Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Kabar baik


__ADS_3

Pukul tujuh lebih lima belas menit pagi ini Shaka baru terjaga. Sudah lumayan terlambat karena biasanya ia bangun pukul setengah tujuh. Entah apa yang membuat pria itu jadi terlambat bangun. Entah karena tidurnya yang sempat terganggu tadi malam, atau karena terlalu nyaman tidur sambil memeluk istrinya, entahlah.


Namun sayangnya meskipun sudah terlambat, Shaka tidak bisa langsung beranjak karena separuh badan Rinjani masih berada di atasnya. Gadis itu memeluk Shaka semalaman seolah takut Shaka akan meninggalkannya.


Shaka menatap kepala Jani yang tepat berada di atas dada bidangnya. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Shaka bisa mencium aroma wangi dari surai hitam panjang milik gadis itu. Jani sekarang sudah rajin mandi, jadi aroma tubuhnya sudah tidak asam lagi.


Shaka tersenyum tipis. Pria itu sebenarnya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa hari yang lalu Jani masih sangat membencinya dan bahkan masih menganggap Shaka sebagai tertuduh atas semua takdir buruk yang menimpanya. Jani sangat membenci Shaka. Kalau ada satu-satunya orang yang paling di benci di dunia ini itu pasti Shaka orangnya.


Namun pagi ini, atau sejak malam tadi. Gadis itu dengan sadar menginginkan Shaka menemani tidurnya. Ia bahkan tak menolak saat Shaka memeluknya.


Jujur ada perasaan sangat lega karena itu berarti kondisi psikis Jani mulai membaik. Tapi tetap saja Shaka merasa ada yang aneh saat ini. Rinjani Prameswari, istri yang ia nikahi karena terpaksa kini berada dalam pelukannya. Apa mereka sudah benar-benar jadi suami istri sekarang?


Shaka menggelengkan kepalanya, membuang pikiran konyol yang baru saja terlintas di benaknya.


Pernikahan mereka hanyalah sebuah kompromi. Kelak pada akhirnya jika Rinjani sudah benar-benar sembuh, mungkin ceritanya akan lain lagi.


Shaka melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul setengah delapan pagi. Itu artinya dia sudah benar-benar terlambat. Sudah lima belas menit ia menunggu Jani terbangun karena tak tega mengusik tidurnya. Tapi karena gadis itu tak juga bangun membuat Shaka tak punya pilihan lain selain membangunkannya.


"Jani, Jani.. bangun sudah siang. " pria itu mengusap lembut kepala Jani.


"Jani.. " panggilnya lagi karena Jani tak kunjung terjaga.


"Hmmm.. " Jani menggeliatkan badannya. Gadis itu mulai terjaga.


"Aku harus ke kantor, Jani. Aku sudah terlambat."


Kalimat Shaka berikutnya sukses membuat Jani tersentak. Ia segera bangun dan menjauh dari tubuh Shaka. Dengan pandangan bingung ia memperhatikan Shaka dan juga dirinya sendiri. Kenapa dia bisa tertidur bersama Shaka (lagi) kurang lebih itulah yang ada di pikiran gadis itu.


"Kau ketakutan tadi malam. Makanya aku menemanimu tidur ... kau ingat? " Seolah paham apa yang ada di pikiran Jani Shaka buru-buru menjelaskan. Ia juga segara bangkit begitu Jani menyingkir dari atas tubuhnya.


Gadis itu tak menyahut. Tapi raut wajahnya masih menggambarkan kebingungan. Jani memang ingat apa yang terjadi tadi malam, tapi yang membuatnya bingung, kenapa ia bisa kembali tidur dengan Shaka.


"Tidak apa, kau tenang saja ... sama seperti kemarin, aku hanya menemanimu." Lagi-lagi berusaha menjelaskan, meski Jani tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Ya sudah, kalau begitu. " Shaka beranjak dari ranjang Rinjani.


"Aku harus bersiap ke kantor ... Oh ya, pagi ini aku tidak bisa menyuapimu. Aku sudah sangat terlambat. Kau makan dengan Bik Nah saja, tidak apa kan? "


Rinjani mengangguk. Raut wajah nya tidak menunjukan kemarahan sama sekali meskipun pagi ini dia tidak bisa menyusahkan Shaka.


