Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Pesta 2


__ADS_3

Suasana meriah menyambut kedatangan Shaka dan Jani. Semua orang di buat terpukau oleh pasangan ini. Pasalnya selain kecantikan dan ketampanan mereka yang paripurna, ini adalah kali pertama Shaka membawa istrinya ke ruang publik.


"Ternyata Jani sangat cantik kalau mau berhias," Randi sang sekertaris pun tak dapat menutupi kekagumannya. Ia berbisik di samping si Bos.


"Hmm, aku juga baru sadar kalau dia ternyata sangat cantik." Shaka balas berbisik sementara Jani tampak sedang melihat-lihat suasana pesta.


"Kalau begitu apa kalian sudah---"


"Diam kau ! itu bukan urusanmu." Hardik Shaka langsung karena tahu betul apa yang di maksud Randi. Terlebih pria itu berkata sambil menautkan jari kanan dan kirinya


"Hihihi.. " Bukannya takut di hardik bos besarnya, Randi malah justru terkekeh.


"Pergilah urus tamu-tamu penting. Aku di sini saja bersama Jani." Jengah dengan ke-konyolan Randi, Shaka akhirnya mengusir pria itu dan memilih fokus menemani istri cantiknya.


"Jani, kau mau makan sekarang atau nanti?"


Jani menggeleng


"Nanti saja, "


"Baiklah kalau begitu, kita minum saja dulu ya."


Mendapat anggukan dari Jani, Shaka langsung memanggil salah satu pelayan untuk membawakan minuman.


"Istri anda cantik sekali tuan, " ucap pelayan wanita sambil menyuguhkan minuman.


Shaka tersenyum. Semakin meyakini kalau Rinjani memang sangat cantik. Terbukti bukan hanya satu dua orang yang mengatakan itu. Namun sejak tadi secara tak sengaja Shaka mendengar bisik-bisik beberapa karyawan-nya yang memuji kecantikan istrinya.


Namun reaksi Jani berbeda. Ia nampak tak nyaman saat mendapat pujian itu. Terlebih pelayan itu dengan tidak sopannya memperhatikan dia dari ujung kaki hingga kepala.


Jani menggeser badannya sehingga lebih menempel pada Shaka. Gadis itu kemudian memegang sudut jas Shaka.


"Ada apa, Jani? " Pergerakan Jani yang tiba-tiba tentu memantik tanya dari Shaka Lintang.


Jani tak menyahut namun tatapan tajamnya ia hunuskan untuk pelayan wanita di depan mereka. Si pelayan bingung. Ia merasa tak melakukan apapun tapi Nyonya dari pimpinan perusahan menatapnya dengan pandangan tidak suka.


Tatapan yang cukup tajam yang langsung membuat pelayan undur diri sambil menunduk. Mungkin dalam benaknya saat ini berkata kalau istri tuan Shaka sanhatlah angkuh. Tapi siapa peduli, dia sudah begitu lancang memperhatikan Jani dengan begitu intens. Wajar kalau Jani merasa tak nyaman. Meski dia memperhatikan karena kagum dengan kecantikan Rinjani. Tapi tetap saja Jani tidak suka dengan sikap perempuan itu.


"Tak apa, Jani." Shaka mengusap tangan Jani yang masih menggenggam sudut jas-nya. Melihat tatapan mematikan Jani, Shaka akhirnya paham kalau istrinya sedang merasa tidak nyaman.


"Mungkin dia pelayan baru disini. Jadi dia belum pernah melihatmu sebelumnya."


Jani terdiam masih dengan perasaan tak nyaman-nya. Namun belum hilang perasaan itu. Asisten Shaka datang.


"Bos, saatnya memberi sambutan. Setelah itu anda juga harus berbincang sekedarnya dengan tamu-tamu penting. "


Shaka mengangguk. Selaku pimpinan tertinggi hal itu memang biasa di lakukan setiap di adakan acara.


"Kau tetap disini temani Jani. Jangan sampai dia merasa tidak nyaman, " Titahnya seraya beranjak.


"Jani, kau tidak apa kan ku tinggal sebentar. Randi akan menemanimu. " Shaka mengusap kepala Jani di hadapan Randi, membuat pria itu serta-merta mengerutkan keningnya.


