
Waktu terus berjalan, tak terasa Icha hampir tiga hari mengalami kritis dan tepat dihari keempat perlahan-lahan Icha membuka matanya. Yap cukup sudah tiga hari Icha melawan kritisnya.
Bertepatan juga selama tiga hari ini Rizki tidak datang smaa sekali untuk menjenguknya, bahkan sekedar bertanya soalnya kondisinya Icha tidak ada.
Selama tiga hari ini Rizki menyibukkan diri dengan kuliah dan kekantor, berhubung rizki sudah masuk semester akhirnya jadi akhir-akhir ini ia harus fokus dengan skripsi nya.
Setelah kondisi sudah baikan, akhirnya di hari ke lima dirawat, ia pun diperbolehkan pulang.
Tapi kepulangan Icha saat ini sedikit berbeda, bukan kerumah mertuanya atau pun kerumahnya melainkan ke sebuah apartemen yang tidak jauh dari kampus.
Semua itu keputusan tuan Reza yang tidak ingin mendekatkan Icha dengan Rizki, jadi ia memutuskan untuk menyuruh Icha tinggal di apartemen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua minggu telah berlalu, hari-hari Icha berjalan begitu saja tanpa gangguan dari Rizki, selama dua minggu belakangan ini ia tidak lagi mendengar bentakkan Rizki, hinaan Rizki dan tindakan kasar Rizki.
Rasanya Icha seperti kembali ke hidup nya yang duluh sebelum bertemu dengan Rizki, jika duluh Icha kuliah dan bekerja maka berbeda sekarang ia hanya fokus untuk kuliah saja.
Ia ingin cepat menyelesaikan semester ini dan segera pindah dari kota ini. Melupakan semua yang pernh ia alami selama tinggal di kota ini.
Soalnya kepindahannya ia juga sudah konfirmasi dengan tuan Reza dan tuan Reza menyetujui dan sudah mengatur semuanya akan kemana Icha pindah nantinya.
Seperti hari ini, setelah melewati lima hari akhirnya UAS untuk menutupi semester pun telah selesai dan tak terasa pun libur semester telah usai, sehingga mahasiswa sudah mulai mengurus dokumen yang digunakan untuk melanjutkan ke semester selanjutnya.
Jika mahasiswa lagi mengurus dokumen untuk melanjutkan semester maka berbeda dengan Icha yang mengurus untuk perpindahan mahasiswa dan bukan pertukaran mahasiswa.
"bagaimana pak, apakah semuanya sudah beres..?atau masih ada dokumen yang belum lengkap"ucap Icha kepada bagian fakultas.
"semuanya sudah beres, besok kamu datang aja lagi untuk mengambil dokumen yang akan kamu serahkan kepada instansi kampus yang akan kamu tuju"
"baik pak, kalau begitu terimaksih"
"tapi apakah kamu memang bertekad untuk pindah..?perlu kamu tau salah satu perusahaan terbesar di kota ini memberikan kesempatan buat kamu magang di perusahaan mereka, apakah kamu tidak ada niatan untuk mengambilnya..?"
"keputusan syaa sudah bulat pak, saya harus tetap pindah dari sini"
"baiklah, semoga kamu sukses di kampus kamu yang baru"
Setelah menyelesaikan urusannya, Icha pun keluar dari fakultas dan langsung berjalan menuju kantin.
Sambil menunggu pesanan datang, Icha pun bermain ponsel untuk mengurangi kebosanan nya.
"Cha"pekik Shifa mengejutkan Icha.
"astga Shif, kamu mengejutkan aku"
"katakan kalau berita yang aku dengar itu tidak benar kan"ucap Shifa sendu
"berita yang mana..?"ucap Icha bingung.
"aku dengar tadi kamu mau pindah dari kampus ini"ucap Icha sambil memengang kedua tangan Icha.
__ADS_1
"bagus deh kalau kamu sudah tau, jadi aku ngk pusing menjelaskan kepada kamu"ucap Icha membuang tatapan ke arah lain. Tapi entah takdir apa ngimna tatapan Icha tabrakan dengan Rizki yang kebetulan menatap kearah mejanya juga, tapi Icha langsung memutuskan tatapan itu.
