
Hari-hari berlalu, Ellia telah selesai melakukan survei pada perumahan elit milik perusahaan Evan. Yang akan dia bantu mempromosikan dan menjualkan sesuai isi kontrak kerja mereka.
Dan Evan juga menepati janjinya pada Ellia untuk tidak bertemu dengannya. Jika bukan karena perihal membahas hubungan kerja. Dengan terbukanya Evan padanya beberapa hari lalu. Tentang perasaan terpendamnya selama ini pada Ellia.
Membuat Ellia mengunci dirinya sendiri. Agar tidak menjadi penyebab retaknya hubungan suami istri. Antara Evan dan istrinya, yaitu Puspita. Bagi sebagian orang, mungkin akan mengatakan padanya; Buat apa kau repot-repot menutup dirimu? Toh yang memulai semuanya bukan kamu, tapi Evan.
Tetapi Ellia, hanya seorang wanita biasa yang ingin hidup tenang, tentram dan damai. Tanpa merasakan rusaknya suatu hubungan silaturahmi antar sesama manusia. Hanya karena persoalan yang namanya cinta.
Karena itulah, sebisa mungkin dia menghindar. Sebelum semuanya menjadi rumit dan akan semakin rumit. Jika sampai, hatinya pun masuk dan terlibat dalam hubungan itu. Dan menciptakan sebuah cerita cinta segitiga.
Oh...tidak!!! Sudah cukup penderitaan Ellia selama ini menjalani hidup sebatang kara. Dan memulai karirnya dengan mulus tanpa gangguan yang namanya asmara cinta.
Ellia memang belum pernah sekalipun menjalani yang namanya pacaran, hingga kini. Dan bukan berarti, sekalinya menjalin hubungan dengan pria. Lantas dia akan menjadi perusak hubungan rumah tangga orang. Tidak!!! Itu bukan Elllia.
Dan diam-diam, Evan ternyata terus mengawasi Ellia dari kejauhan. Lewat kamera kecil dan tersembunyi di balik kancing jas milik Arfan. Saat Ellia dan Arfan masih terus saling bertemu untuk membicarakan urusan kerja sama mereka.
***_____***
Di suatu siang, Ellia yang ditemani oleh Neneng. Sedang asyik berbelanja untuk keperluan rumah dan juga keperluan pribadi mereka seperti biasanya. Dan itu merupakan agenda setiap awal bulan, bagi mereka. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama sebulan penuh, ke depan.
Dan kali ini, Ellia memilih berbelanja dan membawa pembantunya itu. Disebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota. Dan saat ini, Ellia sedang sibuk memilah dan memilih barang yang akan dia beli. Sedang Neneng hanya membantunya mendorong troli belanjanya.
Tiba-tiba, suara seorang wanita terdengar menyebut dan memanggil nama Ellia. Dan Ellia yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.
"Ellia...!!!" ucap seseorang dari arah samping Ellia. "Kamu Ellia 'kan?" lanjut seseorang itu sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah Ellia.
__ADS_1
"Eh.... Maaf, Mba' siapa ya?" tanya Ellia dengan wajah bingung.
Bukannya sombong, Ellia memang sungguh tak mengenal wanita yang sudah berdiri didepannya itu.
"Astaga Ell'!!! Kau benar tidak mengenalku?" ucap dan tanya wanita itu lagi. Sambil mengangkat kaca matanya keatas kepalanya. Agar Ellia bisa melihat dengan benar wajahnya itu.
"Oh... astaga! Mba' Puspita bukan ya??!" ucap tanya Ellia memastikan lagi.
"Ya iya, Ellia. Ini aku, Puspita." jawab wanita itu. Yang ternyata adalah Puspita, istri Evan Dimas Atmadja.
"Apa kabar? Apa kau masih bekerja dengan Tante Erna? Bagaimana dengan kabar Tanteku itu sekarang?" imbuh Puspita mencerca Ellia dengan pertanyaannya.
"Alhamdulillah, kabarku baik, Mba'. Dan ya, aku masih tetap bekerja dengan Tante Erna. Beliau, Alhamdulillah sehat juga. Hanya saja, beliau sudah sangat jarang datang ke counter nya. Dalam sebulan, terkadang hanya datang satu kali ke sana. Beliau sedang sibuk-sibuknya bermain bersama cucu balitanya. Mba' Puspita sendiri, apa kabar?" tanya balik Ellia. Setelah sebelumnya menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan Puspita padanya.
"Oh ya?!!! Aku baik. Seperti yang kau lihat." jawab Puspita dengan sedikit mengendikkan bahunya cuek.
"Dia siapa Mba' Ell'? Kelihatannya, dia sangat sombong ya, Mba'." tanya Neneng penasaran melihat wanita yang tampak sombong dimatanya itu. Dan sedikit mengatai Puspita dengan suara dibuat se-lirih mungkin. Agar suaranya tidak samo terdengar si Puspita itu sendiri.
