Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Bersantai Ria


__ADS_3

Dengan seiring berjalannya waktu. Pekerjaan yang kata Ellia hanya pekerjaan sampingannya saja. Karena pendapatan diawal-awal dari pekerjaan itu masih begitu standar.


Bagaimana tidak dia katakan seperti itu?


Diawal-awal bisa terhitung, dari seratus persen penghasilan perbulan, Ellia. Hanya dua puluh tujuh persennya saja hasil dari pekerjaan itu. Sedang yang sebagian besar dari penghasilannya itu. Adalah didapatkan dari upah penyewaan kamar kost-kostan miliknya. Dan juga upahnya sebagai pengelolah terpercaya di counter pulsa dan handphone milik Tante Erna. Yang setiap bulannya selalu mendapat tambahan bonus, walau tak menentu besarannya.


Tapi kini, justru pekerjaan itu yang nampaknya menjadi sumber pendapatan terbesarnya. Di setiap bulan dari keseluruhan pendapatannya itu. Dan pekerjaannya itu adalah pekerjaannya sebagai seorang broker atau agen properti.


Sebab, karir dan kinerja Ellia sebagai seorang broker properti. Yang dimulainya dari beberapa tahun lalu itu. Semakin hari, jejak kinerjanya semakin lebih baik lagi. Dan diawal-awal tahun yang ini. Ellia mulai mendapat perhatian lebih dari para broker-broker profesional dan terkenal se-Indonesia. Yang tentunya, sudah lebih-lebih berkompeten di bidang tersebut. Melalui suatu statistik kinerja nasional yang sudah ditetapkan oleh perusahaan yang menaungi bidang tersebut.


Dari sebuah event yang dibuat khusus untuk mempertemukan para broker-broker property dari seluruh penjuru Indonesia. Dan dari event tersebut pula, Ellia tak menyangka mulai mendapat gelar dan sertifikasinya. Sebagai salah seorang broker properti muda dan profesional, di kepulauan tempat kotanya itu berada.


Dan oleh karena itu pulalah, pekerjaan sampingannya itu. Saat ini menjadi seperti pekerjaan utamanya. Sebab, secara otomatis dari pekerjaan itu telah menjadi penghasil terbesar di setiap bulannya.


Banyak orang-orang di kampungnya yang tak menyangka. Bahwa, nasib seorang Ellia yang dulu dikenal sebagai gadis payah yang berpenampilan kucel. Kini berkamuflase menjadi sesosok gadis bermartabat, cantik dan anggun tentunya.


Karena dulunya, setelah berhasil mendapat ijazah SMA-nya. Yang tak sempat dilihat oleh kedua orangtuanya akibat ajak yang lebih dulu menjemput mereka. Ellia putuskan untuk bekerja sebagai penjaga counter pulsa kecil-kecilan di desanya itu. Yang gajinya tentu tak lebih dari lima ratus ribuan saja perbulannya.


Sementara para teman sebayanya yang lain. Lebih memilih melamar bekerja di perkantoran, Mall dan lain sebagainya. Yang gaji dan upahnya tentu lebih besar dan menjanjikan.

__ADS_1


Sehingga, dari hasil kamuflasenya itu. Kini, Ellia dijuluki primadona desa oleh semua warga di desanya itu. Dan sejak setahun lalu itu pula. Tak sedikit pria lajang yang kaya dan berpangkat. Datang untuk melamarnya untuk dijadikan istri mereka.


Namun, tak satupun dari pria-pria itu mampu meluluhkan hatinya. Dan dipilih menjadi pendamping hidupnya. Yang saat ini memang sudah pantas untuk menikah. Karena, usianya saat ini udah memasuki 26 tahun.


Bukan tak ingin menikah atau memiliki ciri-ciri khusus pria yang akan menjadi suaminya nanti. Sehingga, Ellia masih saja setia untuk melajang saat ini. Tetapi, dari beberapa pria yang datang melamarnya itu. Ellia dapat melihat dan merasakan. Kalau mereka itu hanya ingin membanggakan diri mereka sendiri. Dengan memperistri gadis cantik dan begitu mandiri sepertinya. Bukan karena mencintainya dengan tulus.


