
Siang di kantor, malam mengurung diri atau mungkin lebih tepatnya terkurung di rumah. Itulah keseharian Shaka sekarang. Semenjak menikah dengan Jani. Dunianya hanya berkisar dari rumah ke kantor, atau dari kantor ke rumah. Itu, itu saja. Ia bahkan sudah tidak pernah lagi melakukan perjalanan bisnis ke luar kota ataupun negri. Ia selalu menyuruh Randi untuk urusan itu.
Jujur terkadang ada perasaan jenuh yang timbul. Terlebih dulu saat baru pertama tinggal serumah dengan Jani. Shaka merasa benar-benar seperti terkurung dalam penjara bawah tanah yang pengap dan sesak. Menyiksa sekali.
Tapi itu dulu. Dan sekarang entah kenapa ceritanya jadi berbeda. Ia yang biasanya kembali ke rumah sambil menghela nafasnya agar bisa sabar menghadapi tingkah polah Rinjani, kali ini pria itu pulang dengan satu pertanyaan. "Jani sedang apa ya sekarang? "
Kalau di bilang aneh, jelas itu sangat aneh. Shaka bahkan sampai bingung di buatnya. Tapi ya memang begitulah adanya. Seperti sore ini saat baru pulang, Shaka langsung naik ke kamar Jani untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh gadis itu. Biasanya Shaka akan menutup kembali pintunya setelah melihat Jani sesaat. Tapi kali ini berbeda.
Pria itu di buat heran karena ternyata Jani tidak ada di kamarnya. Pun tidak di balkon seperti biasanya. Shaka sempat sedikit panik dan ingin langsung menanyakannya pada Bik Nah, namun saat netra beningnya mendapati gadis itu sedang berdiri di taman belakang, Shaka langsung bernafas lega.
Dia memperhatikan Jani dari atas. Gadis itu memakai baju tidur tapi lebih menyerupai dress berwarna putih sebatas lutut. Anggun sekali. Rambut hitam lebatnya terurai begitu saja dan sesekali bergerak tertiup angin.
Tanpa sadar Shaka tersenyum memperhatikan pemandangan indah itu. Jani yang dalam posisi membelakanginya tentu tidak tahu kalau ada yang sedang memperhatikan. Namun karena Shaka terus melihatnya akhirnya gadis itu merasa juga.
Ia menoleh ke belakang ataupun ke atas ke arah balkon kamarnya. Gadis itu menampilkan raut terkejut sekaligus bingung melihat Shaka yang diam-diam sedang memperhatikannya.
Shaka yang kepergok sedang memperhatikan pun tak kalah terkejut. Ia buru-buru membuang pandangannya lalu keluar dari kamar Jani.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku memperhatikan Jani sampai se-begitunya? " sambil berjalan menuju kamarnya pria itu bergumam sendiri. Perasaan aneh lagi-lagi menderanya.
Bahkan sampai siap mandi dan berganti pakaian, Shaka masih saja di hantui perasaan bingung.
"Jangan-jangan benar dugaan Randi. Aku pasti sudah ikut-ikut depresi seperti Jani." Pria itu kembali bergumam, kali ini sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
***
Malam ini Shaka berniat untuk tidak menyuapi Jani. Ia ingin melihat reaksi gadis itu. Apakah dia marah atau tidak kalau Shaka abzen dari tugasnya malam ini.
Shaka sudah berpesan pada Bik Nah untuk menyampaikan pada Jani kalau malam ini dia tidak bisa menyuapinya.
Lima belas menit, tiga puluh menit, bahkan sampai satu jam berlalu. Tidak ada suara apapun dari kamar Jani. Sunyi senyap saja.
Hembusan nafas penuh kelegaan keluar dari mulut dan hidung mancung Shaka. Jani tidak bereaksi apapun meski Shaka abzen dari tugasnya. Itu berarti gadis itu memang sudah semakin menunjukan tanda-tanda kesembuhan.
Untuk semakin membuktikan asumsinya, Shaka bahkan berniat menguji apakah Jani bisa tidur nyenyak dan tidak di hantui mimpi buruk malam ini jika ia tidak menemaninya. Jika memang bisa, berarti fix, gadis itu memang sudah sembuh.
