
Setelah pertemuannya dengan Tante Erna selesai. Ellia memutuskan pulang kerumahnya. Dan kembali melewati para remaja pengunjung counter itu dengan santainya. Tanpa memperdulikan pandangan mereka.
Sebelum kembali, tak lupa Ellia juga kembali menitipkan counter tersebut pada Ritna. Dan mengatakan bahwa dia akan sibuk dalam dua hari ke depan. Karena suatu hal yang berhubungan dengan pekerjaan sampingannya saat ini. Yaitu sebagai seorang agen atau broker properti mandiri.
Sesampainya di rumah, Ellia langsung memasukan mobilnya kedalam garasi. Dan masuk kedalam rumah setelah sebelumnya memberi salam tepat didepan pintu masuk.
"Assalamu'alaikum, Mba'!!!" ucap Ellia
"Wa'alaikum salam, Neng. Udah selesai urusannya di counter?" balas dan tanya Mba' Nenang sambil tersenyum ramah. Sambil tangannya terus sibuk menyapu di teras rumah Ellia itu.
Ya, rumah Ellia yang dulu tampak sangat sederhana dan tak terurus. Sebelum ia berinisiatif untuk merenovasinya saat itu. Kini, seiring berjalan waktu dan juga perkembangan diberbagai aspek dari desa kecil tempat tinggalnya itu.
Memiliki rumah yang berdiri dilahan yang cukup luas dan berada di lokasi yang strategis. Yaitu, di tepi jalan simpang empat. Yang jika kearah barat, menuju lokasi sekolah menengah dan juga kantor camat. Dan jika kearah Utara, jalur menuju pasar harian. Untuk jalur timur menuju pantai wisata yang melintasi komplek perumahan sederhana. Sedang jalur selatan adalah jalan menuju kota.
Sehingga, setelah lulus kuliah dan juga memiliki pekerjaan. Yang mana dari pekerjaan itu, saat ini dia bisa memiliki bangunan kost-kostan khusus untuk putri. Dan memiliki penghasilan tambah dari gaji sebagai penjaga counter pulsa. Yang bahkan dua lebih banyak darinya itu.
Belum lagi, gaji sebagai seorang broker properti yang meski tak menentu akan mendapat penghasilan dari pekerjaannya itu di setiap bulan ataupun tahunnya.
Tapi, Ellia selalu mensyukurinya dan berusaha menikmati hidupnya serta kesendiriannya,saat ini. Meski di umurnya yang mulai memasuki usia matang untuk menikah, yaitu 27 tahun. Sedang hampir semua teman wanita sekelasnya dulu. Ada yang sudah memiliki dua anak. Dia tak perduli dan belum ada pemikiran untuk masuk ke face itu.
***
Sementara di sisi lainnya, masih di hari yang sama. Di dalam kantornya, setelah semua pekerjaannya selesai dan jam kantor pun telah berakhir hampir satu jam yang lalu. Namun, Evan masih saja betah duduk di kursi kerjanya. Tetapi, dia tidak lagi sibuk berkutat dengan komputer di depannya. Melainkan, sibuk dengan ponsel pintar yang ada di tangannya.
Setelah beberapa saat terlihat mengutak-atik layar ponsel itu. Kini, Evan terlihat menempelkan benda pipih itu ke sisi salah satu telinganya. Tampaknya, dia sedang menghubungi seseorang.
Tut...Tut...tut...
__ADS_1
Cukup lama nada itu terdengar di telinga Evan. Dan di detik berikutnya, suara lembut dari seberang telefon itu terdengar di sana. Hingga, sebuah senyuman tercetak jelas di bibirnya.
"Halo... ini siapa ya?" tanya suara seorang wanita dibalik sambungan telefon itu.
"Ehm... Halo juga, Nona Ellia. Ini saya Evan." jawab Evan setelah sebelumnya sedikit berdehem untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menderanya.
Ya, ternyata Evan sedang menghubungi nomor Ellia.
"Evan??? Apakah Tuan Evan Pemiliki perumahan XX?" tanya Ellia memastikan, kalau dia tidak salah orang.
"Benar sekali, Nona." jawab Evan singkat
"Em... Ada apa Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dan tawar Ellia ramah.
