Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Kurir yang Menyebalkan


__ADS_3

 Setelah ia selesai mengetikan nomor ponsel milik Ellia ke ponsel Mas kurir itu. Ritna pun mengembalikan ponsel milik si Mas kurir itu dengan segera.


     "Nih ponselnya! Karena Mas udah dapat nomornya, berarti makanan ini gratiskan? Dan aku nggak perlu bayar toh!" ucap Ritna memastikan.


    Sementara si Mas kurir itu, masih fokus pada ponselnya. Sambil menatap layar ponselnya itu dengan tersenyum-senyum sendiri. Tanpa mendengarkan ucapan Ritna padanya barusan.


 Hingga membuat Ritna menghembuskan nafasnya kasar. Karena sedikit kesal melihat tingkah si Mas kurir didepannya itu. Yang semakin lama di sana, semakin membuatnya geram saja.


    "Hei, Mas kurir!" ucap Ritna sambil melambaikan tangannya tepat ke depan wajah si Mas kurir itu. Hingga membuat si Mas kurir itu akhirnya melihat kearahnya. "Yang kau mau, sudah kau dapatkan bukan?! Sekarang, pulanglah sana! Jangan senyam-senyum kayak orang gila disitu!" sambung Ritna masih dengan nada ketusnya.


   Namun, bukannya langsung balik kanan dan pulang. Si Mas kurir itu malah meraih paksa tangan kanan Ritna. Untuk disalaminya sambil mengucapkan terimakasihnya dengan begitu riangnya. Membuat Ritna tampak bingung dengan kedua kening dalamnya terangkat dan bertaut.


       "Alhamdulillah... terimakasih ya, De'! Terimakasih banget!!! Karena kamu belum kenal namaku, maka sekalian. Kenalkan, namaku Adzriel. Sampaikan juga ya... pada Mba' mu itu. Kalau namaku Adzriel. Ya sudah, aku akan balik sekarang. Assalamu'alaikum!" ucap si Mas kurir pengantar paket makanan itu. Yang ternyata namanya adalah Adzriel.


   Setelah mengucapkan salamnya, Adzriel pun segera putar balik. Dan pergi dari counter itu dengan mengendarai motor maticnya itu.


     "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu." balas Ritna. Setelah si Adzriel itu hampir menghilang dari pandangannya. "Segitu girangnya tuh Mas kurir. Setelah dapat nomornya Mba' Ellia. Ckckck..." sambungnya bermonolog.


     "Apa?!! Kau memberikan nomor Mba' sama tuh Mas kurir, Rit'!" tanya Ellia

__ADS_1


Dengan nada suaranya yang naik satu oktaf. Membuat Ritna seketika itu pula terkejut dan tersentak, kaget.


    "Astagfirullahal'adzim!" ucap Ritna sambil memegangi dadanya. "Hehe... iya, Mba'. Habisnya... tuh Mas kurir ngotot dan maksa banget, Mba'. Jadi, ya aku kasihlah Mba'. Kasian dan geram juga aku lama-lama lihat dia nggak mau pergi dari sini. Kalau dia nggak dapat nomor Mba' itu, Mba'.." sambung Ritna, jujur sambil cengengesan.


   "Heeem! Kenapa ya.. tuh orang bikin kesal aja! Dasar si Mas kurir menyebalkan." ucap Ellia dengan mendengus kesal. "Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Jika, dia menghubungi Mba'. Nantinya, Mba' sendiri yang akan menanganinya." sambung Ellia, memutuskan.


Setelah mengatakan itu, Ellia yang tadi berniat mengambil air minum di belakang. Kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan itu. Sementara Ritna, juga sudah kembali fokus pada pekerjaannya sendiri.


____----____


Tepat pukul 19.00 WITA, Ritna dan Ellia mulai menutup counter itu. Setelahnya, sebelum dia kembali ke rumah pribadinya. Terlebih dahulu, Ellia mengantarkan Ritna ke rumahnya. Seperti biasa, jika mereka sama-sama ada dan menjaga counter itu. Tetapi jika tidak, Ritna akan dijemput oleh adiknya yang cowok menggunakan motor buntutnya. Setelah di telfon terlebih dahulu oleh Ritna untuk menjemputnya.


 Usai mengantar Ritna, Ellia memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya. Saat mobilnya sudah terparkir rapi di carport rumahnya. Baru saja tangan Ellia terulur untuk membuka pintu mobilnya. Satu deringan ponselnya berhasil menghentikan gerakan tangannya itu. Dan beralih merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel tersebut.


