Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Kebebasan Berpendapat


__ADS_3

Setelah tenggorokannya dirasa sudah kembali aman dan nyaman. Ellia menatap menelisik ke wajah Ritna.


"Atas dasar apa, sampai kau memberi kesimpulan seperti itu tentang si mas kurir itu, Hem?!" tanya Ellia dengan nada suara yang naik satu oktaf, sewot. Sambil menatap tajam ke wajah Ritna.


"Berdasarkan pandangan dan pendapat ku, Mba'. Hehehe...!" jawab Ritna santai seraya cengengesan. Memperlihatkan kedua barisan giginya putih.


"Heh?!! Jangan sok tahu kamu. Kami baru saja saling kenal beberapa menit yang lalu. Jadi, mana mungkin si mas kurir itu menyukai diriku secepat itu?! Itu hal yang sangat tidak masuk akal, Rit'. Kau ini!" elak Ellia dan menggeleng-gelengkan kepala diakhir kalimatnya. Hal yang demikian memang tak masuk akal baginya. Sebab belum pernah mengalaminya.


Usai berkata seperti itu, Ellia kembali melanjutkan makan siangnya.


"Jika membicarakan hal tentang cinta dan orang yang mengalaminya. Memang terkadang sangat tidak masuk akal bagi orang-orang yang belum pernah mengalaminya. Tapi, itulah cinta Mba'. Meski baru pertama kali bertemu dan tak saling kenal. Cinta itu, bisa saja datang dan hinggap di hati tanpa kita kehendaki sekalipun. Dan begitulah sebuah pepatah lama yang aku pernah dengar, Mba'." ucap Ritna lagi dengan sedikit penjelasannya.


"Terserah, kau saja. Sekarang, berhenti bicara! Dan ayo kita habiskan makanan kita! Kemudian kembali ke tempat kerja kita masing-masing. Pekerjaan Mba' masih sangat banyak dan menungguku didalam." ucap Ellia, mengingatkan Ritna untuk tidak melupakan itu dan semakin berbicara yang tidak-tidak nantinya.


"Baik, Mba'. Maafkan aku?!" jawab Ritna sekaligus meminta maaf dengan menampilkan wajah mengiba-nya.


"Iya, tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf. Karena, kau hanya berniat mengutarakan pendapat tentang pandanganmu 'kan?! Jadi, itu bukan kesalahan dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Sebab, negara kita memang membebaskan kita warganya untuk berpendapat, bukan?!!!" ucap Ellia, sedikit memberi penjelasan sesuai pengetahuannya.


Dan Ritna hanya mengangguk patuh sebagai jawaban atas penjelasan singkat dari Ellia tersebut. Sambil terus menghabiskan makanan miliknya.

__ADS_1


Dan siang hari pun berlalu begitu cepat. Hingga langit di ufuk barat mulai menampilkan rona jingga. Sebagai tanda dari tugas sang matahari yang mulai selesai. Dan tugas berikutnya akan dilanjutkan oleh sang rembulan.


Ellia beranjak dari duduknya. Sambil membuat gerakan-gerakan kecil untuk sedikit merilekskan tubuh lelahnya. Setelah duduk seharian didepan komputernya, bekerja. Dia putuskan untuk mandi terlebih dahulu. Agar, tubuhnya yang terasa lelah dan letih itu dapat kembali segar.


"Dek...! Apa kau akan pulang malam nanti?" panggil dan tanya Ellia pada Ritna. Saat ia keluar dari ruang kerjanya.


"Ya. Sepertinya tidak, Mba'. Aku akan menginap saja dan menemani Mba' di sini. Mba' Ellia akan lembur, bukan? " jawab Ritna dan balik bertanya.


"Iya. Seperti biasa, jika akan tiba waktu tutup buku seperti ini. Mba' sudah pasti akan lembur. Demi semakin menjaga kepercayaan Tante Erna pada kita." jawab Ellia. "Baiklah. Jika kau menginap; Selesai Mba' mandi nanti, kau keluarlah! Dan pergilah membeli nasi goreng untuk kita makan malam. Serta empat cup mie instan ya?!" imbuhnya, meminta.


"Siap, Mba'!!!" jawab Ritna sambil tersenyum kearah Ellia.


"Em." gumam Ritna sambil menganggukkan kepalanya.


