Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Menginap


__ADS_3

 Saat sedang asyik mengobrol santai seperti itu. Tiba-tiba Ellia bertanya pada Tante Erna. Apa hal yang membuat jadwal kunjungan tantenya itu. Bisa sampai selarut itu baru sampai di counter-nya itu. Dan Tante Erna pun mulai bercerita.


     "Tadi pagi, saat Tante udah mau jalan dengan tujuan awal mengunjungi counter-counter seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi tiba-tiba, Puspa nelfon Tante. Dan meminta tolong pada Tante untuk datang menghadiri persidangan terakhirnya bersama Evan. Sambil memohon-mohon dengan sangat. Sebenarnya, Tante nggak mau hadir karena malu. Tapi, apa mau dikata... selain Tante dan papanya. Puspa sudah tidak punya sanak saudara yang lain lagi. Bukan?!" ujar Tante Erna


    "Persidangan Mba' Puspa dan Tuan Evan? Maksudnya persidangan apa, Tan'!" tanya Ellia, tak mengerti.


     "Persidangan perceraian. Hari ini mereka resmi bercerai. Dan tadi, Tante diminta Puspa buat jadi saksi dari pihak dia. Makanya, Tante sudah kesiangan baru bisa jalan ke counter. Dan sudah semalam ini baru bisa tembus kesini. Lelah sekali rasanya...!"


     "Maaf, Tante?! Kalau boleh tahu, kenapa mereka bercerai? Perasaan waktu aku ketemu sama mereka berdua beberapa waktu lalu, di mall. Mereka terlihat baik-baik saja dan tampak mesra. Kenapa tiba-tiba memutuskan bercerai?" tanya Ellia, sedikit sungkan karena terlalu tampak ingin tahu urusan rumah tangga orang.


 Dalam hatinya, Ellia begitu khawatir akan dirinya. Tiba-tiba, ia teringat akan peristiwa malam saat Evan mengungkapkan perasaannya terhadapnya. Ellia takut, itulah yang memicu keretakan rumah tangga itu. Jadi untuk itu, dia ingin sedikit tahu apa penyebab perceraian antara Puspita dan Evan itu bisa terjadi.


   "Tante dengar dari Listiani, ibunya Evan. Kalau beberapa bulan sebelumnya, Evan pernah mencurigai Puspa ada hubungan khusus dengan salah satu temannya. Sehingga, Evan mengirim seseorang untuk menguntit kemanapun dan melaporkan padanya. Kemana dan apa saja yang dilakukan Puspa setiap harinya. Hingga sekitar sebulan yang lalu, detektif bayaran Evan itu melapor. Kalau Puspa sedang menginap dengan seorang pria disalah satu hotel di kota. Dan Evan pun mendatangi hotel tempat Puspa menginap itu. Lalu, dia memergoki Puspa dengan temannya itu sedang melakukan tindak asusila di sana. Sebab itu, Evan tidak lagi bisa mentolerir hal itu. Dan memutuskan menceraikan Puspa." jelas Tante Erna secara garis besar saja.


   "Allahuakbar! Kenapa Mba' Puspa bisa melakukan itu pada Tuan Evan?!" ucap Ellia, terkejut dan tak menyangka.


 Namun, dengan mendengar cerita singkat tentang penyebab perceraian antara Evan dan Puspita itu. Ellia sedikit bernapas lega, sebab dugaannya tadi salah besar. Atas dirinya sendiri yang mungkin menjadi penyebab keretakan rumah tangga itu.

__ADS_1


   "Siapa Mba'?" tanya Neneng yang sejak tadi diam saja. Namun ikut penasaran saat mendengar nama yang sepertinya tidak asing di telinganya. Yang sedang dibicarakan oleh Ellia dan Bosnya itu.


    "Itu loh, Neng... Kamu masih ingat Mba'-Mba' cantik tapi sombong kau bilang bersama suaminya. Saat bertemu kita di mall tempo hari. Kau ingat?" jelas Ellia, mengingatkan pembantu di rumahnya itu.


      "Oh iya, aku ingat, Mba'. Mereka bercerai?" ucap Neneng dan kembali bertanya. Dan Ellia hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya itu.


