Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Menatap Intens


__ADS_3

Waktu terus bergulir dengan cepat menganti hari menjadi Minggu, bulan dan bahkan tahun.


Setelah berhasil mendapatkan gelar sarjananya dan juga lulus dengan nilai terbaiknya. Kini Ellia sudah memiliki sambilan selain sebagai seorang penjaga counter kecil. Dia juga dikenal sebagai seorang broker properti yang cukup handal dikalangan broker atau agen properti lainnya. Melalui situs broker properti Indonesia yang terpercaya dan sudah bersertifikasi.


Setelah sebelumnya melewati beberapa fase pembelajaran yang cukup sulit baginya sebagai seorang agen properti junior. Dengan berbekal kejujuran dan ketulusannya. Akhirnya, karirnya semakin menanjak berkat jasa orang-orang yang pernah menjadi vendornya.


Dan dikalangan para mantan vendor-vendornya itu. Ellia terkenal sebagai seorang agen wanita termuda yang cerdas dan kemampuan yang sangat baik dalam bernegosiasi dengan para calon pembelinya. Serta banyaknya cara yang dilakukan dalam mempromosikan properti dari para vendornya. Hingga ia bergelar broker properti handal yang memiliki banyak jaringan Klein dimana-mana.


Di suatu hari, saat sedang melakukan panggilan video bersama dengan teman lamanya. Ellia tiba-tiba mendapat sebuah email dari lembaga sertifikasi profesi broker properti.


Yang mana email tersebut berisi sebuah tawaran untuk bekerjasama dengan sebuah perusahaan properti perumahan yang baru saja berdiri beberapa bulan lalu. Dan berada dekat dengan di daerah tempatnya saat ini berdomisili.


Ya, desa kecil tempat dimana Ellia bertumbuh dewasa hingga seperti saat ini. Kini berubah menjadi salah satu desa terindah yang memiliki banyak sajian panorama wisata alam yang tersedia di sana. Sehingga, banyak perusahaan properti yang berlomba-lomba membangun hunian-hunian. Baik hunian tetap maupun hunian sementara.


Mendapat email tersebut, setelah panggilan videonya berakhir. Ellia langsung saja membuka alamat email perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya itu. Dan mencari tahu informasi properti seperti apa yang akan ia promosikan nanti.


Setelah mengetahui semua informasi yang ingin ia ketahui. Ellia juga langsung menerima tawaran tersebut. Dan membuat janji temu dengan pemimpin perusahaan yang akan menjadi calon vendornya itu. Untuk membuat suatu kesempatan tentang proyek penjualan properti yang akan ia jalankan itu.


***


Hari ini di sebuah restoran, tampak seorang gadis cantik. Sedang duduk disalah satu kursi pengunjung sambil sesekali menatap kearah jam ditangannya. Ya, gadis cantik itu adalah Ellia. Dia sedang menunggu calon vendornya.


Dengan kemeja batik berwarna pastel dan dipadu rok span berwarna hitam. Serta tampilan rambut yang diikat model half up bun. Sehingga membuat tampilan formalnya tampak simpel namun tetap elegan.


Setelah menunggu dengan sabar beberapa saat. Akhirnya, orang-orang yang ditunggu pun datang.

__ADS_1


"Permisi?! Dengan Nona Ellia Zhafira Myesha?" tanya seorang pria.


Ellia yang sedang menyibukkan diri membaca kembali lembaran-lembaran kertas yang ia bawa. Begitu mendengar namanya disebutkan oleh seseorang. Langsung melihat kearah sumber suara itu. Dan mendapati dua orang pria tampan yang berdiri didepannya.


Ellia pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab pertanyaan pria itu. "Iya, benar. Dengan Tuan Arfan?" jawab dan tanya Ellia balik untuk memastikan bahwa pria itu adalah orang yang sedang ia tunggu.


"Benar Nona. Maaf, telah membuatmu menunggu lama?!" jawab Arfan ramah dan meminta maaf karena terlambat datang. Sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga baru sampai sekitar sepuluh menit yang lalu." jawab Ellia sambil tersenyum ramah dan menyambut jabatan tangan Arfan.


