
Assalamualaikum ...
Ayah, Ibu, maafkan Sarah ...
Sarah tau niat Ayah baik dan ingin memberikan yang terbaik untukku. Tapi aku sudah memiliki seseorang untuk menjadi imamku di dunia, Sarah mohon Ayah mengerti.
Ibu jangan khawatir, Sarah sudah dewasa sekarang, Sarah sudah bisa jaga diri Sarah sendiri.
Sarah pergi, maafkan Sarah ... Ayah, Ibu.
*****
"Sarah, kamu belum bangun? Ini sudah siang, kamu nggak ke kampus?"
Bu Marni terus mengetuk-ngetuk pintu kamar anak semata wayangnya.
Dengan perasaan hati yang mulai khawatir, dia membuka pintu kamar anaknya yang ternyata tidak terkunci.
Tak terlihat anak gadisnya itu berada di dalam, Bu Marni menengok ke arah kamar mandi, segera dia membuka pintu kamar mandi, kosong.
Wajah wanita setengah baya itu semakin menyiratkan kekhawatiran, dia terus berkeliling melihat-lihat kamar anaknya, hatinya bertanya-tanya kemana anak gadisnya itu pergi, semalam dia memang melihat putrinya sangat kecewa pada kekasihnya yang tak datang.
"Ayaaah ... Ayaaah ..." teriak Bu Marni pada suaminya yang masih berada di kursi meja makan.
Mereka baru saja selesai sarapan bersama.
Mendengar teriakan istrinya, Pak Prayoga beranjak dari tempat duduknya, setengah berlari dia memasuki kamar Sarah.
"Sarah, Ayah, Sarah," Bu Marni panik nggak ketulungan, dia menemukan selembar kertas berisi surat dari anak gadisnya itu.
Pak Prayoga membaca isi surat itu, tangannya bergetar, wajahnya memerah, dia benar-benar kecewa dengan sikap anaknya kali ini.
"Anak keras kepala," pekiknya sambil membuang kertas yang dipegangnya sembarang.
Bergegas dia menyambar kunci mobil di atas sebuah bupet di ruang tamu.
"Ibu, ikut," pinta Bu Marni.
"Nggak usah, Ibu di rumah saja, siapa tau dia akan kembali pulang," tolak Pak Prayoga, lalu dia melangkah pergi menuju mobilnya meninggalkan Bu Marni yang mulai menangis.
"Sarah, kamu kemana, Nak," lirihnya dengan raut wajah yang sangat cemas.
__ADS_1
Pak Prayoga melajukan mobilnya, tempat pertama yang dia tuju adalah tempat kuliah anaknya.
"Bisa minta tolong dipanggilkan Sinta, mahasiswi fakultas ekonomi," pinta Pak Prayoga pada seorang satpam yang tengah berjaga di depan kampus.
Segera satpam itu melaksanakan pencarian orang yang dimaksud oleh Pak Prayoga.
Satu jam Pak Prayoga menunggu di pos satpam, terlihat Sinta sudah berhasil ditemukan Pak Satpam.
"Om," sapa Sinta pada Ayah sahabatnya.
"Sinta, apakah Sarah masuk kuliah hari ini?" tanya Pak Prayoga langsung pada intinya.
Sinta menggeleng, "justru rencananya aku mau ke rumah Om, nyari Sarah, soalnya udah dua hari ini dia nggak masuk, kata dosen dia bisa gagal ikut program kalo nggak masuk terus-terusan kaya gini," jelas Sinta.
Pak Prayoga tertegun, dia tak tau harus bagaimana sekarang.
"Apa Sarah punya pacar? Sinta tau dimana rumah pacarnya Sarah?" kembali Pak Prayoga bertanya pada gadis berkacamata itu.
"Sarah punya pacar seorang dokter umum yang kerjanya di UGD RS Daerah, tapi saya nggak tau rumahnya dimana Om," jawab Sinta.
Pak Prayoga menemukan sedikit titik terang, kemana dia harus mencari anak gadisnya sekarang.