"Gadis pintar, " Shaka mangacak pelan rambut Jani dan hanya di tanggapi gadis itu dengan tatapan bingung.


"Pergilah mandi. Nanti akan ku suruh Bik Nah menyiapkan breakfast mu. " Usai berkata begitu Shaka mulai melangkah.


"Ohya, Jani. Sebaiknya kau tetap di tempat tidur saja. Banyak pecahan kaca. Aku takut melukai kaki mu." Shaka baru ingat kalau di kamar Jani masih bertaburan pecahan kaca akibat ulah gadis itu tadi malam.


"Tunggu sampai Bik Nah membersihkannya." Mandat pria itu lagi sebelum benar-benar keluar.


Sepeninggal Shaka, Jani masih saja termenung. Otaknya masih bekerja mencari jawaban kenapa ia bisa tidur dengan Shaka. Dan kenapa ia sudah tak marah lagi pada Shaka? apa kebenciannya sudah hilang? apa dia sudah memaafkannya?


"Tidak, tidak. "Gadis itu bergumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


Shaka itu pembunuh Rayan, mana mungkin dia bisa memaafkannya. Sebelah hati Rinjani berteriak menolak sisi baik yang sedang menguasai pikirannya.


Shaka itu orang yang sudah menyebabkan ia dan Rayan berpisah. Shaka itu adalah mimpi buruk bagi ia dan Rayan. Anggapan itu kembali muncul di benak Jani. Namun langsung di patahkan oleh sisi hatinya yang lain. Karena nyatanya dalam pelukan Shaka ia merasa sangat nyaman dan terbebas dari mimpi buruk yang selama ini seolah membuatnya tak bisa memejamkan mata dengan lena.


"Aakkhh..!" Rinjani mengacak kepalanya sendiri. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


Sementara Rayan yang sedang terburu-buru langsung turun begitu selesai mandi dan berpakaian rapi. Pria itu menuruni anak tangga sambil setengah berlari.


"Hay, sedang terburu-buru? " Di ruang tengah rupanya sudah ada dokter Ananta. Dokter cantik itu baru saja datang.


"Ana.. " Shaka menghampiri dokter kejiwaan itu.


"Iya, aku buru-buru sekali. Aku sudah sangat terlambat. "

__ADS_1


"Apa tidurmu terlalu nyenyak tadi malam sampai kau terlambat bangun? "


"Hah..? "


Pertanyaan dari Ananta yang lebih menyerupai sarkas membuat Shaka menautkan alisnya.


Dokter Ananta tersenyum. Ternyata pria tampan di depannya tak cukup paham apa maksudnya.


"Aku mendengar kabar baik pagi ini. Apa itu benar?"


Pertanyaan yang makin membuat Shaka bingung.


"Duduk dulu sebentar, ada yang ingin ku bicarakan denganmu," pinta dokter Ana tanpa memepedulikan Shaka yang sedang di buru waktu.


Shaka menghela nafasnya. fix, ia akan makin terlambat pagi ini. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi, pikirnya karena merasa tidak mungkin mengabaikan Ananta begitu saja, terlebih melihat gestur wajahnya yang cukup serius saat mengatakan "ada yang ingin ku sampaikan"


"Baiklah, kita bicara sambil makan. Kebetulan aku belum breakfast. " Shaka berjalan terlebih dahulu menuju dapur dan di susul oleh dokter Ananta.


Shaka memberi sepotong roti bakar kepada Ana begitu mereka sudah berada di meja makan. Namun gadis itu menolaknya.


"Tidak, aku sudah makan, " tolaknya sambil menjauhkan piring yang di sodorkan Shaka.


"Baiklah kalau begitu. Katakan kabar baik apa yang kau dengar hari ini? " Shaka bertanya sambil mulai mengunyah makanannya.


"Kalau tidak salah tadi aku dengar kau dan Jani sudah tidur bersama? "


Pertanyaan yang langsung membuat Shaka menghentikan aktifitas di dalam mulutnya.


"Kau tahu? " Pria itu balik bertanya.


"Hmm, Bik Nah yang memberi tahu ku. "


Shaka sempat berpikir sejenak. Dari mana Bik Nah tahu kalau ia dan Jani tidur bersama, apa dia tadi sempat masuk ke kamar Jani?