Sudah sedekat itukah hubungan si Bos dengan istrinya


Jani yang tadi sempat merasa tidak nyaman kini bertambah gelisah karena Shaka akan meninggalkannya. Meskipun jaraknya hanya beberapa meter dan masih tertangkap oleh indera penglihatannya, namun tetap saja gadis itu merasa tidak nyaman. Bukan berlebihan, tapi Jani memang mengidap sosial fobia atau kecemasan sosial. Meskipun tidak parah tapi itu tetap menyebabkan kecemasan irasional, rasa takut ataupun tidak nyaman saat berinteraksi dengan lingkungan sosial.


Namun sayangnya, Shaka tidak punya pilihan lain selain meninggalkan sejenak gadis itu. Toh ada Randi yang menemani, fikir Shaka yang akhirnya tetap melangkah menuju podium.


"Selamat malam semuanya.. " Shaka membuka sambutannya dengan menyapa seluruh orang yang hadir saat ini.


Selanjutnya pria itu dengan fasih menyampaikan apa yang memang selayaknya di sampaikan.

__ADS_1


Suara bariton nya menggema di seluruh ruangan. Rinjani memperhatikan dengan seksama orang yang tengah berdiri di depan sana. Jani masih merasa tak percaya kalau pria tampan itu sekarang telah berhasil meluluhkan hatinya. Padahal beberapa bulan yang lalu, pria itu adalah orang yang sangat di bencinya. Pria itu adalah terpidana mati baginya karena telah menyebabkan calon suaminya mati.


Namun entah sejak kapan, pria yang wibawa-nya malam ini begitu terlihat itu sekarang malah menjadi satu-satunya orang yang membuatnya nyaman. Bahkan jauh darinya sebentar saja membuat Jani merasa ada yang kurang. Terlebih di tempat umum seperti ini.


Di tengah-tengah sambutan Shaka, ponsel Randi bergetar. Pria itu menjawab panggilan nya di depan Jani. Namun karena suara Shaka yang memenuhi ruangan membuat ia menjadi tidak bisa mendengar dengan jelas suara orang yang menelponnya.


Randi kemudian mencari tempat yang sedikit jauh dari ruangan supaya bisa mendengar dengan jelas. Ia lupa pada pesan Shaka untuk selalu menjaga Jani.


Bahkan sampai Shaka siap dengan sambutannya, Randi belum juga kembali. Hal itu tentu membuat Jani jadi tidak nyaman karena di tinggal sendirian. Terlebih Shaka juga tidak langsung menemuinya begitu turun dari podium.


Sesuai arahan Randi tadi, Shaka menyapa beberapa tamu penting. Di antaranya adalah beberapa wanita cantik. Mereka adalah rekan bisnis Shaka.


Shaka menyapa para perempuan cantik itu sambil menempelkan kedua pipi mereka secara bergantian. Hal yang lumrah di lakukan di kalangan menengah ke atas. Namun tidak dengan Rinjani. Meski dia juga bukan dari kalangan bawah, tapi mengingat dia pernah depresi berat juga pernah menderita sosial fobia, membuat perasaan nya yang sejak tadi tidak nyaman menjadi semakin tidak karu-karuan.


Jani benci sekali melihat Shaka tertawa gembira begitu dengan para perempuan itu. Terlebih ia baru saja ber- cipika-cipiki dengan mereka. Entahlah, Jani sangat muak melihatnya. Ingin rasanya ia melempar Shaka dengan gelas kaca di depannya.


Untungnya Jani masih bisa menahan amarahnya. Ia hanya melampiaskan nya dengan mere*as jarinya sendiri.


Namun ke-tidak nyamanan Jani tak berhenti sampai disitu. Tepat dia saat bersamaan. Beberapa karyawan laki-laki lewat di sampingnya dan menyapa nya.


Demi Tuhan mereka hanya menyapa sebagai bentuk hormat pada istri pimpinan. Namun Jani yang pikirannya sudah terlanjur kacau balau menganggapnya lain.


Sama seperti tadi. Pandangan kagum para karyawan itu membuatnya sangat jengah dan ingin sekali menghancurkan wajah mereka satu persatu. Untungnya mereka segera pergi karena memang hanya sepintas lewat saja.


Pandangan Jani kembali pada Shaka. Amarahnya kian membuncah melihat Shaka masih ber haha-hihi dengan para tamu.


Tak sanggup menahan kesal, Jani akhirnya bangkit sambil mengepalkan tangannya. Gadis itu berjalan menuju pintu keluar dengan wajah merah menahan marah. Hal yang semakin memperburuk keadaan karena pada saat keluar pun orang-orang masih saja memperhatikannya.


