
Shifa memesan makanan untuknya sedangkan Icha melanjutkan makan nya yang tertunda tanpa menghiraukan tatapan Rizki.
"ehh tadi pas aku ke toilet ada darah tau di wastafel, ngk sih darah siapa. Tapi darah itu masih segar deh, kayaknya baru ngituh"
Sepintas Icha dan Shifa mendengar ucapan salah satu mahasiswa yang kebetulan masuk ke kamar mandi setelah beberapa detik Icha keluar dari kamar mandi.
Tak heran jika tatapan mahasiswa itu mengarah kepada Icha, karna ia sadar ada Icha dan Shifa tadi di kamar mandi.
"astaga aku lupa membersihkan darah yang tadi"batin Icha sambil ekor matanya melirik sekumpulan mahasiswa yang lain.
"Cha"
"darah itu bukan punyamu kan, soalnya sebelm aku masuk kamu baru keluar dari kamar mandi"
"hah"guman Icha bingung.
"hah, ngk kok. Tadi juga pas aku masuk ke kamar mandi sudah ada darah itu, ngk tau deh darah siapa"ucap Icha gugup setengah mati, apalagi sebagian tatapan mahasiswa mengarah kepadanya.
"ohh iyh sudah deh, ternyata kita senasib"
Setelah mendengar jawaban itu akhirnya Icha bernapas lega, setidaknya ia tidak di pertanyaan sampai jauh.
Setelah selesai makan siang, icha dan Shifa meninggalkan kantin dengan Shifa yang pulang di jemput sopir sedangkan Icha berjalan menuju halte yang ada di depan kampus untuk menunggu Rizki.
tik
tik
tik
"masuk"ucap Rizki dengan membuka kaca mobil setelah.
Dengan memperhatikan sekitar nya, Icha pun masuk ke dalam mobil dengan sembunyi-sembunyi, memastikan tidak ada orang yang melihat dirinya.
Setelah memastikan Icha masuk ke dalam mobil, Rizki langsung melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.
"kenapa kesini..?saya mau pulang saja"
"saya mau minum kopi, saya ngantuk"ucap Rizki turun dari mobil dan diikuti Icha dari belakang.
"silakan tuan, ini menunya"
"kopi hitam satu, gulanya setengah sendok sjaa. Lo mau apa..?"ucap Rizki menatap Icha sekilas.
"saya ngk minum, saya ngk suka kopi"ucap Icha menolak halus.
__ADS_1
"hah Icha.."ucap sang pelayan cafe yang melayani meja Rizki dan juga Icha.
"gue Dedy"ucap Dedy yang melihat Icha kebingungan.
"Asta Ded, kamu kerja dsini..?"ucap Icha setelah mengingat siapa lelaki dihadapan nya.
"astaga kangen banget gue sama Lo Cha"pekik Dedy sambil memeluk tubuh mungil Icha.
"kok lo makin cantik aja sih..?ngk heran sih sejak SMA juga Lo udh cantik juga kok"ucap Dedy melepaskan pelukannya.
"bisa aja Lo, gue mah ngk ada yang berubah masih sama seperti yang duluh"Ucap Icha sambil tersenyum manis.
"gue ngk pernh menyesal pernh mencintai kamu duluh, iyh walaupun kamu tau sampai seribu kali dan rasa itu masih ada sampai sekarang Cha"ucap Dedy menatap Icha dengan penuh cinta.
"hah"ucap Icha bingung.
Memang benar sewaktu sekolah menengah atas Dedy selalu mengejarnya dengan tiada henti, selalu menyatakan perasaan tanpa kenal waktu sampai Icha bingung cara menolaknya.
"ehm"pekik Rizki menyadarkan dua manusia yang duluh terlibat cinta monyet itu.
Terlalu sibuk bertemu dengan teman lamanya Icha sampai melupakan sosok Rizki yang ada ditengah-tengah mereka.
"ah ded kenalkan dia Rizki"
"Dedy"ucap Dedy mengulurkan tangannya kehadapan Rizki.
"hah Cha, sejak kapan kamu menikah..?"ucap Dedy terkejut.
"Cha"ucap Dedy lagi menyadarkan Icha dari lamunan nya.
"hah iyh, saya sudah menikah"ucap Icha gugup.
"kita pulang"ucap rizki dingin lalu keluar dari cafe itu diikuti Icha dari belakang.
Sedangkan Dedy selaku pemilik cafe hanya bisa menatap Icha dan Rizki, ia belum percaya bahwa Icha sudah menikah karna sejak berteman dengan Icha waktu sekolah menengah atas, Icha selalu bercerita tidak ingin menikah mudah.
Rizki melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan keahlian yg dimiliki Rizki mampu menempuh perjalanan dari cafe sampai kerumah hanya sepuluh menit saja.
Sampai di depan rumah Icha langsung turun tanpa menghiraukan Rizki uang yang hendak bertanya kepadanya, karna ia sudah tau arah pembicaraan Rizki kemna lagi, pasti tidak jauh-jauh dari kalimat hinaan itu lagi. Karna sejatinya Rizki sudah cukup mahir dengan menghina orang lain.
"padahal gue baru mau ngomong dia udh keluar aja"batin rizki berteriak kesal dengan Icha yang tiba-tiba keluar dari mobil tanpa izin dari.
Karna belum waktunya berbicara dengan icha, akhirnya Rizki kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah, tujuannya sekarang adalah perusahaan karna ia ada jadwal meeting.
