Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Tidur bersama


__ADS_3

Shaka berjalan pelan menuju kamar Rinjani merapikan kemeja putih yang baru saja di kenakannya. Sebelum berangkat ke kantor, seperti biasa dia akan terlebih dahulu ke kamar istri "luar biasanya" untuk memberikan sarapan pagi pada gadis itu.


Sejak tiga hari yang lalu hal itu memang sudah jadi rutinitas paginya. Setelah selesai menyuapi bayi besarnya barulah Shaka akan mengisi perutnya sendiri sebelum akhirnya berangkat ke kantor.


Biasanya saat Shaka masuk, ia akan langsung di sambut dengan pemandangan wajah indah milik Jani yang baru selesai mandi. Tapi kali ini Shaka tak lagi melihat pemandangan itu. Yang tertangkap oleh netranya justru wajah lusuh dan rambut acak-acakan Jani dan juga mata yang sembab seperti orang kurang tidur.


"Jani, kau belum mandi? " Shaka mendekati gadis yang masih duduk bersandar di atas ranjang.


Gadis itu tak menjawab. Tatapan matanya juga kosong tanpa arah. Hal itu tentu membuat Shaka memicing heran. Dua hari ini dia melihat ada sedikit perubahan pada gadis itu, tapi sekarang kembali abnormal lagi?


"Jani kau kenapa?" tanya Shaka lagi namun tetap tak ada jawaban.


"Kau mau ke tempat Rayan? " Shaka berpikir mungkin Jani marah karena ia belum juga menepati janjinya untuk pergi ke makan Rayan. Namun di luar dugaan Jani ternyata menggeleng.


"Lalu, apa yang kau inginkan? katakan, aku pasti akan memenuhinya. " Shaka terus mengajak Jani bicara namun gadis itu tetap saja enggan buka suara. Hal itu membuat Shaka akhirnya memilih diam dan menyuapi Jani tanpa bicara.


Namun sayangnya hanya tiga kali suapan lalu gadis itu menggeleng.


"Sudah? " tanyanya heran.


"Tapi kau baru makan sedikit, tambah lagi, ya ... kau harus banyak makan biar pikiranmu tenang."


Meskipun Shaka tahu betul kalau bukan raga Jani yang sakit, tapi Shaka juga tahu kalau perut yang kosong akan membuat pola pikir kita jadi tidak stabil. Terlebih Jani yang pikirannya memang sedang terganggu.


Rinjani menggeleng lemah sambil menepis tangan Shaka yang berusaha menyuapinya.


"Ya sudah, kalau tidak mau makan ... tapi kau tetap harus minum obatnya ya?"


Jani tak menyahut, namun juga tak menolak saat Shaka mengulurkan obat ke dalam mulutnya.


Karena waktunya yang sudah mepet, Shaka akhirnya harus meninggalkan Jani dalam kebisuannya. Namun sampai di kantor dan bahkan sampai ia pulang lagi. Bayangan tingkah aneh Jani masih saja mengganggu pikirannya.


Ia sudah merasa senang karena dua hari ini Jani sudah mau berinteraksi dengannya. Gadis itu juga sudah tak lagi memaki Shaka dengan mengatakan kalau Shaka pembunuh Rayan.


Tapi hari ini sikap Jani kembali membuatnya menghela nafas.


Harapannya untuk bisa melihat Jani sembuh kembali harus patah. Tatapan kosong Jani mengisyaratkan kalau jiwa nya masih saja terluka.


Di dera rasa khawatir yang cukup mengganggu membuat pria itu langsung mengecek kondisi Jani begitu pulang ke rumah.


Tanpa bertanya terlebih dahulu pada Bikin Nah, Shaka langsung naik ke kamar Jani. Pria itu mendapati istrinya tengah mematung di balkon kamar.


Jujur ada perasaan khawatir tersendiri setiap melihat Jani berdiri di situ. Shaka takut tiba-tiba Jani melompat dan terjun bebas dari tempat itu. Meski tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja bisa membuat patah tulang atau bahkan kematian jika kepalanya yang terlebih dahulu membentir lantai.


Akh..! Shaka menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk yang mendadak bersarang.


Ia kemudian masuk ke kamar gadis itu tanpa suara


"Jani kau sedang apa? sudah malam, ayo masuk," ajaknya pada gadis yang sedang menatap langit malam.

__ADS_1


Sama seperti tadi pagi, gadis itu tak menyahut. Namun saat tangan Shaka bermaksud menuntunnya masuk gadis itu langsung menepis. Ia menuruti ajakan Shaka untuk masuk tapi menolak sentuhan dari Shaka.