"Hush... jangan berkata begitu, Mba'! Nanti dia mendengarmu. Dia anak dari Pak Kades kita saat ini. Dan juga istri dari pemilik perumahan elit yang kita lewati tadi, Mba'." jawab Ellia berbisik dengan sangat lirih.
"Oooh...ups!!!" ucap Neneng ber'oh ria. Kemudian langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Saat otaknya baru ngeh dengan jawaban Ellia tersebut.
"Oh iya, Ell'! Apa kau pernah bertemu dengan ayahku? Bagaimana kabarnya?" tanya Puspita saat teringat dengan sosok ayahnya.
"Em... sepertinya, beliau baik dan sehat-sehat saja. Aku tidak bertemu dengannya secara langsung, Mba'. Aku hanya sekedar melihatnya saja. Saat pulang dari pantai wisata, kemarin." jawab Ellia jujur.
__ADS_1
"Em...begitu ya! Ya sudah, jika kau bertemu dengannya nanti. Katakan padanya, aku merindukannya. Dan jika sempat, aku akan berkunjung ke rumahnya pekan depan." ucap Puspita. "Aku akan lanjut belanja. Terimakasih sebelumnya! Silahkan lanjutkan kegiatan kalian! Aku pergi, sampai jumpa lain waktu, dadah...!" lanjut Puspita
Kemudian mulai melangkah pergi dengan angkuhnya. Meninggalkan Ellia dan Neneng di sana.
"Iya. Silahkan, Mba'. In Syaa Allah akan saya sampaikan. Da-dah..." jawab Ellia sedikit kaku.
Setelah kepergian Puspita, Ellia dan Neneng kembali melanjutkan kegiatan belanja mereka. Hingga troli yang didorong Neneng pun hampir penuh dibuat oleh Ellia.
Setelah semua keperluan yang dibutuhkan sudah masuk kedalam troli belanjaannya. Mereka menuju kasir dan Ellia membayar semua belanjaannya itu.
Karena terlalu lama berkeliling dipusat perbelanjaan itu. Perut Ellia sudah merasa sangat lapar sekali. Jadi, Ellia memutuskan untuk mengajak Neneng untuk makan siang dulu di sebuah food court. Sebelum mereka pulang ke rumah.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, datang. Ellia dan Neneng mengobrol santai sambil sesekali tampak tertawa bersamaan.
Dari salah satu sudut ruangan food court itu. Seorang Evan Dimas Atmadja yang sedang duduk dengan seorang wanita. Sesekali mencuri pandang untuk memandangi wajah cantik Ellia yang sedang tertawa bahagia bersama temannya dari kejauhan. Dan Ellia sendiri, tak mengetahui itu.
Karena posisi duduk wanita yang sedang bersama Evan itu membelakangi Ellia. Jadi, wanita itu tidak tahu kalau saat ini Evan sedang memandangi wanita lain dibelakangnya.
"Ellia...?! Wah... Kita ketemu disini lagi. Kukira, kau sudah pulang sejak tadi." ucap Puspita kembali menyapa Ellia saat akan melewati meja makan yang mana ditempati oleh Ellia dan Neneng.
"Hehe... iya, Mba' Puspita. Habis belanja, perut sudah lapar. Jadi, kami putuskan untuk makan dulu baru kembali pulang. Mba' habis makan juga?" jawab Ellia sambil tersenyum lebar dan balik tanya.
"Iya. Kebetulan, usai belanja tadi. Suami mengajak makan siang bersama disini." jawab Puspita. Sambil menarik tangan Evan dan merangkulnya mesra.
"Oh iya, Mas! Kau masih ingat pada gadis ini? Gadis yang pernah bekerja di counter pulsa milik Tante Erna di desaku. Eh... bukan pernah, tapi sampai saat ini ya... masih bekerja di sana. Apa kau ingat?" imbuh Puspita beralih tanya pada Evan dan menjelaskan siapa gadis yang saat ini dia sapa.
__ADS_1
Yang tentu saja, Evan sendiri sudah sangat tahu bahkan sangat mengenal gadis itu. Karena gadis itulah yang saat ini sedang memenuhi relung hatinya. Tanpa ada yang tahu selain dirinya sendiri dan asistennya, Arfan. Untuk itu, Evan hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti kearah Ellia. Demi menanggapi ucapan panjang Puspita tersebut.
Sedang Ellia, demi menutupi perasaannya yang tiba-tiba terasa aneh baginya. Saat bertemu lagi dan saling pandang dengan pria yang beberapa hari ini sedang dihindarinya. Karena suatu alasan yang hanya dia sendiri yang tahu alasannya. Tak ingin Puspita berpikir macam-macam tentangnya. Dengan terpaksa dan berpura-pura. Ellia membalas senyuman Evan itu dengan tersenyum ramah.