Setelah hampir tiga minggu ia tidak bertatapan dengan Rizki, untuk pertama kalinya ia menatap Rizki kembali walaupun hanya sekilas saja.
"kenapa harus pindah sih..? kan kamu disini udah dapat beasiswa lalu apa yang kurang"
"ngk ada yang kurang Cha, bahkan semua ini berlebihan. Aku hanya ingin merasakan menimbah ilmu di kampus lain aja"
"tapi kan kamu bisa lanjut S2 di kampus lain. selesai duluh S1 disini"
"kelamaan Shif.agian aku pindahnya ngk jauh kok"
"tapi tetap saja Cha, kita akan pisah"
"ngk pisah Shif, aku janji sekali sebulan aku akan balik ke kota ini menemui kamu"
Icha dan Shifa akhirnya berbicara dimana, Shifa yang membujuk Icha supaya tidak pindah, berbeda dengan Rizki dimeja lain.
Dengan kedua tangannya mengepal dan mata nya tak lepas dari meja Icha. Shifa yang merengek dan Icha yang bersih tegas untuk pindah semua di lihat oleh Rizki.
"segitunya Lo menghindari gue, tapi kita lihat saja gue ngk akan membiarkan Lo meninggalkan kota ini. Walaupun Lo harus tetap meninggalkan kota ini, gue akan ikut bersama Lo"guman Rizki sambil menatap meja Icha dan Shifa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai dari kampus, Icha langsung pulang ke apartemen untuk istirahat. Ia tidak bekerja lagi karna tuan Reza melarangnya, apalagi tuan Reza sudah membiayai dirinya sebagai menantu.
"hah, kok bisa pintunya ngk terkunci..? perasaan tadi pagi aku kunci kok"guman Icha ketika membuka pintu apartemen ternyata pintu sudah terbuka. Padahal seingatnya pintu apartemen telah di kunci dengan sangat rapat.
Kalau pintu sudah terbuka begitu, lalu siapa yang membuka pintu. Padahal tidak ada yang tau kalau ia tinggal disini selain tuan Reza dan nyonya Nawang.
"lamanya Lo pulang, sampai bosan gue nunggu nya"ucap Rizki menatap jenggah Icha.
deg
Mendengar suara itu seketika jantung Icha seperti berhenti berdetak, dan setelah beberapa minggu belakangan ini ia tidak pernh mendengarkan suara itu lagi.
Takut
Pasti, rasa takut selalu muncul ketika mengingat kejadian beberapa minggu lalu waktu dikamar mandi. Jujur saja sampai sekarang ia tidak bisa melupakan kejadian itu, kejadian dimnaa nyawanya benar-benar di ujung tanduk.
"riz, Rizki"guman Icha lirih sambil menekan rasa takut nya.
"Hem"
"gapain kesini..?dan tau dari mana kalau syaa tinggal disini"ucap Icha mencoba menahan rasa takutnya.
"salah kalau gue nemuin istri gue disini..?lagian dimana suami tinggal harusnya istri juga tinggal disitu, jadi berhubung istri gue mau disini dan gue sebagai suami yang baik gue nurut apa mau istri aja"
"hah iyh, istri iyh"ucap Icha kikuk.
Terlalu asyik dengan dunia barunya sehingga Icha melupakan sejenak statusnya yang sudah menjadi istri. Apalagi beberapa Minggu belakangan ini Rizki memang tidak ada muncul dihadapan nya.
__ADS_1
"gua haus"ucap Rizki menyadarkan Icha dari lamunannya.
"ahh iyh, bentar saya ambilkan duluh. Btw mau minum apa..?"ucap Icha gugup.
Berbeda dari sebelumnya, bertemu kembali dengan Rizki membuat Icha tiba-tiba gugup, apalagi Rizki cukup banyak berubah tidak dingin dan tidak ketus kepadanya, wajahnya pun terlihat bersahabat.
"air dingin aja"ucap Rizki tanpa menatap Icha.
Icha langsung berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa jenis minuman dan juga cemilan.
"saya ngk tau selera mu dan disini hanya ada minuman ini saja"ucap Icha sambil menyodorkan beberapa jenis minuman dan juga makanan ringan.
