
Setelah luka di bersihkan akhirnya Icha memilih untuk kembali kerumahnya terlebih dahulu. Ternyata lukanya Icha tidak hanya di jidat saja tetapi di kepala bagian belakang juga terdapat luka.
Pelayan yang mengobati luka Icha hanya tersenyum miris, ternyata tuan mudah dirumah ini cukup menyeramkan kalau sedang marah.
"nona, kalau tidak kuat ngk usah pulang sekarang, besok saja, sepertinya luka nona cukup parah"
"ngk usah bi saya akan tetap pulang, lagian luka saya sudah tidak papa kok, saya tidak merasa sakit lagi"elak Icha, padahal luka di kepala Icha cukup sakit. Tapi sebisa mungkin Icha menahan.
Akhirnya sesuai kesepakatan mereka,Icha pun pulang dengan diantar sopir pribadi keluarga Rizki. Meskipun tuan Reza menahan Icha supaya tidak pulang tapi Icha tetap nekad untuk pulang, biar bagaimana pun ia belum siap bertemu dengan Rizki.
Rasa trauma memang pasti ada, rasa takut pun tak bisa Icha hindari, tapi Icha bukanlah orang yang larut dalam trauma yang lama dan ketakutan yang berkepanjangan.
Dari balkon kamar tepatnya di lantai dua, Rizki melihat kepergian Icha dengan tangan mengepal. Setelah Icha melakukan kesalahan sepertinya ia tidak rela kalau di tinggal begitu saja.
"gue ngk terima Lo tinggal begitu aja, setelah Lo hamil anak laki-laki lain dan pergi begitu saja..?Lo salah pilih lawan kalau begitu"batin Rizki sambil mengepalkan tangannya.
Hari sudah mulai siang dan dapat di pastikan jalanan pasti sangat macet karna memang hari ini weekend jadi sudah sewajarnya jalanan akan begitu ramai.
Icha hanya bisa menarik napas panjang, karna mobil yang membawanya jalan sepuluh meter dan akan berhenti sampai lima belas menit, dan untuk sampai kerumah pun akan memakan waktu yang banyak.
"pak kita jangn pulang kerumah iyhh, kita alamat ini aja"ucap Icha sambil menyodorkan sebuah kertas kecil yang berisikan alamat yang akan dituju, karna kalau ke rumahnya Rizki pasti mencarinya kesana.
Setelah hampir satu jam diperjalanan akhirnya Icha sampai disebuah apartemen yang cukup sederhana, tidak layak di sebut apartemen tapi lebih ke kos-kosan elit.
Icha turun diikuti oleh salah satu pelayan dirumah Rizki, Yap meskipun rasa benci itu masih ada terhadap Icha tapi nyonya Nawang tetap mengirim Icha satu pelayan untuk merawat Icha sampai Icha siap kembali ke kediaman mereka.
"atas nama Icha Humairah Arsyad iyh"
"Iyah Bu"
"ini kunci kamarnya mba dan kamarnya sudah siap huni"
"baik Bu, terimaksih. Tapi mungkin saya disini tidak lama Bu, mungkin hanya satu sampai dua Minggu saja"
"ngppp mba yang penting bayarannya full satu bulan"
Setelah mendapatkan kunci Icha langsung berjalan menuju kamar yang ia pesan.
"kamar bibi disana dan kamar syaa disini"ucap Icha sambil menunjukkan sebuah ruangan di ujung ruangan.
Itu kenapa tempat yang ini booking hari ini bukan seperti apartemen tapi lebih ke kos-kosan elit karna ruangan itu mempunyai dua kamar dan dapur sedangkan untuk kamar mandinya, kamar mandi umum.
Sebelumnya Icha sudah mencari sebuah kos-kosan yang cocok ditinggalin oleh dua orang.
Sampai dikamar nya Icha langsung istirahat karna memang kepalanya sangat sakit dan hari ini cukup melelahkan bagi icha.
Hari weekend pun telah usai, tapi tetap saja kondisi jalan hari ramai dan macet, memang weekend mau tidak tetap sjaa macet semakin merajalelah.
