Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Rasa nyaman


__ADS_3

Jani mengetuk-ketuk pelan meja makan yang terbuat dari kayu jati dengan telunjuknya. Sudah pukul setengah delapan malam dan Shaka belum juga pulang. Jani mulai gusar dalam penantiannya.


Padahal ia ingin memberi kejutan pada Shaka dengan menemaninya makan, malam ini. Tapi sampai hampir satu jam menunggu, Shaka lintang belum juga pulang.


Bik Nah yang melihat Jani mulai gusar mendekat.


"Sudah malam, Non. Kalau memang Non sudah lapar ya sudah makan saja. Tidak perlu menunggu Tuan Shaka, "


Usulan Bik Nah langsung di tanggapi Jani dengan tatapan tajam. Bukan masalah lapar yang sedang di rasa gadis itu sekarang. Tapi lebih kepada perasaan paranoid yang berlebihan karena Shaka belum juga muncul. Gadis itu takut kalau di luar sana Shaka sedang bersenang-senang.


Bik Nah buru-buru menunduk menghindari tatapan mengerikan itu. Ia sadar sudah salah bicara dan membuat Jani tersinggung.


Tentu saja, Jani sudah melawan egonya untuk bisa duduk manis menunggu shaka disini. Padahal dia sudah tidak lagi membebani Shaka dengan tugas suap menyuap. Seperti tadi pagi, ia ingin makan di tempat yang selayaknya bersama Shaka. Karena entah kenapa Jani merasa sangat nyaman saat bisa makan dengan Shaka pagi tadi.


Dan malam ini ia bermaksud mengulang momen itu. Sayang nya, orang yang di nanti tak kunjung datang. Mood nya yang sejak tadi sudah cukup membaik hancur seketika.


Dengan perasaan marah, gadis itu beranjak dari duduknya. Namun saat kakinya hendak melangkah meninggalkan ruang makan, Shaka Lintang mendadak muncul.


"Jani, sedang apa kau disitu? " Shaka terkejut melihat Jani berada di ruang makan. Padahal ia berpikir akan langsung kekamar gadis itu untuk menyuapi nya makan. Tapi ternyata gadis itu malah sudah di bawah.


Jani tak menyahut, namun tatapan tajamnya ia tunjukan sebagai jawaban.


"Non Jani menungu anda sejak tadi, Tuan. Ia ingin makan malam dengan anda. " Bik Nah yang tahu seperti apa kondisi emosional Jani saat ini mewakili menjawab.


"Benarkah? " tanya Shaka tak percaya.


"Kenapa tidak memberi tahu ku, Bik. Aku kan bisa pulang lebih awal tadi. "


"Non Jani melarang saya memberi tahu Tuan. Sepertinya Non Jani ingin memberi kejutan pada, Tuan."


"Benarkah? " Lagi-lagi Shaka di buat tak percaya dengan ucapan Bik Nah.


Jani memberi kejutan dengan ingin makan malam bersama Shaka? Jujur Shaka cukup terkejut. Setelah tadi pagi ia di buat kaget karena gadis itu mau makan se-meja dengannya, kali ini Shaka lebih terkejut lagi.


"Benar, Tuan. Non Jani sudah menunggu sejak tadi. "


Oh sial ! Pantas saja tatapan gadis itu begitu mengerikan tadi. Rupanya dia marah karena sudah terlalu lama menunggu.


Dan apa itu tadi, dia ingin makan malam dengan Shaka? padahal pria itu baru saja makan di luar bersama Renisa. itulah sebabnya dia pulang terlambat malam ini. Shaka tidak bisa menolak ajakan Re untuk makan bersama.


Shaka menelan ludahnya. Ia tahu Jani pasti benar-benar marah saat ini. Apalagi kalau sampai tahu Shaka baru saja makan dengan mantan tunangannya. Pasti Jani akan mengamuk dan menghancurkan apa saja.


Tidak, tidak.. Shaka menggelengkan kepalanya. Jani tidak boleh tahu soal itu, bathin Shaka mencoba menenangkan diri.


Ia kemudian mendekati Jani dan menghadiah kan senyum semanis mungkin. Tujuannya tentu agar Jani tidak meradang.


"Kau ingin makan malam denganku? " tanyanya lembut namun di jawab dengan tatapan kasar nan mengerikan.


