Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Perasaan aneh 2


__ADS_3

Shaka menyandarkan badannya di kursi sambil menghela nafasnya dalam-dalam. Sejak tadi pagi ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Saat terbangun pagi tadi dan kembali memdapati Rinjani berada di pelukannya, Shaka merasa ada sesuatu berbeda dari hubungannya dengan gadis itu.


Setiap Shaka memeluknya, ritme irama jantungnya selalu berubah lebih cepat. Aliran darahnya juga terasa mengalir lebih deras. Shaka sering bingung sendiri kalau sudah begitu.


Bahkan tadi pagi saat ia berangkat dan menyempatkan diri mengacak rambut Jani sebagai bentuk pamit, lalu gadis itu membalasnya dengan senyuman, Shaka merasa semakin ada yang aneh. Dan lebih aneh lagi karena entah kenapa Shaka menyukai senyum itu.


"Ada apa denganku?" pertanyaan itu kembali ia gumamkan. Benar Jani itu istrinya. Tapi bukan kah dia sama sekali tidak mencintai nya. Dan Jani pun bahkan sangat membencinya. Tapi kenapa sekarang mereka bisa saling tersenyum begitu?


"Hey, Bos. " Lamunan Shaka di kejutkan oleh kehadiran, Randi. Seperti biasa, sekertaris sekaligus teman dekatnya itu tak pernah permisi kalau mau masuk ke ruangan bos besarnya. Tidak sopan sekali.


"Sudah waktunya makan siang, kau tidak keluar?" Pria itu menghampiri Bos nya yang masih termenung.


"Aku sedang tidak ingin keluar. Suruh saja seseorang mengantar makan siang ku kemari?"


"Tidak ingin keluar? tumben? "


"Ck jangan banyak tanya. Kerjakan cepat. " Shaka berdecak kesal karena menurutnya sekertaris brengs*k nya itu selalu saja mau tau urusannya. Tapi bukan Randi namanya kalau tidak mendesak. Semakin Shaka terlihat menyembunyikan sesuatu maka pria itu pasti akan semakin banyak tanya.


"Kenapa? Rinjani menyiksamu lagi, atau kau sedang rindu pada Re? "


"Re..? " Shaka mengulang nama itu. Benar, sepertinya sudah cukup lama Shaka tidak menyebut dan bahkan mengingat nama mantan tunangannya itu.


"Ya, apa kau sedang rindu padanya?"


"Rindu? Eum, aku---" Mendadak Shaka jadi bingung di tanya tentang rindu. Karena dia sendiri lupa kapan terakhir kali merindukan gadis itu. Apa mungkin kesibukannya mengurus Rinjani membuat rindu nya perlahan luntur, entahlah. Bahkan Shaka pun tak tahu.


"Entahlah." Shaka menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hey kau sudah tidak rindu padanya? atau kau bahkan sudah melupakannya? wah, wah, wah, Jani hebat sekali ya, bisa membuatmu melupakan Re, padahal sebelumnya kau sangat tergila-gila pada gadis itu. " Lihatlah, bukannya berhenti Randi malah makin sesuka hati bicara.


"Kau ini bicara apa? berhenti bicara omong kosong atau aku akan melemparkanmu keluar."


Ups, mendengar Bos dinginnya sudah mulai naik darah barulah pria itu menutup mulutnya. Tapi tetap saja dengan senyum mengejek di sudut bibirnya.


Shaka kembali menghela nafasnya. Pertanyaan Randi soal Renisa membuatnya semakin bingung. Sebelumnya dia sempat hampir gila karena dengan terpaksa harus meninggalkan gadis itu. Tapi kenapa sekarang rasanya biasa saja? seolah rasa kehilangan itu sudah sirna.Semudah itukah?


"Eum apa dia pernah menghubungimu?" tanya Shaka tiba-tiba yang membuat Randi mengernyit heran

__ADS_1


"Menghubungi ku? maksudmu Re? "


Shaka mengangguk.


"Yaah, untuk menanyakan soal aku barangkali?"


Randi nampak mengingat sejenak lalu kemudian menggeleng.


"Tidak pernah. "


"Ooh baguslah. " Shaka menghela nafasnya lega.


"Itu berarti dia benar-benar bisa menerima keputusanku. "


"Apa?" Randi menautkan alisnya heran. Sepertinya ada yang aneh dengan kalimat Shaka barusan.