Kemudian, malam hari pun tiba. Dan mereka pun telah selesai makan malam sebelum waktunya. Dikarenakan, Ellia sudah begitu merasa lapar dan tak tahan jika harus menunggu waktu makan malam tiba.


Setelahnya, Ellia pun kembali duduk di kursi kerjanya dengan wajahnya sudah tampak segar kembali.


Sementara itu, di tempat lainnya. Tepatnya dikediaman keluarga Evan dengan kedua orangtuanya. Tampak Puspita sedang menangis pilu didepan kaki Ibu Listiani, sang ibu mertua. Sambil memohon-mohon agar ibu mertuanya itu mau memaafkannya. Dan segera membatalkan perceraian yang diajukan oleh Evan, saat ini. Dan dengan seperti sebelum-sebelumnya. Puspita selalu saja mengadu pada ibu mertuanya itu dengan mengatakan hal sebaliknya dari kenyataan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Berhenti, Puspita!!! Aku sudah mengetahui semuanya. Karena, Evan telah menceritakan semuanya padaku dan juga ayahnya. Dan bukan hanya itu saja, sebuah rekaman tentang siapa sebenarnya dirimu selama ini. Juga telah kami dengar dan saksikan dengan mata kepala kami sendiri. Sungguh!!! Aku tak menyangka kau akan seperti itu. Dan berlaku sejahat itu pada anakku."


"Sekarang, aku tidak bisa untuk mempercayaimu dan aku juga tak ingin lagi melihat wajah munafik mu itu lagi. Jadi, segeralah keluar dari rumahku! Sebelum, kesabaran ku habis dan meminta pak salimin untuk menyeretmu untuk keluar." usir Ibu Listiani dengan penuh amarah dan suara yang naik satu oktaf. Karena terlalu geram pada menantunya yang sebentar lagi akan berganti status jadi mantan menantu.


"Tapi, tunggu Bunda...! Rekaman seperti apa yang Bunda maksud?" tanya Puspita tak menyerah.


"Aku sudah terlalu muak melihatmu. Tetapi, agar kau tahu kelakuan buruk mu yang seperti apa yang kami ketahui. Lebih baik, kau tanyakan saja langsung pada Evan. Jadi untuk itu, kau harus cepat pergi dari sini sekarang juga!!!" jawab Ibu Listiani, semakin kesal dan muak.


Setelah berkata demikian, dengan segera Ibu Listiani beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Puspita di sana sendirian. Yang tanpa mereka ketahui, wanita paruh baya dan keponakan gadisnya. Yang bertugas sebagai asisten rumah tangga dalam rumah itu. Sejak tadi menyaksikan semua yang terjadi di sana dari balik tembok pembatas ruang dapur dan ruang keluarga.


"Tapi, Bunda. Aku tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Aku sampai seperti ini. Itu juga, karena ulah putramu yang tidak terlalu perhatian padaku. Aaaakh!!! hiks... hiks..." ucap Puspita dengan sedikit berteriak dan juga menangis meraung-raung.


Agar mertuanya itu dapat kembali melihat kearahnya. Namun semua itu sia-sia, karena sang mertua tak sama sekali berpaling padanya dan terus berjalan memasuki kamar tidurnya.


"Akhirnya... belang dari wanita ular itupun ketahuan juga, Bude. Syukurlah! Semoga kedepannya, Tuan Evan bisa tenang dan bahagia. Setelah terlepas dari penjajahan secara halus dari wanita itu. Jujur, aku sudah sangat geram melihatnya berkeliaran dan bertingkah seperti nona muda di rumah ini." ucap pelan Rita, sang asisten rumah tangga.


"Iya, 'Nduk. Bude juga kesal padanya. Syukurlah, akhirnya Gusti Allah mulai menunjukan belangnya tersebut." timpal Mbo' Sarti atas ucapan Rita, sang keponakan yang sudah beberapa tahun ini ikut bekerja dengannya dikediaman keluarga Evan itu.


Sambil mengungkap segala unek-unek masing-masing. Kedua asisten rumah tangga itu masih terus mengawasi Puspita dari tempat mereka saat ini.

__ADS_1


Sedang yang diawasi masih setia meraung-raung menangisi nasibnya sendiri.


__ADS_2