Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
bab 9


__ADS_3

Mengetahui Icha sudah balik, Rizki memutuskan untuk kembali kerumah, bahkan jadwalnya yang hendak meeting ia serahkan kepada Edo sebagai asisten.


"Bi dia sudah balik kan..?dimana dia"ucap Rizki sambil berjalan menuju kamarnya.


"nona Icha istirahat dikamar saya tuan, sepertinya dia sedang sakit karna kelihatan sekali muka sangat pucat"ucap pelayan yang menghentikan langkah Rizki sehingga Rizki langsung putar arah menuju kamar salah satu pembantu.


"bi syaa izin masuk"ucap Rizki sebelum masuk ke kamar pembantu itu, meskipun itu hanya kamar pembantu tapi biar bagaimana Rizki sangat menghargai privasi seseorang, karna ia tau disetiap kamar pasti seseorang menyimpang privasi tersendiri.


Setelah mendapat izin dari sang pemilik kamar Rizki langsung masuk dan mendapati Icha sedang tertidur di kasur dengan wajah yang ditutupi bantal.


"hei bangun"ucap Rizki kesal sambil menggoyang bahu Icha dengan kasar.


"bangun, udh ngk pulang tiga hari sekalinya pulang langsung tidur, enak banget Lo, kayak nyonya besar saja"ucap Rizki kesal, mengingat Icha tidak pulang tiga hari kerumah cukup kesal memang, sebagai suami Rizki merasa tidak dihargai, pergi tidak pamit dan selama tiga hari pun tidak di kabari.


Tapi kembali ke Icha, dia tidak pulang tiga hari buka malah bersenang-senang di luaran sana, dia malah menginap dirumah sakit hanya Rizki saja tidak tau tentang hal itu.


"kenapa"ucap Icha bangun dengan wajah yang lumayan pucat, mungkin rasa sakit di kepalanya belum hilang sepenuhnya.


"gue mau mandi, siapkan airnya"ucap Rizki kesal lalu berjaln meninggalkan kamar itu.


"jam berpaa mandi sekarang"guman Icha belum sadar sepenuhnya.


"ohh astaga ternyata sudah malam, ternyata aku tidur selama itu"pekik Icha setelah melihat keluar jendela ternyata hari sudah gelap.


Tanpa berlama-lama Icha langsung keluar dari kamar lalu berjaln menuju kamar Rizki, di tangga ia dan nyonya Nawang berpapasan tapi Icha tidak menghiraukan hal itu.


"kenapa wajah terlihat pucat sekali, padahal pas pulang tidak begitu pucat"guman Nawang sambil memperhatikan raut wajah Icha yang memang beda dari biasanya.


Tanpa memikirkan wajah Icha yang pucat, Nawang melanjutkan langkah menuju luar rumah, karna memang malam ini ia akan menemani suaminya makan malam dengan para relasi bisnis.


Icha langsung masuk menuju kamar Rizki, di lihatnya Rizki sedang bersiap-siap menuju kamar mandi, baju dan celana sudah di lepaskan tersisa handuk yang melingkar di pinggangnya. Terlihat wajah Icha yang merah dan memanas, mau bagaimana mana lagi..?ini memang pertama kalinya Icha melihat tubuh orang lain.


Jadi wajar kalau ia sedikit gugup dan malu, sedang melihat tubuhnya sendiri saja waktu di pantulan kaca Icha bisa gugup sendiri apalagi melihat tubuh orang lain, jadi itu hal manusiawi.


Sedangkan Rizki hanya menatap Icha sekilas, sambil menunggu Icha keluar dari kamar mandi Rizki sejenak membuka ponsel hanya untuk sekedar melihat pesan yang masuk.


"airnya sudah siap"ucap Icha sambil keluar dari kamar mandi.


"siapkan baju ku, gue mau jalan malam ini"ucap Rizki lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Rizki masuk ke kamar mandi, Icha langsung berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan baju untuk jalan, icha menyiapkan baju untuk Rizki hanya main feeling saja, karna memang Icha belum tau seperti apa selerah Rizki apakah penyukai warna gelap atau pun terang.