"Jadi kau menanyakannya karena ingin memastikan dia bisa terima atau tidak? bukan karena kau rindu padanya? "


"Aku--ya aku--"


"Fix, kau pasti sudah melupakan nya, " potong Randi cepat demi mendengar jawaban bingung Shaka.


"Berhenti mengejek ku bodoh ! Aku sedang benar-benar bingung sekarang? "


"Hahaha..!" Mendengar temannya kebingungan justru membuat Randi terbahak. Lucu sekali melihat Shaka lintang dengan wajah bingungnya. Biasanya selama ini yang tergambar dari wajahnya tampan itu hanyalah kesan dingin dan kaku.


"Kau bingung kenapa, Tuan. Bingung dengan perasaanmu sendiri? "


Shaka menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Entahlah, " Lagi-lagi kalimat itu yang terucap menandakan dia memang tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Jangan bingung-bingung Shaka, " Randi memasang wajah sok serius.


"Jani itu istrimu. Ya tidak masalah kalau kau memang menyukainya. Yang penting satu hal.."


Randi menjeda ucapannya sambil mengangkat telunjuknya, sementara Shaka mendengarkan dengan seksama apa yang akan di ucapkan pria itu.

__ADS_1


"Kau jangan sampai ikut depresi seperti Jani."


"Hey, apa maksudmu? " Tentu saja Shaka protes dengan kalimat Randi.


"Tidak, Shaka. Aku serius ... merawat orang depresi itu melelahkan. Terkadang membuat kita jadi ikut depresi. "


"Huh, apa menurutmu aku selemah itu? " Begitulah Shaka, dia tidak pernah mau di anggap lemah oleh siapapun. Tidak peduli selelah apapun jiwanya, dia akan tetap selalu menyembunyikannya.


"Aku tahu kau itu strong, tapi biar bagaimanapun stiap orang pasti punya titik lemah dalam hidupnya."


"Cukup, cukup, Randi." Shaka mengibaskan tangannya. Ia merasa kalimat Randi sudah terlalu dalam seolah Shaka itu terlihat begitu memprihatinkan.


"Percayalah, aku tidak se-menyedihkan itu. Dulu mungkin iya, tapi sekarang sudah tidak lagi. "


"Maksudmu? apa sekarang kau menikmati peranmu sebagai perawat orang depresi? "


"Ayolah, Randi. Berhenti mengejekku. "


"Aku tidak mengejekmu, Shaka. Aku benar-benar serius bertanya. " Randi menolak di anggap mengejek karena kenyataannya dia memang agak sedikit heran dengan jawaban-jawaban Shaka tadi.


"Ku lihat akhir-akhir ini kau sudah tidak seperti orang tertekan lagi. Rinjani sudah berangsur membaik atau kau yang berangsur menikmati peranmu? "


Shaka termenung, mencermati pertanyaan Randi. Benar, hatinya memang merasa sedikit lega akhir-akhir ini. Tidak tahu karena kondisi Jani yang makin membaik atau karena dia yang terlanjur menikmati perannya. Atau karena dua-duanya, entahlah? Lagi-lagi Shaka pun tak tahu jawabannya.


"Entahlah, " Pria itu menjawab setelah sebelumnya membuang nafas kasarnya.


"Akh sudahlah, jangan membahas itu lagi." Bingung dengan pertanyaan Randi yang terus saja menyudutkan membuat Shaka akhirnya meminta pria itu untuk berhenti membahas soal Jani.


"Ya sudahlah, aku juga jadi bingung. " Randi menggaruk-garuk kepalanya sendiri seolah dia memeng tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada bos besarnya.


"Pergilah ambilkan makan siang ku sekarang, kau sudah terlalu lama membuang-buang waktuku." Usir Shaka sambil mengibaskan sebelah tangannya. Randi di rasanya sudah terlalu banyak bertanya dan hampir semua pertanyaannya sulit di jawab. Lagipula yang bos di sini kan dia, kenapa malah Randi yang jadi banyak tanya.


Randi keluar sambil mengangguk-anngukan kepalanya dengan raut wajah yang masih tampak bingung


Shaka sebenarnya kenapa ya, Jangan-jangan dia juga sudah ikut stres seperti Jani. Kurang lebih itulah yang ada di fikiran Randi sekarang.


Setelah Randi keluar Shaka entah sadar entah tidak tiba-tiba bergumam.

__ADS_1


"Seandainya kau tahu betapa manisnya Jani sekarang. "


__ADS_2