"Maaf membuatmu menunggu lama. Aku sangat sibuk tadi, " Shaka mencoba mengacak puncak kepala Jani namun langsung ditepis oleh gadis itu.


Shak paham kalau gadis itu pasti sedang dalam mode ganas sekarang. Meski akhir-akhir ini sudah cukup membaik, tapi tetap saja suasana hatinya akan mudah berubah jika menghadapi situasi yang bertentangan dengan kemauan nya.


Shaka menghela nafasnya. Ia mengutuki keteledoran nya malam ini. Selama ini dia sudah susah payah menyembuhkan luka di hati gadis itu. Tapi malam ini dia malah kembali menciderai perasaannya. Meski itu tak sengaja dilakukan nya, tapi tetap saja. Itu sudah membuat mood Jani anjlok.


"Kau marah padaku, " ucap nya masih dalam rangka meluluhkan hati Rinjani prameswari.

__ADS_1


"Maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau kau menunggu ku. Lain kali suruh Bik Nah memberitahuku supaya aku bisa pulang lebih cepat. "


Jani tetap tak bergeming. Ia sudah terlanjur kecewa dan tidak berniat bicara apapun malam ini. Ia bahkan sudah mulai melangkah hendak meninggalkan Shaka. Namun langkahnya berhenti karena Shaka mencekal tangannya.


"Jani.."


Shaka langsung menarik tangan Rinjani begitu gadis itu mulai beranjak. Tatapan Jani yang tak lagi mengandung kemarahan tapi justru kekecewaan yang amat dalam membuat Shaka jadi merasa sangat bersalah.


"Jani, mau kemana? kau belum makan kan? kita makan dulu yaa? "


Jani tak menjawab tapi langsung berusaha menghempaskan pegangan Shaka. Untung Shaka mencekalnya dengan cukup kuat sehingga tidak terlepas meski hentakan Jani cukup kuat.


Tatapan kekecawaan yang tadi Shaka lihat kini berubah jadi raut marah atau mungkin lebih tepatnya kedua ekspresi itu berbaur menjadi satu menciptakan wajah angker yang seolah siap menelan Shaka detik itu juga.


"Jangan marah, lain kali aku janji akan selalu menemanimu makan malam. " Tangan Shaka bergerak mengusap puncak kepala gadis itu.


Satu hal yang selalu membuat Jani luluh. Dan kali inipun sama. Tatapannya mulai meredup. Meski tadi sempat menolak tangan Shaka yang hendak mengusapnya, tapi setelah Shaka berusaha membujuknya, gadis itu luluh juga.


"kita makan sama-sama ya, aku juga sudah lapar." Shaka menuntun Jani untuk kembali ke meja makan, dan gadis itu menurut. Bahkan saat Shaka menyodorkan piring yang sudah ia isi dengan menu makan Jani, gadis itupun langsung menerima, pertanda kalau amarahnya tadi sudah mereda.


Menit selanjutnya mereka tampak khidmat menikmati santap malam bersama, meski Shaka lintang terlihat tak nyaman saat memaksa menelan makanannya. Bagaimana tidak, ia baru saja makan malam dengan Re, dan kali ini harus kembali mengisi perutnya supaya Jani tidak marah dan juga mau makan. Shaka merasa perutnya sudah mau meledak.


Usai makan malam keduanya naik secara bersamaan. Tadinya Jani bermaksud ingin langsung ke kamarnya tapi Shaka menawarkan sesuatu yang terdengar aneh menurutnya.


"Kau sudah mau tidur? "


Jani menggeleng karena ia memang belum mengantuk.


"Mau tidur di kamarku? "


Rinjani spontan menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap Shaka dengan pandangan bingung.


Mendengar alasan Shaka yang cukup masuk akal karena akal Jani memang sudah mulai bekerja dengan baik, membuat gadis itu akhirnya mengangguk.


Shaka Lintang tersenyum. Kalau tadi Jani yang terlihat bingung. Kali ini pria itupun nampak kebingungan. Apa benar ia akan membawa Jani tidur di kamar nya? Apa benar ia hanya merasa takut gadis itu menunggu terlalu lama? atau dia punya maksud lain? entahlah, akhir-akhir ini Shaka memang sering merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Tapi ya sudahlah, sudah kepalang tanggung, pikir Shaka. Ia akhirnya mengajak Jani masuk ke kamarnya.