Tepat di pintu keluar Jani berpapasan dengan Randi. Pria itu tentu heran melihat istri Bos keluar ruangan sendirian, padahal acara belum selesai.


"Jani, kau mau kemana? " tanyanya namun tak mendapatkan jawaban sama sekali. Satu-satunya jawaban yang di dapat Randi hanyalah raut marah Jani dan juga tatapan tajam Jani.


"Jani ada apa, apa yang membuatmu tidak nyaman? " tanya Randi lagi yang nampak mulai khawatir. Bagaimana tidak. Si Bos menyuruh ia menjaga istrinya. Namun gadis itu malah keluar sendirian dengan perasaan marah.


"Apa karena aku meninggalkanmu? maaf untuk itu Jani, aku ada telepon penting tadi. " Meski Randi terus berceloteh tapi Rinjani tetap tak bicara sepatah katapun. Ia bahkan langsung masuk ke mobil dan menutup pintu mobil dengan cukup keras.


Jebret..! Suara yang cukup kencang yang membuat Randi maupun pak supir sampai terlonjak.


"Antar aku pulang ! " perintahnya dengan ketus pada pak supir.


"Sekarang, Non? "


"Iya, kapan lagi? "


"Ta--tapi Tuan Shaka belum datang. "


"Aku bilang pulang, sekarang..!" bentakan Jani membuat pak supir takut sekaligus bingung. Rinjani terlihat sangat marah. Ia bingung harus menuruti perintah gadis itu atau menunggu amanat Shaka. Meski tidak tahu apa yang menyebabkan Nona muda-nya jadi marah, tapi melihat Randi yang mengejar dengan wajah panik membuat pak supir sedikit banyak bisa menilai kalau Rinjani pergi pasti tanpa sepengatahuan atau pun atas izin Shaka.


Pak supir kemudian membuka kaca mobilnya meminta pendapat Randi yang masih setia di samping mobil. Pria itu bahkan terus mengetuk pintu berharap Jani mau keluar.


"Tuan bagaimana ini? Nona Jani memaksa minta pulang? "


Randi langsung beralih ke pintu depan, melihat Jani yang masih di kuasai amarah. Namun belum sempat Randi buka suara, gadis itu sudah kembali berteriak.


"Aku mau pulang..! Antar aku pulang sekarang..!" Sambil memukul-mukul kursi kemudi pak supir.


Randi bingung, pak supir pun tak kalah bingung.


"Bagaimana, Tuan? " tanyanya sekali lagi.


Randi terdiam sesaat sambil berpikir.

__ADS_1


"Ya sudah antar pulang saja, nanti biar aku yang memberi tahu Shaka. "


Merasa tak punya pilihan lain, Randi akhirnya mengizinkan supir mengantar Nonya Shaka pulang. Melihat kondisi Jani, Randi takut kalau gadis itu akan jadi makin marah dan bahkan mungkin tantrum kalau permintaannya tidak di penuhi.


Pak supir mengangguk lalu langsung meluncur meninggalkan area parkir. Dalam hati pria yang mulai beranjak tua itu berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Rinjani tidak mengamuk dan tuan Shaka tidak memecat nya karena membawa pulang Jani tanpa seizin nya.


Sepeninggal Jani, Randi langsung bergegas menghampiri Shaka. Sama seperti Pak supir tadi, Randi juga berharap Shaka tidak akan memcatnya karena telah lalai menjaga istrinya.


"Shaka, ikut aku sebentar. Ada yang mau ku sampaikan? " Tanpa basa-basi Randi langsung menemui Shaka yang masih asik berbincang dengan para tamu. Sepertinya pria itu juga sedikit lupa kalau ia datang bersama istri luar biasanya.


"Ada apa? " tanya Shaka heran. Raut Randi seperti sedang khawatir.


"Jani sudah pulang. "


"Hah, bagaimana bisa? dengan siapa dia pulang, dan kenapa dia tidak menungguku?"


Persis seperti dugaan Randi. Shaka langsung panik begitu tahu istrinya sudah pulang. Karena insting Shaka langsung mengatakan ada sesuatu yang tak beres. Jani tidak mungkin pulang duluan kalau semuanya baik-baik saja.