Jika seperti itu, Ellia memang lebih baik memilih tetap sendiri saja dulu seperti itu. Dan akan menikah setelah bertemu pria yang benar-benar tulus mencintainya dan ingin menikahinya. Kemudian mewujudkan impiannya untuk membangun rumah tangga yang senantiasa bahagia dan harmonis.


Untuk itu, saat ini Ellia hanya akan menikmati hidupnya saja. Dan hanya akan berpasrah mengikuti kemana saja Tuhannya akan menggariskan jalan takdir hidupnya itu.


Seperti saat ini, Ellia sedang bersantai bersama Ritna. Dan Neneng yang diboyongnya ke sana untuk ikut bersantai. Di counter pulsa dan handphone milik Tante Erna itu. Mereka bersantai sambil menikmati kue risoles buatan Ellia dan Neneng, sore tadi.


"Tante Erna...!" ucap Ellia pelan.


Setelah mengetahui mobil siapa yang masuk itu. Ellia segera menghampiri Bos sekaligus Tante jauh dari pihak ibunya itu. Dan mengulurkan tangannya kearah Tante Erna yang baru saja keluar dari dalam mobilnya itu.


"Selamat malam, Tante! Kok... sudah malam baru nyampe, Tante? Ellia pikir Tante nggak akan datang hari ini. Karena sudah begitu malam dan hampir larut." ucap dan cerca Ellia dengan nada lemah lembut.


__ADS_1


"Selamat malam juga, Ell'. Iya. Ada sesuatu hal yang tiba-tiba tadi, pagi. Membuat jadwal kunjungan Tante menjadi lebih lambat seperti ini. Jadi, karena sekarang sudah mulai larut dan Tante juga sudah sangat lelah. Tante putuskan untuk numpang tidur malam disini dulu, ya! Bolehkan?" jawab Tante Erna


Dan sekaligus menjelaskan sedikit alasannya. Kenapa tiba di sana saat sudah malam begitu dan kemudian bertanya.


"Ya ampun, Tante...! Kenapa harus bertanya seperti itu sih... Tentu saja, boleh. Kapanpun, Tante mau." jawab Ellia lagi. Sambil merangkul tangan Tante Erna dan mengajaknya untuk ikut bergabung di meja tempat mereka duduk tadi. "Tapi, Tante udah pamit sama Om Reno belum? Kalau mau nginap disini." lanjut Ellia lagi.



"Udah. Tadi, Tante sudah pamit melalui telfon sebelum sampai kesini."jawab Tante Erna, masih dengan sedikit lemah karena merasa sangat lelah.



"Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu. Takutnya, dia bakal kelimpungan nyariin Tante. Haha... doi kan hampir nggak pernah tuh, pisah tidur sama Tante. Kalau tak ada hal urgen yang mengharuskan untuk berjauhan kayak gini." ujar Ellia tertawa kecil menggoda Tantenya itu. Yang memiliki tingkat bucin akut hingga sebaya ini. Dan walau begitu, diam-diam, mereka tetap menjadi panutan bagi Ellia selama ini.


Dan mereka pun lanjut bersantai dengan bertambahnya anggota, yaitu Tante Erna. Sambil menyantap risoles yang menjadi teman nongkrong mereka malam itu.


Ya, setelah menghadiri acara persidangan antara Evan dan Puspita. Yang sebenarnya tidak ada dalam jadwal kegiatannya hari ini. Hanya karena Puspita begitu memohon padanya dengan berbagai alasan yang masuk akal. Untuk bisa menjadi saksi atas pihak darinya dan memang itu adalah prosedur wajib. Jadi, mau tak mau Tante Erna pun harus datang.


Yang sebenarnya hari itu, Tante Erna hanya memiliki satu jadwal saja. Akhirnya, harus ada dua jadwal dan semuanya itu sangat menyita waktu serta tenaga baginya. Yang mana salah satu jadwal dan juga merupakan jadwal utamanya hari itu. Adalah jadwal kunjungan wajibnya ke outlet-outlet dan counter handphone miliknya.

__ADS_1


Dan karena jam telah menunjukan pukul 19.23 WITA. Tante Erna pun memutuskan untuk tidak pulang. Dia berencana akan menginap saja di counter-nya. Yang memang tersedia tempat untuk tinggal dan menginap di sana. Yaitu counter yang di jaga oleh Ellia dan Ritna.


__ADS_2