
Sejak kejadian dimana Icha berbicara cukup lebar kepada Nawang sejak saat itu juga Nawang tidak lagi menghina Icha. Berbicara seperlunya saja, menegur seperlunya saja, karna icha termasuk orang yang sulit dilawan ketika berdebat.
Waktu terus berjalan, detik berganti menit dan berganti jam, tak terasa hari sudah mulai malam hingga saat ini sudah menjelang subuh, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya satu hari ini hanya terasa seperti dua belas jam saja saking cepatnya
Begitu juga dengan Icha, sejak tadi subuh dia sudah terbangun, ini bukan kebiasaan Icha bangun di jam dua subuh bukan juga Icha hendak sholat tapi kepala Icha yang tiba-tiba sakit cukup menganggu tidurnya.
Meksipun ngantuk menyerang tetap sja icha terpaksa membuka matanya dan menatap langit-langit kamar yang gelap, matanya menangkap sosok Rizki yang tidur pulas di ranjang.
"kenapa kepalaku sering-sering sakit begini..?ahh mana ini masih jam dua pagi lagi"guman Icha sambil memegang kepala yang sakit.
sambil mengulung rambut panjangnya Icha perlahan turun dari sofa dan berjaln menuju keluar kamar. Perlahan Icha berjalan menuju dapur.
"kamu gapain subuh-subuh sudah di dapur"
"ehh mah, saya mau bikin teh hangat"ucap Icha menatap Nawang.
"Rizki minta teh hangat subuh-subuh begini..?"ucap Nawang bingung, ke betulan tuan Reza haus dan air minum di kamar habis sehingga Nawang harus turun kebawah untuk mengambil minum.
"bukan mah, syaa yang ingin minum teh hangat. Ngk tau tiba-tiba saja pengeng minum"
"mamah sendiri kok tumben kedapur..?belum tidur..?"ucap Icha mengalihkan percakapan.
"udh tidur tapi kebangun lagi soalnya papah tiba-tiba haus"
"ohh kalau begitu Icha naik lagi mah. Selamat malam"ucap Icha sambil membawa segelas teh hangat dan juga air putih.
Sampai dikamar Icha langsung mencari kota obat dan mencari obat yang bisa sekira untuk mengurangi rasa sakit dikepalanya.
Setelah dapat ia langsung meminum dua butir dan segelas air putih, tak lupa Icha meminum teh hangat yang ia buat tadi meksipun ngk habis semuanya.
Memang benar obat bisa menyembuhkan penyakit, buktinya setelah Icha minum obat, sakit dikepalanya berkurang dan tak menunggu lama Icha pun tertidur dengan meja yang sedikit berantakan, gelas diatas meja dan kotak obat yang berantakan.
Karna rasanya Icha sjaa tidur, alhasil ia melewatkan sholat subuh dan dapat di pastikan dia akan bangun kesiangan.
Rizki sudah bangun dan hendak bersiap ke kamar mandi tapi langkahnya terhenti ketika melihat Icha masih tertidur.
.
"tumben jam segini belum bangun, biasanya jam segini sudah ngk di kamar lagi"guman Rizki menatap tubuh Icha, lalu matanya menangkap kotak obat yang berantakan di meja perlahan ia melangkah menuju meja.
"obat sakit kepala..?siapa yang sakit..?masak dia sakit kepala sih, padahal tadi malam sebelum tidur ia masih sehat kok dan masih semangat kerjakan tugas"guman Rizki menatap Icha intens.
"sesakit itu kah sampai sekali minum langsung dua""guman Rizki lagi.
"hei bangun loh, ini sudah siang"ucap Rizki mengoyangkan tubuh Icha.
"hah. ohh sorry gue kesiangan"ucap Icha sambil mengumpulkan nyawanya lalu berjalan menuju kamar mandi.
"gue mau mandi"ucap Rizki.
__ADS_1
"bentar saya siapkan airnya"
"formal amat, smaa suami sendiri juga"guman Rizki pelan sambil menunggu Icha keluar dari kamar mandi.
ting
+62**************
"selamat pagi cantik, tetap jaga kesehatan iyh. semangat sayang"
Sebuah notifikasi dari ponsel Icha yang membuat rasa penasaran Rizki muncul.
"siapa yang berani kirim pesan gila kayak gini. Masak dia selingkuh sih..?tapi sepertinya nomor ini tidak dikenal karna dia ngk menyimpang di kontaknya"guman Rizki setelah membaca pesann yang masuk ke ponsel Icha.
"air sudh selesai"ucap Icha menyadarkan Rizki.
"Lo selingkuh..?"tuduh Rizki sambil menatap tajam Icha.
Baru saja bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air, dan ketika keluar dari kamar mandi langsung dituduh selingkuh..?sangat jelas itu membuat Icha bingung.
"hah selingkuh"ucap Icha terkejut.
"ngk usah pura-pura terkejut itu ada yang kirim pesan selamat pagi"bentak Rizki lalu melempar ponsel Icha ke sofa.
Melihat ponselnya di lempar Icha langsung mengambil ponsel itu dan memeriksa pesan yang masuk, dan benar sjaa ada nomor yang tidak dikenal mengirim pesan kepadanya.
"saya ngk tau itu siapa, dan sya ngk selingkuh"elak Icha jujur.
