Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Ngotot Banget


__ADS_3

   Setelah semua atribut keamanannya dalam berkendara tadi terlepas. Wajah pria kurir itupun terpampang dengan jelas.


  Namun apa yang terjadi? Bukannya langsung mengenali pria itu. Ellia justru tampak berpikir keras saat itu. Membuat pria kurir itu kembali melemparkan pertanyaan padanya.


    "Apa Mba' Ellia lupa lagi padaku?" tanya pria kurir itu. "Hem... sungguh! Aku akui, Mba' Ellia ini benar-benar pelupa. Ini adalah kali ketiga kita bertemu disini dan terakhir kali. Kita sudah berkenalan satu sama lain. Tapi, Mba' Ellia masih melupakanku juga. Apa karena kurangnya bertemu ya?!" sambungnya menduga-duga.


    "Hehehe... maafkan aku, Mas?! Aku memang sedikit pelupa. Yang mungkin diakibatkan terlalu banyak orang yang datang kemari dan bertemu denganku setiap harinya. Apalagi jika kita memang jarang bertemu sebelumnya. Aku hanya merasa sedikit tidak asing pada wajahmu. Tapi, untuk namanya... aku sudah lupa. Hehe... maaf! Kalau begitu, ayo kita kenalan lagi aja." jawab Ellia


   "Kebetulan, disini ada adik saya yang juga akan ikut berkenalan denganmu. Dia mempunyai ingatan yang kuat. Jadi, jika aku lupa dia bisa mengingatkan aku nantinya." sambung Ellia lagi. "Bukan begitu, De'?!" tanyanya beralih pada Ritna.


Yang sejak tadi hanya diam saja menyaksikan obrolan tak bermutu dari dua insan berbeda genre itu. Dan mendengar pernyataan dari Ellia itu. Ritna tak memberikan tanggapan apa-apa. Karena sibuk memperhatikan kedua orang dewasa didepannya itu.


Kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan kembali dengan Mas kurir itu.


     "Dan karena Masnya udah tahu serta hafal namaku. Jadi, Mas aja yang sebutin namanya. Biar aku tahu, ya!" ucap Ellia lagi, seperti sebuah perintah pada lawan bicaranya itu. Sambil mengulurkan tangannya.


    "Hem... gini aja, Mba. Boleh aku pinjam ponselnya Mba', sebentar?!" ucap Mas kurir itu. Tanpa membalas uluran tangan Ellia itu dan membiarkannya menggantung begitu saja.


    "Ponsel aku? Untuk apa!" tanya Ellia dengan wajah


 bingung. Dan uluran tangannya yang tak bersambut itu. Ia tarik kembali dan langsung diletakan keatas posisi kantong celananya yang berisi ponsel didalamnya.


     "Pinjam aja dulu, Mba'. Aku mau kita tukeran nomor ponsel aja. Siapa tahu dengan begitu, kita jadi bisa sering ketemu. Dan Mba' Ellia juga nggak akan lupa lagi padaku. Mana?!" jawab Mas kurir itu, sambil tersenyum menggoda dan menengadahkan tangannya kearah Ellia.


     "Ihhh... nggak perlu gitu juga kali, Mas. Sebutin aja namanya cepat! Nanti, namanya Mas akan langsung aku catat aja di kertas memo pada dinding itu. Biar kalau Mas datang lagi dan aku lupa namanya. Terus adik aku lupa juga. Aku bisa langsung lihat ke sana aja. Bereskan?!!" tolak Ellia, halus. Dan sekaligus memberi idenya.


    "Pelit amat sih, Mba'! Cuma nomor ponsel doang... juga. Aku janji nggak akan kasih ke siapa-siapa lagi kok, nomornya Mba' itu. Khusus buat aku aja. Janji!" ucap Mas kurir itu dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


     "Hem... ngomong-ngomong, sejak tadi ini.... Sebenarnya, kita itu hanya meributkan soal namanya Mas ini, bukan De'?!" ucap dan tanya Ellia pada Ritna, seperti tersadar. Dan Ritna hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


    "Astaga...!!! Nggak mutu banget sih, Mas. Kalau nggak mau aku kenal, ya udah nggak usah aja aku kenal. Ribet banget sih!!! Nggak penting juga." ucap Ellia sedikit kesal pada Mas kurir itu. Yang menurutnya sangat membuang waktunya. Sambil melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda tadi. Untuk masuk ke area kitchen dalam counter tersebut.


