Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Makam Rayan


__ADS_3

Tak lama setelah Shaka berangkat ke kantor, Ibunda Rinjani datang bersama Maher. Jani yang sedang berada di taman belakang tersenyum pada Ibu dan juga kakaknya. Keduanya tentu saja terkejut bercampur senang melihat Jani sudah mau tersenyum dan bahkan sudah mau keluar dari kamar nya. Wajah Jani juga menurut mereka lebih segar dari biasanya.


"Jani, kau sedang apa? " tanya Ibu sambil menghampiri putrinya. Sementara Maher mengekor di belakang Ibu.


"Melihat bunga. "


Ibu dan Maher saling pandang. Keterkejutan kembali mendera keduanya. Jani baru saja bicara dan menjawab pertanyaan ibunya, apa mereka tidak salah dengar? Beberapa hari tidak bertemu dengan gadis itu, ternyata dia sudah menunjukan perubahan yang cukup pesat.


"Kau sudah makan? " Ibu kembali memancing Jani bicara. Dan siapa sangka reaksinya jauh di luar dugaan.


"Sudah, dengan Shaka tadi. "


Ibu rasanya mau pingsan mendengar putrinya yang sudah cukup komunikatif, tidak beku seperti biasanya. Maher pun demikian, ia tertegun tak percaya melihat adiknya sudah mulai banyak bicara. Dan yang membuat mereka lebih heran lagi adalah, Jani baru saja mengatakan 'sudah makan bersama Shaka'


Bukankah dia sangat membenci Shaka?


Bukankah dia menganggap Shaka adalah terdakwa dari takdir buruk yang menimpanya?


Lalu kenapa dia bahkan sudah mau makan dengan pria itu, apa yang sudah terjadi di antara mereka?


Kurang lebih seperti itulah isi hati Ibu dan Maher saat ini. Benak mereka sama-sama di penuhi berbagai pertanyaan.


"Benarkah? kalian makan bersama? "


Jani mengangguk mantap menjawab tanya sang ibu.


"Kau sudah tidak benci padanya? "


Oh tidak, seharusnya ibu tidak mengatakan itu. Karena pertanyaannya membuat raut wajah Jani seketika berubah. Ia seperti teringat kembali akan satu hal.


Untung saja Maher langsung tanggap dengan perubahan ekspresi Jani. Pria itu langsung memegang pundak ibunya sambil sedikit menggeleng, sebagai isyarat untuk tidak menanyakan sesuatu yang terlalu berat, setidaknya untuk saat ini.


"Oh ya, apa menu breakfast-mu tadi, pasti sandwich dan jus buah kan? "


Maher mencoba memancing kembali mood Jani yang sempat hampir down oleh pertanyaan ibunya tadi. Dan berhasil, gadis itu langsung mengangguk sambil tersenyum. Begitulah, kita memang harus berhati-hati saat bicara dengan orang yang jiwanya sedang atau pernah terluka. Karena salah sedikit saja bisa lansung merubah mood-nya.


"Oh ya ngomong-ngomong taman bunga di sini indah sekali, apa Shaka sengaja membuatkannya untuk mu? "


Jani kembali mengangguk. Ekspresi wajahnya kembali membaik. Dan kalau Maher tidak salah menebak, gadis itu sepertinya sangat respect saat Maher meneyebut nama Shaka tadi. Entah apa yang sudah terjadi dengan keduanya, yang jelas baik Maher maupun ibu sangat senang dengan perubahan Jani, gadis itu terlihat makin membaik.


Sepertinya usaha Shaka mulai berhasil. Maher bisa melihat dengan jelas raut wajah Jani yang kembali hidup. Tanpa sadar pria yang tingginya hampir sama dengan Shaka itu tersenyum. Maher yakin pasti Shaka dan juga dokter Ananta sudah berjuang sangat keras untuk bisa mengembalikan senyum adik kecilnya.


"Hey kalian sedang berkumpul disini rupanya?" Nama yang baru saja terlintas di benak Maher mendadak muncul di hadapan mereka.


Maher menoleh, memastikan bahwa yang baru saja di dengarnya bukan halusinasi-nya semata. Dan tentu saja bukan, lagipula Maher itu tidak sedang sakit jiwa kan?


Dokter Ananta berjalan mendekati ibu dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu kalian? "


"Tidak sama sekali, Dokter. Kami hanya sedang berbincang dengan Jani. Sudah lama kami tidak melihatnya, " Ibu menjawab sambil tersenyum ramah. Seramah senyum dokter Ananta.