"sumpah demi Tuhan sya ngk selingkuh, dan soal nomor itu saya ngk kenal. Dan nomor itu baru beberpa hari saja makaya syaa abaikan"
plakkkkkkk
"ngk usah sok suci Lo, ngk usah bawa-bawa Tuhan dalam perselingkuhan Lo"bentak Rizki.
"gue ngk nyangka Lo semurahan ini, kemarin Lo hamil dan sampai sekarang Lo ngk jujur sama gue anak siapa itu dan sekarang Lo berulah lagi..?Lo selingkuh anj*Ng"bentak Rizki kesal.
"saya ngk ada hamil dan syaa juga ngk selingkuh"ucap Icha dengan suara serak menahan tangis.
Perlahan ia mundur menjauhi Rizki, ia cukup takut kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi dimana Rizki hampir saja membunuh dirinya, tak bisa di pungkiri ia merasa trauma ketika mengingat itu.
"ngk usah bohong anj*Ng, gue semakin benci smaa Lo, dasar wanita murahan Lo Bangs*t"bentak Rizki lalu menarik tangan Icha menuju kamar mandi.
Menghidupkan shower dengan kapasitas panas lalu memaksa Icha berdiiri dibawah shower, alhasil kulit yang putih mulus itu pun berubah menjadi merah.
"panas"pekik Icha sambil mencoba menghindari dari bawah shower, tapi Rizki tetap menahan tubuh itu supaya tetap dibawah shower itu.
"ampun Ki, saya ngk ada selingkuh"teriak Icha menangis.
"diam Lo anj*Ng. Dasar pelacur"bentak Rizki tak menghiraukan Icha yang sudah menangis.
__ADS_1
"awalnya gue ngk percaya kalau Lo hamil, tapi ketika melihat pesan itu gue semakin yakin kalau Lo benaran hamil"ucap rizki sambil menarik rambut Icha.
"gue benci sama Lo, gue benci sma anak haram dalam perut"ucap Rizki menghempaskan rambut Icha.
"sumpah demi Tuhan, kalau saya ngk hamil "ucap Icha sambil menangis.
plakkkk
"ngk usah bawa-bawa Tuhan dalam kebohongan Lo"teriak Rizki setelah menampar Icha lalu menendang perut Icha.
"sakit"pekik Icha menangis sambil satu tangan memengang perutnya yang terasa sakit dan tangan yang lain memengang pipinya yang terasa panas
"itu yang saya mau, saya mau anak diperut kami mati. Saya ngk sudi memelihara anak haram"ucap Rizki tanpa memperdulikan teriak Icha yang mengeluh sakit.
"gue kira Lo aaaaaaaaaa"teriak Rizki kehabisan kata-kata sambil memukul tembok kamar mandi.
"gue benci smaa Lo"teriak Rizki lalu keluar dari kamar mandi, tak lupa ia mengunci pintu
"Ki buka pintunya"teriak Icha sambil menggedor-gedor pintu.
"saya tidak selingkuh, saya ngk tau itu nomor siapa"teriak Icha sambil menangis.
"saya mohon buka pintunya Ki"teriak Icha lagi.
"diam"bentak Rizki sambil menendang pintu kamar dari luar.
aaaaaaaa
Teriak Rizki sambil menghempaskan semua barang-barang yang ada di meja rias.
"kenapa...? kenapa harus selingkuh..?kenapa gue selalu dihianati dengan perselingkuhan..?"teriak Rizki frustasi.
Entahlah, kenapa Rizki harus sesakit ini ketika mengetahui Icha selingkuhan padahal ketika Amara selingkuh ia tidak semarah ini.
Ketika mengetahui Icha selingkuh hatinya sangat sakit, membaca pesan selamat pagi itu hatinya terasa tersayat, padahal ia tidak punya perasaan sedikit pun kepada Icha, yang ada hanya kebencian saja
Sumpah demi apapun ia tidak pernh terima Icha selingkuh, ia ngk mau untuk kedua kalinya di hianati Icha.
Dari sekalian banyaknya penghianat, Rizki paling benci yang namanya perselingkuhan. ia tidak pernh terima dengan yang namanya perselingkuhan.
"kenapa harus sesakit ini..?"lirih Rizki sambil bersender di depan pintu kamar mandi.
TaK terasa air matanya sudah lolos begitu saja, ia benar-benar tidak mengerti dengan perasaan yang begitu sensitif tentang Icha.
Sama hal dengan Icha, bersender di balik pintu kamar mandi sambil memeluk kedua lututnya. Kulit yang putih bersih berubah menjadi merah akibat siraman air panas
Keadaan yang berantakan, rambut panjang yang berantakan, kulit yang putih menjadi merah tak ketinggalan dengan mata yang bengkak dan sudut bibir yang mengeluarkan darah meksipun sudah kering.
Tapi tetap saja tidak mengurangi penampilan Icha yang memang benar-benar berantakan.
__ADS_1
Sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit, gadis itu masih terus menangis. kejadian beberapa hari yang lalu belum bisa ia lupakan meskipun ia sudah coba sekeras mungkin.
Tapi lagi dan lagi Rizki kembali menyiksa dirinya dengan begitu sadis, padahal sejujurnya ia tidak tau siapa yang mengirim pesan kepadanya dirinya.