Aku Bukan Perebut Milik Orang

Aku Bukan Perebut Milik Orang
Sebuah Ungkapan


__ADS_3

Setelah kepergian dua pelayan itu. Ellia dan Evan mulai menyantap makanan mereka masing-masing.


Saat makan, Evan sesekali mencuri-curi pandang menatap wajah Ellia. Sedang Ellia, berpura-pura tak perduli dan terus memakan makanannya. Ellia ingin segera menghabiskan makanannya itu dan mengakhiri makan malam tersebut.


Namun, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dibenak Ellia. Dan memutuskan untuk bertanya saat itu juga.


"Maaf...?!! Kalau boleh tahu, kedatangan Tuan Evan ke counter waktu itu dalam rangka apa? Apakah membeli pulsa atau apa ya...?" tanya Ellia.


"Oh iya, saat itu, aku datang ke sana bersama Ibuku. Untuk bertemu dengan seorang gadis bernama Puspita. Yang merupakan keponakan dari Tante Erna sendiri. Apa kau mengenalnya?" jelas Evan.


Dan kini balik bertanya, apakah Ellia mengenal gadis itu? Yang dimaksud Evan adalah Puspita. Dan Ellia pun mengerti. Karena itu, Ellia pun mengangguk pasti. Sebagai jawaban, bahwa dia mengenal Puspita.


Ellia memberi jawaban dengan anggukan. Karena dia masih dalam keadaan sedang minum. Dan saat dia mengingat sesuatu di otaknya. Ellia buru-buru menegak air minumnya hingga tandas.


"Ohh...astaga!!! Sekarang aku ingat." ucap Ellia sambil menepuk pelan dahinya. "Kalau tidak salah, Anda... anak dari sahabat Tante Erna yang bernama Tante Listiani. Benar, bukan?" lanjutnya. Kemudian bertanya dengan hati-hati demi memastikan. Bahwa ucapannya itu benar.


"Em........ benar sekali."


Evan sengaja bergumam panjang demi membuat Ellia menjadi penasaran menunggu jawabannya. Lalu, membenarkan tebakan Ellia tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun, maafkan saya, Tuan??! Itu sudah lama sekali, karena itulah aku lupa. Tapi... coba saja sejak tadi, Anda mengatakan kalau Anda adalah tunangan dari Nona Puspita. Sudah pasti, saya akan langsung mengingat Anda, Tuan." ucap Ellia merasa bersalah karena bersikukuh tidak mengenal pria yang ada didepannya itu.


"Tidak perlu minta maaf, Ellia. Itu bukan salahmu. Seperti katamu, seharusnya aku mengatakan hal itu juga tadi." jawab Evan datar dan tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu.


Dan Ellia tak menyadari perubahan yang ditunjukan oleh wajah Evan itu.


"Hehe... iya, Tuan." ucap Ellia sambil cengengesan. "Tapi... kalau boleh tahu, bagaimana kabar hubungan Anda dan Nona Puspita itu? Maaf... kalau saya kepo?!! Saya hanya ingin tahu saja. Apa perjodohan kalian itu berakhir dengan pernikahan? Atau..." lanjut Ellia sengaja tak meneruskan katanya. Ia bertanya dengan sangat hati-hati. Sebab rasa penasaran yang tinggi dan tiba-tiba muncul.


"Jujur...saat itu aku menolak untuk dijodohkan. Tetapi, karena sesuatu hal dan lain sebagainya. Akhirnya aku setuju dengan perjodohan itu. Selama satu bulan kami berusaha saling kenal satu sama lain. Setelahnya, karena merasa belum siap untuk terikat dengan hubungan pernikahan. Aku memutuskan untuk bertunangan saja saat itu. Kemudian, karena terjadi sesuatu hal antara kami. Dengan terpaksa aku menikahinya tiga tahun lalu dan hingga saat ini." ucap Evan menceritakan sedikit akan kisah perjodohannya dengan Puspita.


"Em... tapi, kenapa Anda seperti tidak bahagia dengan pernikahan Anda saat ini, Tuan?" tanya Ellia setelah menyadari nada sendu yang keluar dari mulut Evan saat bercerita tentang pernikahannya.


Ellia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dalam restoran itu. Tiba-tiba saja, dia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Karena bertemu dan makan malam berdua dengan Evan yang berstatus suami orang.


