
Hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan Shaka, biasanya setiap tahun selalu di adakan pesta untuk mengenang hari lahirnya raksasa bisnis yang kendalinya di pegang oleh pria tampan itu.
Dan pagi ini sekertaris hambel nya sedang memberikan laporan tentang persiapan untuk acara nanti malam.
"Persiapan sudah hampir seratus persen, Bos. Hanya tinggal melengkapi kekurangan-kekurangan kecil saja. "
Shaka mengangguk-angguk mendengar laporan Randi.
"Bagus, selesai kan semua tepat pada waktunya. Aku tidak mau ada kesalahan. "
"Siap, Bos. Kau tenang saja," ucap Randi menanggapi mandat bos besarnya.
"Kau hanya perlu datang laksana pangeran tampan dalam negri dongeng ... jangan lupa membawa cinderela-mu. "
"Cinderela? " Shaka mengulang kata itu. Ada yang aneh menurut nya. Apa yang Randi maksud dengan 'Cinderala' itu adalah--
"Ya tentu saja. Kau tidak mungkin datang seorang diri kan? semua orang juga sudah tahu kalau kau sudah beristri. Kalau kau datang sendiri, mereka pasti akan beranggapan kalau rumah tanggamu tidak harmonis. "
Sebenarnya ucapan Randi ada benarnya. Tapi mengingat kondisi istri Shaka yang seprti itu, apa mungkin dia bisa dia ajak ke keramaian? Shaka bahkan belum pernah sekalipun mengajak Jani pergi keluar.
"Tapi mereka tidak tahu seperti apa kondisi, Jani."
Randi nampak berpikir. Sepertinya ucapan Shaka membuatnya tersadar kalau istri Bos-nya itu sedikit berbeda.
"Benar, lagipula Jani juga belum tentu mau di ajak ke tempat keramaian seperti itu ... Tapi kalau tidak dengan Jani, lalu dengan siapa kau akan pergi? "
"Hey kenapa bingung-bingung? kan ada aku." Renisa entah kapan datangnya tahu-tahu sudah berada di ambang pintu. Sepertinya gadis itu baru saja menguping pembicaraan Shaka dengan asistennya.
"Re, " ucap Shaka heran sementara Randi nampak tertegun tak percaya.
"Bukankah kalian sudah tidak bersama, tapi kenapa dia masih seenaknya saja keluar masuk ruangan mu tanpa permisi?" Randi berbisik mengutarakan keheranan-nya.
Shaka mengangkat kedua bahunya sebab ia sendiri memang tidak tahu kenapa mendadak Re muncul ke ruangannya. Bahkan saat hari masih sepagi ini.
"Kenapa kalian terkejut begitu? bukankah benar yang aku bilang tadi, cuma aku yang pantas mendampingi Shaka untuk pesta nanti malam. Lagipula tahun-tahun sebelumnya juga begitu kan?" Re mendekat. Mematahkan keraguan sekaligus keheranan dua pria tampan di depannya.
"Tapi bukankah kalian---"
"Randi.. " Shaka memotong ucapan Randi.
"Keluarlah, biar aku yang bicara dengannya." Perintahnya kemudian sambil mengangkat dagunya menunjuk pintu keluar.
Randi mengangguk paham. Benar, sepertinya akan lebih baik kalau Shaka yang mengingatkan soal hubungan mereka. Tapi tetap saja pria itu bingung. Re bersikap seolah-olah Shaka itu masih jadi miliknya. Atau jangan-jangan mereka---
Akh entahlah. Randi keluar sambil menggelengkan kepalanya sendiri. Tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Shaka dan Re.
"Re, ada apa datang sepagi ini? dan tolong lain kali sebelum datang minta izin dulu. Ini kantor Re, bukan taman bermain."
"Hey, apa kau sedang menegurku? bukankah dulu aku bisa datang dan pergi sesuka hatiku?" Re memprotes ucapan Shaka. Seperti tak Terima Shaka baru saja menegurnya.