"Kau istirahat lah dulu, aku mau mandi dulu." Tanpa sungkan Shaka melepas jas serta kemeja putihnya di depan Jani. Jani yang melihat apa yang akan di lakukan Shaka buru-buru membuang pandangannya. Gadis itu refleks melangkah menuju sofa panjang tempat Shaka biasa menonton televisi atau bersantai sebelum tidur.


Jani langsung mencari remot dan memencet tombol on. Detik berikutnya gadis itu sudah berpura-pura fokus pada siaran televisi sementara Shaka tersenyum geli melihat tingkah Jani. Ia mengutuk kebodohannya membuka baju di depan Jani yang tentu saja membuat gadis itu malu.


Shaka memang terbiasa langsung membuka baju begitu masuk ke kamarnya. Ia lupa kalau sekarang sudah ada makhluk lain selain dirinya. Tapi reaksi malu-malu Jani tadi entah kenapa begitu manis menurut Shaka.


Lucu juga Jani kalau sedang tersipu begitu, bathinnya sambil melangkah ke kamar mandi.


Sementara Shaka mandi, Jani yang tadi pura-pura nonton TV sekarang nampak mengedarkan pandangannya mengelilingi kamar Shaka. Kamar bernuansa putih itu terlihat cukup mewah. Ruang kerja yang di gabung menjadi satu ruangan membuat kamar itu terlihat sangat luas.


Tidak terlalu bnyak benda di sana. Namun justru itu yang membuat kamar itu terlihat rapi dan mewah. Hanya ada ranjang berukuran king size, lemari baju, meja televisi berikut sofa yang sedang di duduki Jani saat ini dan juga satu set meja dan kursi di sudut ruangan yang sepertinya merupakan tempat kerja Shaka.


Pandangan Jani kini tertuju pada sebuah lemari kaca di sudut lainnya dekat jendela kaca. Lemari kaca itu tidak tembus pandang sehingga membuat Rinjani penasaran akan isinya. Karena lemari itu juga seperti nya terpencil dari benda-benda lain.


Mumpung Shaka sedang di kamar mandi, Jani membunuh rasa penasarannya dengan membuka lemari itu. Gadis itu sempat di buat terkejut karena isinya ternyata hanya botol minuman. Padahal Jani pikir lemari itu berisi benda-benda penting ataupun benda antik.


Jani yang tidak tahu berbagai minuman tersebut mengambil salah satunya. Ia membaca dengan teliti. Hampir semua memakai bahasa asing. Tapi Jani yang sedikit banyak memahami bahasa asing pada akhirnya tahu kalau botol-botol itu adalah minuman beralkohol dengan kadar yang rata-rata cukup tinggi.

__ADS_1


Rinjani jadi ingat waktu Shaka seperti orang gila yang meracau sendiri di dalam kamar. Rupanya karena pria itu sedang dalam pengaruh minuman-minuman ini. Pendek kata Shaka sedang mabuk waktu itu.


Ceklek.. ! suara hendel pintu yang di baru di tarik membuat Jani terlonjak dan langsung meletakkan kembali botol minuman yang tadi di pegangnya. Gadis itu buru-buru kembali ke sofa depan televisi. Namun terlambat, sebelum Jani sampai Shaka sudah terlebih dahulu keluar. Dan sialnya, karena memang baru siap mandi, Shaka hanya mengenakan handuk sebatas pinggang layaknya orang sesudah mandi.


Rinjani yang secara tak sengaja melihat pemandangan dada bidang dan perut sixpack itu gegas melempar pandangannya ke arah lain. Dan entah kenapa dadanya mendadak jadi berdebar lebih kencang.


"Jani, kau dari mana? " Tak melihat kegugupan Jani, Shaka yang heran melihat gadis itu tengah berdiri justru bertanya. Tentu saja heran, karena setahunya tadi Jani sedang asyik menonton tv.


"Dari luar, " jawab Rinjani sekenanya karena ia tidak mungkin menjawab kalau baru saja melihat-lihat koleksi minuman beralkohol Shaka.


"Ooh, " Shaka mengangguk. Ia tahu kebiasaan Jani memang suka berdiri di balkon kamar. Pria itu berpikir Jani baru saja melihat langit malam.


Shaka kemudian berjalan menuju ruang ganti. Saat melewati Jani, Shaka melihat gadis itu menunduk, di situlah Shaka baru paham kalau Jani malu melihatnya bertelanjang dada.