Sementara, rencananya tadi saat keluar dari ruang kerjanya adalah untuk mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya yang sudah terasa lapar sekali. Tetapi, cukup malas untuk memakan menu makanan yang berat saat itu. Jadi, tertunda gara-gara sapaan si Mas kurir yang ngotot tak ingin mengumbar namanya itu.


 Sepeninggalan Ellia, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas kurir yang awalnya berniat ingin lebih dalam mengenal sosok wanita cantik dan anggun bernama Ellia itu. Hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Akibatnya usahanya itu gagal total tanpa membuahkan hasil sama sekali.


  Namun, melihat Ritna yang masih standby di tempatnya. Mas kurir itu tak patah semangat. Dan Ia beralih pada Ritna.


    "De'! Kamu pasti punya nomor ponsel, Mba' mu itukan? Boleh Mas minta?" pinta sang Mas kurir itu dengan wajah memelas pada Ritna.


    "Mas kurir...! Aku memang punya nomornya. Tapi, entah masalah apa yang terjadi di antara kau dan Kakakku itu. Aku tak ingin ikut campur dengan masalah kalian itu. Oke?!!! ucap Ritna menolak dengan tegas. "Sekarang aku tanya, Mas datang tadi untuk mengantar makanan pesanan aku, bukan? Sekarang mana makanannya! Perut aku udah laper tahu nggak dari tadi. Masnya malah sibuk berdebat dengan Mba'ku itu." sambung Ritna menengadahkan tangannya kearah Mas kurir itu.


"Hehe ... maaf, De'! Ini makanannya. Jangan galak-galak gitu dong... ! Entar pelanggan counter nya pada kabur lagi." ucap Mas kurir cengengesan sambil tangannya terulur menyerahkan bungkusan berisi makanan pesanan Ritna itu.


"Bodo'. Emang aku pikirin! Daripada aku pingsan disini gara-gara kelaparan. 'Kan berabe! Jadi, biarin aja pelanggannya pergi. Entar balik lagi kok, kalau dia butuh." jawab Ritna, ketus.




"Ogah. Minta aja sendiri!" jawab Ritna semakin ketus. "Nih, uangnya! Semuanya, jadi 69 ribu 'kan?!" lanjutnya, sambil menyodorkan uang pasnya pada Mas kurir itu. Untuk membayar makanannya.



Dan Mas kurir itu mengulurkan tangannya. Tetapi, bukannya menerima uang itu. Dia malah mendorong tangan Ritna yang berisi uangnya itu.



"Makanannya aku gratisin. Tapi, sebagai gantinya, bagi nomor Mba'mu ya?!" ucap Mas kurir itu.

__ADS_1



"Ih... itu sih bukan gratis, Mas. Tapi, barter namanya."ucap Ritna. "Kenapa sih Mas, ngebet banget minta nomor Mba'ku. Naksir ya?!" sambung Ritna, menebak.



"Hehe... kalau iya, nggak pa-pa 'kan, De?" jawab Mas kurir lagi, cengengesan. "Belum ada yang punya 'kan?" sambungnya, bertanya balik.



"Udah. Mba' ku itu udah ada yang punya, Mas." jawab Ritna, berbohong. Karena sudah malas meladeni si Mas kurir yang ngotot itu.



"Masa'? Aku percaya tuh. Ayolah, De... bagilah nomornya!" ucap Mas kurir, memelas.



"Heemmm... maksa banget sih, nih orang. Ya udah, sini'in hapenya!" jawab Ritna sambil merebut paksa ponsel Mas kurir itu dari pemiliknya. Dan mulai mengetik sesuatu di sana.



Sementara itu, Ellia yang sudah selesai mengisi perutnya. Dengan makan seadanya dibelakang, sudah kembali.



"Eh, kok belum pergi juga tuh Mas kurir, De'?" tanya Ellia, sedikit terkejut. Dengan wajahnya yang tampak datar melirik kearah si Mas kurir. Yang dibalas dengan senyuman manis dari si Mas kurir itu.


__ADS_1


"Eh, iya Mba'. Sebentar lagi dia juga akan pergi, Mba'." jawab Ritna yang juga terkejut dengan ucapan Ellia yang tiba-tiba muncul itu.


__ADS_2