Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
bab 14


__ADS_3

ketika hari sudah siang Rizki keluar dari kamar dengan keadaan rumah sudah sepi, pasti orang tuanya sudah beraktivitas.


Sama hal dengan dirinya, tanpa membuka pintu kamar mandi, Rizki meninggalkan rumah bahkan ia tidak memikirkan keadaan Icha yang terkurung di kamar mandi, ia masih sangat benci dengan Icha dan ia akan mencari tau siapa yang berani mengirim pesan itu.


Biasa pagi Rizki akan ke kampus, tapi karna ini memang sudah siang jadi Rizki berangkat ke kantor, sebelumnya ia sudah mengambil nomor yang mengirim pesan itu dan tak lupa ia juga menyadap ponselnya Icha. Ia tidak mau kecolongan lagi.


"selidiki nomor yang saya kirim, saya mau hasilnya sore ini juga"


"baik tuan"


Setelah Edo keluar dari ruangannya lagi-lagi Rizki tidak bisa fokus bekerja padahal dokumen cukup banyak menumpuk di atas meja.


Sambil memijit kedua pelipisnya ia memikirkan nasip pernikahan dirinya dengan Icha akan dibawah kemana. Ia mempunyai prinsip menikah sekali seumur hidup, tapi kalau seperti ini jujur ia tidak yakin bisa mempertahankan rumah tangga ini.


Apalagi ketika mengingat tujuannya menikahi Icha dan yang begitu membenci Icha. Tak ada sedikit pun rasa cintanya kepada Icha untuk saat ini, tapi kita tidak tau perasaan seseorang. Dalam hitungan detik Tuhan bisa membolak-balik perasaan seseorang.


Waktu terus berjalan, tak terasa hari mulai sore dan beberapa karyawan sudah mulai keluar dari perusahaan. Tapi tidak dengan Rizki, ia masih setia menunggu hasil dari Edo tentang nomor itu.


"permisi tuan, saya sudah mendapat fakta tentang nomor itu"


"bacakan"


"pemilik nomor itu bernama Arya Wiguna, bekerja disalah satu rumah sakit di kota ini"


"dari penyelidikan syaa, dia tidak ada hubungan dengan nona Icha. Bahkan bisa syaa pastikan kalau nona Icha tidak mengenal dia"


"kecuali.._-"ucap Edo terjedah mengambil napas


"kecuali apa"ucap Rizki memotong ucapan edo.


"kecuali jika nona Icha mengingat kalau dokter Arya pernh merawat nona Icha dirumah sakit selama tiga hari dan juga membiayai administrasi nya dengan potongan gajinya selama sebulan"


"merawat dirumah sakit"beo Rizki bingung, sejak kapan Icha pernah dirawat dirumah sakit dan kenapa dia tidak tau.


Ditengah kebingungan nya tiba-tiba saja ponsel Rizki bergetar pertanda ada telpon masuk.


"......................."


Tanpa memberikan kesempatan Rizki untuk menjawab sambungan telepon sudah terputus, kalau sjaa itu bukan dari tuan Reza sudah pasti Rizki akan mengumpat si pelaku.


Tapi mau ngimna lagi, segalak-galaknya dia tetap saja akan tunduk kepada perintah mamah dan papahnya.


"kita kerumah sakit"ucap Rizki dengan raut wajah yang khawatir.


Melihat reaksi tuannya tanpa banyak tanya dan tanpa pikir panjang Edo langsung mengikuti Rizki, mengimbangi langkah Rizki yang lebih lebar dari biasanya.


"kita kerumah sakit mana tuan"


"rumah sakit*******, lebih cepat do"ucap Rizki tidak sabaran.


Entah apa tadi yang di ucapkan oleh si penelepon sehingga membuat Rizki sekhawatir itu, Edo hanya mengikuti arahan Rizki saja.

__ADS_1


Setelah sampai di lobby, Rizki langsung berlari menuju meja resepsionis.


