Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
bab 10


__ADS_3

"kenapa sih..?aku ngk hamil, melakukan hubungan badan pun ngk pernh"lirih Icha sambil memengang perutnya.


Ia yakin kalau ia ngk hamil, bahkan sangat yakin seribu persen kalau ia masih virgin. Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa dia harus muntah-muntah seperti ibu hamil pada umumnya..?wajarlah kalau Rizki menganggap dirinya hamil.


"kenapa sih dengan aku..?sakit kepala yang berkepanjangan dan sekarang muntah seperti orang hamil, aku ngk mau hamil"ucap Icha sambil menahan tangisnya.


lama Icha merenung kejadian-kejadian aneh uang yang di alami beberpa hari ini, mulai dari pingsang dirumah sakit sampai tiga hari, pusing yang berkelanjutan dan sekarang muntah seperti ibu hamil meskipun yang keluar hanya segumpal darah.


clek


"tanda tangan ini"ucap Rizki sambil melemparkan buku kecil kemuka Icha.


"tanda tangan"bentak Rizki karna Icha hanya menatap nanar buku itu.


"saya ngk mau, saya ngk mau menanda tangani buku itu, saya ngk mau jadi istri kau"ucap Icha engga menandatangani buku nikah itu.


"kenapa..?"ucap Rizki lagi-lagi sambil menarik rambut panjang Icha.


"lagian yang mau jadikan kau sebagai istri hah..? kau hanya akan saya jadikan sebagai pembantu, sebagai budak"ucap Rizki masih dengan menarik rambut Icha, tak peduli dengan luka yang ada di jidat Icha yang belum kering.


"kalau di luaran sana kau bisa menjadi budak **** maka disini juga kau bisa jadi budak ****. Saya akan membayar lebih dari yang kau dapat di luaran sana"bentak Rizki lalu menghempaskan rambut Icha.


"cepat tanda tangan, saya paling ngk suka mengulang kalimat yang sama"


"saya ngk mau, saya ngk akan tanda tangan surat itu dan syaa ngk mau jadi budak **** kau"ucap Icha menangis. ia tidak menyangka kata-kata akan keluar dari mulut Rizki.


"kenapa..?saya juga bisa memuaskan kau. Harusnya kau bersyukur, karna sebelum saya memakai jasa kamu, syaa lebih duluh menikahi kau, jadi setidaknya kau masih berharga sedikit dimata sya. Iyah walaupun sekarang anj*Ng lebih berharga daripada kamu"ucap Rizki dingin tanpa peduli dengan perasaan Icha, tanpa peduli dengan air mata Icha yang sudah keluar.


Suatu kalimat yang cukup mematikan tentukan, suatu kalimat yang tidak manusiawi tentu. Siapapun yang mendengar hal itu pasti akan hancur lebur tanpa sisa.


aj*Ng...?


segitu tidak berharganya dirinya sampai harus di bandingkan dengan anj*Ng..?lalu untuk apa dia hidup. Menjalani hidup sampai umur 22tahun ia hanya dihargai seperti anj*Ng


Makin sakit rasanya ketika lagi-lagi Rizki mengeluarkan kalimat hinaan itu. ******, wanita malam, budak **** dan sekarang Rizki membandingkan dirinya dengan anjing..?kalimat hinaan apa lagi yang tidak Icha dapatkan dari Rizki..?


sungguh


Ingin rasanya Icha menghilang dari dunia ini, cukup sudah ia mendengar kalimat hinaan yang hampir setiap hari dia terima, telinganya sungguh sangat panas mendengar kalimat yang tak manusiawi itu.


Mau tidak mau suka tidak suka, akhirnya Icha menandatangani buku nikah itu dan sekarang ia sudah resmi menjadi istri dari Rizkiansyah, ia sudah resmi menjadi menantu satu2nya dirumah ini dan menjadi nyonya muda.

__ADS_1


"puas kau..?sekarang syaa sudah resmi menjadi istri anda, dan selamat anda berhasil menikah wanita ini"ucap icha dengan suara lemah sambil menunjuk dadanya.


