
"Uwek ... Uwek ..."
Sarah masih mengeluarkan semua isi perutnya di dalam kamar mandi, badannya membungkuk tepat di depan lubang pembuangan kotoran, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, wajah wanita muda itu mulai pucat, penglihatannya pun mendadak kabur yang berakhir gelap. Ia tak sadarkan diri di kamar mandi.
"Sarah ... Sarah ..."
Rosa mengetuk-ngetuk pintu kamar anaknya dari luar sembari memanggil nama menantunya. Lama sekali ia berada di depan pintu, dengan penasaran tangannya menggerakan gagang pintu yang ternyata tak dikunci.
Ekor matanya berkeliling mencari penghuni kamar. Dia tidak mencari Geo, karena pagi-pagi sekali anak tunggalnya itu sudah berangkat, setelah mendapat panggilan darurat dari klinik tempatnya bekerja.
Betapa kagetnya ketika dia melihat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, ada tangan yang menjulur keluar dengan posisi tergeletak di lantai.
"Astaga, Sarah!" teriak wanita berusia lima puluh tahunan itu.
Sontak teriakannya membuat seorang pelayan menghampirinya karena khawatir terjadi apa-apa dengan nyonya rumah.
"What happen?" tanya pelayan itu di ambang pintu dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari dari lantai satu.
"Come on, help me please," pinta Rosa yang tengah berusaha mengeluarkan tubuh lemah menantunya dari dalam kamar mandi.
Dengan sigap pelayannya itu membantu membopong tubuh wanita muda yang sepertinya tengah berbadan dua.
Setelah membaringkan tubuh menantunya, wanita berusia setengah abad itu mengambil sebuah botol kecil bertuliskan cap Lang dari atas nakas di pinggir ranjang tempat Sarah berbaring.
Dia membuka tutup botol kecil itu dan meletakkannya tepat di depan lubang hidung Sarah.
Perlahan mata bulat wanita muda yang masih berpiyama itu terbuka, pandangannya mulai melihat meski masih remang.
"Mom," sapanya pada sang mertua yang terlihat masih dikuasai kepanikan.
Rosa tersenyum melihat menantunya sudah siuman dan langsung mengenalnya. Dia takut terjadi apa-apa pada wanita muda yang kelak akan mengandung cucu tersayangnya.
"Are you okay?" tanya Rosa, yang dijawab dengan anggukan lemah dari Sarah.
Rosa beranjak dari tempat duduknya di pinggir ranjang, dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku pakaian yang dikenakannya.
"Hallo, Geo, cepat pulang, istrimu pingsan," ungkapnya setelah sambungan telepon selulernya itu diterima oleh anaknya.
"Please prepare food for him," titahnya pada pelayan yang masih siaga berdiri di dekat lemari pakaian Sarah.
Tanpa bertanya lagi, ia langsung pergi menuju dapur dan melaksanakan perintah dari Rosa, majikannya.
__ADS_1
Tak berselang lama, pelayan wanita yang masih berusia muda itu kembali datang dengan membawa sebuah nampan berisi satu porsi makanan lengkap dengan jus buah dan satu gelas air putihnya.
"Kamu sarapan dulu, ya, sebentar lagi Geo pasti pulang," bujuk Rosa dengan senyum manisnya.
Benar saja, tak lama kemudian Geo datang. Ia masih mengenakan jas putihnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya pada Sarah yang baru saja selesai melahap sarapannya.
"Dia tadi pingsan," sela Rosa menjawab pertanyaan anaknya.
Sarah bergeming, ia masih merasakan sakit di sudut hatinya, tatkala mengingat kejadian tengah malam itu.
Tanpa pertanyaan lagi, Geo memeriksa kondisi istrinya, setelah itu dia melangkah menuju sebuah kotak kecil berlambang bulan sabit merah yang menempel di dinding kamarnya.
Dokter muda itu kembali menghampiri Sarah dengan membawa sebuah tespek di tangannya.
"Cek," katanya singkat.
Sarah faham dengan kata itu, ia pun berusaha bangkit dari posisinya, dengan langkah yang masih terlihat lemah dan segera dibantu kembali oleh sang mertua, Sarah memasuki kamar mandi.