    "Hem... jadi, bagaimana keadaan Mba' Puspa setelah perceraiannya tadi? Apa dia baik-baik saja?" ucap tanya Ellia lagi, perihatin mengingat keadaan Puspita saat ini.


     "Tante lihat, dia sedikit tak terima atas perceraiannya itu. Tapi, apa yang bisa dia lakukan lagi. Evan sudah pada keputusan bulatnya. Jadi, Puspa hanya bisa pasrah saja dan menerima semuanya. Salah dia sendiri juga, kenapa bermain api. Jadinya, badan sendiri kan yang ke bakar. Sudahlah... Tante ikutan stres kalau bahas Puspa terus. Sekarang, Tante mau istirahat duluan, boleh?" ucap Tante Erna cepat ingin mengakhiri pembahasan itu, karena sudah terlalu lelah.


"Boleh dong, Tante. Silahkan Tante istirahat saja duluan! Sebentar lagi kami juga sudah akan menutup counter-nya kok. Oh iya, aku sama Neneng akan pulang ke rumah. Tante ditemani Ritna saja disini, nggak apa-apa kan, Tante?" ujar Ellia.


   "Iya, nggak apa-apa. Lagi pula, kalau kita semua nginap disini. Akan tidur dimana semua nantinya. Sementara tempat tidur didalam kan hanya berukuran sedang aja." jawab Tante Erna.


    "Hehe... iya, Tante." ucap Ellia "Tapi, Tante udah makan malam apa belum? Kalau belum, biar Ellia pesankan makanan sekarang." lanjutnya bertanya.


   "Terimakasih. Nggak perlu, Ell'. Tante udah makan tadi di restoran sebelum kesini. Makanya, Tante cuma mau langsung istirahat aja." tolak lembut Tante Erna dengan menjelaskan alasannya.

__ADS_1


   "Oh... ya sudah, silahkan Tante!" ucap Ellia. "Rit'! Ayo antar dulu Tante ke kamar !" lanjutnya beralih pada Ritna yang sejak tadi hanya diam dan menyimak percakapan ketiga orang dihadapannya itu.


   "Iya, Kak. Mari, Bu, saya antar!" ucap Ritna dan mengajak Tante Erna untuk masuk ke tempat peristirahatan dalam counter itu.


Setelah kepergian Ritna dan Tante Erna. Ellia yang dibantu oleh Neneng mulai membereskan dan bersiap-siap. Untuk menutup counter tersebut. Dan akan pulang ke rumah pribadi Ellia setelahnya. Meninggalkan Tante Erna yang akan ditemani oleh Ritna. Untuk menginap di sana.


🌄🌄🌄🌄🌄


Pagi menjelang, Ellia yang sudah bangun sejak pukul 04.30 WITA, tadi. Sudah bersiap untuk berangkat kembali ke counter.


Hari ini seperti biasa, Ellia tampak anggun dan modis. Meski hanya mengenakan celana pant panjang berwarna coklat susu. Dan dipadu dengan kemeja lengan panjang berwarna hitam. Dan rambut yang sedikit dikepang serta sebagian besarnya dibiarkan terurai. Tampak sedikit formal namun simpel.


Sambil menenteng sebuah rantangan susun ditangannya. Dia masuk kedalam mobilnya setelah sebelumnya berpamitan pada Neneng. Yang akan standby seperti biasa di rumahnya itu. Sambil berbersih dan melakukan banyak hal. Sebagaimana pekerjaan seorang asisten rumah tangga pada umumnya. Meski Ellia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Karena Ellia memang hanya hidup sendiri di desa itu.


Sebab, ia anak-anak satu-satunya setelah adik kandungnya sendiri. Meninggal saat diusianya masih 7 tahun karena suatu penyakit yang diderita. Sementara, orang tuanya pun sudah meninggal tepat saat ia penerima surat kelulusannya ditingkat SMA, waktu itu. Sedang sanak saudara dari orang tuanya berada jauh di desa lain.


Jadilah, dia hanya tinggal bersama Neneng saja. Gadis yang kebetulan waktu itu sedang membutuhkan pekerjaan. Untuk dapat menyambung hidup di desa itu. Setelah lulus sekolah tingkat pertama di desa itu. Dan tak ingin kembali ke desanya sendiri yang lebih terpencil. Dan cukup jauh jika ditempuh dari desa itu.

__ADS_1


__ADS_2