"Apa itu benar? " tanya dokter Ananta lagi yang membuat Shaka yang tengah berpikir jadi terkejut.


"Benarkah? "


"Hm." Shaka mengangguk


"Ternyata selama ini dia selalu di hantui mimpi buruk. Dan hampir setiap malam tidurnya selalu terganggu. Dia tidak pernah bisa tidur nyenyak, Ana. Bahkan tadi malam dia sampai melempar kaca cermin karena berpikir ada orang yang akan membawanya pergi. Mungkin dalam halusinasi Jani orang itu berdiri di dekat cermin makanya dia melempar cermin itu. "


Dokter Ananta mengangguk-angguk mendengar penuturan panjang lebar Shaka. Dokter kejiwaan itu tentu paham apa yang terjadi pada Rinjani.


"Orang yang sedang depresi memang biasanya begitu Shaka. Dia sering berhalusinasi. Susah atau bahkan tidak bisa tidur karena pikirannya selalu di ganggu oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ada."


"Hmm, itulah sebabnya akan menemaninya tidur. Dan kau tahu, setiap aku menemaninya tidur, dia jadi langsung tenang,"


"Tunggu-tunggu.. " Ananta menjeda ucapan Shaka. Sepertinya dia mendengar sesuatu yang agak aneh barusan.


"Kau bilang apa tadi? setiap kau menemaninya, apa itu berarti kau sudah sering menemaninya tidur? " selidik dokter Ana.


"Yah, sudah beberapa kali. "


Langsung tersenyum dokter Ana mendengar jawaban jujur Shaka. Dokter muda itu tahu betul bagaiaman hubungan Shaka dan istrinya. Juga tahu kalau pernikahan mereka tidak di dasari rasa cinta. Rinjani bahkan mungkin menikah hanya karena dendam pada Shaka, tapi kalau ternyata mereka sudah dan boleh di bilang sering tidur bersama tentu sudah mulai ada perkembangan dari hubungan keduanya.


"Kenapa kau tersenyum? jangan berpikir bukan-bukan. Aku hanya menemaninya tidur supaya dia tidak ketakutan. " Sekali lagi Shaka menegaskan kalimat itu. Pria itu lalu meletakkan piring tempat makannya yang masih tersisa separuh. Tidak enak sekali ngobrol sambil makan begini.


"Tidak ada, " Ana menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya berpikir kalau Jani sudah mau tidur denganmu, berarti psikisnya sudah mulai membaik. Karena sebelumnya kan dia sangat, sangat membencimu? "


"Ya, aku juga berpikir begitu. "


"Kalau begitu sebaiknya kau menemaninya tidur setiap malam? "

__ADS_1


"Hah? " Shaka langsung merubah ekspresi wajahnya. Cukup terkejut dengan ucapan Ana.


"Kenapa, toh dia itu istrimu kan? apa salahnya tidur bersama? " tegas dokter Ana Seperti tahu apa yang ada di pikiran Shaka.


"Eum, bukan begitu, Ana. Yah kau kan tahu bagaimana hubungan kami. Aku hanya takut Jani merasa tidak nyaman kalau setiap malam tidur denganku. "


"Kenapa, bukankah kau bilang tadi kalau dia menjadi tenang kalau kau menemaninya?"


"Ya, iya juga sih. " Shaka menggaruk-garuk kepalanya. Entahlah mendadak dia jadi merasa bingung sendiri.


Ana menghela nafasnya. Sekali lagi di paham yang di rasa Shaka. Mungkin pria itu merasa canggung atau sejenisnya.


"Shaka dengarkan aku. " Tegasnya sebelum kembali bicara. Ia merasa apa yang akan di tuturkannya adalah hal yang cukup penting dan Shaka harus mengerti itu.


"Jiwa istrimu sedang terluka. Dan orang yang jiwanya sedang terluka biasanya akan selalu merasa tidak tenang. Istirahat dan pola makannya pun akan terganggu. Dia sering gelisah kalau malam. Itulah kenapa dia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Atau bahkan mungkin tidak pernah tidur, hanya tidur sebentar saja lalu terbangun lagi. Pada sebagian kasus bahkan ada yang takut untuk tidur karena saat tidur biasanya mereka akan mendengar bisikan-bisikan yang tidak jelas. "


Shaka mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter Ana. Dan, sepertinya Jani pun mengalami apa yang baru saja di jelaskan oleh dokter cantik itu.


