Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Patah Hati


__ADS_3

Kesehatan Bu Marni sudah membaik, kehadiran Sarah memang menjadi obat mujarab yang dapat menyembuhkannya.


"Ayah, Ibu, maafkan aku, ini semua gara-gara aku," sesal gadis yang sudah bukan perawan itu pada kedua orangtuanya.


"Yang penting kamu sudah pulang dengan keadaan sehat dan selamat," tutur Bu Marni dengan bijak.


Pak Prayoga sebenarnya masih merasa jengkel dengan ulah anak tunggalnya itu, tapi apadaya ia harus menahan emosinya untuk menjaga kesehatan istri tercintanya.


"Apa Geo sudah menghubungimu lagi? Kapan dia kembali ke Indonesia, untuk menikahimu?" tanya Pak Prayoga.


Geo berangkat ke New York sehari setelah mengantarkan Sarah ke rumah orangtuanya, dia kembali berjanji akan segera menikahi Sarah jika urusannya di sana sudah selesai. Geo pun berjanji akan memboyong Sarah ke luar negeri setelah menikah.


Sarah menggeleng, setelah mengantarkannya pulang Geo tak pernah menghubunginya lagi. Kedua mata bulatnya mulai berembun, ia tidak habis fikir dengan sikap dan sifat pria pujaan hatinya itu, padahal ia sudah mengorbankan segalanya, dalam batinnya berkata.


Memang ada kecurigaan yang menelisik hati Pak Prayoga tatkala ia mengajak Geo berbincang untuk pertama kalinya. Namun rasa itu ia tepis, demi menjaga hati putrinya.


Sebagai seorang Ayah yang hanya memiliki satu anak, jelas pria bertubuh tambun itu ingin yang terbaik untuk putri tunggalnya. Namun sayang niatnya tak diterima dengan baik, Sarah memilih jalannya sendiri.


"Uwo ... Uwo ..." Sarah berlari memasuki kamar mandi sambil menutup mulutnya, ia membungkukkan tubuhnya menghadap kloset, rasa mual semakin menguasainya.


Bu Marni menghampiri putrinya, ia mengusap-usap punggung Sarah, dan memijit bagian tengkuknya.


"Kamu kenapa?" tanya Bu Marni.


"Mual Bu, nggak enak perutnya, mungkin masuk angin," jawab Sarah, wajahnya terlihat pucat.


"Kita ke dokter saja," ajak Pak Prayoga, cemas.


Sarah lagi-lagi menggeleng, "aku nggak apa-apa, Ayah."


"Ya sudah, kamu istirahat saja di kamar." Bu Marni membantu Sarah berjalan menuju kamarnya.


"Ayah, sebaiknya kita menyegerakan acara pernikahan Sarah dengan Geo," saran Bu Marni.


"Ayah juga inginnya begitu, Bu, tapi nomor ponsel anak itu nggak bisa dihubungi. Ibu juga tadi denger sendiri, dia juga nggak ngubungin Sarah lagi, setelah mengantarkan anak kita kesini," tutur Pak Prayoga setelah mereka keluar dari kamar Sarah.


"Ayah, Ibu, dia akan datang besok," teriak Sarah dari dalam, dengan girangnya ia mengabarkan berita yang baru saja dia terima dari Geo.


Sarah keluar kamar, ia berlari memeluk Ibunya yang masih duduk di kursi meja makan bersama Pak Prayoga.


Wajahnya terlihat ceria sekali, mata bulatnya berbinar terang, sungguh sangat terlihat bahwa Sarah begitu mencintai seorang Geovano Pratama.


Pak Prayoga menghela nafas lega, ia bersyukur melihat kebahagiaan yang menghampiri putrinya.

__ADS_1


*****


Devan memutuskan untuk beristirahat seharian ini, dia merasa kurang enak badan, mungkin karena terlalu sibuk dengan rutinitas pekerjaannya.


"Kak ... Kakak ..." panggil Karina dari balik pintu kamar.


"Iyaaa, ada apa, Tot?" teriak Devan dari dalam kamarnya.


"Dipanggil Mamah sama Papah, suruh makan dulu," pekikan suara Karina semakin nyaring terdengar.


Dengan rasa malas Devan keluar dari kamarnya.


"Kalian itu, bisa nggak kalo ngomong jangan teriak-teriak? Berisik tau!"


Bu Maria menyambut kedatangan kedua anaknya itu dengan omelan khasnya.


