
Arfan mulai mengarahkan mobilnya memasuki sebuah pelataran parkir yang mulai sedikit sesak dengan banyaknya kendaraan yang memarkir di sana. Tepat didepan sebuah gedung auditorium kampus ternama di kota itu. Yang cukup besar dan tampak mulai ramai dengan kedatangan para tamu undangan acara malam itu.
"Ayo Nona, kita sudah sampai!" ucap Arfan. Sesaat setelah mematikan mesin mobilnya dan buru-buru keluar. Dia mengitari bagian depan mobil untuk membantu membukakan pintu mobil disisi Ellia itu.
"Mari Nona, silahkan turun! Kita harus ke sana terlebih dahulu. Karena mungkin, Evan dan kekasihku sedang menunggu kita disebelah sana. Setelahnya, kita baru akan memasuki aula besar itu bersama-sama. Sebab, acaranya akan digelar di sana." ajak dan jelas Arfan sedikit. Dengan maksud, agar Ellia tak banyak bertanya lagi karena bingung.
" Hem!!! Baiklah. Ayok!" jawab Ellia, sambil mulai keluar dari mobil milik Arfan itu. "Semakin kesini, aku kok semakin kesal aja pada anda Tuan Arfan. Jujur! Aku merasa seperti tertipu ke acara malam ini. Menyebalkan sekali! Jika aku tahu akan dipertemukan dengan Tuan-mu itu. Mungkin, aku akan menolak untuk datang kemari. Tapi, apa boleh buat! Anda sudah berhasil menipuku. hm..." lanjut Ellia, berkeluh kesah dan membuang nafasnya kasar.
Sambil berjalan beriringan dengan Arfan menuju ke sebuah bangku taman kampus itu. Yang memang tampak dari jauh, ada dua orang yang duduk berjarak di sana. Dengan posisi sedikit menyamping dari posisi mereka saat itu.
Sedang Evan, dari kejauhan dia sudah melihat kedatangan Arfan dan Ellia. Meski penerangan yang ada di taman kampus itu sedikit minim. Tapi, Evan sudah dapat melihat penampilan gadis pujaannya itu. Sehingga, bibirnya sedikit terangkat dan membentuk sebuah senyuman kecil di sana.
Dan Fita yang saat itu tengah berbicara dengannya. Merasa aneh dengan melibatkan lawan bicaranya itu tiba-tiba tersenyum. Sementara yang mereka bicarakan saat itu tak ada satupun yang lucu. Sehingga, iapun mengikuti kemana arah pandang lawan bicaranya itu, yaitu Evan. Yang ternyata, Evan sedang melihat kedatangan Arfan dan seorang gadis cantik di sampingnya.
'*Hem... ternyata, Tuan Evan yang terhormat ini. Sedang memperhatikan gadisnya toh. Wah.... cantik sekali gadis itu. Pantas saja, Evan begitu seantusias itu tadi untuk datang kesini. Biasanya paling nggak suka hadir di acara-acara kayak gini. Wong pasangannya cantiknya hampir mengalahkan sang bidadari gitu. Wajahnya tampak imut-imut gitu, tapi tubuhnya begitu proposional begitu. Menurut aku udah mirip kayak seorang miss univers saja. Bikin aku ngiri aja dan merendah diri jadinya. Cocok dah... sama tingginya si Tuan Evan ini*.' batin Fita ikut kagum dan takjub pada penampilan serta bentuk tubuh Ellia.
"Permisi 'Van! Apa kalian sudah lama menunggu?" ucap dan tanya Arfan. Saat langkah kakinya mulai mendekati posisi Evan dan Fita, kekasihnya duduk.
Karena terlalu fokus menatap kedatangan Ellia. Bukannya tak mendengar, tetapi dunianya seakan seluruhnya teralihkan pada seorang Ellia. Sehingga, Evan tak menanggapi sedikitpun sapaan asisten sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1
Melihat Evan yang hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya itu. Dan pandangannya begitu membuat Ellia tampak kikuk. Dan bahkan membuat Ellia memalingkan wajahnya kearah lain. Jiwa jahil Fita keluar begitu saja. Dia sengaja menyenggolkan pundaknya pada lengan Evan. Agar menyadarkan sahabat dari kekasihnya itu. Dan tak lagi membuat gadis yang mendapat tatapan penuh arti itu menjadi kikuk karena ulahnya.
"Hei..! Jangan menatapnya sampai seperti itu, Bro! Nanti, dia akan ilfil padamu dan meninggalkanmu. Apa kau mau itu terjadi?" ucap Fita sedikit berbisik ke telinga Evan.
Membuat Evan, seketika itu tersadar. Dan menatap kekasih dari sahabatnya itu dengan wajah datar.
"Em,,," gumam Evan tersadar dan segera menetralisir debaran jantungnya. Yang sejak tadi bertalu-talu bak bunyi beduk yang ada dalam sebuah mesjid melihat kedatangan Ellia. Dan kembali berusaha menampilkan wajah datarnya. Dan jawab pertanyaan Arfan tadi.