"Aaaahh.. " Shaka membaringkan tubuh tinggi tegapnya di atas ranjang empuk miliknya. Ranjang yang sudah beberapa malam ini kosong tanpa penghuni. Akhirnya Shaka bisa juga merasakan tidur bebas tanpa ada yang menganggu. Nyaman sekali rasanya.
__ADS_1
Nyaman? benarkah Shaka merasa nyaman? lalu kenapa sampai hampir tengah malam pria itu belum bisa memejamkan matanya. Alih alih nyaman Shaka itu justru nampak gelisah. memiringkan badannya ke kanan maupun ke kiri. Berharap kantuk akan segera datang, tapi nihil, sampai hampir tengah malam, matanya tetap saja terbuka lebar.
Shaka menatap tubuh nya sendiri. Biasanya ada Jani yang menempel erat di badannya. Tapi sekarang tidak lagi. Harusnya Shaka merasa nyaman karena baru saja terbebas dari parasit, tapi kenapa ia justru merasa ada yang kosong?
"****..!" kesal karena tidak juga bisa tertidur, Shaka melempar guling nya sebagai pelampiasan.
"Kenapa malah jadi aku yang gelisah begini? bukankah seharusnya aku senang, tapi kenapa aku justru jadi tidak tenang? " Shaka mengutuki perasaan tidak nyaman yang sedang menyerangnya.
Pria itu kemudian beranjak menuju lemari kaca di sudut ruangan, tempat ia menyimpan berbagai merk minuman beralkohol. Shaka ingin meminum sedikit di antaranya. Di samping untuk membuang jauh-jauh rasa tidak nyamannya juga untuk memancing supaya kantuknya cepat datang. Mungkin dengan meminum satu atau dua botol akan membuatnya pusing laku akhirnya tertidur, begitu pikir Shaka.
Lemari sudah terbuka dan tangan Shaka sudah terulur hendak mengambil salah satu botol, namun mendadak sebelah hatinya mencegah.
Kau tidak butuh itu, yang kau butuhkan sekarang adalah melihat Jani dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
Shaka termenung memikirkan apa yang baru saja terlintas di benaknya. Benar, dia gelisah dan tidak nyaman begini karena Jani. Jadi mungkin sebaiknya dia melihat gadis itu.
Shaka akhirnya menutup kembali pintu lemari atau etalase kemudian keluar menju kamar Jani. Shaka sangat membenci tindakannya saat ini. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Jani, menyebalkan sekali ! padahal sejak tadi gadis itu tak menunjukan reaksi apapun.
Pria itu berjalan mengendap-endap seperti maling. Seperti biasa dia tidak ingin menimbulkan suara sekecil apapun.
Itu berarti Jani memang bisa tidur nyenyak malam ini. Dan itu berarti gadis itu memang sudah semakin membaik, pikir Shaka.
Ia lantas meninggalkan bilik gadis itu dengan perasaan yang seharusnya lega. Seharusnya, tapi kenyataannya dia tetap saja merasa tidak nyaman.
"Sial..! sebenarnya ada apa denganku? " kalimat tanya serta umpatan itu kembali terdengar. Bahkan kali ini sambil memukul kepalanya sendiri.
Tepat saat Shaka sudah berada di depan pintu kamarnya, pria itu membalikan badan dan kembali ke kamar Jani. Shaka sudah benar-benar seperti orang linglung malam ini, mondar-mandir kesana-kemari persis seperti alat pelicin baju.
Dengan perasaan campur aduk, pria itu langsung membuka kamar Jani begitu sampai di depan ruangan itu. Shaka sudah tidak ingin lagi menguping. Rasa gelisah dan penasaran yang seolah sedang membunuhnya membuatnya tak lagi berpikir panjang.
Ceklek, pintu terbuka dan mata hazelnya langsung melihat penampakan Jani yang tengah duduk mematung dengan pandangan kosong. Gadis itu bahkan tak bergeming saat pintu kamarnya ada yang membuka. Hanya menatap sesaat dan itupun tanpa ekspresi.
"Jani, kau belum tidur? " terkejut Shaka mendapati gadis cantik itu ternyata masih membuka matanya, bahkan masih duduk. Padahal ia berpikir Jani sudah lelap dalam tidurnya.
