Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Surprise


__ADS_3

Pagi yang cerah, kedua makhluk Tuhan yang masih ambigu dengan perasaannya sendiri baru terjaga. Jani yang terlebih dahulu membuka mata. Lalu kemudian pergerakannya membuat Shaka ikut terjaga.


Gadis itu bangun dari tidurnya lalu memperhatikan Shaka dengan pandangan yang tentu saja masih bingung.


"Kau sudah bangun, bagaimana tidurnya tadi malam, nyenyak? " Shaka balas menatap wajah kebingungan itu. Wajah yang tetap terlihat cantik meski seperti apa pun kondisi hatinya.


Jani mengangguk. Dan kalau Shaka tidak salah lihat. Anggukan-nya di sertai seulas senyum, meski sangat samar tapi Shaka masih tetap bisa melihatnya. Senyum yang membuat darah Shaka langsung berdesir.


Sial, kenapa lagi ini. Bahkan baru saja bangun aku sudah sperti orang bodoh begini.


Shaka memalingkan wajahnya sesaat, hanya untuk sekedar membuang pikiran menyebalkan yang datang terlalu pagi.


"Baguslah. Senang mendengarnya." Pria itu beranjak, sepertinya keluar dari kamar ini akan jauh lebih efektif agar benar-benar bisa menghalau rasa aneh itu.


"Pergilah mandi, sebentar lagi Bik Nah akan mengantarkan sarapan pagi-mu ... aku juga akan mandi dulu," titahnya yang ia pikir akan mendapat anggukan kepala dari Jani. Tapi ternyata tidak, kali ini gadis itu menggeleng.


"Kenapa, kau tidak mau makan? "


Jani kembali menggeleng.


Shaka yang sudah berdiri dan siap keluar kembali duduk. Kenapa lagi gadis ini, bukankah tadi malam tidurnya nyenyak, dan tadi dia bahkan baru saja tersenyum, kenapa sekarang down lagi?


"Tapi kau harus makan dan minum obat, Jani. Kalau tidak nanti kepalamu pusing ... tenang saja, aku akan menyuapimu. " Shaka coba membujuk namun Jani tetap menggeleng membuat pria itu hanya bisa menghela nafasnya


Ya Tuhan, drama apalagi ini?


"Makan di bawah."


Saat Shaka sedang berusaha mengontrol moodnya supaya tidak ikut-ikutan down, Jani tiba-tiba bersuara.


"Hah? " Shaka mendengar Jani bicara, tapi ia tidak begitu yakin dengan pendengaran nya.


"Makan di bawah. " Gadis itu mengulang kalimat nya. Dan di situlah Shaka baru mendengar nya dengan jelas.


"Kau mau makan di bawah? "


Jani mengangguk


"Dengan-ku? "


Kembali mengangguk. Anggukan yang membuat Shaka tersenyum meski di sertai wajah bingung. Tentu saja, selama tinggal disini, ini kali pertama Jani mau makan di bawah bersamanya.

__ADS_1


"Gadis pintar. " Mengekspresikan rasa senangnya, tangan Shaka terulur mengacak kepala Jani. Gerakan tangan yang membuat Jani sangat nyaman. Entahlah, Jani sendiri tidak tahu kenapa ia sangat menyukai setiap Shaka mengacak kepalanya sambil mengatakan 'gadis pintar'


"Ya sudah, pergilah mandi. Aku akan menunggumu di bawah. " Pria itu kembali beranjak. Dugaannya kalau mood Jani sedang down ternyata salah. Nyatanya gadis itu malah menunjukan suasana hati yang makin membaik.


Shaka girang bukan kepalang. Tidak seperti biasanya, Pagi harinya kali ini di awali dengan hal yang sangat positif. Hal yang membuat aura wajahnya jadi terlihat lebih cerah.


Randi sang sekertaris bahkan ikut senang melihatnya. Tapi sayangnya pria itu tak menampilkan wajah yang sama. Dia menyambut Shaka dengan wajah aneh.


"Pagi, Bos. "


"Hmm, " Shaka memperhatikan raut wajah aneh itu. Ada semacam rasa heran, tapi hanya sesaat karena detik berikutnya Shaka langsung mengabaikan wajah itu. Dia sedang sangat senang pagi ini, peduli setan dengan wajah Randi yang tidak enak di lihat itu.


"Eum, Bos. " Saat Shaka hendak masuk Randi memanggilnya.


"Ada apa? "


"Eum di dalam ada---" Pria itu tak melanjutkan kalimatnya, seolah ragu hendak bicara.


"Apa..? "


Randi yang bingung harus bicara atau tidak akhirnya hanya mampu mengangkat tangannya, mempersilahkan Shaka melihatnya sendiri.


Shaka mengerutkan keningnya melihat tingkah Randi yang cukup aneh pagi ini. Tapi ya sudahlah, sama seperti tadi, pria itu lebih memilih mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya.


Begitu Shaka masuk ke ruangannya, ternyata disana sudah ada seorang gadis yang menyambutnya. Gadis yang kemarin sempat ia dan Randi bicarakan.


"Re.. " Jantung Shaka nyaris meloncat keluar melihat penampakan Renisa, mantan tunangan yang ia putuskan secara sepihak.