"Perkenalkan ini Tuan Evan. Pemilik perumahan elit yang akan kau tangani penjualannya nanti." ucap Arfan. Memperkenalkan pria yang ada disampingnya.


"Evan" ucap Evan


"Ellia" ucap Ellia masih dengan senyum ramahnya.


Melihat itu, Arfan segera menyadarkan Evan dari perilaku tidak sopannya. Dengan menyenggol sedikit lengan Evan.


"Eh... maaf?!!" ucap Evan kemudian saat tersadar dan langsung melepaskan jabatan tangannya.


"Em... tidak apa-apa, Tuan. Mari, Silahkan duduk!!!" ucap Ellia berusaha tetap tersenyum ramah dan mempersilahkan kedua pria itu untuk duduk. Yang sesungguhnya ia telah merasa risih dengan sikap Evan padanya.


"Baik, terimakasih." jawab Arfan sedikit malu atas sikap atasannya pada Ellia.


Demi menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Tanpa berbasa-basi, Arfan pun langsung memulai pembahasan masalah tentang inti dari pertemuan mereka itu.

__ADS_1


Hingga hampir satu jam lamanya. Akhirnya, mereka menutup pertemuan itu dengan makan siang bersama di restoran tersebut.


Ketika sedang keluar bersama-sama dari restoran tersebut. Dan karena masih merasa tidak enak hati atas sikap kurang sopannya tadi. Evan kembali meminta maaf pada Ellia.


"Maafkan atas sikap ketidak sopanan saya tadi Nona Ellia??! Saat pertama kali melihat wajah Anda tadi. Jujur, saya sedikit merasa tidak asing dengan wajah Anda. Em... Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" ucap Evan jujur dan bertanya sambil kembali menatap wajah Ellia untuk memastikan lagi.


Walaupun baru bertemu dan dalam waktu sesingkat itu. Ellia sudah membiasakan dirinya untuk bersikap biasa-biasa saja. Saat kembali ditatap oleh Evan seperti itu.


"Em... sudah tidak masalah, Tuan. Dan masalah pernah bertemu... sepertinya tidak pernah, Tuan Evan." jawab Ellia santai dengan memperlihatkan senyum manisnya.


"Benarkah??!" ucap Evan tidak yakin. "Oh... baiklah. Mungkin cuma perasaan saya saja, Nona." imbuh Evan. Dan Ellia sedikit mengendikkan kepalanya menanggapi pernyataannya.


"Oke. Sampai bertemu dilain waktu. Semoga kerjasama kita ini membuahkan hasil yang memuaskan." ucap Evan untuk mengakhiri pertemuan itu. Dan mengulurkan tangannya kearah Ellia.


"Iya. Semoga Tuhan mendengar doa kita, Aamiin." timpal Ellia sambil menyambut uluran tangan itu.


"Aamiin..." ucap Evan dan Arfan kompak.


Dan Arfan pun ikut berjabatan tangan dengan Ellia. Setelah itu, mereka langsung berpisah dan menuju mobil mereka masing-masing.


Didalam mobilnya, Ellia sedikit melihat wajahnya. Dan setelahnya mengumpat Evan. Sambil menekan tuas perseneling mobilnya untuk sedikit melampiaskan kekesalannya.


"Apa ada yang salah ya pada wajahku? Tidak, biasa-biasa saja. Em... Aku tahu, mungkin wajahku ini familiar untuknya. Tapikan, tidak perlu memandang wajahku dengan seperti itu, membuatku malu. Dasar pria Bos tampan, tapi aneh!!!" omel Ellia kemudian mengumpat Evan.


Sementara di mobil Evan,

__ADS_1


"Ada apa denganmu Bos? Kenapa kau menatap Nona Ellia seperti tadi? Dia terlihat cukup cantik. Dan berbeda dari wanita-wanita yang pernah mendekatimu. Apa kau jatuh cinta padanya?" cerca Arfan pada Evan sambil terus fokus mengemudikan mobil milik Evan.


Ya, selain asisten pribadi dan sahabat sepermainan sejak kecil. Arfan juga merangkap menjadi sopir pribadi bagi Tuan Evan Dimas Atmaja. Jadi secara otomatis, kemanapun Evan pergi menggunakan mobil. Sudah pasti yang akan Arfan mengantarnya.


__ADS_2