Air Mata Sarah

Air Mata Sarah
Vonis


__ADS_3

Hari ini agenda pembacaan keputusan dan vonis yang akan dijatuhkan hakim untuk Sarah.


Wanita berbaju putih dengan celana panjang berwarna hitam itu kini duduk di kursi pesakitan, berhadapan dengan deretan hakim yang telah siap duduk di kursi kebesaran mereka, lengkap dengan jubah hitam yang sudah dikenakan.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya hasil perundingan dari juri-juri peradilan yang sudah dipilih itupun keluar.


Juri yang bertugas di pengadilan dikenal dalam pengadilan berasas Anglosaxion, negara Amerika salah satu penganutnya. Juri itu bertugas untuk memutuskan perkara berdasarkan kesepakatan.


Seorang hakim menerima lembar keputusan dari perwakilan juri yang diketuakan, lembaran itu kemudian dibacakan.


Prayoga dan Marni memucat, ketegangan terlihat jelas dari raut wajah keduanya, sementara Devan mendengarkan isi keputusan itu dengan seksama, wajah tampannya terlihat sangat serius.


Sarah di vonis dengan hukuman penjara selama dua belas tahun, dipotong masa tahanan yang telah dijalaninya.


Jumlah hukuman itu diberikan atas pertimbangan kesehatan mental Sarah yang mengalami depresi berat akibat perlakuan suami dan mertuanya.


Sarah menghela nafas dalam, raut wajahnya tetap datar tak berekspresi, berbeda dengan Marni, wanita yang telah melahirkannya itu kembali menangis, Marni terisak-isak sambil meratapi nasib anak semata wayangnya, kemudian ia ditenangkan oleh suaminya juga Devan.


Geo dan keluarganya tersenyum senang, mereka puas karena sudah berhasil memenjarakan Sarah, meskipun hukuman yang diberikan lebih ringan dari tuntutan mereka yang menginginkan Sarah dihukum seumur hidupnya.


Devan bernafas lega, usahanya tidak sia-sia, vonis untuk Sarah sesuai dengan harapan, meskipun demikian ia tetap merasa tidak tega melihat wanita itu menjadi narapidana.


Sidang dibubarkan, Sarah diberikan waktu untuk bertemu dengan keluarganya sebelum digiring ke Penjara di kota New York.


Marni memeluk erat anak semata wayangnya, wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menangis, ia tak dapat membayangkan bagaimana kehidupan Sarah nanti selama dua belas tahun di penjara.

__ADS_1


Geo menghampiri Sarah, dengan langkah kaki jumawa dia mendekati wanita yang masih berstatus istrinya itu.


"Ini hadiah dariku," ujar pria pengidap biseksual itu seraya melemparkan berkas perceraian ke depan Sarah.


Laki-laki itu menyeringai lalu membalikan badannya dan kembali berjalan menuju pintu keluar.


Devan sangat kesal dengan sikap yang diperlihatkan Geo. Begitu pula dengan Prayoga, sepertinya kepalan tangan pria paruh baya itu butuh pendaratan di wajah Geo.


Sarah memunguti berkas yang dilemparkan suaminya, tak ada lagi rasa sakit di hatinya, tak ada juga rasa cinta untuk suaminya itu, hati Sarah sudah mati untuk segala rasa yang dulu pernah ada.


Dua orang polisi datang lalu langsung memborgol tangan Sarah seraya berkata, "Mrs. Sarah let's go now."


Sarah mencium punggung tangan kedua orangtuanya dengan khidmat, dia pun menjabat tangan Devan seraya berterima kasih, tanpa senyuman ia membalikan badannya.


Kata terakhir yang didengar oleh Devan, dari wanita yang masih dicintainya itu.


Sarah berlalu meninggalkan ketiga orang yang sangat menyayanginya, mulai hari ini ia harus menjalani hukuman atas perbuatan yang telah dilakukannya.


Gerbang penjara sudah menunggunya.


Air mata Marni mengiringi kepergian anaknya, hatinya hancur melihat buah hati yang selalu dimanjanya itu menjadi seorang narapidana.


*****


Sarah tiba di sebuah tempat yang sangat di benci masyarakat, penjara.

__ADS_1


Ibu muda itu dijemput seorang sipir wanita. Setelah berganti pakaian, Sarah digiring masuk ke dalam bangunan yang terlihat menyeramkan itu.


Sarah menghuni sebuah sel bernomor sama dengan baju yang dipakainya, sembilan puluh empat, dan nomor itu pula yang dipakai para sipir untuk memanggilnya.


Malam berganti pagi, seperti biasa Sarah mengantri untuk memasuki kamar mandi. Namun di sana kamar mandinya berjejer, tidak hanya satu.


Tiba-tiba seorang wanita berambut pirang menyerobot antrian, ia menendang Sarah sampai tersungkur, lalu menerobos masuk kamar mandi lebih dulu.


Setelah wanita itu keluar, Sarah langsung menghadiahinya sebuah bogem mentah tepat di wajahnya. Tahanan bernomor delapan puluh itu memegangi hidungnya yang berdarah hasil dari hantaman kepalan tangan Sarah.


Keduanyapun tak luput dari perkelahian, tak ada satu orang pun yang berani melerai mereka, malah sebagian tahanan meneriakinya seperti seorang supporter yang tengah menonton sebuah pertandingan.


Priiittt … priiittt …


Suara peluit terdengar dari kejauhan, tiga orang sipir penjara berlari dan melerai perkelahian antara Sarah dengan tahanan bernomor delapan puluh itu.


Perkelahian demi perkelahian dialami Sarah, wanita itu dikenal pendiam, ia tidak banyak bicara, namun ketika dirinya terusik maka tak ada seorangpun yang bisa lolos dari pukulan dan tendangannya.


Fisik Sarah semakin terbentuk, ia mengikuti kegiatan bela diri sebagai aktivitas rutinnya setiap hari di penjara itu.


Sarah yang dulu terkenal dengan keceriaan dan kecerdasannya, kini berubah menjadi seorang wanita yang pendiam dan sadis.


TAMAT


#nantikan kisah Sarah selanjutnya dalam "Sang Penakluk"

__ADS_1


__ADS_2