Shaka terdiam di tempatnya dengan keterkejutan sekaligus kebingungan yang tergambar jelas di wajah tampannya.


"Hey, kenapa diam saja? kau tidak rindu padaku?" Melihat Shaka yang terdiam membuat Re langsung menghambur ke pelukan pria itu. Sepertinya rencana Re berhasil, Shaka benar-benar terkejut sampai tak bisa berkata-kata, bahkan membalas pelukan Re pun tak bisa.


"Apa kabar sayang? " Re melepaskan pelukannya kemudian menghadiahkan satu kecupan di pipi Shaka.


"Ba-baik, aku baik. "


Renita menautkan alisnya melihat Shaka bicara terbata-bata. Reaksi Shaka cukup berlebihan menurut nya.


"Hey ada apa dengan wajahmu? apa kau se-terkejut itu melihatku? "


Shaka menghela nafasnya sebelum bicara. Menetralkan rasa gugup yang tak juga sirna.

__ADS_1


"Ya, aku cukup terkejut. Tidak ada yang memberi tahu kalau kau mau datang? " Sebisa mungkin Shaka berusaha menguasai dirinya. Sekarang ia mengerti kenapa wajah Randi nampak aneh tadi.


"Aku memang sengaja ingin memberi kejutan ... lagipula kau sudah memblokir nomor ku. Bagaimana aku bisa menghubungimu? " Re merengut menciptakan ekspresi yang dulu sering membuat Shaka geram.


Sementara Shaka meringis menutupi segala rasa yang sulit di jelaskan. Ada sedikit bahagia melihat gadis itu tiba-tiba berada di depannya. Tapi rasa bingung lebih mendominasi saat ini.


Bukankah dia sudah memutuskan Re, dan gadis itu ia anggap juga sudah cukup menerima, tapi kenapa tiba-tiba dia muncul?


"Maaf, aku terpaksa melakukannya. "


"Tidak masalah, sayang. Aku faham ... jika aku berada di posisimu aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Itulah kenapa selama ini aku membiarkan mu menikahi Jani. Aku ingin kau bisa menyembuhkan luka hatinya." Re bicara sambil tangannya mempermainkan dasi Shaka.


"Apa sekarang tugasmu sudah selesai? "


Duar..! pertanyaan yang membuat dada Shaka hampir meledak. Entah lah, Shaka benar-benar bingung saat ini. Kehadiran Re mendadak menyadarkannya kalau ia menikahi Jani memang hanya karena merasa bertanggung jawab atas luka hatinya. Tapi sialnya, entah sejak kapan dia mulai merasa nyaman dengan gadis itu. Rasa terpaksa dan tersiksa yang dulu seolah membunuhnya kini justru berubah menjadi perasaan aneh yang Shaka sendiri pun tak tahu artinya.


"Eum kita duduk dulu, Re. " Shaka berusaha mengalihkan topik dengan mengajak gadis itu duduk di sofa panjang tempat ia biasa menerima tamu. Sudah cukup keterkejutannya. Sekarang saatnya mencari tahu apa yang membawa Renisa kemari.


Re menurut, ia mengikuti langkah Shala sambil bergelayut di lengan pria itu. Shaka cukup terkejut dengan sikap Re, tapi kemudian ingat kalau gadis itu memang suka begitu dari dulu.


"Apa Jani sudah sembuh? " Re kembali mengulang pertanyaannya. Tapi kali ini Shaka berusaha untuk tidak gugup.


"Sudah cukup membaik. "


"Bagus lah, itu artinya tugasmu sudah hampir selesai dan kau bisa segera kembali padaku. "


Shaka tertegun. Ia mencoba mencermati kalimat Re. Seingat Shaka, saat ia memutuskan Renisa dulu, ia tidak pernah menjanjikan apapun. Tapi kenapa sekarang Re datang dan seolah sedang menagih janjinya?


"Eum maaf, Re. Tapi bukankah kita sudah.. "


"Apa? putus?" Re menebak apa yang akan Shaka ucapkan


"Memangnya kau pikir aku akan menerima keputusanmu?" Gadis itu balik bertanya.


"Seperti yang ku bilang tadi Shaka, selama ini aku mencoba menerima karena aku mengerti perasaan Jani, dan juga perasaanmu tentunya. Kau pasti merasa sangat bersalah. Itulah sebabnya aku mengizinkan mu menebus kesalahanmu. Yah meskipun ini sebenarnya bukan salahmu. "


Shaka kembali tertegun. Ia pikir Re sudah merelakannya, tapi ternyata belum.


"Aku memberi mu waktu untuk menebus kesalahanmu. Dan aku pikir waktu yang ku beri sudah cukup lama."


Shaka mengangguk-angguk. Sekarang ia paham kenapa selama ini Re diam saja menerima keputusannya. Dan juga cukup paham kenapa sekarang gadis itu kembali muncul. Tapi masalahnya, Shaka merasa ada yang aneh dengan hatinya.

__ADS_1


Bukankah seharusnya dia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Re? tapi kenapa rasanya tidak se-senang itu? bahkan jika di presentase kan dengan rasa bahagianya pagi ini karena Jani sudah mau makan semeja dengannya, rasa senang karena bertemu Re jauh lebih kecil dari itu.


__ADS_2