"Tapi itu dulu, Re. Sekarang lain cerita. Semua orang tahu kalau aku sudah beristri dan bukan kau istriku ... Apa kata mereka kalau kau sering datang ke ruangan ku? "
Renisa tertunduk. Ucapan Shaka di rasanya cukup menyudutkan, meskipun memang benar adanya, tapi tetap saja gadis itu keberatan dengan penjelasan Shaka.
"Ku pikir kau masih milikku, makanya aku keluar masuk se suka hatiku."
Shaka menghela nafasnya. Sejujurnya ia iba melihat Re. Ia adalah korban dari keadaan yang tidak berpihak padanya. Ia tidak tahu apa-apa soal kematian Rayan, tapi menjadi korban karena harus kehilangan Shaka secara tiba-tiba. Shaka tahu pasti berat bagi Re untuk menerima itu semua. Meski ia sempat beberapa saat mengikhlaskan, tapi pada akhirnya gadis itu berontak dan kembali ingin memperjuangkan apa yang seharusnya jadi miliknya.
Shaka tak sepenuhnya menyalahkan Re atas apa yang ia lakukan. Sekali lagi Re hanyalah korban yang sedang berusaha mempertahankan apa yang seharusnya menjadi haknya.
__ADS_1
Sekarang permasalahannya adalah Shaka bingung bagaimana harus bersikap. Jujur perasaan sayang pada Re masih ada, tapi pernikahannya dengan Jani juga tidak bisa di anggap main-main. Terlebih saat ini, meskipun belum berani mengakui, tapi Shaka mulai merasa tertarik dan nyaman dengan Jani.
Sungguh sebuah dilema yang sedang di hadapi pria berwajah tampan itu.
"Ya sudah lupakan, " Shaka mengibaskan tangannya. Tak ingin terbawa perasaan melihat Re yang tertunduk pilu
"Sekarang katakan ada apa kau datang sepagi ini?"
Renisa mendongak. Ia terlihat senang karena Shaka sepertinya sudah tidak mempermasalahkan kedatangannya yang tanpa izin.
"Seperti yang aku bilang tadi. " Gadis itu duduk di kursi depan meja kerja Shaka.
"Aku ingin menemanimu di pesta nanti malam. Aku tahu hari ulang tahun perusahaan mu. Makanya aku datang pagi-pagi begini. Aku ingin tetap bisa mendampingimu."
Shaka kembali menghela nafasnya. Bingung bagaimana menjelaskan pada gadis yang tidak juga mengerti ini.
"Re, mana mungkin aku membawa mu. Mereka semua tahu kau bukan istriku ... kalaupun aku tidak bisa datang bersama Jani, tapi tetap saja aku tidak bisa bersamamu. Tolong kau jaga nama baikku."
"Jadi lagi-lagi aku harus mengalah pada Jani? bukankah aku sudah banyak berkorban untuk gadis itu? " Intonasi suara Re mulai berubah. Jengah harus terus mengalah.
"Aku tahu kau sudah banyak berkorban, dan aku sangat menghargai itu. Tapi kondisi saat ini memang tidak memungkinkan kita untuk tampil berdua ... Kalau kau memang ingin bersama denganku, setidaknya cari tempat yang aman, bukan di ruang publik seperti nanti malam."
Entah benar atau tidak yang di ucapkan Shaka, tapi yang jelas itu seperti angin segar bagi Re, karena secara tidak langsung Shaka sedang memberinya lampu hijau untuk mereka bisa berkencan secara sembunyi-sembunyi.
"Benarkah, kita bisa bebas bertemu asalkan tidak di tempat umum? "
Pertanyaan yang langsung membuat Shaka tertegun. Pria itu sadar kalau ia baru saja salah bicara.
"Eum maksudku---"
"Baiklah kalau begitu. " Tak membiarkan Shaka meralat kalimatnya, Re buru-buru menyela.
"Hah..? "
Shaka makin melongo dengan keputusan sepihak Re, tapi entah kenapa dia tidak bisa menolaknya.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Aku tidak akan mengganggu." Merasa sudah mendapat kepastian, Renisa beranjak dari duduknya lalu menghampiri Shaka.