"Aku juga tidak tahu. Tadi aku sedang menerima telepon di luar. Lalu setelah masuk aku melihat Jani sudah mau keluar ... Dia terlihat sangat marah, Shaka. "


"Apa kau bilang, kau meninggalkannya? Kan sudah ku bilang untuk selalu menjaganya?" Intonasi suara Shaka mulai meninggi. Nyali Randi bahkan langsung menciut di buatnya. Ia tahu bagaimana kalau Shaka lintang sudah marah. Terlebih ini menyangkut istri luar bias-nya.


"Maaf, Shaka. Tapi tadi ada telepon penting. Soal perusahaan juga. " Benar, satu-satunya hal yang bisa di lakukan Randi saat ini adalah meminta maaf. Supaya Shaka tidak berubah jadi singa lapar.


"Apapun alasannya harusnya kau tidak meninggalkan nya sendirian. Jani belum sepenuhnya sembuh..!" Suara Shaka makin keras membuat orang-orang sekitar bahkan ada yang menoleh.


"Shaka tenanglah, jangan berteriak begitu. Jangan sampai orang-orang tahu. " Randi sadar kalau ia telah lalai dalam menjaga Jani, tapi tetap saja Shaka harus bisa menahan emosinya, sebab mereka saat ini berada di ruang publik


Shaka menghela nafasnya. Ucapan Randi ada benarnya. Kemarahannya hanya akan membuat orang-orang jadi tahu tentang kondisi Jani.


Setelah Shaka mulai terlihat tenang,Randi menggunakan kesempatan itu untuk kembali bicara.


"Aku tidak punya pilihan lain selain membiarkannya pulang. Dia terlihat sangat marah, Shaka. Aku takut kalau aku melarangnya dia justru akan tantrum."


"Huft.. " Hela nafas Shaka kembali terdengar. Ia mencoba berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan saat ini. Dia lalu mengambil ponsel dan menelepon supir pribadinya yang saat ini tengah mengantar Jani.


"Kau sudah sampai dimana? " tanyanya langsung begitu panggilan terhubung.


"lalu bagaimana, Jani? " tanya Shaka lagi begitu pak supir menyebutkan tempat dimana ia dan Jani berada saat ini.


"Ya sudah, antar dia sampai rumah dan pastikan dia selamat. Kau tidak perlu menjemputku. Aku akan langsung pulang sekarang. "


Usai memberi mandat itu Shaka mematikan teleponnya.


"Kau mau pulang sekarang? " Randi yang mendengar obrolan Shaka dengan pak supir bertanya.


"Tentu saja, Aku sangat khawatir dengan Jani. Dia tidak tantrum di sini bukan berarti dia baik-baik saja di rumah. Kau tidak tahu bagaimana dia kalau sudah marah. "


Randi langsung mengangguk. Meski acara belum selesai, tapi bukan waktu yang tepat jika harus memeperdebatkan soal itu sekarang.


"Pergilah, biar aku yang menghendel acara ini. Nanti akan ku sampaikan pada rekan-rekanmu kalau istrimu mendadak sakit, jadi kau harus segera pulang."


Shaka mengiyakan usulan Randi. asisten nya itu memang ia nilai cukup ceketan dalam menyelesaikan masalah. itulah sebabnya Randi menjadi orang kepercayaan Shaka hingga saat ini. Meski ia baru saja mengecewakannya, tapi Shaka akan berusaha memaklumi. Namun itu hanya berlaku kali ini saja, jika kelak dia mengulanginya lagi, maka Shaka bersumpah akan langsung memecatnya.


"Benar, kau yang menyebabkan Jani jadi pulang, jadi kau juga yang harus bertanggung jawab. " Shaka berlalu sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya.


"Hmm, pergilah. " Randi menerima saja tuduhan bos besarnya, sebab menyangkal hanya akan membuat urusan jadi makin panjang.


Benar Randi merasa bersalah, tapi yang membuatnya heran adalah, apa yang sebenarnya membuat Jani marah. Pasti bukan hanya karena dia meninggalkannya kan, toh dia itu bukan orang penting bagi Jani. Dan yang membuat Randi makin heran adalah reaksi Shaka. Pria itu terlihat sangat-sangat khawatir. Ke-khawatiran yang lebih menyerupai perasaan sayang dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap orang yang kita sayangi.


"Atau jangan-jangan Shaka sudah mulai jatuh cinta pada Jani? " Randi bergumam sambil memperhatikan Shaka yang makin menjauh

__ADS_1


__ADS_2