
Suara notifikasi whatsapp berbunyi, Sarah segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Terlihat nama si pengirim pesan, 'My Love'. Senyum manis gadis bermata bulat itu mengembang seketika, kedua netranya memancarkan binar kebahagiaan tatkala orang yang dicintainya mengirimkan ucapan, 'Selamat pagi kerinduan'.
Sorak soray dalam hatinya tak terdengar oleh siapapun, namun kentara sekali perbedaan sikapnya saat sebelum mendapatkan kalimat itu.
Sarah memang begitu sangat mencintai Geo, dia sudah benar-benar tidak bisa menerima siapapun selain si dokter muda yang berwajah tampan.
Dengan semangat yang semakin meningkat, Sarah melangkahkan kakinya keluar kamar, setelah dirasa selesai memantaskan diri di depan cermin kaca berukuran sama tinggi dengan tubuhnya.
"Ayah, Ibu, selamat pagi," sapanya.
"Pagi, sayang, ceria sekali hari ini," balas Bu Marni dengan wajah keheranan.
Sarah duduk dengan senyum yang masih terukir indah dibibirnya.
Bu Marni melirik suaminya yang juga terheran-heran melihat kelakar anak semata wayangnya.
Tak ada tanya yang terucap dari mulut Bu Marni dan Pak Prayoga, mereka hanya menebak-nebak bahwa anak gadisnya menjadi lebih ceria mungkin setelah kemarin bertemu dengan Devan.
Sarah berangkat setelah berpamitan pada kedua orangtuanya.
Sepeninggal anak gadisnya, Pak Prayoga dan Bu Marni berpindah tempat duduk, suami istri itu kini tengah berada di ruang keluarga.
"Bu, gimana persiapan pernikahan Sarah nanti, apakah semua sudah lengkap? Ayah nggak mau mengecewakan Bagaskara, sahabat Ayah," tutur pria setengah baya itu seraya menikmati sebatang rokok yang terselip di sela jari telunjuk dan tengahnya.
"Tenang saja semua sudah siap, tapi apa tidak sebaiknya kita tanya Sarah dulu. Siapa tau dia ingin menikmati masa lajangnya terlebih dahulu dengan bekerja," saran Bu Marni pada suaminya.
"Nanti malam kita ngobrol dengan Sarah. Ayah harus ke kantor dulu sekarang, ada hal yang harus Ayah selesaikan."
Pak Prayoga beranjak dari tempat duduknya.
Bu Marni mengantarkan suaminya ke depan pintu, Pak Prayoga melangkah pergi setelah mencium kening wanita yang dinikahinya dua puluh satu tahun yang lalu.
*****
Sarah tiba di kampusnya, seperti biasa Mang Soleh menunggu anak majikannya itu di sebuah warung, dia berkumpul bersama para supir pribadi yang lainnya.
"Hai, Sinta," sapa Sarah pada gadis berkacamata yang sudah lebih dulu tiba di kelasnya hari itu.
"Wah, roman-romannya ada yang lagi bahagia nih," goda Sinta.
__ADS_1
"Cerita dong, tuan putri yang cantik," lanjutnya sambil mendekati kursi yang diduduki sahabatnya.
Sarah memperlihatkan layar ponselnya pada Sinta, dengan kening berkerut gadis berkacamata itu meneliti isi tampilan di layar.
"Beuhhhh ... yang baru dapat kata rindu, sampe segitunya," ledek Sinta.
Percakapan keduanya berhenti dengan datangnya dosen yang akan mengisi materi di kelas itu.
*****
Malam menjelang, keluarga Sarah tengah menikmati makan malam mereka.
"Setelah makan, Ayah mau bicara sama kamu." Pak Prayoga menatap anak gadisnya yang masih asyik menikmati makanannya, tak mendengar kalimat yang dia ucapkan.
Bu Marni mencolek Sarah, gadis itu menoleh pada ibunya, Bu Marni memberi kode bahwa Ayahnya sedang bicara padanya.
Sarah beralih pada Pak Prayoga yang masih menatapnya dari tadi.
"Iya, Ayah, kenapa?"
Sarah tak mendengar apa yang dikatakan Ayahnya.
"Selesai makan kita bicara," tegas Pak Prayoga, kembali mengulang perkataannya.