"Kami belum lama kok sampainya. Santai saja. Ayo kita masuk sama-sama sekarang. Karena sepertinya, para undangan sudah hampir semuanya sudah hadir di sana." jawab Evan akhirnya.
Sambil menggerakkan tangannya seperti mempersilakan Arfan dan Fita untuk berjalan lebih dulu.
"Sebentar! Apa kalian tidak ingin memberi kesempatan padaku. Untuk berkenalan dengannya lebih dulu? Dasar lelaki! Hanya mementingkan dirinya sendiri saja." ucap Fita seperti merajuk. "Perkenalkan Nona, namaku Rafita. Panggil saja aku, Fita. Aku pacar dari Arfan. Salam kenal, Nona...?" sambung Fita langsung beralih pada Ellia. Dan mengulurkan tangannya kearah Ellia memperkenalkan dirinya.
Dalam hati Ellia, dia cukup tenang. Karena akhirnya, pacar dari Arfan itu cukup welcome dengannya. Dan sepertinya dia akan ada teman ngobrol nanti saat berada dilingkungan asing baginya itu.
"Ayo, Ellia! Kau akan jalan bareng aku saja. Biarkan para lelaki itu jalan dibelakang kita. Anggap saja mereka adalah bodyguard untuk kita, oke. Ayo!!!" ucap Fita sambil mengangkat lengannya untuk digandeng oleh Ellia.
__ADS_1
Dan Ellia, mendengar ucapan Fita tersebut. Tersenyum geli sendiri dan mau tak mau menggandeng tangan gadis yang sangat welcome menjadi teman untuknya di acara itu.
Dan mereka pun berjalan menuju ke gedung tempat acara yang akan mereka hadiri itu. Dengan diikuti oleh Evan dan Arfan dibelakang mereka. Yang benar kata Fita tadi, mereka sudah seperti dua putri yang dikawal oleh dua pangeran dibelakang mereka saat berjalan.
Sementara Arfan dan Evan yang ada dibelakang mereka pun. Tampak saling melempar pandang. Bingung dengan situasi mereka saat itu. Tetapi, seperti berbicara lewat pandangan matanya yang tajam menghujam jantung. Arfan begitu mengerti bahasa pandangan mata dari sahabatnya itu. Karena sudah sekian lama bersahabat. Jadi, Arfan sudah begitu sangat memahami isi kepala dari Evan itu. Hanya lewat bahasa dari salah satu anggota tubuhnya.
Segera Arfan melangkah maju dan menyahut lengan Fita, kekasihnya. Untuk jalan berdua dan membiarkan Ellia bersama Evan saja.
"Fit', kita harus jalan berpasang-pasangan saat memasuki pintu masuk di sana. Jadi, maaf ya... Nona Ellia?! Saya harus berdampingan dengannya. Sedang Nona, harus berdampingan dengan Tuan Evan" ucap Arfan pada Fita dan beralih pada Ellia.
Setelah berkata seperti itu, Arfan pun langsung melanjutkan langkahnya. Dengan tangan Fita yang dibuat menggandeng tangannya mesra. Mendekati pintu masuk yang sudah terdapat beberapa orang di sana. Yang sepertinya bertugas sebagai resepsionis dan penerima tamu malam itu.
Sementara itu, Ellia yang mau tak mau harus berjalan berdampingan bersama Evan dibelakang Arfan dan Fita. Berusaha bersikap biasa saja dan salah satu tangannya memegangi tas yang dikenakannya. Sementara tangan yang lain dibiarkannya menggantung begitu saja.
Namun, Evan yang sedikit mengerti kalau gadis disampingnya itu merasa sedikit nervous. Dengan cepat meraih tangan Ellia yang menggantung itu. Evan menggenggam dan menggandeng tangan itu lembut.
Ellia cukup terkejut dengan perlakuan Evan itu. Hingga ia menatap sebentar tangan besar yang menggenggam tangannya itu. Kemudian menatap wajah pemilik tangan tersebut. Yang ternyata pura-pura menatap kearah depan dan cuek. Tak ingin tangannya digenggam. Ellia dengan perlahan berusaha melepaskan tangannya.
Tetapi, Evan yang merasakan pergerakan penolakan atas perlakuannya itu. Segera mengalihkan pandangannya kearah Ellia. Dan membuat gerakan kepala menggeleng serta memperlihatkan wajah mengiba dan memohon nya. Agar, Ellia tak menolaknya malam itu.
__ADS_1
Merasa iba, Ellia pun hanya bisa pasrah dan tampak membuang nafasnya kasar melalui hidungnya. Dan membiarkan tangannya itu terus digenggam oleh Evan. Hingga mereka memasuki ruangan tempat acara itu berlangsung dan mulai berbaur dengan para tamu yang ada di sana. Yang diantaranya adalah teman satu fakultas dari Evan dan Arfan saat masih kuliah dulu.