"selamat anda sudah berhasil menikah wanita yang anda bilang lebih berharga dari seekor anj*Ng, selamat anda sudah berhasil membuat saya jadi budak **** anda"teriak Icha sambil menangis sambil mendorong dada Rizki.


"kalimat hinaan apa lagi yang belum Anda keluar kepada syaa hah..?ayo keluar"teriak Icha menatap Rizki dengan penuh kebencian.


"saya wanita si budak **** ini siap mendengarkan semua hinaan anda, sya si wanita yang lebih berharga dari anj*Ng siap menelan kalimat hinaan anda"teriak Icha menangis sejadi-jadinya.


"jangan pernh kau berteriak di hadapan saya, jangan sok paling merasa tersakiti, sekali hina iyh tetap sjaa hina"bentak Rizki lalu mendorong tubuh Icha ke tembok dan lagi-lagi kepala Icha kembali terbentur ke tembok.


"sehina itu saya di mata anda..?apa salah sya..?jabarkan dibagian mana syaa salah"ucap Icha dengan suara melemah.


"saya sudah katakan jangan sok merasakan paling di sakiti anj*Ng, dasar wanita murahan, wanita tidak tau diri, ****** aaaaaa"teriak Rizki kembali emosi sambil meninju tembok tepat disamping wajah Icha.


Melihat emosi Rizki yang semakin menjadi-jadi Icha hanya bisa menahan tangisnya sambil menutup matanya meksipun air matanya masih terus turun.


"kenpa Lo diam hah..?nangis aja terus, merasa jadi korban, merasa paling di sakiti, sok paling suci paling polos, tau-taunya hamil anak haram, menjual diri di luaran sana"bentak Rizki yang melihat Icha hanya diam saja sambil menahan tangis


"jangan pernh Lo keluarkan air mata buaya Lo dihadapan gue biad*p"bentak Rizki sambil mencekik leher Icha.


"Lo harus mati sekarang juga, Lo bawah anak haram Lo sekalian"teriak Rizki masih terus mencekik leher Icha sehingga Icha kesulitan bernapas dan seketika darah berhenti mengalir ke wajahnya, dapat di pastikan wajah itu sudah pucat seperti mayat hidup.


Ketika icha merasakan kesulitan bernapas yang ada dibenaknya hanya pasrah saja, jika sudah seperti ini tidak ada lagi harapan untuk hidup.


"cukup sampai disini, Icha capek"batin Icha sambil menutup matanya, berharap ketika ia kembali membuka mata ia sudah tidak ada lagi ditempat ini.


"Rizki hentikan semua ini, dia bisa meninggal"teriak tuan Reza yang masuk ke kamar Rizki diikuti Nawang dari belakang.


"biarkan sjaa pah, wanita seperti ini harus dimatikan sekarang juga. Rizki tidak sudi memelihara wanita seperti dia, lebih baik Rizki memelihara anj*Ng dari pada dia"teriak Rizki masih terus mencekik leher Icha tanpa menghiraukan larangan tuan Reza.


"jangan jadi orang gila kamu, kalau dia kamu anggap sebagai pembunuh lalu apa bedanya dengan kamu yang membunuh dia..?cara mu sungguh sangat rendah ketika balas dendam"bentak tuan Reza sambil mendorong tubuh Rizki sehingga cekikan dileher Icha otomatis terlepas.


huk huk huk huk


"kenapa sampai disini..?harusnya aku sudah harus mati, aku benar-benar tidak sanggup lagi"batin Icha setelah tangan Rizki terlepas dari lehernya sambil merosot ke bawah, karna memang dia sepasrah itu untuk sekarang.


"kamu jangan menjadi manusia bodoh yang membunuh orang lain hanya untuk membalas dendam kamu yang tidak masuk akal itu"bentak tuan Reza menatap tajam Rizki, tak habis pikir dengan tindakan Rizki yang hampir menghabisi nyawa Icha.