"Yang penting besok malam kau sepenuhnya jadi milikku. "
Cup... gadis itu mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi kiri Shaka dan sama seperti kemarin, Shaka pun tidak berusaha menolak.
"Aku pergi dulu ya, sampai jumpa besok malam, Sayang, " pamitnya dengan suara yang di buat selembut mungkin.
Shaka seolah membatu di tempat nya. Tak tahu harus bereaksi apa, ataupun menjawab apa. Ia hanya diam sambil terus memandangi punggung Re yang berjalan keluar.
Setelah Renisa benar-benar sudah keluar. Shaka memegang bekas kecupan Re. Ada sedikit getaran saat Re mendaratkan bibirnya tadi. Apa itu pertanda kalau Shaka memang masih menyayanginya? lalu bagaimana dengan Jani. Bukahkah dia juga sudah cukup nyaman dengan gadis itu?
"Aarrggh.. " Shaka mengacak rambutnya sendiri. Sungguh keadaan yang sangat membingungkan baginya. Ia bahkan tak tahu bagaimana harus mengambil sikap.
Kebingungan yang bahkan terbawa sampai ia pulang ke rumah sore ini. Dan bertambah bingung saat ia melihat Jani. Gadis itu tengah berada di taman depan di dekat kolam ikan hias.
Shaka Lintang benar-benar bingung apakah akan mengajak Jani nanti malam atau tidak.
Pria itu memperhatikan Jani usai turun dari mobilnya. Ia memperhatikan tanpa berkedip. Entah karena sedang di landa kebingungan atau karena terpukau melihat gadis itu yang sore ini nampak sangat segar dengan kasus berwarna putih serta hot pants yang memperlihatkan kaki jenjangnya.
Tanpa sadar Shaka tersenyum. Rasanya menyenangkan sekali kalau setiap pulang kerja di sambut dengan pemandangan indah seperti ini. Dan kalau sudah begini maka bayangan Re pasti akan langsung menghilang dengan sendirinya.
"Jani, " panggil Shaka pada gadis yang tengah fokus memperhatikan koleksi ikan hias miliknya.
__ADS_1
Gadis itu menoleh dan tersenyum. Senyum yang membuat Shaka mendadak menjadi gugup.
"Sedang apa? tumben di luar? " Shaka berjalan mendekati gadis itu sambil berusaha melebur perasaan aneh yang kerap menganggunya saat berada di dekat Rinjani.
"Tidak ada, hanya cari udara segar saja, bosan di dalam terus. "
Kalau Shaka tidak salah, ini adalah kalimat Jani yang paling panjang selama mereka tinggal serumah. Biasanya gadis itu hanya akan menjawab sepatah dua kata saja.
"Kau bosan di rumah terus? "
"Hmm." Rinjani menjawab jujur. Tapi tentu saja ia tak berani jujur kalau rasa bosannya akan langsung hilang begitu Shaka pulang.
"Mau ku ajak makan di luar? " Shaka merasa ini kesempatan yang pas untuk menyampaikan maksudnya. Kata 'bosan' dari Jani memberinya jalan untuk mengajak nya ke pesta malam nanti.
"Kemana? "
"Eum hari ini perusahaan ulang tahun, jadi malam nanti akan ada pesta kecil-kecilan. Kau mau datang? "
"Pesta? " gumam Rinjani. Ekspresi nya langsung berubah mendengar kata itu. Dalam benaknya langsung terlintas kalau di pesta pasti banyak sekali orang. Semenjak meninggalnya Rayan, entah kenapa Jani sangat tidak suka berada di keramaian.