"Apa kau punya waktu? Bisakah kita bertemu kembali malam ini? Ada yang perlu aku bicarakan denganmu berdua." jawab Evan dengan pertanyaan.
Setelah sejenak memandangi layar ponselnya. Ellia kembali mendekatkan benda pipih itu ke sisi telinganya.
"Apa... ini ada hubungannya dengan masalah kerjasama kita saat ini, Tuan?" tanya Ellia mencoba menebak.
"Tidak. Ini tidak ada sama sekali hubungannya dengan kerjasama kita. Ini adalah masalah antara aku dan kamu." jelas Evan datar.
"Masalah aku... dan kamu. Apa itu artinya... kita?" tanya Ellia semakin bingung.
"Iya." jawab Evan singkat. "Apakah kau punya waktu?" tanyanya lagi.
"Em... apa tidak sebaiknya besok saja, Tuan? Dan... bukankah besok kita juga akan bertemu di lokasi perumahan XX miliki Tuan? Untuk saya bisa mengambil foto-foto perumahan itu sebagai bahan pelengkap promosi saya nanti." tolak Ellia dengan alasan yang tepat.
__ADS_1
Sebab, besok memang mereka akan bertemu kembali di tempat yang sudah mereka janjikan tadi siang. Seperti yang Ellia sebutkan itu.
"Iya. Kita memang akan bertemu besok. Tapi, besok itu akan ada Arfan yang akan ikut bersama dengan kita. Aku tidak nyaman, jika harus membicarakan hal yang aku maksud di depan Arfan. Jadi, bisakah kita bertemu di restoran tadi, malam ini? Sambil kita makan malam di sana nanti. Bagaimana?" jelas Evan dan kembali mengulang pertanyaannya yang merupakan maksud utamanya saat menelfon Ellia tadi.
"Begitu ya...?!" ucap Ellia mengerti. "Baiklah. Kita akan bertemu di restoran itu, satu jam lagi. Karena Aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini terlebih dahulu. Baru setelahnya bersiap-siap." putus Ellia akhirnya.
Mendengar itu, Evan langsung tersenyum lebar karena rasa bahagianya.
"Baiklah. Terimakasih sebelumnya?! Sampai jumpa nanti." ucap Evan sambil tetap tersenyum senang.
"Iya, sampai jumpa Nanti. Assalamu'alaikum!" ucap Ellia lagi sebelum akhirnya memutus panggilannya.
"Wa'alaikum salam." balas Evan.
Kemudian mengelus dada karena merasa lega. Akhirnya, permintaannya untuk bertemu dengan Ellia, dikabulkan. Meskipun dari balik telefon itu, Ellia terdengar malas. Tapi, Evan tak memperdulikan. Intinya, Ellia sudah berjanji untuk bertemu dengannya. Yang artinya, sebuah janji harus ditepati. Jika tidak akan menjadi hutang bagi Ellia padanya.
"Bos!!!" panggil Arfan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. "Belum mau balik?" tanyanya kemudian.
Evan yang sedang menikmati rasa bahagianya. Sedikit terkejut akan kedatangan Arfan yang tiba-tiba itu. Dan wajah yang sebelumnya dihiasi senyuman. Seketika itu, langsung berubah kesal. Dan menatap tajam asisten sekaligus teman bermainnya sejak kecil itu.
Mendapatkan tatapan seperti itu, Arfan hanya nyengir kuda dan pura-pura tak perduli.
"Sudah hampir jam 6. Apa kau masih ingin di kantor?" tanya Arfan masa bodoh dengan kekesalan yang ditampakkan oleh Evan padanya.
"Iya, aku tahu. Aku baru saja akan menemuimu, tadi. Ayo cepat balik!!!" ucap Evan berubah datar seperti biasa.
Lalu beranjak pergi keluar dari ruangan itu. Tanpa memperdulikan Arfan yang memanggilnya.
__ADS_1
"Iya. Jangan main pergi aja. Tunggu aku!!!" omel Arfan sambil melangkah cepat mengejar langkah kaki panjang Evan. "Dasar Bos Arogan!!" umpatnya lirih, agar tak terdengar oleh Evan.