"Kalau orang yang depresi sudah bisa tidur nyenyak, makan dan mandi secara teratur, itu berarti psikis-nya sudah mulai membaik ... terlebih untuk kasus Jani." dokter Ana berhenti sejenak, meneguk sedikit air untuk memabasahi kerongkongannya yang sepertinya mulai kering karena sejak tadi bicara panjang lebar.


"Ia yang tadinya sangat membencimu dan sekarang sudah mau tidur denganmu, tentu itu merupakan perubahan yang sangat signifikan. Kau harus mempertahankannya, oh bukan maksudku melanjutannya. " Ana meralat ucapannya sendiri.


"Semakin dia bisa tidur dengan tenang, maka psikisnya akan semakin membaik. "


Shaka mengangguk-angguk mengerti. Penjelasan dokter Ana cukup mudah di terima, apalagi oleh otaknya yang mempunyai daya pikir cukup tinggi.


"Baiklah, Ana. Aku mengerti. Aku akan membuat Jani selalu merasa tenang. "


"Harus, kalau kau memang ingin dia segera sembuh ... semangat. " Ananta mengepalkan jemarinya sebagai bentuk support untuk sahabatnya itu. Dan di tanggapi Shaka dengan seulas senyum tipis.


"Ohya ngomong-ngomong bagaimana ekpresi Jani sekarang. Eum maksudku semenjak tidur denganmu? "


Shaka tampak berpikir, lalu--


"Dia terlihat bingung. Dia tetap tidak bnyak bicara, tapi wajahnya seperti kebingungan. "


Ananta mencoba mencermati kalimat Shaka sebelum akhirnya mengambil kesimpulan.


"Tak apa, itu mungkin karena ia merasa aneh dan tidak terbiasa berinteraksi denganmu ... tapi setidaknya dia sudah tidak mengutuk-ngutuk mu seperti dulu kan? "


"Tidak, " Shaka menggeleng cepat karena kenyataannya sudah cukup lama dia tidak mendengar Rinjani menduduhnya sebagai pembunuh.


"Bagus, berarti kondisi Jani memang sudah semakin baik. " Senang sekali dokter Ana mendengar salah satu pasien nya sudah mengalami banyak kemajuan.


"Ya sudah kakau begitu, sepertinya aku sudah sangat mengganggu waktumu." Ana sepertinya baru sadar kalau dia sudah terlalu banyak bicara. Meskipun Shaka jelas tidak keberatan karena yang di ucapkan Ana toh bukan omong kosong.


"Aku sudah selesai bicara, jadi kau sudah boleh pergi ... Aku juga akan melihat kondisi Jani. Aku akan mengajaknya bicara. " Gadis itu mulai beranjak.


"Baiklah, " Shaka juga ikut beranjak.


"Tapi aku tidak bisa menemanimu, aku sudah sangat terlambat. "


"Tidak masalah, lagipula aku memang ingin bicara berdua saja dengan Jani. "


Ananta mulai berjalan meninggalkan ruang makan rumah Shaka. Namun mendadak ia menghentikan langkahnya.


"Ohya, Shaka, " ucapnya yang juga membuat langkah Shaka langsung terhenti.


"Lain kali kalau kalian tidur bersama, jangan lupa kunci pintunya supaya Bikin Nah tidak bisa " nyelonong" masuk. "


"Maksudmu? " Shaka langsung membalikan badannya. Sebenarnya ia cukup paham maksud Ana. tapi dia merasa kalimat Ana barusan mengandung sarkasme tingkat tinggi.


"Ya kalian kan suami istri. Tidak baik kan kalau sedang berpelukan begitu lalu ada yang melihat. Apalagi kalau kalian sedang---"


"Ana, berhenti berpikiran konyol. " Tahu apa yang ada di otak Ana, Shaka buru-buru menyela

__ADS_1


"Pergilah naik dan temui Jani. Jangan berpikir yang bukan-bukan. "


"Hahaha..!" Melihat Shaka yang mendadak gugup membuat Ana tak bisa menahan tawanya. Antara jelas dan tidak baru saja Ana melihat wajah Shaka sedikit bersemu. Ada apa dengan pria itu?


__ADS_2