Sarah keluar dengan membawa kembali stik panjang yang berukuran kecil itu, lalu menyerahkannya pada Geo.
Senyum Geo merekah saat melihat hasil yang ditampakkan oleh benda yang dipegangnya.
Wanita berbaju merah itu mendekap tubuh menantunya dengan lembut seraya mengucapkan terima kasih.
"Semoga anakmu laki-laki," ucapnya setelah melepaskan pelukan.
Sarah hanya mengaminkan di dalam hatinya.
Setelah dirasa selesai, Geo pamit kembali ke tempatnya bekerja.
Rosa pun kembali melanjutkan acara leyeh-leyehnya di ruang tivi bersama dengan majalah fashion kegemarannya.
Kini Sarah kembali sendiri di kamarnya.
Ia teringat pada kedua orangtuanya, perlahan dia menggeserkan badan, tangannya mengambil handphone yang tergeletak di atas nakas samping botol kecil yang tadi membantu menyadarkannya.
"Assalamualaikum," suara seorang pria paruh baya terdengar jelas dari speaker ponsel yang juga menampakkan wajah keduanya pada bagian layar benda itu.
"Alaikumusalam, Ayah," sapa Sarah sambil melambaikan tangannya ke depan layar.
__ADS_1
"Nak, kamu apa kabar?" tanya Prayoga, Ayahnya.
"Alhamdulillah sehat Ayah. Ibu mana?" Sarah menanyakan keberadaan Bu Marni.
"Ini Ibu, Nak."
Wajah Bu Marni yang baru muncul terlihat pula di sana. Ketiganya melepas rindu dengan bercerita tentang semuanya.
Setelah lama berbicara, Sarah mengabarkan bahwa ia tengah mengandung.
Wajah kedua orangtuanya terlihat gembira dengan berita itu dan mendo'akan anak semata wayangnya agar selalu sehat dan selamat.
"Ayah, Ibu, udah dulu yah, Sarah mau mandi," pungkasnya mengakhiri obrolan.
Setelah menutup sambungan komunikasinya, Sarah beranjak menuju kamar mandi setelah sebelumnya ia mengambil sebuah handuk dari balik pintu kamar.
*****
Setiap bulannya Sarah rutin diperiksa oleh Geo, hanya ketika jadwal USG dia pergi diantar oleh mertuanya ke klinik tempat suaminya bekerja. Hasil penglihatan dari alat pendeteksi janin itu menunjukkan bahwa jenis kelamin anaknya adalah laki-laki.
Betapa bahagianya Rosa dan Geo, keinginan mereka terpenuhi oleh Sarah, keduanya sangat antusias dengan kehamilan wanita bermata bulat itu.
Sikap Geo berubah drastis, ia memperlakukan istrinya jauh lebih baik, dari sebelumnya.
Adegan ranjang yang dilakukannya pun kini jauh berbeda, ia memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh perhatian, Sarah merasa sangat bahagia di masa kehamilannya itu.
Sembilan bulan berlalu.
Sarah tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa, cairan bening bercampur lendir mengalir keluar membasahi kedua kakinya.
"Mas ... Mas ..."
Sarah memanggil-manggil Geo dari dalam kamar mandi, terlihat suaminya itu yang masih terlelap, tidak mendengar suaranya.
Saat itu jam menunjukkan pukul dua dini hari, Sarah merangkak dari kamar mandi, tangannya berusaha meraih bagian bawah kaki Geo sambil menepuk-nepuknnya, ia berusaha menahan rasa sakit yang semakin meningkat.
Wajah dan tubuhnya sudah basah dengan keringat, Sarah tak kuat lagi menahan rasa sakit di perutnya itu, namun ia berusaha untuk tetap dalam keadaan sadar.
Geo pun akhirnya terbangun, ia segera membopong tubuh istrinya dan membawa Sarah ke klinik bersalin terdekat.
Tak menunggu lama, terdengar suara tangisan bayi yang diiringi dengan ucapan syukur dari bibir Sarah. Air mata bahagia pun mengalir bercampur peluh yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Congrats Mom, your baby girl."