
Tak ada lagi sapa ataupun tanya
Tak ada lagi canda apalagi tawa
Semua sirna
Karena angan yang tak menjadi nyata
Seperti mimpi buruk yang menghampiri
Datang dan tak kunjung pergi
*****
Sarah menggendong bayi mungil yang cantik dalam dekapannya, ia pulang tanpa acara penjemputan.
Sendiri, ya, dia sendiri, membawa pulang bayi yang telah dilahirkannya dengan menjinjing sebuah tas yang berisi perlengkapan melahirkan.
Sarah menaiki taxi online yang dipesankan oleh salah satu suster di klinik tempatnya melahirkan.
"Alhamdulillah, masih ada orang yang baik sama kita, ya, Nak," bisiknya pada bayi mungil yang masih menutup rapat kedua matanya.
Setelah tau jenis kelamin bayi yang dilahirkan istrinya itu perempuan, Geo tak lagi menampakkan batang hidungnya, entah dia pergi kemana.
Sarah berjuang sendiri memulihkan badannya setelah melahirkan. Seperti disayat-sayat sembilu hatinya sudah terkoyak dengan perlakuan suaminya, namun ia sadar bahwa ini adalah kuasa Tuhan, tak ada manusia yang dapat menentukan segalanya.
Dengan sisa kesabaran dia bertekad untuk tetap bertahan dan berjuang, meskipun sudah dapat dipastikan ia takan lagi diperhatikan.
Sampai di depan pintu rumah, Sarah langsung masuk, setelah tau bahwa pintu tak dikunci.
"Assalamualaikum," ucapnya dalam hati, Sarah tidak mengeraskan suaranya karena tau takan ada yang menjawab salamnya.
Ia berjalan dengan sangat hati-hati, luka jahitannya masih sangat terasa menyiksa, sepertinya ia harus beristirahat sebentar sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.
Ibu muda itu duduk di sofa yang berada di ruang tivi, sambil menatap bayi mungil yang masih berada di dalam gendongnya.
Tiba-tiba Rosa keluar dari kamarnya, ia menatap tajam ke arah menantunya yang tengah melepas lelah dan menahan sakit.
"Mulai saat ini, kamu isi kamar yang dibelakang, dan kerjakan semua pekerjaan rumah ini. Semua barang-barangmu sudah Geo pindahkan ke sana," ketus wanita itu tanpa basa basi lagi, dia menempatkan menantunya di kamar pembantu.
Rosa kembali memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Sikapnya berubah drastis, tak ada lagi senyum darinya. Sarah mengerti mengapa wanita setengah tua itu bersikap demikian.
Sarah kembali memaksakan diri untuk berdiri dan melangkahkan kakinya, perlahan dia berjalan menuju kamar tidur yang dimaksudkan mertuanya tadi.
Luka jahitan akibat melahirkan itu tak seberapa dia rasakan, tapi luka di hatinya yang teramat sangat menyakitkan, membuat dia kembali berderai air mata.
__ADS_1
Bukankah itu semua termasuk rahasia dan kuasa Tuhan, kenapa seakan dia yang dipersalahkan, batinnya terus bertanya dan menjerit. Kenapa semua ini terjadi padanya.
Sarah sampai di sebuah kamar yang berukuran jauh berbeda dengan kamar yang ditempati sebelumnya, pun dengan isi kamar itu yang hanya ada lemari pakaian dan sebuah nakas kecil di sisi kanannya, beruntung di dalam setiap kamar tidur di rumah itu ada kamar mandinya, termasuk kamar yang ditempati Sarah sekarang.
Benar sekali, semua barang-barang Sarah sudah berpindah tempat dari kamar yang ditempatinya bersama Geo kemarin.
Sarah duduk di pinggir sebuah kasur yang di letakkan tanpa ranjang, dengan hati-hati ia menidurkan bayinya di kasur itu. Terlihat mahluk mungil yang cantik itu masih terlelap dalam tidurnya.
Sarah beranjak menuju kamar mandi setelah meletakan tas yang berisi perlengkapan melahirkan, ia lalu membersihkan badannya dengan guyuran air dingin berharap memberi sedikit kesegaran pada tubuhnya yang masih lemah dan lelah.
Selesai mandi, Sarah mengganti pakaian dan benda penampung darah nifasnya, sedikit meringis Sarah memegang bagian bawah perutnya, sepertinya kontraksi otot rahim yang masih menuntutnya harus banyak beristirahat.
"Seandainya saja ada ibu di sini," lirihnya, seraya duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungnya pada tembok.
Kruuukk ... cacing di perutnya mulai protes, wajar saja karena Sarah memang sudah menguras energinya saat melahirkan.
