
"Jani.. " panggil Shaka karena tak melihat istrinya tak berada di dalam kamar. Namun saat melihat pintu ke arah luar terbuka, Shaka segera tahu kalau gadis itu pasti sedang duduk di balkon.
Shaka baru saja pulang dari kantornya. Karena sadar sudah pulang terlambat, Shaka langsung menemui istrinya karena takut kalau gadis itu tidak mau makan kalau belum menyauapinya.
Dan benar saja, nampan makanan Jani masih tergeletak di atas meja dengan isinya yang masih utuh, pertanda kalau makanan itu belum di sentuhnya.
"Jani, jangan suka duduk sendirian di luar malam-malam begini, tidak baik. " Shaka mendekat dan berusaha mengingatkan gadis itu. Entahlah, walau kondisi Jani sudah mulai membaik, tapi tetap saja Shaka merasa takut kalau gadis itu duduk sendirian di luar.
"Tenang saja, aku tidak akan melompat ke bawah sana. Aku masih ingin menyiksamu. "
Di luar dugaan gadis itu bersuara. Meski yang keluar dari lisannya tidak begitu enak di dengar, tapi tetap saja Shaka suka mendengarnya. Lebih tepatnya suka mendengar Jani sudah mau bicara.
"Benar, kalau kau melompat ke sana, nanti tidak ada lagi yang menyiksaku. Hidup ku pasti akan jadi bahagia sekali. Kau tidak suka melihat aku bahagia kan? kalau begitu kau harus tetap hidup agar bisa terus menyiksaku. "
Rinjani menoleh. Menatap tajam Shaka atas ucapan Shaka barusan. Namun yang di tatap justru menampilkan senyum seindah mungkin, seolah tidak peduli pada tatapan mematikan Jani.
"Jangan marah, aku hanya bercanda. Aku hanya tidak mau kau masuk angin kalau terlalu lama berada di luar." Tangan Shaka bergerak mengacak rambut Rinjani, membuat tatapan gadis itu jadi makin tajam. Pasalnya Shaka sudah membuat rambutnya yang sudah terjalin rapi jadi berantakan.
Rambut ? ngomong-ngomong soal rambut, Shaka baru sadar kalau ada yang berbeda dengan rambut Jani malam ini. Rambut hitam panjangnya yang biasanya terurai begitu saja kali nampak di jalin rapi menjuntai ke depan. Menyisakan anak rambut yang menutupi sebagainya keningnya.
Penampilan Jani jadi makin fres malam ini. Dan Shaka pun mengakui itu.
"Hey kau menjalin rambutmu? " tanya Shaka sambil memperhatikan rambut Jani.
"Tumben? siapa yang menjalin, Bik Nah? "
Tanpa sadar Rinjani mengangguk. Matanya yang tadi menatap tajam perlahan meredup mendengar Shaka memperhatikan rambutnya.
"Bagus, kau jadi terlihat lebih rapi. " Pujian yang membuat Jani jadi makin bingung. Karena entah kenapa dia senang mendengar pujian itu.
Padahal tadi begitu Shaka masuk ke kamarnya. Jani merasa sangat kesal karena Shaka terlambat datang. Ia marah pada pria itu. Tapi anehnya begitu pria itu memuji rambutnya. Kemarahan Jani mendadak redup, ada apa ini?
Jani manatap rambutnya sendiri lalu kemudian menatap Shaka. Gadis itu kembali di dera perasaan bingung. Kenapa ia bisa senang mendengar Shaka memujinya.
"Kau belum makan kan, ayo makan. Ini sudah lewat jam makan malam, kau juga harus minum obat kan? " Mengabaikan ke bingungan Jani, Shaka berinisiatif mengajak gadis itu untuk makan.
Pria itu berusaha mengajak Jani masuk, namun gadis itu menolak.
"Kenapa, kau ingin makan di luar? "
Jani nampak termenung sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Padahal tadinya gadis itu tidak mau makan dan minum obat malam ini. Sebagai bentuk protes karena Shaka datang terlambat. Namun begitu Shaka menawarinya untuk makan di balkon ini, entah kenapa membuat gadis itu jadi mau. Rinjani berpikir kalau makan di luar sambil menatap langit malam sepertinya bagus juga.