"Eum aku---"
"Tidak apa, Jani. Tidak masalah kalau kau memang tidak bisa ikut. Aku paham kau pasti tidak suka keramaian. "
Melihat ekspresi Jani yang mendadak berubah membuat Shaka akhirnya paham, kalau orang yang mengalami depresi pada umumnya memang lebih suka menyendiri. Yah meskipun Jani sudah semakin membaik tapi tetap saja gadis itu belum siap untuk datang di tempat umum, terlebih ia akan hadir sebagai Nyonya dari pemilik perusahaan. Tentu itu butuh kekuatan mental, sedangkan mental Jani baru mulai mendekati normal. Jadi Shaka pikir tak masalah kalau nanti malam dia harus hadir tanpa cinderela-nya. Ia bisa membuat alasan kepada semua orang kalau istrinya sedang sakit.
Jani mengangguk. Sepertinya diam di rumah memang lebih baik ketimbang datang ke pesta yang ia sendiri belum siap melakukannya. Lagipula Shaka juga tidak mempermasalahkan kalau Jani tidak bisa ikut. Tentu saja, mana mungkin pria itu marah. Baginya tak masalah Jani tidak ikut, karena melihat gadis itu sudah sering keluar rumah saja sudah merupakan suatu anugrah.
Alih-alih marah, Shaka justru tersenyum sambil mengacak kepala gadis itu sebelum akhirnya masuk ke rumah untuk membersihkan diri.
Pukul tujuh lebih beberapa menit, Pria tampan yang tingginya setara dengan para pemain basket profesional itu sudah bersiap meluncur ke lokasi pesta. Jani tidak bisa ikut jadi mau tidak mau ia harus pergi sendiri.
"Shaka.. "
Shaka yang sudah berada di ruang tengah dan bersiap keluar mendadak menghentikan langkahnya karena ada yang memanggil, dan kalau tidak salah itu adalah suara Rinjani.
Shaka terdiam di tempatnya. Seperti tidak percaya kalau Jani baru saja menyebut namanya. Sebab hal itu memang tidak pernah terjadi selama beberapa bulan pernikahan mereka.
Untuk memastikan kalau suara barusan adalah milik Jani, Shaka lintang menoleh dan ... bola matanya nyaris melompat keluar melihat penampakan Rinjani.
Gadis itu memakai dress tanpa lengan di atas lutut berwarna hitam dengan sedikit corak putih yang sangat pas membalut tubuh indahnya, juga sangat kompak dengan jas Shaka yang juga berwarna hitam. Rambut Jani yang panjang ia biarkan terurai dengan hanya mengikat sedikit bagian depannya ke belakang. Riasan wajah yang flawless membuat wajahnya tampak segar merona.
Demi Tuhan Shaka terkejut bukan main melihat istrinya yang mendadak berubah menjadi berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Baru saja ia di buat terkejut karena Jani sudah mau menyebut namanya, Dan sekarang jantung nya di paksa bekerja lebih keras melihat transformasi Rinjani yang tampilannya tak ubahnya seperti Dewi.
"Ja--Jani, kau---"
"Aku mau ikut, " kalimat yang makin membuat Shaka rasanya seperti sudah tidak berpijak di tempatnya.
"Benarkah..?" tanyanya tak percaya.
"Hmm, bolehkan? "
Shaka tersenyum. ia berusaha mengumpulkan semua kesadarannya bahwa gadis yang saat ini telah berdiri di depannya memang benar Rinjani istrinya. Memang benar Rinjani yang telah sembuh dari luka hatinya. Dia bahkan sudah mau berhias malam ini.
"Tentu." Shaka mengulurkan tangannya bermaksud menggandeng Rinjani. Kalau gadis itu bersedia ikut seharusnya dia juga tidak akan keberatan kalau Shaka menggandengnya. Dan dugaan Shaka benar, Jani langsung menyambut uluran tangannya.
Detik berikutnya kedua insan yang masih ambigu dengan perasaan masing-masing itu berjalan ke luar rumah lalu kemudian meluncur ke tempat pesta.
Jujur masih ada perasaan takut di hati Jani. Namun setelah berperang hebat dengan perasaannya, gadis itu akhirnya memutuskan untuk ikut. Toh ada Shaka yang akan selalu menjaganya jika mungkin nanti dia merasa tidak nyaman disana.
__ADS_1