"Wah Jani pasti senang kalian berkunjung kemari. Ya kan, Jani? "


Rinjani menjawab dengan anggukan kepala. Respon yang cukup baik dari gadis itu mengingat selama ini dia tidak mau berekasi apapun pada orang yang mengajaknya bicara.


"Kau sudah minum obat? "


"Sudah." Lihatlah gadis itu bahkan sudah mau menjawab. Dokter Ananta, Maher dan juga ibu kompak tersenyum untuk itu. Namun sayang senyum mereka mendadak lenyap saat Jani mengucapkan sesuatu.


"Aku mau ke makam Rayan. "


Ketiganya saling pandang. Baru saja mereka senang karena Jani sudah mulai membaik, tapi sekarang gadis itu kembali mengingat hal yang menyebabkan patah hati terberat-nya.


Maher menatap dokter Ananta. Meminta pendapat dokter cantik itu dan sang Dokter merespon dengan anggukan kepala.


"Kau ingin ke makam Rayan, Jani? " tanya dokter Ananta dengan sangat lembut.


Rinjani mengangguk


"Kau ingin menyampaikan sesuatu padanya? "


Kembali gadis itu mengangguk. Anggukan yang membuat dokter Ananta juga ikut mengangguk-angguk.


Rinjani sudah menunjukan perubahan yang cukup positif beberapa hari ini. Dan kalimatnya yang baru saja menyebut 'makam Rayan' juga di anggap dokter Ana sebagai bentuk perubahan baik. Karena biasanya Jani tidak pernah menyebut 'makam'. Gadis itu selalu menyebut makam Rayan dengan sebutan 'Rumah'


Namun pagi ini gadis itu mulai menyebut tempat peristirahatan terakhir Rayan sebagai 'makam', dan bagi seorang dokter jiwa tentu itu sangat lah bagus, karena itu berarti secara tidak langsung Jani sudah menerima kenyataan kalau Rayan memang sudah meninggal dunia.


Dan kalau saat ini Jani ingin ke makam Rayan, dokter Ana memaklumi mungkin gadis itu sedang rindu pada Rayan. Sama halnya saat kita rindu pada orang yang sudah tiada, maka tak jarang kita pasti akan mengunjungi makamnya.


"Baiklah, kau boleh kesana. Kakak dan ibumu akan mengantarmu. "


Dokter Ana memandang Ibu dan Maher secara bergantian. Dan keduanya kompak mengangguk memahami isyarat dokter cantik itu.


"Tapi maaf, Jani. Aku tidak bisa ikut. Aku masih ada keperluan. "


Jani mengangguk. Meski sudah cukup membaik, tapi gadis itu masih tidak banyak bicara. Ia lebih sering menjawab dengan gerakan kepala. But it's ok, sekali lagi, itu sudah cukup bagus ketimbang hanya diam tanpa ekspresi.


"Jangan lupa doakan Rayan ya supaya ia damai di sana. " Pesan dokter Ana untuk semakin menyadarkan Jani kalau Rayan memang sudah tidak ada.


Rencananya dokter Ana kesini seperti biasa ingin mengecek kondisi Jani sekaligus melakukan terapi saraf untuk gadis itu, tapi berhubung hari ini Jani ingin menengok makam Rayan, dokter Ana pun memilih undur diri.


"Terimakasih dokter. Pagi ini kami melihat banyak perubahan dari Jani. Kami yakin itu pasti karenamu. "


Sebelum Ananta pergi, Maher mengucapkan rasa trimakasih nya karena ia yakin dokter Ananta adalah salah satu orang yang berperan penting bagi kesembuhan Jani yang sudah mulai jelas terlihat.

__ADS_1


"Jangan sungkan, Maher. Itu memang sudah tugasku. Tapi kalau kau memang mau berterimakasih, berterimakasihlah pada Shaka. Dia obat paling mujarab bagi Jani. "


"Yah, sepertinya begitu." Maher mengangguk membenarkan.


"Oh ya, dokter. Apa tidak masalah kalau dia ke makam Rayan? aku takut dia akan kembali down nanti. "


Dokter Ananta tersenyum.


"Mudah-mudahan tidak. Melihat dari kondisi nya menurutku Jani sudah cukup membaik. Mungkin dia hanya sedang teringat pada Rayan ... yang penting kalian jangan bertanya hal-hal yang membuatnya jadi terusik. Kalau mau bicara, bicara yang ringan-ringan saja ... Intinya walaupun Jani sudah cukup membaik, kalian tetap harus menjaga psikis nya. "


"Baiklah, kami mengerti. Terimakasih, Dokter."