"mulai malam ini Lo tidur dikamar ini, barang-barang Lo udh di pindahkan ke sini. Lo tidur di sofa"ucap Rizki tanpa menatap Icha sedikit pun, sebenarnya ia ingin bertanya kepada Icha perihal kemana ia tiga hari ini, bahkan mulutnya cukup gatal ingin bertanya kenapa dengan wajah yang sangat pucat.


"saya sudah nyaman tidur di gudang, sebaiknya saya tidur disana aja"


"saya tidak meminta bantahan darimu, kalau syaa bilang disini iyh dsini"bentak Rizki sambil menatap tajam Icha.


"saya mau keluar, ingat kau jangan sampai keluar dari kamar ini bahkah selangkah pun. Tunggu syaa sampai pulang"ucap Rizki tanpa mau dibantah. ia tidak mau kecolongan lagi seperti tiga hari yang lalu.


"saya menunggu kau di kamar bibi saja, saya tidak nyaman berada disini"ucap Icha hendak pergi dari hadapan Rizki.

__ADS_1


"saya tidak mau mengulang kalimat yang sma untuk kedua kalinya, lagian yang tidak menyuruh kau mencari kenyamanan dirumah ini siapa, kau hanya menurut saja dengan perintah ku"bentak Rizki sambil menahan lengan Icha dan menghempaskan ke sofa.


"cukup tiga hari saja kau bebas berkeliaran di luaran sana sebagai jal*ng, sudahi profesi mu itu saya bisa membayarmu lebih dari yang kau dapat dari om-om diluaran sana"bentak Rizki sambil memengang kedua pipi Icha.


"cukup tiga hari kau berani macam-macam dengan sya, selebihnya jangan harap"ucap Rizki lalu menghempaskan pipi Icha.


Tidak mau emosinya semakin naik Rizki langsung pergi dari kamar itu dan tak lupa mengunci pintu kamar dari luar.


"jangan ada yang berani membuka pintu kamar ini apapun yang terjadi"pesan Rizki kepada para pelayan.


"Ki, Rizki buka pintunya jangan di kunci"teriak Icha dari dalam kamar.


Icha terus berteriak meskipun tidak ada hasil, ia juga bingung kemana para pelayan dirumah ini..?segitu banyak para pelayan bahkan para security yang berjaga disetiap sudut rumah masak tidak ada yang mendengar teriakkan nya, ia tidak tau saja kalau Rizki sudah mengancam pelayan yang berani membuka pintu itu.


"ahh sial, mana ponselku di kamar bibi lagi"ucap Icha kesal sambil bersender dibalik pintu.


Cukup lelah memang berteriak di kamar tapi tidak ada yang mendengar, karna mengetahui usahanya akan sia-sia Icha memutuskan untuk berjalan menuju sofa.


"kenapa rasa sakit di kepala ku tidak hilang-hilang, apakah dokter itu salah memberikan resep obatnya"ucap Icha menyalahkan obat yang ia konsumsi.


"ahh sial"ucap Icha lalu mencari sesuatu di kaca kamar Rizki.


Setelah di cari-cari Icha menemukan obat yang ia nyakini itu bisa meredakan sakit kepala. Tanpa pikir panjang dengan perut kosong Icha langsung meminum obat itu dua sekaligus yang kebetulan di dalam kamar itu ada segelas air minum.


Karna pengaruh obat atau memang karna sudah gantuk Icha tertidur di sofa dengan posisi duduk dan kedua kakinya selonjoran begitu saja sambil memegang kedua pelipisnya.


Tepat pukul sebelas malam Rizki sudah kembali kerumah, sampai di kamar ia melihat Icha tertidur di sofa.


**********


waktu terus berjalan, pagi pun menyapa. matahari mulai meninggi pertanda hari mulai siang. Tapi kedua manusia yang sedang terlelap dikamar itu belum ada tanda-tanda hendak bangun.


ouek


ouek


ouek


Tak menunggu beberapa saat akhirnya Icha terbangun dengan merasakan suatu hal yang bergejolak di perut nya dan memang harus di keluarkan.


mendengar hal yang cukup menganggu gendang telinga nya perlahan Rizki membuka matanya sambil memastikan suara itu yang memang berasal dari kamarnya.


ouek


ojek


ouek


Sedangkan Icha masih terus berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di perutnya, cukup susah memang di keluarkan, entah Icha yang salah makan apa ngimna. Padahal dari kemarin sore Icha belum makan apapun jadi tidak mungkin ia salah makan.