"Tenanglah Ellia?!!! Aku tahu yang ada dipikiranmu itu. Kau tidak perlu khawatir seperti itu. Puspita tidak akan melihat kita saat ini." ucap Evan santai.


"Apa maksud Anda, Tuan? Jangan bermain teka-teki denganku! Lebih baik, Tuan segera jelaskan apa sebenarnya maksud dan tujuan Anda ingin bertemu dengan saya, saat ini?!." desak Ellia.


Agar Evan segera memberi tahu alasan sebenarnya ingin menemuinya malam ini. Karena sekali lagi, Ellia ingin segera mengakhiri pertemuan mereka itu.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan mengatakannya." jawab Evan dan sedikit menghela nafas berat sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku mengajakmu bertemu, karena sejak pertemuan kita tadi siang itu. Hingga sesampainya aku di kantorku. Otakku terus mengingat-ingat wajahmu. Dan hatiku terus mengatakan kalau sebelumnya kita pernah bertemu. Akhirnya, setelah lama berpikir, aku seperti orang yang baru saja sembuh dari amnesia. Aku ingat, kalau selama ini hatiku mencarimu." jelas Evan.


Mendengar penjelasan itu, kedua alis kening Ellia berpaut. "Maksud... hati Anda mencariku karena apa dan untuk apa, Tuan? Langsung ke intinya saja, Tuan. Jangan berbelit-belit!!!" ucap Ellia dengan nada mulai meninggi karena kesal.


"Jujur, Aku sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali kita bertemu dan berkenalan di counter, saat itu. Kupikir saat itu yang akan dijodohkan denganku itu, kamu. Sehingga, saat mengetahui namamu hatiku yang sebelumnya seperti tertutup rapat untuk perjodohan itu. Langsung terbuka lebar dan berjanji untuk mencoba menerima perjodohan itu karena begitu bahagia mengenal dan melihatmu. Namun, setelah mendengar perkataan Tante Erna lagi. Yang mengatakan kalau gadis yang akan dikenalkan padaku itu, masih dalam perjalanan. Hatiku kecewa dan segara tertutup rapat. Tapi, setelah melihatmu lagi tadi siang. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku menyukaimu dan jatuh cinta padamu, Ellia.


Terserah dirimu, mau membalas cintaku ini atau tidak. Yang terpenting saat ini, aku sudah mengungkapkan perasaan yang selama ini tersimpan dan tersembunyi didalam hatiku. Itu saja!" jelas Evan lebih panjang lebar tentang isi hatinya.


"Tuan... apakah kau sadar dengan ucapanmu itu? Dengan Anda mengungkap perasaan Anda itu pada saya saat ini. Saya jadi ingin menjauhi Anda saat ini juga dan seterusnya. Dan juga tidak ingin lagi berhubungan dengan Anda dalam hal apapun. Tetapi, karena kita sudah terikat oleh kontrak kerjasama dalam penjualan properti milik Anda. Mau tak mau, saya harus tetap bersikap profesional. Tapi, bisakah saya hanya berhubungan dengan asisten Anda saja dalam proyek ini nantinya?" ucap dan tanya Ellia tegas seperti tak ingin permintaannya itu ditolak.


"Hem... baiklah. Jika seperti itu, Aku akan menuruti saja." jawab Evan pasrah. Walau dalam hatinya, dia sungguh tidak ingin lagi jauh dari Ellia. Tapi bukan Evan namanya, jika dia tak mempunyai banyak cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan hatinya.


"Terimakasih. Karena sudah terlalu malam, aku harus pulang." ucap Ellia sambil melihat kedalam arloji di tangannya. Kemudian mengacungkan tangannya untuk memanggil pelayan. Dia ingin membayar semua makanan yang telah ia makan dan setelah itu bersegera untuk pulang ke rumahnya.


"Pulanglah!!! Karena aku yang mengajakmu, maka aku yang akan membayar semuanya. Terimakasih sudah mau makan malam denganku. Dan maaf sudah mengganggu waktumu?!!" ucap Evan


"Untuk saat ini, tidak apa-apa. Aku pergi, Terimakasih atas traktirannya." ucap Ellia lagi. Kemudian segera melangkah pergi dari hadapan Evan.


"Sungguh!!! Aku memang bodoh!!! Seharusnya aku bisa menahan diri saja dulu dengan perasaan ini. Agar tidak menjadi masalah yang rumit seperti ini nantinya. Akh... bodohnya!!!" batin Evan mengumpat dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2