Jani tak menyahut, namun pandangan kosongnya menyadarkan Shaka akan satu hal, gadis itu belum benar-benar membaik. Tatapan kosong nya mengisyaratkan jiwanya yang ternyata masih saja terluka. Tatapan kosong yang akhir-akhir ini sudah tak terlihat kini kembali nampak dan bahkan lebih mengerikan di banding sebelumnya, Shaka bahkan sampai merinding di buatnya.
"Jani kau kenapa? " Shaka bergegas masuk dan memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" tanyanya cemas
"Aku tidak ingin tidur, nanti pasti ada yang menggangguku kalau aku tidur." Suara Jani terdengar sangat dingin, mengerikan sekali.
Shaka melepaskan pelukannya dan menatap lekat Jani. Benar, gadis itu memang belum sembuh.Dia masih saja ketakutan saat akan tertidur. Dan lihatlah, dia bahkan baru saja bicara dengan tatapan kosong nya.
Shaka mengutuk kebodohannya yang kembali membiarkan gadis itu tidur sendiri dengan alasan ingin mengujinya. Padahal Jani baru mulai menunjukan tanda-tanda membaik, tapi Shaka langsung gegabah dengan dalih konyolnya.
Memang Jani tidak lagi marah ataupun tantrum. Tapi reaksinya saat ini justru membuat Shaka lebih takut. Lebih baik Jani marah dan meluapkan semuanya ketimbang diam dengan pandangan kosong begini, itu jauh lebih berbahaya bagi Shaka karena itu menandakan psikisnya yang kembali terluka.
Shaka mengusap lembut wajah Jani yang sejak tadi tak mau berkedip.
"Maaf, ya. Harusnya aku menemanimu. Maaf membuatmu jadi ketakutan lagi. " Shaka kembali merengkuh tubuh Jani dalam dekapnya. Namun reaksi Jani tetap sama seperti tadi diam tanpa ekspresi.
"Aku janji Jani, setelah ini aku tidak akan membiarkanmu tidur sendiri lagi ... sekarang tenanglah, aku sudah di sini. Kau bisa tidur nyenyak sekarang. " Shaka benar-benar merasa bodoh sekarang. Ia menghela nafasnya menyesali semua kebodohan yang sudah dilakukan nya.
Shaka menuntun Jani untuk berbaring. Ia menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Jani. Lalu tangannya bergerak naik turun mengusap kepala gadis itu.
"Tidurlah, " ucapnya sambil membimbing tangan Jani untuk melingkar di pinggangnya. Shaka ingin membuat Jani benar-benar tertidur nyenyak malam ini. Ia ingin menebus kesalahannya karena telah membiarkan gadis itu terus terduduk menahan kantuk hanya karena ingin terhindar dari mimpi buruk.
Jani mulai merespon. Ia mengedip-ngedipkan matanya. Entahlah, kenapa sentuhan Shaka selalu mampu membuat Jani tenang.
Kenapa rasanya nyaman sekali ?
Kenapa rasanya menenangkan sekali?
Gadis itu kembali di dera perasaan bingung. Kenapa setiap Shaka memeluknya hatinya jadi sangat tenang, seolah segala ketakutan dan semua yang menyesakkan lebur begitu saja oleh sentuhan Shaka.
Gadis itu mendongak menatap wajah Shaka. Mencari jawaban dari semua pertanyaannya. Tapi dia tak menemukan apapun selain wajah tampan yang sedang balas menatapnya dengan seulas senyum tipis.
"Kenapa, masih takut? " Shaka merasa heran karena Jani memperhatikannya dengan tatapan yang lain dari biasanya. Dan percaya atau tidak, Shaka tidak lagi melihat kebencian di mata itu.
Jani tak menjawab namun matanya masih tetap lekat memandang. Tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Degup jantung keduanya juga berpadu pada satu irama yang sama kencangnya.
Dan entah sadar atau tidak perlahan Shaka mendekatkan bibirnya mengecup lembut kening Jani.
Jantung Jani seperti berhenti berdetak, tubuhnya bergetar. Ia terkejut bukan main. Ingin sekali marah, ingin sekali menampar bibir Shaka yang baru saja menciumnya, tapi tubuhnya beku di tempat. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jujur sebelah hatinya mengatakan kalau ia menyukai sentuhan Shaka baru saja.
__ADS_1