"ruangan atas nama Icha Humaira Arshad dimana"


"VIP mawar tiga lantai tiga"


Tanpa pikir panjang Rizki langsung berlari menuju lift dan menuju lantai tiga.


Mawar tiga


Sampai di depan ruangan ternyata tuan Reza , mamah Nawang dan juga dua orang pelayan sudah menunggu di depan ruangan itu.


"mah pah, apa yang terjadi..?kenapa dia sampai masuk rumah sakit?"


plakkkk


Bukannya menjawab tuan Reza malah menampar pipi Rizki dengan sangat kencang sedangkan mamah Nawang hanya menatap putra dengan tatapan sendu. Untuk pertama kalinya dua lelaki dihidup nya itu berbuat kasar satu sama lain.


"kamu masih bertanya apa yang terjadi..?harusnya papah yang bertanya kenapa Icha bisa sampai terkurung dikamar mandi..?"bentak tuan Reza yang tidak bisa menahan emosinya.


"kalian satu kamar tapi kenapa Icha bisa terkunci di kamar mandi dengan kondisi yang mengenaskan, pipi bengkak dan hidungnya mengeluarkan darah. Kamu apakan Icha hah..?belum cukup kekerasan yang kau berikan beberapa hari yang lalu..?"


"sejak kapan papah mengajari kamu sebagai seorang pendendam..?rendahan sekali caramu itu"


"kalau saja pelayan terlambat papah pastikan Icha sudah tinggal nama"


"kalau memang niat memindahkan Icha ke kamar mu supaya bisa kau siksa papah akan pindahkan Icha ke apartemen"


"papah sedang tidak meminta persetujuan dari kamu"bentak tuan Reza memotong ucapan Rizki.


Sedangkan Rizki hanya diam saja, bahkan ketika tuan Reza menamparnya tidak ada reaksi sedikit pun.


Ingin rasanya ia mencari pembelaan dengan teriak kalau Icha selingkuh. Tapi pada kenyataannya Icha ngk ada selingkuh, murni nomor itu tidak dikenali oleh Icha, lalu pembelaan apa lagi yang harus ia katakan..?


Fix dalam kejadian hari ini ia mengaku salah, ia benci dirinya yg tidak bisa mengendalikan emosi, ia benci dirinya yang selalu gegabah dan tidak menyelidiki tentang segala sesuatu nya.


clek


"bagaimana keadaan menantu syaa dok..?"ucap tuan reza


Sejenak dokter menarik napas lalu membuang-buang secara kasar.


"kondisi pasien kritis selain mentalnya yang benar-benar terguncang bagian perutnya lebih tepatnya limpa nya sobek, sepertinya perutnya habis kena benturan yang cukup keras"


"tapi tak perluh khawatir, kami sudah memberikan obat yang bisa mengobati luka sobet itu. Saran saya untuk ke depannya kondisi pasien tolong lebih diperhatikan, mentalnya saat ini benar-benar terguncang"


"kalau begitu kami permisi"


Setelah dokter pergi tuan Reza langsung menatap tajam Rizki, ia yakin kalau Rizki bukan hanya menampar atau pun menyiram Icha pakai air panas.


"apa yang kamu lakukan Ki, sampai perut Icha cedera begitu"bukan tuan Reza yang bertanya tapi nyonya Nawang.

__ADS_1


"puas kamu sekarang, Icha sudah kritis dan semua itu gara-gara kamu, puas kamu hah"bentak tuan Reza menatap tajam Rizki.


"awalnya papah ngk terlalu memikirkan soalnya kekerasan yang kamu berikan kepada Icha, karna papah yakin kalau kamu tidak akan bertindak di luar batas. Tapi apa..?sekarang Icha kritis gara-gara kamu, jangan harap papah membiarkan kamu bertindak terlalu jauh lagi"


"jangan pernh sentuh icha seujung kuku pun. Persetanan dengan balas dendam kamu itu, entah apa yang kamu banggakan dari Amara itu"


"kau bela mati-matian Amara yang sudah selingkuh dari kamu"


Sedangkan Rizki hanya diam saja tanpa ada mencelah ucapan papahnya.