"Selesai kuliah nanti kamu akan Ayah nikahkan dengan Devan," jelas Pak Prayoga tanpa mukadimah pembicaraan.
Keduanya sudah duduk di sofa ruang keluarga.
Sontak gadis bermata bulat itu kaget, dia tak menyangka Ayahnya masih bersikukuh pada rencana perjodohannya itu.
Sarah memang tak pernah bercerita bahwa dia telah menolak Devan, bahkan sampai dua kali.
Demikian pula dengan Devan, yang tak pernah bercerita tentang penolakan Sarah pada orang tuanya.
"Ta - tapi Ayah," Sarah mencoba menolak dengan terbata, dia takut Ayahnya marah.
"Kenapa? Kamu nggak mau? Kamu nggak suka sama Devan? Atau kamu punya pacar?" Pak Prayoga memberondong anak gadisnya dengan pertanyaan.
"Ayah, jangan terlalu keras, biarkan Sarah bicara dulu," sela Bu Marni yang baru saja datang, berusaha mencoba menenangkan suasana keduanya yang menegang.
Sarah mengangguk, "iya, Ayah, aku punya pacar," jelas Sarah.
__ADS_1
"Siapa dia? Apa Ayah kenal? Dimana tinggalnya? Teman kuliahmu atau ketemu dimana?" kembali Pak Prayoga mencecar anak gadisnya dengan rentetan pertanyaan.
"Coba jelaskan pada kami, tentang pacarmu itu," pinta Bu Marni, seraya duduk di samping anak gadisnya.
Sarah menjelaskan tentang hubungannya dengan Geo pada kedua orangtuanya, hanya saja pengetahuannya tentang pribadi Geo sangat minim, dia hanya tau bahwa Geo adalah anak tunggal, dia tinggal sendiri di sebuah apartemen dan orang tuanya berada di luar negeri.
Pak Prayoga mendengarkan dengan seksama, namun dia memiliki firasat yang kurang baik pada dokter itu. Instingnya sangat tajam.
"Ayah ingin bertemu dengannya, hari ini juga, jika dia tak datang, kami akan tetap menjodohkanmu, telpon dia sekarang juga," perintah Pak Prayoga pada gadis yang mulai terlihat gelisah dengan permintaannya.
Sarah mencoba mendial nomor telepon Geo, namun panggilannya dirijek oleh dokter muda itu.
"Mungkin dia sedang sibuk di Rumah Sakit, Ayah," Sarah mencoba memberikan alasan untuk lelaki pujaannya itu.
"Okey, besok bawa dia ke hadapan Ayah."
Pria berwatak keras itu beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan Sarah dan ibunya.
"Ibu ..."
Sarah memeluk Bu Marni, tangisnya pecah.
"Ayahmu memang keras, tapi dia melakukan ini demi melihat kamu bahagia, jangan salah faham. Ayah pasti punya alasan dalam masalah perjodohan ini," tutur Bu Marni sambil mengusap-usap punggung Sarah.
"Lebih baik kamu tanya dokter pilihanmu itu, apa dia serius dan berniat menikahimu atau hanya sekedar pacaran," saran Bu Marni pada anak gadisnya.
Sarah terdiam, isakan tangisnya mulai mereda. Dalam benaknya membenarkan apa yang baru saja disarankan oleh wanita yang melahirkannya itu.
"Ya sudah, ibu masuk kamar duluan, yah."
Wanita setengah baya itu melangkah pergi ke kamar.
Tinggal Sarah sendirian di ruangan itu, tangannya menatap layar ponsel.
Kembali dia mencoba menghubungi pria tampan pujaan hatinya itu, namun lagi-lagi panggilannya dirijek oleh pemilik nomor.
"Kamu kenapa, sih? Lagi ngapain, sekarang kan jam sembilan, harusnya kamu udah ada di rumah," gerutu Sarah.
Bad mood terlihat sekali diwajahnya, padahal wajah itu tadi pagi sampai sore luar biasa cerah dan cerianya.
*****
__ADS_1
Pagi menyambut pergantian hari, Sarah sudah bersiap untuk pergi menemui dokter muda pujaan hatinya itu.
Dia ingin meminta penjelasan pada Geo tentang hubungan yang mereka jalani sekarang.