Kembali Sarah berusaha bangkit, walaupun sebenarnya terasa sangat sakit saat ia melakukan banyak pergerakan badan, namun apa daya mulai saat ini ia sudah tak lagi diperlakukan sebagai seorang menantu di rumah itu.
Dengan langkah yang dipaksakan ia menuju ruang makan, mencoba mencari-cari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Sarah mengambil dua bungkus roti berukuran besar dan dua buah kemasan berisi susu siap minum dari dalam lemari makanan.
Tak lupa ia juga membawa satu botol besar air putih untuk persediaan minumnya, supaya tidak mondar mandir terus ke dapur fikirnya.
Sampai di kamar ia meletakkan semua makanan dan minuman yang dibawanya di atas sebuah nakas kecil di samping lemari pakaian.
"Alhamdulillah, lumayan kenyang," bisiknya.
Brak ...
Tiba-tiba pintu terbuka, terlihat seorang pria berdiri tegak di ambang pintu. Dengan mata elangnya dia menatap Sarah, ibu muda itu hanya dapat menundukkan kepala.
"Ini untuk kebutuhan kalian." Laki-laki berbadan tinggi itu melemparkan beberapa lembar uang.
Setelah itu ia kembali pergi tanpa berkata-kata lagi.
Dengan tangan bergetar dan deraian air mata Sarah memunguti lembaran uang kertas yang berserakan di lantai kamar, hatinya sakit. Rasanya seperti seorang wanita yang sudah tidak berguna.
Tapi meskipun demikian ia tetap bersyukur, pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu masih mau memberinya nafkah lahir, walaupun jumlah nominal itu tak layak disebut sebagai nafkah.
Sarah menutup kembali pintu kamarnya.
Bayi mungil itu menangis keras, mungkin karena ia kaget mendengar suara pintu dan suara keras Ayahnya sendiri.
Segera Sarah menghampiri dan mencoba menenangkan buah hatinya dengan memberikan ASI pertamanya.
*****
__ADS_1
"Kok, Sarah belum kasih kabar ya, Bu," ujar Prayoga pada istrinya.
"Coba di telepon saja, ibu juga sudah rindu sama dia," balas Marni, tangannya masih menggurita menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami.
Prayoga mengambil ponsel yang berada di atas meja makan, mencoba mendial nomor Sarah.
Lama tak ada jawaban, "nggak diangkat-angkat Bu," ungkapnya.
Saat ponsel diletakkan, terdengar suara nada dering, panggilan video dari Sarah masuk.
"Bu, Sarah," seru Prayoga, telunjuknya langsung menggeser logo penerimaan panggilan.
Terlihat di layar ponsel, Sarah yang sedang tiduran bersama seorang bayi.
"Masha Allah, Allhuakbar, Alhamdulillah, kamu sudah melahirkan, Nak?" Marni berseru dan bersyukur melihat anak semata wayangnya sudah berbaring dengan seorang bayi disampingnya.
"Selamat ya, Nak," ucap Prayoga, dengan nada keharuan.
"Mana Geo?" tanya Prayoga.
"Sedang sibuk di klinik, tadi dia hanya mengantarkan kami pulang saja sebentar," jawab Sarah, kembali ia menutupi semua yang terjadi sebenarnya.
Setelah lama berbincang melepas rindu, Sarah mengakhiri dengan alasan ada kerabat Geo yang datang berkunjung. Padahal dia benar-benar sendiri saat itu.
Prayoga dan Marni menitip salam untuk Geo dan keluarganya, keduanya pun berjanji akan berkunjung ke rumah besannya suatu saat nanti.
"Kita kesana, yuk, Yah," ajak Marni pada suaminya.
Prayoga mengangguk, "pasti, kita kesana nanti."
Keduanyapun kemudian menyantap sarapan yang sudah tersedia.
*****
Devan tertegun mendengar cerita tentang Geo, dari seorang teman detektif yang sudah membantunya dalam pencarian Sarah satu tahun yang lalu.
Pengacara muda yang masih tetap melajang itu sungguh mengkhawatirkan wanita bermata bulat yang masih tetap menjadi primadona dalam hatinya.
Jika benar Geo memiliki kelainan itu, berarti Sarah dalam bahaya sekarang, batin Devan.
Kemudian dia kembali mendial salah satu nomor dalam phonebook-nya.
"Hallo, apa kabar? Masih di New York?" sapa Devan kepada orang yang dihubunginya.
Sepertinya Devan ingin memastikan keadaan gadis bermata bulatnya di sana dengan caranya sendiri melalui orang yang sedang di teleponnya saat itu.
"Okey, aku akan mengabarimu lagi nanti, setelah informasi yang aku dapatkan bisa menjawab rasa penasaranmu itu," tegas seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Aku tunggu kabar darimu secepatnya," pungkas Devan sebelum akhirnya dia mengakhiri panggilan itu.