“Aku ingin fokus dulu ke kuliah aku, Van, semoga kamu bisa mengerti,” kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinganya sampai detik ini.


Padahal kedua orang tua mereka sudah menyalakan lampu hijau untuk keduanya menjalin hubungan.


“Van … Van …” seorang pria paruh baya melambaikan tangannya di depan wajah Devan.


“Ngelamun koyo wong kesambet ngono kui to le, le, sampe nggak ngeh ada orang masuk,” gerutu Pak Bagas yang kedatangannya terabaikan anak sulungnya.


“Maaf, Pah,” sesal Devan seraya mencium tangan Pak Bagas.


“Bulan depan kita langsung lamar si Sarah.”

__ADS_1


__ADS_2