"hah darah"lirih Icha ketika yang keluar dari mulutnya ternyata segumpal darah.

__ADS_1


"kok aku bisa muntah darah..?kenapa dengan aku"lirih Icha takut, pikiran negatif-negatif semakin menghantui otaknya.


Semakin kesini Icha semakin khawatir dengan perasaan sakit yang ia rasakan beberapa hari ini, mulai dari sakit kepala yang berkelanjutan dan sekarang malah muntah darah, cukup patut di pertanyakan.


Setelah di rasa mendingan akhirnya Icha keluar dari kamar mandi, sebelum ia membersihkan bekas darah yang ada di sekitaran wastafel.


"tenang icha semua akan baik-baik saja, muntah darah itu cuma hal biasa, mungkin karna tadi malam aku minum obat tanpa makan sedikit pun"guman Icha sebelum keluar dari kamar mandi.


Mengatakan kepada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, Icha selalu berpikir positif.


"anak siapa..?"


deg


Ternyata di depan pintu kamar mandi sudah ada Rizki menunggu Icha dengan tatapan yang mematikan.


Rizki tidak bodoh, meskipun ia belum lama menjadi kepala rumah tangga tapi ia cukup paham apa yang terjadi kepada Icha, apalagi ketika baru bangun tidur ia mendengar Icha sudah mut'ah dikamar mandi.


"hah"ucap Icha bingung.


"ngk usah pura-pura bodoh itu anak siapa anj*Ng"bentak Rizki emosi.


"ngk ada anak siapa"ucap Icha semakin bingung.


"gue ngk nyangka kalau gue menikah dengan seorang jal*ng seperti Lo. Tiga hari Lo ngk pulang anj*Ng, tiga hari Lo ngk pulang, dan ternyata Lo jual diri di luaran sana"bentak Rizki semakin emosi karna melihat Icha seakan bingung sendiri.


"begitu berani sekali Lo membawa anak haram dalam perut lo ke rumah ini hah, gue kira masih polos karna Lo masih mudah, tapi ternyata Lo seorang wanita malam"bentak Rizki lagi.


plakkkkkkk


"jangan ucapan mu, saya bukan wanita malam seperti yang kau sebutkan, dan satu salah lagi saya tidak pernh mengandung anak haram. camkan itu"ucap Icha menampar pipi Rizki.


"Lo udah salah begini masih berani Lo nampar"teriak Rizki sambil menarik rambut Icha dengan cukup kuat.


"sakit"ringis Icha.


"itu tidak seberapa dengan sakitnya gue, meskipun gue ngk mencintai Lo tapi tidak seharusnya Lo hamil dengan laki-laki di luaran sana, Lo udh injak-injak harga diri gue. Dasar wanita murahan"ucap Rizki sambil mendorong Icha kebelkang sehingga kepala Icha terbentur sudut meja.


"ingat iyh ini terakhir kalinya Lo keluar dari rumah ini dan dari kamar ini"ucap Rizki kembali menarik rambut Icha.


"dan segera gugurkan anak itu"


"saya ngk ada hamil, anak mana yang harus saya gugurkan..?"ucap Icha dengan suara serak.


"ngk usah ngelak lagi lo anj*Ng, dengan Lo muntah-muntah begitu apa nama kalau ngk hamil..?jangan alasan kalau Lo masuk angin",bentak Rizki semakin emosi karena Icha masih terus mengelak.


"gugurkan anak itu atau Lo mati bersama anak haram itu"bentak Rizki dan lagi-lagi mendorong Icha ke arah meja sehingga jidat Icha mengeluarkan darah.


"jangan sampai satu rumah ini tau kalau Lo hamil, apapun caranya Lo harus gugurkan anak itu tanpa sepengetahuan orang dirumah ini"


brakkkk

__ADS_1


Setengah mengatakan hal itu Rizki langsung pergi dari kamar dan menghempaskan pintu secara kasar.


__ADS_2