Saat melihat nama yang tertera dilayar utama ponselnya itu. Dia pun segera menggeser icon berwarna hijau di sana. Kemudian setelahnya, salah satu sisi ponsel itu ia tempelkan pada telinganya. Untuk mendengarkan suara orang yang ada diseberang telfonnya itu. Sambil keluar dan mengunci pintu dari mobilnya itu. Lalu, masuk kedalam rumahnya setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan pintu itupun segera dibukakan oleh Neneng yang memang sejak tadi sudah menunggunya.


     "Halo, Assalamu'alaikum, Tuan Arfan! Ada apa, kok tumben malam-malam begini menelpon ku? Apa ada yang penting, Tuan?" sapa Ellia dan sekaligus mencerca Arfan yang ada dibalik telponnya itu dengan pertanyaan.


Ya, pasalnya selama mereka menjalin hubungan bisnis penjualan rumah kemarin. Jarang sekali dan bahkan tidak pernah Arfan menelponnya di jam-jam seperti saat ini.

__ADS_1


     "Iya, halo. Wa'alaikumsalam, Nona Ellia. Apa saat ini aku mengganggu Anda, Nona?" jawab Arfan dan balik bertanya. Untuk memastikan kalau saat itu dia tak mengganggu waktu Ellia.


    "Oh... tidak, Tuan. Anda tidak mengganggu saya. Memangnya ada apa, Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu? Katakan saja Tuan, tidak perlu merasa sungkan seperti itu!" jawab Ellia


    "Begini, Nona. Aku... em.... Jujur! Aku sedikit malu mengatakannya padamu. Tapi, aku juga tidak punya pilihan lain saat ini. Sebab selama ini, sebelum aku bertemu Anda. Aku memang telah banyak bertemu dan mengenal beberapa wanita ditempat kerjaku. Tetapi, tidak ada satupun dari mereka yang bisa nyambung dengan ku. Dan enak saat diajak ngobrol seperti anda, Nona." ucap Arfa, sedikit berbasa-basi sebelum berbicara ke intinya.


   "Ah, benarkah seperti itu, Tuan?!" tanya Ellia, tak percaya. "Tapi ngomong-ngomong, maksud Tuan Arfan mengatakan itu semua. Untuk apa ya? Bisa anda langsung ke intinya saja, Tuan!" lanjut Ellia, tak mengerti dan tak bisa menebak maksud dari pernyataan dari Arfan itu.


 Karena tak terlalu suka dengan orang yang berbicara terlalu berbelit-belit dan banyak basa-basi. Ellia pun mendesak agar Arfan langsung berbicara ke intinya pembicaraannya saja.


    "Em... Sebenarnya, aku ingin mengajak anda, Nona. Untuk menghadiri sebuah undangan reuni alumni dari kampus XX. Bekas tempatku dulunya menimba ilmu. Kami diharuskan membawa pasangan kami masing-masing saat hadir di sana nantinya. Tetapi, Nona tahu sendiri bukan. Kalau, aku tuh belum menikah dan juga tidak punya pasangan yang bisa diajak ke sana. Jadi, maukah anda berpura-pura menjadi kekasihku, Nona? tanya Arfan akhirnya. Setelah menjelaskan cukup panjang kali lebar maksud hatinya itu.


   "Em... memangnya kapan acara tersebut digelar, Tuan" tanya Ellia, lagi.


    "Insyaallah, dua hari lagi, Nona. Apa kau bisa dan ada waktu luang, Nona?" jawab dan Arfan lagi.


    "Hem... dua hari lagi ya?! Acaranya malam apa siang, Tuan?" lagi Ellia bertanya.


     "Malam hari, Nona. Jika, memang anda siap. Nanti, aku sendiri yang akan menjemput dan mengantarkan anda, Nona. Bagaimana?" jelas Arfan

__ADS_1


      "Baiklah. Insyaallah, aku siap Tuan." jawab Ellia, pelan.


      "Benarkah, kau siap Nona?! Alhamdulillah. Terimakasih, Nona. Jika seperti itu, Anda tidak perlu pusing memikirkan pakaian apa yang harus dan pantas anda kenakan nanti, Nona. Karena aku sudah mempersiapkannya. Dan anda tinggal mengenakannya saja, nanti. Besok, aku akan mengirimkan pakaian itu ke rumah anda." ucap Arfan, terdengar begitu bahagia. Karena Ellia bersedia menjadi pasangannya nanti.


__ADS_2