Sejenak Rizki terteguh ketika dokter mengatakan kalau Icha saat ini sedang kritis. Ternyata dia sejauh itu bertindak dengan sangat brigasnya, ia tak pernah menyangka kalau perbuatan akan membuat Icha sampai kritis.


"kamu mau kemana..?"tanya tuan Reza


"Rizki mau lihat keadaannya pah"ucap Rizki hendak masuk ke kamar inap Icha.


"ngk boleh, jangan pernh injakkan kaki di ruangan ini. Keluar kamu"


"tapi pah. Niar bagaimana pun Icha itu istri Rizki, dan Rizki berhak tau bagaimana kondisinya"


"lalu kalau Icha istri kamu berhak juga menyiksanya begitu..?"ucap tuan Reza yang membungkam mulut Rizki.


"biarkan aja Rizki ikut masuk pah"ucap Nawang.


"ngk mah, untuk kali ini papah ngk akan izinkan Rizki menemui Icha"ucap tuan Reza lalu masuk keruangan Icha diikuti mamah Nawang.


Karna memang tidak diizinkan masuk, akhirnya Rizki memilih meninggalkan ruangan itu dengan perasaan sulit diartikan. Dia sangat ingin sekali melihat kondisi Icha, biar bagaimana pun ia sangat khawatir dengan kondisi gadis itu.


"kita pulang do"ucap Rizki lalu Edo pun melaju mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Edo tidak bertanya apapun pada Rizki, karna ia tau mood Rizki sedang tidak baik-baik saja.


Sampai dirumah Rizki langsung masuk ke dalam kamar, seketika bayangan Icha terlintas dikamar itu. Icha yang sering tidur di sofa dengan kaki berselonjor sambil sebuah buku menutupi wajahnya meskipun kadang terbalik.


Anggap saja Icha sering belajar berkedok tidur, tapi entalah. Meskipun Icha tidak pernah serius belajar dirumah tetap saja otakknya encer yah meksipun tidak seencer otakknya.


Perlahan kaki itu melangkah menuju kamar mandi, tatapan nya mengarah pada bawah shower, yah disana ia menyiram Icha dengan air panas. Lama mengamati kamar mandi itu, matanya menatap wastafel, tepat dibawah wastafel itu ia menampar, menarik rambut Icha dan menendang perut Icha.


Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja tapi buru-buru Rizki menghapus air mata itu. Dia baru sadar, ternyata diri seiblis itu dalam memperlakukan Icha.


"maaf gue"bisik Rizki lalu meninggalkan kamar mandi itu.


Berjalan menuju ranjang lalu membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar. Pikiran melayang pada kejadian beberapa hari ini, untuk kedua kalinya ia hampir melayangkan nyawa Icha.


Tapi kenapa ketika ia melakukan kekerasan kepada Icha tidak ada rasa khawatir sedikit pun tapi ketika sudah melihat hasil dari kekerasan itu tiba-tiba saja perasaan Rizki sakit, ia seakan tidak terima dengan luka yang di alami Icha padahal dia sendiri yang berbuat demikian.


Lama menatap langit-langit kamar tanpa sadar Rizki sudah tertidur dengan kemeja yang masih menempel dan sepatu yang belum terlepas.


Nyatanya baru beberapa hari Rizki sudh bergantung kepada Icha, biasanya Icha yang akan membuka sepatu dan menyiapkan handuk dan baju ganti supaya Rizki mandi, tapi malam ini..?benar-benar sepi.


Terlalu sering menghina dan membentak Icha membuat perasaannya sepi ketika Rizki pulang kerja tidak mendapati Icha dikamar.

__ADS_1


__ADS_2