Sekitar pukul dua belas siang, Pak Prayoga sampai di tempat tujuan.
Dia menemui bagian informasi, dengan maksud menanyakan dokter muda kekasih anaknya itu.
Sayanya dia lupa bertanya pada Sinta, siapa namanya.
Beruntung dia menyimpan nomer ponsel sahabat anak gadisnya itu, segera Pak Prayoga menghubungi Sinta.
Setelah menerima jawaban dari Sinta, kembali Pak Prayoga menemui bagian informasi di Rumah Sakit itu.
"Permisi, bisa saya bertemu dengan dokter Geo, Geovano Pratama," pinta Pak Prayoga pada seorang wanita yang tengah berjaga di meja informasi.
"Sebentar saya cek dulu ya, Pak," katanya sambil melihat layar laptop yang berada di dalam meja kaca tepat di bawahnya.
Pak Prayoga menunggu dengan harapan semoga bisa bertemu dengan dokter muda itu.
"Maaf Pak, sepertinya Bapak telat datang kesini, baru saja dokter Geo mengundurkan diri dari Rumah Sakit ini," jelas wanita berwajah menarik itu pada Pak Prayoga.
Lemas, serasa menemukan jalan buntu, pria paruh baya itu kehilangan jejak untuk mencari keberadaan putri tunggalnya.
__ADS_1
"Apakah saya bisa minta nomer telepon atau alamat rumah dokter Geo?" imbuh Pak Prayoga, mencoba mencari kembali titik terang.
"Maaf Pak, itu diluar kewenangan kami," pungkas wanita itu seraya memberikan isyarat permintaan maaf dengan menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada.
"Oh, iya, tidak apa-apa," lirih Pak Prayoga dengan hati yang hancur dia pamit, lalu bergegas meninggalkan Rumah Sakit itu.
Di perjalanan pulang dia ingat Mang Soleh, sopir pribadi Sarah. Tanpa berfikir lama, Pak Prayoga mendial nomor ponsel Mang Soleh yang ada di phonebook-nya.
Lama tak ada jawaban dari seberang sana, Mang Soleh tak dapat dihubungi.
"Kemana, sih, mereka perginya," teriak Pak Prayoga sambil memukul setir mobil yang sedang dikendalikannya.
Sampai di depan rumahnya, Ayah dari Sarah Ardelia itu keluar dari mobilnya.
Dengan langkah gontai ia menuju ke dalam, kedatangannya disambut oleh istrinya.
"Gimana, Yah? Ketemu? Sarah dimana?" tanya Bu Marni dengan suara bergetar, bulir bening dari matanya pun kembali mengalir.
Pak Prayoga menghempaskan bokongnya di atas sofa, terlihat raut kekecewaan bercampur kemarahan dari wajahnya.
"Ayah, anak kita dimana?" kembali Bu Marni bertanya disertai isakan tangisnya yang mulai pecah.
*****
Sarah pergi menuju sebuah apartemen, lama dia menunggu dibukakan pintu oleh pemiliknya.
Semalam dia sudah memberikan kabar pada dokter pujaan hatinya itu, bahwa dia akan minggat dari rumah.
Geo tak menjawab chat dari Sarah, hanya saja dia segera membuat surat pengunduran diri dari tempatnya bekerja, karena dia tau, pasti orang tua gadis bermata bulat itu akan mencarinya.
"Ayo, masuklah," ajak Geo pada gadis yang kini sudah membawa koper besar berisi pakaian dan barang-barang pribadinya.
"Ada yang tau kamu kesini?" tanya Geo dengan tatapan tajam pada gadis yang kini sudah duduk bersamanya di ruang tamu apartemen.
Sarah menggeleng, dia pergi dengan menggunakan taksi online dari rumahnya sebelum subuh.
Mang Soleh sudah disuruhnya pulang kampung, dengan sejumlah uang yang diberikan Sarah sebagai uang penutup mulut.
Gadis itu menghampiri dan memeluk Geo.
"Nikahi aku, Mas," bisiknya.
__ADS_1