It's ok, yang penting dia mau masuk, pikir Shaka.


"Kau sudah makan? " tanya Shaka begitu Jani duduk di atas ranjangnya


Jani mengangguk


"Sudah minum obat? "


Kembali mengangguk.


"Gadis pintar. " Shaka mengusap pelan kepala gadis itu, dan kali ini dia tidak menolak.


Shaka memang sedang dalam misi besar-besaran untuk mengembalikan kembali psikis Jani seperti semula. Shaka ingin gadis itu bisa berdamai dengan kenyataan agar tak lagi menyalahkannya untuk semua takdir buruk yang menimpanya. Itulah mengapa Shaka selalu berusaha melembutkan hatinya juga sikapnya kepada gadis itu.


Sudah berbulan-bulan mereka tinggal bersama namun Jani masih saja seperti itu. Namun bagaimana pun kondisi Jani, Shaka berusaha untuk tidak lelah apalagi menyerah. Satu keyakinan di hatinya. Jani pasti sembuh dan bisa kembali hidup normal.


"Sekarang kau tidur ya. Sudah malam ... Tenangkan pikiranmu supaya kau tidak mimpi buruk lagi. "


Usai berkata begitu Shaka meninggalkan gadis itu. Tatapan mata Jani sulit di artikan saat Shaka mulai melangkah keluar. Seperti ingin mencegah tapi tak terucap.


Shaka sendiri sebenarnya ingin menemani Jani tidur, tapi karena merasa tidak nyaman dan takut Jani juga tidak nyaman maka ia memilih membiarkan Jani tidur sendiri. Setelah sempat dua malam menemani, tadi malam Shaka memutuskan untuk membiarkan Jani tidur sendiri.


Dan karena Jani juga sepertinya sudah bisa tidur nyenyak, maka malam ini pun Shaka kembali membiarkan Jani tidur sendiri.


Shaka sendiri begitu masuk ke kamarnya langsung membersihkan diri lalu kemudian beristirahat. Pria berwajah tegas itu memang cukup lelah hari ini. Terbukti tak lama setelah merebahkan badannya, Shaka langsung terlelap.


Prang...!


Pukul dua belas lebih tiga puluh menit dini hari, Shaka yang tengah lena dalam tidurnya mendadak di kejutkan oleh suara benda jatuh yang cukup keras. Suaranya sangat nyaring memecah kesunyian malam. Shaka bahkan sampai terlonjak dan seketika terjaga.


"Apa itu? " gumamnya mencoba menegenali bunyi suara barusan.


"Seperti suara kaca pecah ... dan arahnya seperti dari kamar---"


Shaka tidak melanjutkan alibinya namun langsung beranjak menuju kamar Jani. Menurut Shaka suara itu berasal dari sana.


Dan tebakan Shaka benar. Saat membuka pintu dia melihat serpihan kaca cermin meja rias Rinjani sudah bertaburan kemana-mana. Sedangkan Jani terduduk sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di atas lutut.


"Pergi.. pergi...! "


Gadis itu bicara sendiri sambil gemetar seperti orang ketakutan. Melihat itu tentu membuat Shaka panik.


"Jani.. " Shaka langsung berlari mendekati gadis itu.


"Pergi.., pergi..! jangan mengangguku..!" Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya seolah sedang menghalau sosok yang mengganggu nya.


"Jani, tenanglah ini aku. " Shaka memegang kedua tangan Jani membuat gadis itu kian ketakutan. Ia mengira Shaka adalah orang yang ada di dalam mimpinya.

__ADS_1


"Pergi, pergi...!" teriakan gadis itu makin kencang sambil berusaha melepaskan tangannya. Namun anehnya, meski meronta-ronta sekuat tenaga, tapi wajah gadis itu tetap tertunduk seperti tidak berani mendongak melihat siapa yang ada di depannya.


"Jani tenanglah, ini aku. Buka matamu. "


Mendengar itu barulah Jani berani mendongak. Dan begitu menyadari kalau yang di hadapannya adalah Shaka, gadis itu langsung memeluk.


"Tolong aku, tolong aku, mereka mau membawaku. " Bahkan dalam pelukan Shaka pun gadis itu masih saja meracau. Sepertinya mimpinya kali ini benar-benar buruk.


"Jani, tenanglah. " Untuk kesekian kalinya Shaka mengucapkan kalimat itu.