Seperti pagi ini Icha memutuskan untuk pergi ke kampus, sudah cukup dua hari ia istirahat dan mengurung diri dikamar, meskipun luka di bagian kepalanya belum sembuh total tetap sjaa keluar Icha berangkat kuliah.
Berkali-kali Icha menarik napas panjang melihat macet yang tiada habisnya dapat di pastikan kalau ia akan telat pagi ini ke kampus.
Dan benar saja setelah beberapa saat akhirnya Icha sampai di kampus dan dapat di pastikan kalau Icha telat pagi ini, bukti dosen sudah ada di kelas.
"permisi pak, syarat-syarat mau pindah kampus apa iyh"ucap Icha kebagian fakultas.
Setelah hampir dua hari berpikir keras, akhirnya Icha memutuskan untuk pindah kampus, karna di kampus ini benar-benar tidak nyaman.
"siapa yang mau pindah"
__ADS_1
"saya pak"
"kenapa pindah, padahal ini mau UAS lagian kamu mahasiswa pintar dan dapat beasiswa juga, kenapa kamu melepaskan beasiswa itu"
"saya pindah ngikut keluarga pak, kebetulan salah satu anggota keluarga saya ada pindah tugas jadi syaa ikut kesana"ucap Icha berbohong.
"kamu bisa saja pindah, tapi selesai UAS iyh. Soalnya tanggung sekali ini"
"ini syarat-syarat pindahan nya"
"baik pak, kalau begitu syaa permisi duluh"
Icha langsung keluar dari bagian fakultas dengan membawa sebuah lembaran yang diberikan oleh pihak fakultas.
"kamu mau pindah Cha"
"hah ah Iyah"ucap Icha terkejut ketika hendak keluar.
"ahh Haikal kamu bikin kaget tau"
A
"kamu mau pindah..? kenapa Cha..?pindah kemana.?dan ini jidat kamu kenapa ada tempelan begini..?"ucap Haikal khawatir, kebetulann ia dan rizki hendak ke fakultas untuk mengurus kartu ujian dan ia mendengar ketika Icha meminta syarat-syarat pindah kampus.
"aduh Haikal tanyanya satu-satu, aku bingung harus jawab yang mana duluh"pekik Icha gemas mendengar pertanyaan Haikal.
"iyh aku mau pindah, aku ngk nyaman kuliah disini. Dan ini jidatku hanya terbentur pintu kamar mandi doang tadi pagi, biasalah kesiangan jadi buru-buru ehh malah telat betulan"ucap Icha menjelaskan semuanya.
"pindah kemana.?"bukan Haikal yang bertanya melainkan Rizki, sejak tadi mulutnya sudah gatal ingin menanyakan hal itu.
"hah"bukan Icha yang bingung melainkan Haikal kenpaa Rizki tiba-tiba jadi kepo begini.
Sedangkan rizki hanya bisa mengepalkan tangannya ketika mendengar jawaban Icha yang tidak sesuai yang dia harapkan.
"hey Ki, kemana..?kan kita mau ngurus kartu ujian"teriak Haikal karna melihat Rizki tiba-tiba pergi dari fakultas.
"aku ada meeting nanti sekretarisku yang mengurus"teriak Rizki lalu meninggalkan area fakultas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"kenapa ngk diskusi duluh sama gue kalau mau pindah..? pindah kemana Lo..?"ucap Rizki ketika melihat Icha sedang berjalan di lorong kampus, kebetulan lorong kampus sangat sepi karna parah mahasiswa masih belajar.
"ngk ada urusan dengan anda"ucap Icha dingin.
"kenapa..?Lo lupa kalau gue suami Lo saat ini..?atau mau gue perjelas lagi..?"ucap Rizki sambil memojokkan Icha di tembok, alhasil
ruang gerak Icha.
"ngk usah macam-macam anda, cukup dirumah saja saya menjadi istri anda"ucap Icha kesal.
"ahhh jangan harap saya bisa menganggap Lo jadi istri saya"
"terserah"ucap Icha yang memang capek berdebat kalau smaa Rizki.
"btw anak dalam kandungan Lo sudah di gugurkan kan..?saya ngk mau merawat anak haram"bisik Rizki sambil memandang rendah Icha
"saya peringatkan sekali lagi, sya ngk hamil"ucap Icha sambil mendorong tubuh Rizki.