Sedangkan icha, ketika diruang tamu ia disambut oleh beberapa pelayan dan juga ibu mertua nya.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal ibu mertua, Icha cukup terkejut dengan perilaku ibu mertua nya ketika Rizki hendak membunuh dirinya.
"naik duluh mah"ucap Icha menatap Nawang sekilas.
"anak siapa..?"ucap Nawang menghentikan langkah Icha.
"kamu mengandung anak siapa..? meskipun Rizki belum cerita sepenuhnya tapi saya tau akar permasalahan kalian, kamu tidak pulang tiga hari kerumah dan sekalinya pulang kamu langsung hamil. Itu anak siapa..?"ucap Nawang dengan suara datar, meskipun kemarin ia sempat menolong Icha bukan berarti ia menerima icha sebagai menantu.
Kemarin ia menolong Icha hanya tergerak saja sesama perempuan, ia juga tidak tega meliha kondisi Icha pada saat itu.
"saya ngk ada hamil mah, saya waktu itu muntah gara-gara malamnya saya minum obat dua butir sekaligus dan syaa tidak makan duluh"
"kamu jangan pernah macam-macam iyh, meskipun kemarin syaa menolong kamu, mengirim pelayan untuk membantu kamu bukan berarti hati syaa luluh begitu saja sama kamu. Karna sampai kapan pun saya ngk sudi mempunyai menantu pembunuh"
"kalau syaa terbukti tidak pembunuh apakah mamah mau menerima syaa sebagai menantu..?"ucap Icha yang membuat nawang bungkam seketika, dari sini Icha paham. Hati manusia itu selalu berubah-ubah
"bukan saya berharap untuk diterima dirumah ini sebagai menantu, bahkan tidak ada sedikit pun terlintas dalam benak saya akan menjadi menantu dirumah"lanjut Icha.
"mamah tau..?saya bertemu Rizki baru 14hari, yang artinya saya menikah dengan Rizki baru dua Minggu, dan saya resmi menikah dengan Rizki baru dua hari yang lalu karna memang saya baru menandatangani buku nikah dua hari lalu. Hanya itu pertemuan singkat saya dengan Rizki"
"perlu mamah tau, Rizki menikahi saya tanpa hijab kabul, jadi mamah bisa bayangkan kalau saya hanyalah sebuah sampah yang petik Rizki dari jalanan sana"
"saya sadar jika uang sudah berjaln semua akan mudah seperti membalikkan telapak tangan"
"saya juga bingung mah, di bagian mana Rizki bisa menuduh syaa sebagai pembunuh, secara saya saja tidak mengenal siapa itu Amara, seperti apa suara nya Amara, seperti apa mukanya dan seperti apa sifatnya karna memang seumur-umur syaa tidak mengenal Amara dan syaa tidak pernah berbicara dengan. Tapi"ucap Icha terjedah sambil menarik napas panjang.
"entahlah mungkin karna saat kejadian kecelakaan tepat dihadapan saya jadi wajar klau Rizki menuduh saya"ucapnya lagi seperti pasrah dengan keadaan.
"ohh astaga saya cerita apa kali lebar belum tentu juga mamah percaya kan..?saya sudah kepikiran sampai kesna. Tapi saya cukup kasihan dengan Rizki, diliputi rasa dendam yang tak mendasar dan tak mempunyai kemampuan untuk mencari bukti"
"kamu l.._-"
"saya bukan menuduh anak mamah lemah tapi memang begitu faktanya kan..?Rizki tidak mampu mencari bukti kecelakaan beberpa bulan lalu, padahal uangnya banyak, punya kenalan dimana-mana, cerdas, pebisnis yang selalu disegani "ucap Icha memotong ucapan Nawang.
"dari sini sya mengerti pebisnis ngk selamanya menjadi orang cerdas, misalnya Rizki hanya karna bucin saja mau aja tuh diliputi dengan rasa dendam tanpa mau mencari bukti, padahal syaa rasa perusahaan nya ngk bakal bangkrut hanya untuk mencari bukti itu kan..?"
"sudahlah mah, Icha mau naik duluh. selamat sore mah"
Sedangkan Nawang hanya diam menatap punggung Icha yang semakin jauh. Dalam benaknya ia membenarkan ucapan Icha, kenapa Rizki tidak mencari bukti terlebih dahulu soal kecelakaan itu..?kenapa Rizki begitu bodoh asal menuduh orang lain yang bahkan tidak dikenal smaa sekali. Memikirkan hal itu membuat kepala Nawang hampir pecah rasanya
Tanpa mereka sadari ternyata tuan Reza yang sejak tadi diambang pintu mendengar semua percakapan Icha dan juga istrinya.
Ia cukup salut dengan pemikiran Icha yang selalu memakai logika dan tidak berfokus pada kata hati. Wajar Icha menjadi mahasiswa berprestasi dikampus dan mendapat beasiswa.
Tuan Reza menyukai cara berpikir Icha yang kritis dimana Icha menganalisis fakta untuk membentuk suatu penilaian dengan evaluasi bukti faktual, harusnya zaman sekarang membuat anak mudah yang mempunyai pemikiran seperti Icha.
__ADS_1
Berpikir dengan logika, bertindak dengan logika dan mengesampingkan perasaan. Karna ngk selamanya hidup ini berjalan sesuai perasaan kadang kalah kita juga harus bermain logika agar kita tidak terjebak dengan perasaan ataupun permainan sendiri.