"dia harus mati pah, wanita murahan seperti dia tidak layak hidup"ucap Rizki sambil menunjuk kearah Icha dan menatap Icha dengan tatapan penuh kebencian.


"apapun alasannya kau tidak pantas menghabisi nyawa seseorang"ucap tuan Reza.

__ADS_1


Entahlah sang Dewi dari mana Nawang tiba-tiba saja membantu Icha untuk berdiri, sekejam-kejamnya ia tetap sjaa hati nuraninya sedikit terbuka ketika melihat keadaan Icha yang sangat berantakan.


Rambut ancak-ancakan, jidat terluka dan masih basah hingga leher merah bekas cekikan Rizki.


"kamu tidak papa"ucap Nawang sambil membantu icha berdiri.


pertanyaan bodoh memang, sudah nyata icha sedang berantakan saat ini, leher dan jidatnya penuh dengan luka tapi dengan polosnya Nawang bertanya seperti itu..? sungguh sampai saat ini Icha belum menemukan orang yang cukup memahami dirinya.


"saya butuh waktu sendiri"lirih Icha tanpa menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, Yap sekarang Nawang resmi jadi ibu mertuanya karna baru bebrpa menit yang lalu ia menandatangani buku nikah nya dengan Rizki.


"mah bawah icha kekamar tamu, suruh pelayan mengobati luka dan sepertinya bagian belakang kepalanya terluka"ucap Reza karna memang baju belakang Icha ada tetesan darah.


"dan kamu papah tungguh di ruang kerja, sekarang juga"ucap Reza lalu meninggalkan kamar itu.


"ayo saya bantu kekamar, untuk sementara kamu istirahat dikamar tamu duluh"ucap Nawang sambil membantu Icha berjalan, karna memang saat ini Icha benar-benar lemas sekali, bahkan melangkah kakinya pun tidak sanggup lagi.


"nyonya saya mau pulang, saya butuh ketenangan untuk beberapa saat"ucap Icha dengan tatapan kosong dan tak mampu berjalan dan hal itu menghentikan langkah tuan Reza lalu menatap Icha kembali.


"kamu tidak bisa kembali, sekarang kamu sudah resmi jadi menantu dirumah ini. Lagian siapa yang merawatmu kalau kamu pulang kerumah"ucap tuan Reza melarang keinginan Icha.


"mah bawah Icha ke kamar tamu"


"please tuan, izinkan saya pulang, saya benar-benar capek sekali saya benar-benar tidak kuat lagi. Tolong untuk kali ini aja"lirih Icha sambil menahan tangis, untuk kali ini ia benar-benar hanya ingin sendirian saja.


"baiklah kamu akan kami izinkan pulang, tapi setelah luka diobati duluh dan kamu istirahat sejenak"ucap Nawang menatap Reza


" nanti akan syaa kirim pelayan yang akan membantu kamu dirumahmu"ucap Nawang lagi.


"pelayan, obati luka"ucap Nawang.


"mah"ucap Rizki.


"mamah cukup kecewa dengan tindakan kamu Ki, mamah juga membenci Icha tapi mamah masih punya perasaan. Mamah ngk nyangkah kalau kamu akan bertindak sejauh ini"ucap Nawang menatap Rizki.


"kalau kami datang terlambat beberapa menit saja mungkin nyawanya sudah melayang, lalu apa bedanya kamu smaa dia..? sama-sama pembunuh"


Sedangkan Rizki hanya dia smaa mendengarkan kekecewaan mamahnya. yah dia akui bawah ia hampir saja menghabisi nyawa Icha


Entahlah dia tidak rela kalau Icha benar-benar hamil anak pria lain, ia tidak rela kalau Icha di sentuh pria lagi. Padahal kalau mengingat tujuan Rizki untuk mengikat Icha dengan sebuah pernikahan harusnya itu tidak menjadi masalah buat dirinya.


Tapi saat ini rasa ketidak relaan itu lebih mendominasi dari pada rasa bencinya kepada icha

__ADS_1


__ADS_2