"dan kalau pun saya hamil dan anda tidak mau merawat nya iyh sudah ceraikan saya"ucap Icha.
__ADS_1
plakkkk
"jangan pernh kau ucapkan kalimat itu, karna sampai kapan pun kau ngk akan syaa lepaskan"ucap Rizki setelah menampar pipi Icha.
"meskipun pria lain sudah menyentuh lo, Lo akan tetap jadi milik saya. Jadi jangan pernh berpikir akan lepas dari sya"ucap Rizki tanpa mau di bantah.
"hari ini pulang kerumah, sudah cukup dua harinya untuk sendiri. Ingat, sekarang kau sudah punya suami"
"saya...-_"
"saya tidak terima kalimat bantahan dari Lo, nanti tunggu saya di halte depan"ucap Rizki memotong ucapan Icha.
"batalkan kepindahanmu tanpa persetujuan dari sana saya"ucap Rizki lagi.
"Anda ngk ada hak melarang saya mau pindah atau tidaknya. Yang kuliah disini itu sya bukan anda, yang mau pindah itu saya bukan anda"ucap Icha membantah, karna ia sudah fix akan pindah dari kampus ini.
"saya berhak melarang kau ini dan itu, setelah kau menandatangani buku nikah itu sejak saat itu juga kau sudah jadi anak panah saya, yang bebas saya arahkan kemana saja lalu saya lepas"ucap Rizki yang membungkam Icha. Karna tidak ada lagi bantahan dari Icha akhir nya Rizki memutuskan untuk meninggalkan Icha seorang diri di lorong kampus.
aaaaaaaaaa
"pokoknya apapun caranya aku harus bisa pindah dari kampus ini, ngk sanggup aku satu kampus dengan manusia iblis itu"guman Icha kesal. Pokoknya keputusan tidak bisa dirubah lagi, tanpa persetujuan Rizki ia harus tetap pindah dari kampus ini.
Setelah dirasa emosinya mulai stabil Icha langsung berjalan menuju kantin, sepertinya otaknya butuh yang dingin-dingin untuk menormalkan otakknya.
"Bu es mangganya satu sama mie ayam semangkok"
Setelah memesan Icha pun mencari meja kosong dan tak lama setelah itu pesanan pun datang.
Icha memakan pesanan dengan diam tanpa harus foto-foto ini dan itu, karna biasa cewek-cewek yang hendak makan harus di foto duluh baru dimakan, Icha bukan masuk spesies perempuan begitu.
Tak lama setelah itu kantin pun mulai rame karna hari mulai siang dan memang ini sudah masuk jamnya istirahat.
"Icha"pekik Shifa mengejutkan Icha yang sedang minum es mangga
Melamun sambil minum akhirnya Icha terkejut dan hal itu membuat Icha tersedak
huk huk huk huk huk
Sambil kedua tangannya menutup mulutnya yang terbatuk, tapi batuk Icha engga untuk berhenti.
"aduh maaf iyh Cha"ucap Shifa merasa bersalah sambil memukul punggung Icha.
"hah darah lagi"batin Icha ketika melihat tanganya sudah ada segumpal darah.
Tanpa menghiraukan ucapan Shifa Icha langsung berjalan menuju toilet .
"Cha"teriak Shifa sambil mengejar Icha yang berlari meninggalkan kantin.
huk..huk..huk
Karna merasa ada yang mengganjal di tenggorokan nya Icha terus memaksa keluar. Dan usaha tidak menghianati hasil, akhirnya lagi-lagi segumpal darah keluar dari mulut.
"aku kenapa sih"lirih Icha dengan mata yang berkaca-kaca lalu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya.
"Cha Lo ngk papa kan"ucap Shifa khawatir sambil memperhatikan Icha.
"ngk papa kok, yuk kita kembali ke kantin saja deh, aku masih lapar soalnya"ucap Icha.
Lalu Icha dan Shifa pun berjlan menuju kantin, tak jauh dari meja mereka ternyata sudah ada Haikal dan Rizki, sejenak tatapan mereka saling bertemu tapi untuk sepersekian detik nya Icha langsung memutuskan tatapan itu.
__ADS_1