Pak Bagas hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia sudah terbiasa dengan kelakar kedua anaknya itu yang selalu mencari perhatian satu sama lainnya.


Devan sangat menyayangi adiknya dengan caranya sendiri, begitupun dengan Karina yang selalu mencari perhatian dari Kakaknya.


"Kakak tumben ada di rumah, emang nggak kerja?" tanya Karina merasa heran dengan keberadaan Devan di rumah hampir seharian itu.


"Emang kenapa? Nggak boleh," ketus Devan disela kunyahannya.


"ihh, dia mah gitu kalo ditanya, dasar jutek," gerutu Karina seraya mengulurkan tangannya mengambil sebuah kerupuk dari toples.


"Kakaknya jutek mulu, Pah, kalo ngomong sama aku," protes Karina.


Devan mendelik, tanpa melakukan pembalasan kembali pada adiknya.


Terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar, di sertai ucapan salam.


Mbak Sumi dengan sigap keluar dari dapur dan menghampiri pintu depan seraya membalas ucapan salam.


Pintu dibuka, terlihat seorang wanita paruh baya berjilbab merah dengan gamis berwarna senada, dan pria bertubuh tambun yang berada di sampingnya.


"Monggo silahkan masuk Pak, Bu. Juragan sedang berada di meja makan, sebentar saya beritahukan." Setelah mempersilahkan, tanpa menunggu jawaban, Mbak Sumi segera membalikan badan menuju ruang makan.


"Tuan, Nyonya, ada Pak Prayoga beserta istrinya di depan," kata Mbak Sumi setelah berada di depan kedua orang tua Devan.


"Oh, iya, sudah disuruh masuk?" tanya Pak Bagas.


"Sampun, Tuan," jawab Mbak Sumi.

__ADS_1


"Buatkan minuman untuk mereka," titah Bu Maria.


Tanpa menjeda waktu, Mbak Sumi segera menuju dapur untuk melaksanakan tugas dari majikannya.


"Alhamdulillah, sudah sehat, ya Mbak," seru Bagas ketika sampai di ruang tamu.


"Alhamdulillah, berkat bantuan kalian." Prayoga memeluk Bagas, sahabatnya.


Marni dan Maria saling beradu pipi kanan dan kiri.


"Gas, maaf mengganggu hari liburnya," ucap Prayoga.


"Sama sekali tidak, ada apa? Sepertinya ada yang penting," tanya Bagas penasaran.


"Kami mau menikahkan Sarah," ungkap Prayoga.


Bagas bergeming, suasana hening sesaat. Ada rasa kecewa di hati Bagas dan Maria, namun segera mereka menepis rasa itu dari dalam hati.


"Dengan dokter itu?" Bagas berbasa-basi, ia sudah mengetahui semuanya tentang Sarah dan Geo dari Devan.


Prayoga mengangguk. Terlihat sesal diraut wajahnya.


"Mungkin bukan jodohnya," sela Maria mencoba mencairkan suasana, yang terasa menjadi canggung.


Semua tersenyum.


"Kapan?" tanya Bagas kembali.


"Minggu depan, Gas. Kami hanya mengundang saudara dan kerabat dekat saja, tidak ada acara pesta, pernikahan Sarah digelar sederhana saja, hanya akad, tidak ada resepsi," tutur Prayoga menjelaskan rencananya.


"Loh, kenapa? Sarah kan anak tunggal, masa nggak digelar pesta, sih," tanya Bagas heran.


"Geo hanya berniat menjemput Sarah, jadi hanya dua malam dia disininya," sela Marni dengan raut wajah yang terlihat kecewa.


"Oh, begitu."


Seluruh percakapan mereka terdengar jelas oleh Devan, dengan sekuat tenaga ia mencoba mengusir rasa tak nyaman yang menguasai hatinya.


Cemburu dan kecewa, bergulung dalam hati pengacara muda yang berwajah tampan itu.


Setelah berbincang-bincang, kedua orang tua Sarah pamit, mereka sangat berharap keluarga sahabatnya itu bisa datang ke acara pernikahan Sarah.


Devan segera masuk ke dalam kamar, ia merebahkan kembali tubuh kekarnya di atas kasur.

__ADS_1


Selain Devan, raut kekecewaan terlihat dari wajah cantik yang mengintip di balik pintu.


"Kasian Kakak, cintanya bertepuk sebelah tangan," lirih Karina, seraya menutup rapat kembali pintu kamarnya.


__ADS_2