"Baiklah aku akan mengambil makanan mu." Shaka beranjak lalu kembali dengan nampan berisi makan malam Rinjani.
Dengan telaten Shaka mulai menyuapi gadis itu. Jani makan cukup lahap malam ini. Sepertinya makan malam di luar sambil menatap langit malam membuat suasana hati gadis itu jadi makin membaik. Seperti menciptakan suasana baru baginya.
"Enak? " Melihat Jani makan dengan begitu lahap membuat Shaka tergerak untuk bertanya.
__ADS_1
Sebuah anggukan di sertai seulas senyum dari bibir ranum Rinjani sukses membuat Shaka melongo tak percaya.
Apa gadis ini baru saja tersenyum? bathinnya heran. Dan kalau Shaka tidak salah, ini adalah kali pertama gadis itu mau tersenyum padanya.
Ternyata kalau tersenyum begitu dia manis juga. Lagi-lagi membatin sambil terus menyuapi Jani. Tanpa sadar Shaka juga mengurai seulas senyum membalas senyum Rinjani. Meski sangat tipis tapi cukup mampu membuat Jani Jadi makin bingung. Bingung karena melihat senyum Shaka, juga bingung karena dia sendiri mau tersenyum pada Shaka.
Gadis itu buru-buru membuang mukanya, membuang jauh-jauh perasaan aneh yang mendadak bersarang. Pun dengan Shaka, pria itu juga langsung menoleh.
Ada apa ini, kenapa aku senang melihatnya tersenyum
Suasana mendadak berubah canggung pasca dua-duanya di landa kebingungan. Untung saja, di tengah suasana aneh itu, Bik Nah datang mencairkan.
"Maaf, Tuan. Di bawah ada orang tua Tuan sedang menunggu. "
Perempuan tua itu membawa kabar yang cukup mengejutkan. Baik bagi Shaka ataupun Jani.
"Orang tuaku? "
"Benar, Tuan. " Bik Nah menjawab keraguan Shaka.
"Ya sudah, Bik. Suruh mereka tunggu sebentar. Aku akan segera turun. "
Bik Nah mengangguk lalu segera melaksanakan mandat dari tuan muda-nya.
Usai Bik Nah turun, Shaka menatap lekat Jani.
"Kau mau menemui mereka? "
"Baiklah, aku mengerti. Kau pasti belum siap kan bertemu mereka? "
Jani mengangguk.
"Kalau begitu kau lanjutkan makan mu sendiri ya, aku akan menemui mereka. "
Kembali Jani mengangguk membuat Shaka langsung tersenyum. Senang melihat Jani sekarang menjadi gadis penurut.
"Gadis pintar, " ucapnya seperti biasa setiap Jani berkelakuan baik. Tangannya juga lagi-lagi mengusap lembut puncak kepala gadis itu. Dan kalau sudah begitu, yang mampu di lakukan Jani hanyalah menatap dengan perasaan bingung.
"Ayah, ibu, apa yang membawa kalian kemari?"
Shaka menghampiri kedua orang tuanya di ruang tengah.
"Hey, apa harus ada alasan kalau mau melihat putra sendiri? " Sang Ibu balik bertanya dengan ekspresi kesal yang di buat-buat.
"Tentu, tidak. Bu. Hanya tumben saja kalian kemari. Apalagi malam-malam begini. " Shaka tersenyum kikuk menyadari pertanyaan bodohnya baru saja.
"Oh ya kalian sudah makan malam? "
__ADS_1
"Sudah. Kami sudah makan di jalan tadi ... kebetulan Ayahmu ada acara di luar dan tempatnya tak jauh dari rumahmu, jadi ibu mengajakanya mampir." Ibu menjawab sambil kepalanya celingukan mencari sesuatu. Sementara penjelasan nya tadi hanya di jawab Shaka dengan kata "Ooh" sambil mengangguk anggukan kepala.
"Oh ya, mana Jani? " Pertanyaan yang sangat tidak ingin di dengar Shaka akhirnya terdengar juga.
"Jani di atas, Bu. Dia baru siap makan ... tapi maaf dia belum mau bertemu dengan banyak orang. "
Ibu menghela nafasnya. Iba melihat putranya harus berada di situasi seperti ini sekarang. Namun berbeda dengan sang Ayah, pria itu justru mendukung.