"Aku di sini, tidak akan ada yang berani membawamu. Tenanglah." Shaka mengusap punggung Jani. Pria itu dapat merasakan tubuh Jani yang gemetar ketakutan.


Ya Tuhan, mimpi apalagi dia sampai ketakutan begini


Tiba-tiba Shaka di dera rasa bersalah karena membiarkan gadis itu tidur sendiri. Ia berpikir setelah sempat menemaninya selama dua malam, Jani sudah bisa tidur dengan nyenyak. Tapi nyatanya tidak, gadis itu tetap saja di hantui mimpi buruk. Bahkan dua malam ini lebih buruk dari biasanya. Itulah sebabnya tadi pagi kondisi psikis Jani kembali terganggu karena malamnya ia tidak bisa tidur nyenyak dan terus di ganggu mimpi buruk


Jani merasa ada orang yang akan membawanya pergi. Bahkan ketika ia terjaga, ia melihat orang itu masih saja mengganggunya. Dia berdiri di depan cermin meja hias Jani. Itulah sebabnya gadis itu melempar cermin itu dengan jam beker di atas mejanya. Ia ingin orang atau sosok itu benar-benar pergi.


Padahal Shaka sudah meminta Bik Nah untuk tidak meletakkan benda berjenis kaca di kamar Jani. Karena itu bisa jadi berbahaya saat gadis itu mengamuk. Bik Nah sudah menyingkirkan semuanya, tapi sepertinya dia lupa pada jam beker yang baru saja di pakai Jani untuk melempar kaca.


Shaka menghela nafasnya, sepertinya memang tidak bisa membiarkan Jani tidur sendiri, pikirnya sambil tangannya terus mengusap.


"Kau takut? " tanyanya pada Jani yang tampak mulai tenang dalam dekapan nya.


Gadis itu mengangguk.


"Kau ingin aku menemanimu? "


Jani terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk lemah. Meski sejak awal dia sangat membenci Shaka, tapi entah kenapa kali ini dia merasa butuh pria itu untuk menolongnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu." Melepaskan pelukan lalu membimbing Jani untuk berbaring.


Gadis itu menurut saja saat Shaka merebahkan badannya. Meski hatinya berkecamuk menahan perasaan yang tak menentu. Jani merasa heran. Bukankah dia sangat membenci Shaka, tapi kenapa dia tidak marah saat Shaka menyentuhnya. Dan mereka bahkan akan kembali tidur bersama, benarkah?


"Tidurlah, aku tidak akan meninggalkanmu walaupun kau sudah tertidur." Shaka ikut berbaring di samping Jani.


Keheningan sempat tercipta di antara keduanya. Bagi Shaka, mungkin dia hanya sekedar ingin menenangkan Jani, tapi bagi gadis itu, ia sangat bingung sekarang. Kenapa ia bisa tidur berdua dengan suami yang sangat di bencinya. Pertanyaan itu terus saja memenuhi ruang pikirnya.


Rinjani mendongak menatap Shaka, meyakinkan diri bahwa orang yang ada di sampingnya saat ini adalah benar Shaka, orang yang beberapa bulan ini sangat ingin di lenyapkannya.


Kebingungan Rinjani justru dia anggap lain oleh Shaka. Pria itu berpikir Jani masih ketakutan sehingga sulit untuk memejamkan mata.


"Kenapa, kau tidak bisa tidur? kau masih takut?"


Jani tidak bisa menjawab karena ia sendiri pun bingung. Dan diamnya Jani justru di artikan "iya" oleh Shaka.


Pria itu kemudian berinisiatif untuk makin memenangkan Jani. Ia memindahkan kepala gadis itu ke pundaknya, lalu tangannya bergerak mengusap kepala Jani. Persis seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya.


Jani yang masih saja bingung lagi-lagi hanya menurut. Kalau tempo hari Ia tidur dalam pelukan Shaka di luar kesadarannya, kali ini semuanya terjadi dalam keadaan sadar.

__ADS_1


Sementara Shaka, pria itu justru mengurai senyum tipis dari sudut bibirnya. Rinjani tak berontak sama sekali saat ia menyentuhnya, itu berarti emosionalnya sudah mulai membaik. Meski ketakutan menjadi penyebab awalnya, tapi siapa peduli. Yang jelas semua itu menunjukan kalau Jani sudah mulai membaik, yah semoga saja.


Berbulan-bulan menikah, baru kali ini keduanya bisa saling bersentuhan dalam keadaan sadar. Ritme jantung Shaka dan juga Jani yang mendadak berdetak lebih cepat, coba di abaikan oleh keduanya.


__ADS_2