Melihat itu bukannya buru-buru memakai bajunya Shaka malah justru berhenti tepat di depan gadis itu. Mendadak timbul ide gilanya untuk menggoda Jani. Selama ini dia selalu bicara serius pada gadis itu. Sesekali dia ingin mengajaknya bercanda, siapa tahu itu akan membuat pikiran Jani jadi makin tenang.


"Jani, kau kenapa? " tanyanya pura-pura heran melihat Jani tertunduk.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tetap menunduk.


"Kau marah padaku? "


"Tidak, cepatlah pakai bajumu. " Jani menjawab sambil berlalu dari hadapan Shaka. Ia kembali mendudukkan badannya di sofa panjang, sambil menetralisir aliran darahnya yang di rasanya mengalir lebih deras.


Lagi-lagi tingkah Rinjani membuat Shaka tersenyum geli. Ternyata menyenangkan sekali melihat gadis itu tersipu begitu. Gadis itu ternyata jadi makin cantik dengan rona merah di pipinya.


Shaka melanjutkan niatnya menuju ruang ganti. Pria itu memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek sebatas lutut. Terlihat sangat santai tapi tentu tidak menghilangkan kesan maskulin dan ketampanannya yang di atas rata-rata.


"Jani, " Shaka lintang kembali mendekati Istrinya.


"Aku harus menyelesaikan beberapa file, kau tidak apa kan kalau menunggu di sini? " pria itu mendudukan badannya di samping Jani, membuat gadis itu langsung beringsut.


"Hmm, " Rinjani mengangguk mantap. Rasanya menunggu disini memang cukup nyaman ketimbang sendirian di kamarnya. Toh tempat kerja Shaka juga hanya beberapa langkah dari tempatnya.


"Atau kalau kau sudah ngantuk kau bisa tidur dulu di sana. " Shaka menunjuk ranjang berukuran jumbo dengan dagunya.


"Nanti aku menyusul. "


Lagi-lagi Jani menganggukkan kepalanya sebagai jawaban persetujuan.


Shaka beranjak dari duduknya sambil mengacak- kepala Jani.


"Gadis pintar, " ucapnya seperti biasa yang di balas Jani dengan senyuman. Antara senyuman senang juga tersipu yang bergabung menjadi satu menciptakan semburat kemerahan di kedua pipi mulusnya. Shaka bahkan sampai menelan ludahnya melihat pemandangan indah itu, dan buru-buru bangkit menuju meja kerjanya


Sampai hampir pukul sebelas malam Shaka baru menyelesaikan pekerjaannya.


Pria itu meghembuskan nafas lega sambil meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku karena duduk terlalu lama.


Usai merapikan meja kerjanya, pria itu mendekati istrinya yang masih berada di sofa panjang. Shaka pikir Jani masih asyik menonton karena televisinya yang masih menyala. Tapi ternyata gadis itu sudah terlelap. Saking ngantuknya menunggu Shaka, ia sampai tertidur di sofa.


Shaka menggelengkan kepalanya. Padahal ia sudah berpesan untuk tidur di ranjang kalau sudah ngantuk, tapi dengan tenangnya Jani malah tertidur di sofa.


Shaka memperhatikan wajah yang tengah terlelap dalam damai. Hanya saat gadis itu terlelaplah Shaka bisa melihatnya dengan seksama. Entah apa yang sudah terjadi antara ia dan Jani, tapi yang jelas Shaka sangat nyaman berinteraksi dengan gadis itu.


Entah sejak kapan juga, Shaka sangat suka melihat semua tingkah Jani. Apalagi kalau gadis itu sudah mulia bersuara. Rasanya senang sekali mendengar suaranya.

__ADS_1


Terlebih hari ini, Jani bahkan mau menunggunya untuk makan malam bersama. Demi Tuhan itu perubahan yang sangat membahagiakan buat Shaka. Entah bahagia karena itu berarti Jani sudah sembuh, atau bahagia karena hal lain. Lagi-lagi Shaka pun tak tahu. Yang jelas dia merasa nyaman dan bahagia, itu saja.


Shaka membopong tubuh Jani lalu memindahkan ke tempat tidurnya. Menutup tubuh Jani dengan selimut sampai sebatas dada lalu ia sendiri pun merebahkan badannya di samping gadis itu. Rasanya nyaman sekali, senyaman tidur Rinjani saat ini


__ADS_2