Dokter Ana mengangguk sambil tersenyum. Menurutnya kakaknya Jani ini kaku sekali. Cara bicara nya juga sangat formal. Padahal dia sudah mengingatkan untuk tidak memanggilnya dokter. Tapi ya sudahlah, mungkin dia hanya berusaha bersikap sopan, pikir dokter Ana.


Setelah Dokter cantik itu pergi, Jani dan keluarganya pun langsung bergerak menuju makam Rayan. Namun sampai di sana, Rinjani melarang Maher dan Ibunya untuk ikut turun.


"Ibu dan kakak di mobil saja, " ucapnya dengan bahasa yang masih terdengar kaku. Maklumlah, selema ini gadis itu jarang bicara.


"Kenapa, Jani. Kau mau ke makam sendiri? "


"Iya, Bu. Aku ingin bicara dengan Rayan saja. "


Maher dan ibu saling pandang. Jarak dari mobil ke makam memang tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja mereka khawatir melepas Jani sendirian. Terlebih di tempat itu banyak pepohonan ataupun bunga-bunga yang tentu saja menghalangi mereka untuk mengawasi Jani dari jauh.


"Baiklah, Jani. Kami tidak akan ikut ke makam Rayan ... Tapi kami juga tidak menuggu di mobil, kami ingin berjalan-jalan di sekitar makam. Udara di sini seperti yang sangat segar. Bunga-bunganya juga sangat bagus. "


Rinjani mengernyit mendengar alasan konyol kakaknya. Sejak kapan kak Maher suka bunga? mungkin itulah yang ada di pikiran gadis itu. Namun meski begitu, dia tetap mengangguk.


Setelah Jani turun, Maher dan Ibu juga ikut turun. Mereka berpura-pura berjalan-jalan di sekeliling makam. Padahal tujuan mereka hanya ingin tetap mengawasi Jani. Lagipula sejak kapan makam di jadikan tempat untuk jalan-jalan?


Begitu Jani berhenti di makam Rayan, Ibu dan Maher juga berhenti. Mereka berhenti pada jarak beberapa meter dari makam Rayan. Dari tempat itu mereka bisa melihat dengan jelas apa yang di lakukan oleh Jani, tapi tentu saja tidak bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh gadis itu.


"Rayan, apa kabar? Maaf lama tak mengunjungimu. " Rinjani mengusap nisan Rayan.


"Aku juga ingin minta maaf kalau akhir-akhir ini aku sering mengabaikanmu ... Aku juga tidak tahu kenapa. Tiba-tiba saja aku merasa nyaman berada di dekat Shaka. Padahal aku seharusnya membencinya kan? padahal seharusnya aku membuatnya menderita kan? tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku justru merasa nyaman berada di dekatnya." Jani berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Shaka bisa membuatku sangat tenang dan nyaman, Rayan. Dia juga bisa menghalau mimpi buruk dalam tidur ku. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk membenci nya, juga berusaha sebisa mungkin untuk menyiksanya, tapi nyatanya sekarang aku justru nyaman dengannya. " Rinjani membiarkan lelehan bening yang tumpah dari sudut matanya. Rasa bingung dan perasaan aneh yang kerap di rasanya akhir-akhir ini akan coba ia ungkapkan di depan makam Rayan.


"Aku tidak tahu, Rayan. Aku tidak tahu kenapa semuanya bisa seperti ini. Semua di luar keinginanku, " ucap Jani lagi dengan wajah makin tertunduk. Tangannya entah sadar entah tidak memelintir helain rumput di atas makam.


"Maafkan aku, jika nanti rencana ku untuk membalas dendam pada nya gagal. Maafkan aku jika nanti aku terpaksa mengingkari janjiku. Aku tidak tahu kenapa, aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya tahu satu hal saat ini. Aku merasa nyaman berada di dekatnya ... tapi percayalah, meskipun begitu aku tidak pernah melupakanmu. Aku hanya mencoba menerima kenyataan kalau kau memang sudah tidak ada. "


Rinjani bangkit sambil menyeka air matanya. Gadis itu kemudian kembali mengusap nisan Rayan.


"Aku juga ingin minta maaf jika setelah ini aku mungkin akan jarang mengunjungimu. Damai lah disana Rayan. Aku juga akan mencoba berdmaai dengan kenyataan." Usai mengatakan itu Rinjani mulai beranjak. Ada sedikit kelegaan di hatinya karena ia baru saja mengungkapkan semuanya. Hanya di depan Rayanlah gadis itu mau banyak bicara. Hanya di depan Rayan Jani merasa bisa melebur segala sesak yang selama ini menghimpit dadanya.


Rinjani tak sadar kalau setelah ia pergi ada sosok tak kasat mata yang menatapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2