Beberapa saat hanya ada keheningan antara Icha dan Rizki, Icha yang sibuk dengan berbagai pertanyaan dibenaknya sedangkan Rizki menatap Icha dengan tatapan sulit diartikan, seperti banyak pertanyaan yang akan Rizki tanyakan kepada Icha.
"jadi pindah..?"ucap Rizki mengisi keheningan.
"gue butuh jawaban bukan anggukan"ucap Rizki dingin karna respon Icha mengangguk saja.
"jadi"ucap Icha singkat.
"kenapa belum diskusi sama gue..? atau Lo izin duluh sama gue"ucap Rizki dingin "Lo tau kan kalau sekarang Lo udh bersuami..? apa-apa itu ngomong smaa suami duluh"
"tadi mau ngomong tapi beberpa minggu ini kita jarang bertemu jadi ngk sempat buat ngomongin"
"bukan jarang bertemu tapi Lo yang selalu hindari gue"
Sedangkan Icha hanya diam saja sambil menunduk kepala, ia tau kalau Rizki akan marah besar dengan berita kepindahan dirinya. Icha cukup sadar dengan kesalahan nya, meskipun ia terpaksa menikah dengan Rizki tapi biar bagaimana sekarang Rizki sudah menjadi suaminya. Sudah sewajarnya apa-apa itu harus diskusi duluh.
Tapi kembali lagi ke Icha, ketika melihat kelakuan Rizki selama mereka menikah dan tujuan Rizki menikahinya seharusnya tidak perlu lagi ia berdiskusi tentang apapun dengan Rizki.
"kenapa harus pindah sih..?, emang ngk ada cara lain untuk menghindari gue..?"
"saya bukan menghindari kau, tapi ini memang keinginan saya sejak duluh, ingin meninggalkan kota ini"ucap Icha mencari alasan tanpa menyinggung Rizki.
"bohong"bentak Rizki sambil meremas bekas minuman yang diberikan Icha ",gue tau Lo seperti apa ketika jujur dan ketika berbohong"
"gue tau alasan Lo pindah dari kota ini supaya tidak ketemu lagi smaa gue kan..?"
"lalu kalau anda sudah tau alasan saya meninggalkan kota ini gapain lagi bertanya seperti kepada syaa..?yah, memang alasan pindah hanya saya ingin menghindari anda"
"saya cepak, kemana-mana saya pergi wajah anda selalu berkeliaran dimana-mana, kekerasan yang anda berikan kepada syaa selalu terlintas di pikiran saya, kalimat penghinaan yang ada lontarkan kepada syaa selalu menari-nari ditelinga sya. Saya juga ingin hidup tenang, beraktivitas seperti biasa, meraih masa depan syaa. Karna masa depan saya bukan hanya tentang anda"ucap Icha mengeluarkan semua unek-unek nya selama ini.
"dan sya akan pastikan kalau masa depan mu hanya tentang saya, tidak ada yang lain"teriak Rizki, bukan tersentuh ketika mendengar isi hati Icha Rizki malah semakin terbawa emosi. entahlah mungkin hati sudah tertutup.
"Lo tinggal milih, Lo sendiri atau gue yang membatalkan kepindahan Lo"ancam Rizki "kalau sempat Lo ngk batalkan, gue sendiri yang akan membunuh Lo"ancamannya tak main-main kali ini.
"Lo mau apa sih dari gue..?salah gue sama Lo itu apa..?tolong.!!Lo jangan mengendalikan diri gue, gue juga punya hak atas diri gue sendiri"lirih Icha sambil menarik rambutnya frustrasi.
Tertegun
Ketika mendengar Icha mengucapkan lo-gue, sejenak Rizki tertegun, karna selama ini Icha selalu bersikap formal kalau bersama dirinya, tidak pernh terucap lo-gue atau pun aku-kamu.
__ADS_1
Untuk memendap emosinya supaya tidak melunjak dan berakhir menyakiti Icha lagi Rizki memilih meninggalkan Icha, bukannya meninggalkan Icha dengan keluar dari apartemen tapi berjalan menuju kamar Icha..
Sedangkan Icha hanya menatap sendu punggung Rizki, marah, kesal, capek, muak datang secara bersamaan. Ingin rasanya ia teriak saking lelahnya tapi teriak itu seperti ditahan dengan sebuah bongkahan batu.