"Tida apa, sebaiknya mungkin memang dia menyendiri dulu. Terkadang bertemu dengan banyak orang hanya akan membuat orang yang sedang sakit menjadi makin sakit, karena tidak semua orang bisa menjaga lisannya."
"Maksudmu kau takut aku bicara macam-macam dengan nya? " Entahlah, ibunya Shaka merasa kalau ucapan suaminya di tujukan untuknya.
"Itu berlaku untuk siapapun. Bukan hanya untuk mu, tapi untuk ku juga." Sang Ayah berusaha membela diri dari tuduhan ibu.
"Dari pada kita bertemu dengannya lalu salah bicara dan hanya membuat dia makin down, jadi lebih baik kita tidak bertemu dulu ... lagipula seperti yang Shaka bilang tadi, Jani belum mau bertemu dengan banyak orang, jadi mari sama-sama menghargai itu. "
Mendengar penjelasan panjang lebar suaminya, perempuan paruh baya itu akhirnya mengangguk meskipun dengan helaan nafas yang cukup berat.
"Ibu paham, Ibu hanya kasihan padamu, Shaka."
Shaka tersenyum, cukup paham perasaan ibunya. Ibu mana yang rela anaknya menjadi tertuduh untuk semua yang tidak di lakukannya.
"Ibu jangan khawatir. Aku baik-baik saja ... Lagipula Jani sekarang juga sudah mulai membaik. "
"Benarkah? "
"Iya, Bu." Shaka mengangguk pasti.
"Dia sudah menunjukan banyak perubahan. "
"Baguslah, ibu senang mendengarnya. Semoga dia bisa benar-benar sembuh. "
Harapan sang ibu di amini Shaka dengan anggukan kepala.
"Ohya, Shaka. maaf kalau ibu lancang ... tapi kalau boleh tahu, apa kau akan meninggalkannya kalau dia sudah benar-benar sembuh?"
Shaka tentu terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Dan rupanya tak hanya dirinya, ayahnya pun juga terkejut.
"Kau ini berkata apa? " protesnya pada ucapan sang istri.
"Aku hanya bertanya. Siapapun tahu kalau mereka menikah bukan karena cinta. " sanggah Ibu yang membuat Ayah hanya mampu menghela nafasnya. Pun dengan Shaka. Pria itu membenarkan keputusan Jani untuk tidak mau bertemu dengan kedua orang tuanya. Seperti yang kita tahu, ibu mertua memang terkadang suka berbicara "sekenanya"
"Untuk soal itu aku masih belum tahu, Bu. Kita lihat nanti saja ... yang jelas untuk saat ini aku hanya ingin membuat Jani sembuh se sembuh-sembuhnya. Aku ingin dia bisa berdamai dengan takdir, " jawab Shaka dengan sangat bijaknya.
Sang ibu tersenyum. Sungguh perempuan itu berkata begitu bukan karena dia membenci Jani. Dia hanya ingin putranya bahagia. Harapan yang yang tentu saja di inginkan oleh para ibu di manapun tempatnya.
"Tenang saja, Bu. Aku tidak se-menderita yang Ibu kira. " Shaka beranjak laku memperhatikan seluruh tubuh nya
__ADS_1
"Lihatlah. Aku tetap terlihat tampan dan tubuhku juga tetap gagah kan? " Narsisme yang berlebihan. Meskipun benar adanya. Seberapapun Jani mencoba menyiksanya, tapi karena dia memang sudah bertekad untuk menerimanya, maka itu tidak akan terlalu berpengaruh untuk fisik Shaka yang boleh di bilang nyaris sempurna. Yah meskipun emosinya sering di buat naik turun oleh Jani, tapi tetap saja, Shaka akan selalu memaksakan diri untuk berkata "Aku baik-baik saja"
Kedua orang tua Shaka tersenyum melihat ke konyolan putranya. Mereka senang karena ternyata Shaka tetaplah Shaka. Putra mereka yang kokoh dan tak mudah di goyahkan. Tentang bagaimana kondisi hati Shaka yang sebenarnya, biarlah hanya pria itu saja yang bisa merasakannya.